
...WARNING...
...HARAP MENGHAYATI SETIAP KATA YANG TERTULIS...
...MAKNAI SETIAP KATA DEMI KATA...
...🌹🌹🌹...
Masih dimalam yang sama, malam yang penuh canda tawa yang entah akan berakhir tawa untuk selamanya atau mengajak bercanda untuk selamanya. Kita sebagai makhluk yang hidup dibawah takdir semesta hanya bisa berharap, berharap akan berakhir seperti yang kita inginkan. Tapi ingat, bahwa apapun yang kita inginkan tidak selalu bisa terwujud. Jadi, jangan pernah berharap lebih kepada takdir semesta yang belum terjadi.
Kini Zehn dan Tara sedang duduk manis melihat indahnya langit malam dibangku panjang teras Tara. "Ya kamu itu aneh deh, masa mau ngasih surprais kok malah lupa sembunyiin sepatu," gemas Tara menatap Zehn dari samping. Cowok itu terkekeh lalu menepuk jidatnya sendiri.
"Astaga, aku nggak kepikiran Tar. Saking sibuknya pasang hiasan hiasan eh...malah lupa sembunyiin sepatu," balas Zehn diakhiri tawa ringan.
"Suka deh lihat kamu ketawa kayak gini," ujar Tara semakin menautkan genggaman keduanya.
Zehn semakin mengeraskan tawanya, membuat Tara mengikuti tawa sumbang Zehn yang dibuat buat. Ahhh kapan lagi mereka bisa berduaan seperti ini tanpa ada gangguan dari sang komandan. Malam yang indah, langit yang dipenuhi gemerlap bintang membuat mereka berdua terbuai akan suasana indah yang mengahanyutkan.
Tawa Tara terhenti tak kala dia meringis mendapati hidungnya dicubit gemas oleh Zehn. "Ck, suka banget nyubit hidung. Sakit tahu!."
"Habisnya gemesin sih, kan jadi pengen uyel uyel kamu terus."
"Idih alay banget."
"Gara gara siapa dulu aku alay? Yang penting cuma sama Baby Ra aja aku alaynya, nggak sama yang lain," balas Zehn meraih bahu Tara dari samping agar lebih dekat dengannya.
Hawa dingin angin malam menembus sampai ketulang mereka berdua. Serpaan udara malam menerpa wajah berseri keduanya. "Malam yang indah ya Tar?."
"Hm, banget."
Tara menyenderkan kepalanya dibahu Zehn, nyaman. Bibir itu kembali melengkung ke atas, seperti banyak kupu kupu beterbangan diperutnya. Begitu juga Zehn, merasakan apa yang tak pernah ia rasakan selain bersama dengan gadis disampingnya kini.
"Zehn," panggil Tara lembut sembari jari telunjuknya menelusuri tangan Zehn dari atas sampai genggaman tangan mereka.
"Iya sayang?."
"Ihhh jangan panggil kayak gitu, geli tahu Zehn!."
"Iya, ini panggilan yang terakhir kalinya kok."
Keduanya kembali terdiam seperkian detik, pikiran Tara seakan tak fokus entah karena apa. Serasa ada yang mengganjal. "Ada apa? Kok nggak jadi ngomong."
"Mana kado buat aku?," tanya Tara spontan menggadahkan tangan satunya yang bebas dari genggaman Zehn.
"Kado?-."
"Astaga aku lupa Tar," lanjut Zehn menepuk keningnya. Tara memberenggut, sudah tahu apa yang akan Zehn ucapkan. Dasar pelupa!.
"Ketinggalan?," Zehn mengangguk lesu.
"Ya udah nggak apa-apa, malam ini aja udah buat aku terbang ke langit. Bahagia banget!," lanjut Tara mengeratkan pelukannya diperut Zehn.
Wangi tubuh Zehn saja sudah membuat Tara jatuh cinta. Memang benar ya jika sudah menyangkut hati, apapun tentang dia pasti membuat kita jatuh cinta. Entah itu bau keringatnya, kesukaannya, kebiasaannya, dan apapun tentang dia.
"Tapi bo'ong," lanjut Zehn mengeluarkan sekotak kecil bewarna merah. Mata Tara berbinar seketika melihat apa isi kotak merah itu. Kalung berliontin keabadian, sangat indah.
"Argghh Zehnn, bagus bangett!!."
"Suka?."
"Hmm, suka suka sukaaa..."
