Zehntara

Zehntara
Chap 19 ( SKAKMAT )



Wajah Tara seketika berubah pucat dengan keadaan mulut menganga memandang Zehn tanpa berkedip. Sungguh semua ini terlalu cepat masuk ke dalam otak dan jiwanya.


"Gimana?, gue tembak lo sekarang aja ya!?."


"Kalau di tembak nanti Tara mati dong!?."


Zehn menepuk jidatnya sendiri, mencoba lebih sabar dengan gadis dihadapannya. Jika tidak sabar mungkin sudah si tembak beneran nih Tara.


Sekuat mungkin Zehn menahan tawanya, tapi No. Dia tidak bisa menahan sampai Tara dan pengunjung sekitar beralih menatapnya yang tiba tiba langsung terdiam dan kembali berdehem. Mencoba menetralkan wajah seperti semula, membuat Tara semakin canggung.


"Ekhmm___ jadi lo nggak tahu maksud gue apa!?."


"Ta..tara mau pulang aja!," sahutnya langsung beranjak meninggalkan Zehn yang masih senyum senyum melihat wajah Tara merah merona, sungguh pemandangan yang sangat Zehn suka.


"Dasar malu malu kucing!."


Matahari semakin tergelincir di ufuk barat, Motor Sport hitam itu memasuki pekarangan rumah Tara. Sejak perjalanan pulang hanya suara motorlah yang berada di antara mereka berdua. Jantung Tara yang masih tidak bisa di ajak kompromi terus membuatnya panas dingin.


'Sial, kenapa gue punya penyakit jantung dadakan sih!?'


"Lo baik-baik aja kan!?."


"Haa!?___ Ah iya," sahut Tara.


"Terus!?."


"Terus apa nya?."


"Yang tadi di warung mie ayam!."


"Jadinya gimana!?," lanjut Zehn dengan senyuman yang menusuk netra Tara, sang empu langsung menunduk. Takut jika Zehn melihat wajahnya yang sudah seperti tomat busuk.


"Jadi nya sekarang lo mampir dulu aja soalnya ini udah mau gelap sekalian mampir buat makan malam pasti ayah sama bunda setuju, ayo masuk!."


Cerocos Tara tanpa mau memandang lawan bicaranya dan melangkah masuk begitu saja. Seorang Zehn yang sangat supple itu tidak bisa lagi menahan tawa.Tara selalu menjadi mood boosternya ya!?.


"Wah kode keras nih!."


"Oke, siapin mental buat menghadap Pak Tentara!," lanjut Zehn sambil merapikan seragam yang ia kenakan. Dengan langkah mantap dia menyusul Tara, tak lupa senyuman  terbit diwajah Zehn.


"Assalamu'alaikum!."


"Wa'alaikumsalam," sahut Ratih dan Fariz kompak beralih menatap Zehn yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Oh ternyata habis jalan sama Zehn to!?."


"Ish siapa yang habis jalan sih Yah!."


"Iya Om kita nggak habis jalan kok, kan kita naik motor!."


Ruang makan terdengar nyaring dengan suara tawa Fariz yang menggelegar. Ratih hanya terkekeh melihat ekspresi Tara antara ingin tertawa dan malu, sangat lucu.


"Astaga sampai sakit perut Om. Kamu ini Zehn ada ada saja!."


"Sudah sudah nanti di lanjut, sekarang makan dulu ya!."


"Iya tante makasih!."


"Belum makan kok udah makasih hah?, makan dulu yang banyak Zehn nanti temenin Om main catur oke!?."


"Wah kalau itu jangan di tanya Om."


"Memang kenapa!?."


"Karena Zehn jagonya main catur!."


"Belaga ternyata kau Zehn. Oke kita lihat aja nanti!."


"Bunda sama Tara jadi saksinya!."


"Nggak mau!. Dari pada lihat ayah sama Zehn main catur, enakan Tara lihat Drakor aja!."