".....pakai-in dong!," suara manja Tara dibalas kekehan Zehn juga tangannya yang terulur mengacak acak rambut gadis kecilnya itu.
"Ck kamu itu kebiasaan kalau nggak nyubit hidung pasti nge-berantakin rambut aku," kesal Tara membenahi rambutnya yang menjadi korban tangan Zehn.
"Jadi aku bantu pakai-in nggak?."
"Jadi doonggg!."
"Hadap belakang," Tara menurut, membelakangi Zehn tanpa melepas senyum diwajahnya.
Dengan telaten dan penuh kasih sayang, Zehn memasangkan kalung itu. Sangat pas dan cantik dileher jenjang Tara.
Tara membalikkan badan menatap Zehn dengan senyum lebar sembari memegang liontin berlambang keabadian itu."Keabadian, seperti?."
"Cinta kita akan selalu abadi Tara," balas Zehn dengan tatapan yang sulit diartikan. Guratan yang tak terpancar menghiasi wajah tampan itu. Sorot mata yang seakan menusuk hati Tara, membuat gadis itu membeku. Perasaan aneh yang tiba tiba datang kembali.
Cup
Deg....Apa itu tadi?
Astaga kening Tara sudah tidak suci lagi! Tandai itu sebagai, milik Zehn!.
Jantungnya seakan terhenti, desiran panas menjalar disekujur tubuh Tara. Tubuhnya yang mematung juga tatapan yang enggan teralih dari netra indah itu membuat wajahnya semakin memerah.
"Aku cinta kamu Tara," bisik Zehn tepat ditelinga Tara. Jangan tanyakan detak jantung yang sudah berlomba menuju finish. Ingin berteriak pun tidak bisa, suaranya terasa tercekat. Menelan ludah saja sangat sulit.
Gadis itu kembali menemukan kesadarannya tak kala kepala Zehn terbaring diatas pahanya. Mata indah itu menatap begitu dalam netra gadisnya yang kini mulai mengulum senyum malu malu.
"Cantik, jangan pernah lepas kalung itu ya! Baby Ra."
Tara tak sanggup berkata kata, hanya mengangguk disertai senyum merekah. "Cincin nya juga jangan pernah dilepas, hm!?."
"Iyaaa," gemas Tara mengelus lembut kepala Zehn yang berada dalam pangkuannya. Layaknya seorang ibu dengan anaknya.
"Oh ya Zehn, tadi sore kamu ke Cafe Cateria nggak?," tanya Tara.
"Cafe Cateria? Tadi sore?."
"Iya."
"Enggak, tadi waktu kamu keluar sama Chika aku langsung masuk rumah sama bang Dirgo buat nyiapin kejutan-."
"Emang kenapa Tar?."
"Oh enggak, cuma tadi aku kayak lihat orang mirip banget sama kamu."
Tubuh Zehn menegang, entah apa benar yang dikatakan Tara itu dia?. "Ka...kamu nggak panggil?."
Tara menggeleng. "Nggak sempat, dia keburu masuk dapur Cafe."
"Oh," Zehn mengangguk angguk, lengkungan bibirnyapun sedikit terangkat membentuk senyuman tipis.
"Tar, lihat deh bintang bintang itu."
Tara mendongak mengikuti telunjuk Zehn, kemerlap cahaya bintang malam ini seakan mendukung suasana hati keduanya. Menyelimuti malam yang gelap. "Cantik ya? Tapi-."
"Lebih cantik kamu dimata aku," lanjut Zehn.
"Dasar gombal!."
"Beneran Tara, kamu wanita tercantik di duniaku setelah-."
Ucapan Zehn terhenti, hatinya berubah sakit seperti ditusuk benda tajam yang kian menusuk sampai ulu hati. Kenyataan beberapa jam lalu kembali berputar diotaknya. Entah siapa yang harus ia sebut sebagai wanita pertama itu.
Kening Tara berkerut melihat setetes cairan keluar dari kelopak mata Zehn. "Kamu kenapa nangis Zehn!?," suara Tara terlihat cemas sambil menghapus setetes cairan yang tak pernah Tara lihat keluar dari mata indah itu.
"Nggak apa-apa cuma kelilipan," balas Zehn dengan seulas senyum yang terasa hambar.
"Kenapa? Bilang sama aku, jangan disembunyiin."
"Nggak ada yang aku sembunyiin Baby Ra," balas Zehn mengusap lembut pipi Tara.
"Beneran?," Zehn mengangguk.
Tangan Tara masuk ke dalam saku jaket yang dikenakan Zehn, mengambil gawai yang selama ini ingin dia buka. Sebenarnya, Tara hanya ingin tahu apa saja isi galeri Zehn. Perasaan curiga itu tiba tiba datang, ketika ponsel Zehn diberi kata sandi. "Kok disandi segala?," tanya Tara memicingkan matanya.
"Ada hartu katun didalemnya, takut dibuka abang kamu. Kebiasaan pinjam HP aku gara-gara Iphone dia rusak," balas Zehn diakhiri kekehan mengingat riwayat Iphone dua bulan Dirgo rusak karena calon istrinya sendiri.
"Harta karun apa?," tuding Tara.
"Harta karun yang sangat berharga banget, pokoknya nggak boleh ada yang curi harta karun itu. Bisa bahaya nanti," sahut Zehn yang semakin membuat Tara menautkan alis curiga.
"Apa paswordnya, Zehn?."
"Senyum dulu!."
Tara tersenyum begitu manis, menampakkan gigi kelincinya. Zehn yang melihat itu malah tertawa keras, membuat sang empu mengerucutkan bibir. "Kenapa ketawa ihhh? ."
"Enggak, lucu aja. Mirip kelinci-aawwhhhh..."
Zehn meringis ketika cubitan mendarat mulus dilengannya. "Dasar, cepat iihhh apa paswordnya?."
"Ulang tahun kamu."
Segera Tara memgetikkan tanggal ulang tahunnya. Benar, layarpun terbuka. Dan hal pertama yang Tara buka adalah galeri. "Cari apa sih?," tanya Zehn dengan mata tertutup, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Mata Tara melebar tak kala mendapati isi dari galeri Zehn hanya dipenuhi foto dirinya. Wajahnya terasa memanas, semyumpun tak terelakkan dari wajah cantik gadis itu. "Kok isi galeri kamu foto aku semua sih?."
"Iya, itu harta karun aku."
"Hh..haahh?."
"Hm, kalau kamu yang lihat mah nggak apa-apa. Asalkan jangan orang lain."
"Aisshh segitunya ya kamu cinta sama aku?," goda Tara mencubit kedua pipi Zehn gemas.
"Udah nggak bisa dihitung seberapa besar aku memcintai mu, Tara."
"Dasar BUCIN!."
"Siapa dulu yang bikin aku jadi bucin, hm?," Tara terkekeh.
"Tara."
"Hm?."
Tara gelagapan, menghindari tatapan intens dari Zehn. Pertanyaan konyol yang berhasil membuat degup jantungnya kembali berdesir. "Nggak perlu ditanya lagi seharusnya kamu udah tahu Zehn."
"Tapi aku pengen dengar langsung dari mulut kamu Tar."
"Selama ini cuma aku yang ungkapin perasaanku ke kamu. Belum pernah aku denger kamu bilang sayang, bahkan cinta," lanjut Zehn lirih.
'Nggak usah aku jawab kamu juga tahu Zehn, melebihi perasaan ku sendiri. Aku sangat sangat sayang sama kamu.'
"Kamu tahu itu Zehn," balas Tara ambigu.
Keduanya sama sama membisu beberapa menit kemudian. Tara masih setia mengelus kepala Zehn hingga membuat cowok itu menguap beberapa kali.
"Aku ngantuk Tar."
"Tidur aja dulu, tapi jangan lama-lama."
"Kenapa?," tanya Zehn membuka kembali kelopak matanya yang teras berat.
"Takut, masa aku sendirian disini? Kamu malah tidur."
"Ya udah tidur bareng aja disini."
"Apaan sih nggak jelas," balas Tara mendengus pelan.
Zehn menghela napas kasar, pikiran dan hatinya sekarang sedang gelisah. Tidak tahu karena apa, ke khawatirannya semakin bertambah tak kala melihat wajah Tara.
"Tar, aku capek."
"Capek banget ya, gara-gara nyiapin kejutan seharian?."
"Hhmm," balas Zehn yang tak sinkron dengan hati juga keadaan pikirannya sekarang.
"Pengen pulang, tapi nggak tahu mana rumah yang sebenarnya."
Alis Tara menyatu, mencoba memahami perkataan Zehn yang sedikit membawa teka teki. "Pulang ke rumah Om Aryo aja Zehn, jangan ke apartemen-."