"Dasar kamu, disini ada yang lebih ganteng kok malah di anggurin. Oppa Oppa korea aja nggak kenal kamu, ngapain kamu tergila gila sama dia?. Yang dekat aja lebih oke, ya nggak Zehn!?," ujar Fariz menepuk bahu Zehn dengan senyum penuh arti.


'Lampu hijau nih, yesss!!!'


'Arrghh bikin malu aja nih bapak satu satunya, maksudnya apa coba!?'


"Udah nggak usah di dengerin lanturan Om Zehn. Nih makan yang banyak!," sahut Ratih.


"Makasih tante!."


🌹🌹🌹🌹


Persimpangan jalan Alaskar cukup sepi  jika malam hari tiba, tetapi segerombol para pemuda membuatnya seakan dalam keadaan siang hari. Motor bejejer rapi di pinggir jalan, asap rokok pun menggebul di udara yang cukup dingin.


"Kenapa nongkrong di sini bro?. Kita kan punya Bascamp!?," ujar cowok berbadan kekar dengan pakaian serba hitam ditambah topi melekat di kepalanya.


"Gue takut aja kalau kita masih di Bascamp bakal ada kerusuhan Rey."


"Dari kemarin lo bilang gitu aja, emang siapa sih yang mau ajak ribut hah!?," sahut cowok yang masih bertengger di motornya.


"Ada lah pokoknya!."


"Lo bikin masalah sama siapa Dir?."


"Dia yang bikin masalah duluan. Bukan gue!!!," sahut Dirgo dengan sedikit berteriak.


Ya, mereka anggota geng Reveal. Dirgo yang masih ber hati-hati jikalau Ziro masih dendam dengannya waktu kejadian di Restoran. Tidak mungkim dia melibatkan teman-temannya dalam masalah ini.


"Cerita aja lah Dir ada apa?. Masalah lo itu juga masalah kita semua!."


"Rey, lo kan tahu kalau gue paling menghindar dari segala bentuk kekerasan!. Gue nggak mau sampai semua terdengar sama Bokap, bisa mati di tempat tahu nggak!."


Semuanya menahan tawa tak kala wajah Dirgo yang selalu memelas saat membayangkan bagaimana ekspresi Fariz saat mengetahuinya mengikuti aluran geng motor, lebih parah Dirgo lah sang leader.  Iya kalau cuma marah, kalau Dirgo sampai di tembak bagaimana nasib hidupnya?. Dosa nya terlalu banyak, dia belum siap mati!.


"Kenapa?, ketawa lo pada!?."


"Nggak kok, cuma lagi ngitung bintang susah banget dari tadi," sahut Rey yang langsung kena tabokan Dirgo.


"Bos!," panggil Joy yang duduk diatas motor tadi.


"Kalau lo ketahuan jadi leader geng motor, gimana?."


"I don't no!."


"Wah hati-hati Bos!."


"Bukan mulut yang bergerak, tapi senjata yang bertindak!!!," sahut Jeno disambut gelak tawa mereka semua. Dirgo yang hendak menyiapkan kuda kudanya terdiam seketika, tak kala melihat sorotan cahaya dari jauh.


BREEMM


BREEMM


BREEMM


Segerombolan motor melewati Reveal dengan berbagai aksinya, bahkan jumlah Reveal kalah banyak. Dirgo mengepal sampai kuku kuku bukunya memutih, rahangnya mengeras saat seseorang membuka helm dan turun mendekatinya.


"Ternyata lo cuma seorang pengecut ya!?."


Smirk terpampang jelas diwajah Ziro. Ya, mereka adalah geng Heroz. Kedua geng itu berjejer rapi, saling melempar senyuman maut.


Sedangkan di rumah Tara, Zehn sedang santai bermain catur bersama Fariz.


"Skakmat!!!."


"Yaah, Om curang nih!."


"Bukan Om yang curang, tapi kamu yang nggak bisa main!."


Zehn menggaruk lehernya, meringis menatap Fariz yang masih terkekeh. Bukannya tidak bisa bermain, tapi dia tidak sering bermain catur.


"Katanya tadi jagoan, mana coba!?."


"Om!?."


"Hmm!?."