"Kasian tante Indira, dia pengen banget kamu pulang ke rumah."
"Hmm, rumah? Entahlah," balas Zehn diselingi kekehan yang terasa menyayat hati Tara. Apa dia salah bicara?
Zehn beranjak duduk menghadap Tara, menggenggam kedua tangan gadis itu. "Aku boleh berharap padamu, Tar?."
"Be..berharap apa?," gugup Tara menaikkan satu alisnya. Tangan Zehn sangat dingin dengan tatapan serius menusuk netranya.
"Berharap, untuk jangan pernah tinggalin aku apapun itu keadaannya. Seburuk itu kenyataannya, sesingkat itu kenyataannya, bahkan mungkin lebih menyakitkan," kata demi kata yang terlontar begitu saja keluar dari mulut Zehn. Tatapan serius kini berubah menjadi tatapan sendu. Seakan Zehn paling rapuh tanpa adanya Tara saat ini dan sampai kapanpun itu.
"Ka..kamu ngo..ngomong apa sih?."
"Jawab Tar!-."
"Jangan pernah tinggalin aku, ya!?."
"Iya, aku juga nggak mau jauh dari kamu Zehn," balas Tara sembari melingkarkan kedua tangannya diperut Zehn. Mendekap tubuh cowok itu sangat erat, enggan melepas. Berharap waktu berhenti sejenak, membiarkan keduanya terlelap dalam dekapan.
"Aku beruntung bisa bertemu denganmu, Baby Ra."
"Aku juga, merasa paling beruntung bisa mengenal sosok sepertimu Zehn."
"WOY HATI HATI ADA SETAN TUH DIATAS POHON!."
Sial, dasar abang durjana lu!
Keduanya melepas pelukan yang terasa singkat itu, menoleh ke belakang dimana Dirgo berdiri dengan Manda disampingnya.
"Ganggu aja lu bang!," sungut Zehn.
"Mau pulang kak?," tanya Tara hanya diangguki Manda. Sepertinya gadis itu sudah ngantuk berat dengan kelopak mata menyipit.
"Anter pulang dulu dong calon istrinya. Kasihan entar masuk angin naik motor malam malam," goda Zehn mendapati pelototan tajam dari Dirgo.
"Terserah lu pada lah. Capek gue!," final Dirgo yang sudah frustasi mendengar ejekan demi ejekan, melangkah kearah motornya yang terpakir diikuti Manda dari belakang.
"Cie cieee ekhhmmmm....malu malu kucing nih kayaknya, tuh wajahnya aja udah merah kayak tomat busuk," sorak Tara spontan membuat Dirgo memegang pipinya yang terasa panas. Sial, bisa malu dia jika benar benar bulshing didepan si adek.
Gelak tawa Zehn Tara mengguar, tak sangka wajah Dirgo langsung memerah ketika sebuah tangan melingkar diperutnya.
"Ayo kak jalan! Manda udah ngantuk," suara serak dari belakang membuyarkan lamunan Dirgo.
"Ck, iya iya sabar!-."
"Awas aja ya lo pada, habis ini gue kawinin lo berdua!."
"Iya bang ayo! Tara mau mau aja kalau sama Zehn," balas Tara tanpa beban semakin memuncakkan kekeselan Dirgo.
"SERAH ORANG BUCIN MAU BILANG APA, BYE!."
Setelah kepergian Dirgo dan Manda, keduanya kini juga berada didepan pagar rumah Tara. Zehn memutuskan segera pulang karena langit mendadak berubah mendung. Padahal beberapa saat yang lalu, langit sangat cerah.
"Hati-hati Zehn, bawa jas hujan nggak?."
"Nggak bawa. Tapi tenang aja nggak bakal hujan kok, cuma mendung."
"Yaudah, kalau nanti hujan berhenti aja ya neduh. Jangan diterobos, nanti masuk angin gimana?."
"Iya Baby Ra, siap laksanakan!."
"Siap kapten!," balas Tara tersenyum lebar sembari hormat kearah Zehn yang sudah duduk diatas motornya.
"Sini dulu deh Tar!."
"Kenapa?."
"Pengen peluk sekali lagi," suara manja Zehn membuat Tara mau tak mau mendekatkan diri agar bisa memeluk tubuh hangat itu.
"Hangat, tenang kalau dipeluk kamu Zehn. Kayak pelukan ayah, nyaman."