"Kalau Zehn bilang suka sama Tara, Om bakal setuju nggak?."


Fariz beralih menatap lekat manik Zehn, sang empu pun tidak segan menatap kembali. Keheningan keduanya teralihkan saat dering ponsel Zehn berbunyi.


"Iya hallo!?."


"Gawat Zehn, gawat!!!."


Zehn berdiri menjauh sebelum Fariz mendengar obrolannya bersama Jigar. "Apanya yang gawat!?."


"Heroz nyerang Reveal sekarang di jalan Alaskar."


"Apa!?. Lo serius kan?."


"Beribu rius, cepat lo kesini kalau nggak gue nggak tahu lagi nasib Geng Reveal yang cuma secuil dari Heroz!!!."


Tut


Zehn tak banyak kata dan segera menutup sambungan telepon. Dengan tergesa gesa dia mengambil tas yang ada di meja makan. Sedikit berlari menuju pintu keluar, sebelum langkahnya terhenti tak kala Tara memanggil.


"Lo mau kemana!?."


"Ah itu, mau pulang!."


"Kenapa buru buru?."


"Ada mama, salam buat Ayah sama Bunda Tar."


"Gue balik dulu, bye!."


Tara menghela napas kesal, entah kenapa dia terlihat murung saat Zehn menghilang ditelan pintu.


"Zehn di mana Tar?."


"Nggak tahu tuh yah, buru-buru banget."


"Kamu itu giliran nggak ada aja cemberut, waktu ada aja di cuekin. Dasar perempuan!."


"Jadi ayah nyindir bunda nih!?."


"Eh bunda, ayah mana mungkin nyindir bunda. Anakmu itu loh suka jaim!."


Ratih terkekeh melihat Tara beranjak ke kamar dengan kaki dihentak hentakkan. " Kayak siapa dong yah?."


"Ayah dong!," keduanya tertawa bersama.


Di lain sisi Zehn menancap gas dengan kecepatan penuh menuju jalan Alaskar. Suara ribut mulai terdengar dari persimpangan, dengan keahlian motor Zehn memecah mereka semua hingga menepi satu per satu. Masih takut nyawa jika jika Zehn sungguh menabrak mereka.


"WOY SIAPA LO!?."


"NGGAK USAH SOK GAYA DEH!."


"BERHENTI NGGAK LO!?."


"SHIT, MAU MAIN-MAIN DIA!."


Suara teriakan dari Geng Heroz tak membuat Zehn berhenti. Sampai membuat Ziro geram, dia tahu siapa orang dibalik helm full face itu.


CCCIIIITTTTTT


"Zehn!?."


"Lo kenal dia Dir?."


"Dia yang bantu kita waktu itu."


"Jadi dia!?," Dirgo mengangguk.


Zehn turun, melangkah mendekati Ziro dengan sorot mata elang. Bayang bayang Tara di tampar membuatnya tersulut emosi jika melihat wajah Ziro.


"Masih sama ya kelakuan lo. Dasar pengecut!!!."


BUGH


Ziro tersungkur saat tinjuan Zehnmendarat di pipinya. Darah segar sedikit mengalir di sudut bibirnya. Tanpa menghiraukan rasa perih, Ziro bangun dan membalas serangan Zehn.


"Gue belum puas hajar lo waktu di kantin."


"Sekarang gantinya, lo bakal habis di tangan gue Ro!!!."


Perkelahian pun kembali terjadi, hantaman bertubi tubi Ziro dan Zehn layangkan. Sedangkan Dirgo juga tidak mudah mengalahkan kemampuan Jez selaku tangan kanan Ziro.


"Hebat juga ya lo!," Jez hanya tersenyum licik, kembali memberi serangan kepada Dirgo.


Kedua saudara itu tersungkur saat tendangan mereka layangkan secara bersama. Dengan napas tak beraturan Zehn mencoba bangkit dan menarik kerah Ziro yang masih terlentang di tanah.


"Sekali lagi lo sentuh Tara, gue patahin tangan lo!!!."