"Aku beri pelukan ini kapanpun kamu mau, Tara."
Tara mendongak, memarkan gigi kelincinya. Zehn dengan bebas mencubit hidung Tara yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Kebiasaan!," dengus Tara mengelus hidungnya.
"Merem dulu deh Tar!."
"Ngapain?," tuding Tara dengan air muka curiga. Melepaskan pelukan keduanya.
"Merem aja dulu, sebentar kok."
"Janji sebentar? Nggak ngapa ngapainkan?."
"Ya ampun iya, sebentar aja kok!."
Lagi lagi Tara menuruti perkataan Zehn, menutup kedua matanya dengan harap harap cemas. Satu detik kemudian rasa lembut yang tak pernah ia rasakan menempel dibibir nya seperkian detik.
Ya, hanya menempel tanpa ada gerakan dari keduanya. Pipi Tara terasa panas, darahnya seperti berdesir hebat saat ini, detak jantung juga berdegup kencang, tubuhnya serasa mati kutu.
Kesadarannya mulai kembali ketika benda lembut itu tak lagi terasa, juga suara deruman motor membuatnya membuka mata. Dan apa yang pertama kali Tara lihat? Wajah itu, wajah yang sangat ingin dia lihat setiap harinya kini berubah menjelma menjadi sebuah seringaian seorang musuh yang sangat berbahaya bagi dirinya.
"Terima kasih untuk first kiss-Nya, Baby Ra."
"Kening dan bibir itu sudah menjadi milikku selamaNya."
"Love you, See you TaraNya Zehn!."
BREEMMM
Tubuh itu masih membeku ditempat, menatap kepergian sosok yang berhasil memacu jantungnya sampai benar benar menghilang ditelan kegelapan malam.
Tangannya terangkat menyentuh bibir yang kesuciannya beberapa detik lalu sudah direnggut paksa. Namun, tak lama kemudian otaknya kembali sadar membawa senyuman yang begitu manis.
"Aaaaaahhhhhhhhh...Bundaaaaaa......"
Tidak bisa disembunyikan, air muka Tara benar benar berseri seri. Bahagia yang tak pernah ia rasakan sebahagia ini. Telapak tangannya menggadah kearah langit, setetes air hujan membasahi kulitnya. Perlahan tapi pasti, rintik air hujan itu semakin banyak.
"Kok hujan sih, pasti kehujanan deh Zehn. Semoga dia neduh dulu deh," guman Tara terasa cemas.
Langkah kakinya beranjak memasuki rumah dengan menggigit bibir bawahnya. Rasa itu, seperti masih menempel. Ingin mengulang tapi-ah sudahlah, otaknya tak ingin tercemar lebih jauh lagi.
Dari balik kaca balkon, dirinya terlihat gelisah. Hujan yang turun begitu deras dalam beberapa menit lalu itu sudah mengguyur rata tanah sampai basah. Disambut dengan gelegar petir membuat Tara terlonjak kaget.
CEETAARRR
"ZEHHNNN....."
Jantungnya berdegup tak karuan, napasnya naik turun. Entah kenapa nama itu yang keluar dari mulutnya ketika kilat petir menembus kaca balkonnya.
"Zehn kehujanan nggak ya?," gumam Tara melangkah duduk ditepi ranjang.
"Tara," panggilan dari Ratih membuatnya menoleh.
"Tidur gih! Besok kan masuk sekolah," lanjut Ratih berjalan mendekati Tara.
"Iya bun, Tara cuci muka dulu."
"Ya udah bunda ke kamar ya. Good night sayang," ujar Ratih.
Ratih keluar, sedangkan Tara melangkah menuju kamar mandi. Ketika tangannya membasuh wajah, suara benda terjatuh membuat Tara membuka matanya. Dan disaat itu juga jantungnya hampir saja lepas. Bagaimana tidak jika kalung yang diberi Zehn hampir saja ikut larut kedalam saluran wastafel, jika saja tidak dengan cepat Tara mengambilnya.
"Astaga, untung aja nggak masuk kelubang air. Kok bisa bisanya lepas ya?," gumam Tara yang tak bisa lepas dari bayang bayang cowok itu. Zehn, apa dia sudah sampai rumah? Batin Tara harap harap cemas.
🌹🌹🌹
...GIMANA NIH, UDAH DEG DEG-AN BELUM!?...
Gemes banget sama nih anakkk☺