BUGH


Darah mengalir dari hidung Ziro, membuat Zehn tersenyum puas. Saat sedang kacau-kacaunya, suara sirine polisi membuat mereka semua panik.


"Sial, cabut gaes!!!," ujar Dirgo.


Percuma, mereka semua sudah di kepung dari empat arah. Mati kutu sudah saat satu tembak peringatan meluncur di udara.


"Shit, alamat lo boss!."


"Lo juga bego!," sahut Dirgo menendang tulang kering Jeno.


"Lebih parah lo lah. Ingat sama bokap lo bos!."


Deg


"Oh No!."


"TANGAN DI ATAS SEMUA!!!!."


"SEKARANG JONGKOK. JANGAN ADA YANG BERGERAK!!!."


"Bang!?."


"Nikmati yang ada aja lah!!," lanjut Zehn tersenyum jahil, membuat Dirgo semakin geram melihat temannya yang lain ikut terkekeh.


Dirgo mengusap gusar wajahnya, sudah hampir setengah jam dia terus mengelak saat di tanya siapa nama orang tuanya. Bahkan beberapa teman teman Dirgo sudah bebas di jemput orang tua masing-masing dengan membawa surat peringatan. Hanya ada beberapa orang yang masih menetap, termasuk Zehn, Dirgo, Ziro, Jez, Adit dan Aditya. Bukan tidak sengaja mereka hanya diam saat di interogasi, hanya saja mereka tidak ingin mati di tangan bokap dan nyokap.


"Kalau harus tidur di sel semalam gue rela kok. Daripada Bokap gue tahu kelakuan anaknya!," bisik Adit yang tak di hiraukan Jez.


Ziro dan Dirgo masih setia di hadapan Pak Polisi dengan wajah tanpa dosa, selaku mereka lah leader dari dua geng motor.


"Sudah saya bilang berkali kali bukan pak!?."


"Kalau saya itu nggak punya wali, itu artinya orang tua saya sudah nggak ada!," lanjut Dirgo yang mendapat senyum remeh dari Ziro.


"Sudah biasa saya mendapat alasan seperti yang kamu katakan. Lebih baik kamu jujur atau disini selama seminggu!."


"Ya ampun Bapak itu tidak punya rasa kemanusiaan ya?. Di bilangin saya itu anak yatim piatu Bapak!!!. Kok masih ngeyel sih!?."


Zehn yang duduk di seberang menahan tawa yang ingin meledak kapan saja. Sungguh, pembelaan Dirgo sangat tidak masuk di akalnya.


'Dasar anak durhaka lo bang!'


Bapak polisi dengan name tag Hendro itu mengembuskan napas kasar, menatap keduanya jengah.


"Kalau kamu, apa ada alasan yang lebih bagus dari dia!?."


"Orang tua saya lagi di luar negeri!," sahut Ziro masih dengan santai nya. Tidak peduli dia akan masuk ke dalam sel sekali pun, mungkin papa nya tidak akan mengkhawatirkan diri nya.


"Dua dua nya!?."


"Hmm!."


"KALAU KALIAN BAGAIMANA!?."


Adit dan Aditya terlonjak saking kaget mendengar Pak Hendro berteriak, sedikit gagap keduanya kembali duduk dan kembali menetralkan wajahnya.


"Kalau..."


"SUDAH!."


"SAYA TIDAK INGIN MENDENGAR ALASAN-ALASAN KALIAN YANG TIDAK LOGIS!."


"Terus bagaimana lagi dong pak?. Orang tua kita pada sibuk, jadilah kita hanya bisa pasrah!," sahut Aditya dengan wajah tanpa dosa, membuat beberapa polisi yang sedang bertugas geleng geleng kepala.


"Kalian itu masih muda kok sudah seperti ini kelakuannya. Memang apa sih manfaat tawuran itu!?, toh akhirnya cuma membuat rugi diri sendiri kan!?," tutur pak polisi ber nama tag Jaya.


"Oke jika kalian mau tidur di sini, silahkan!?."


"Nah gitu dong pak. Dari tadi kek!," sahut Adit.


"Dasar anak jaman sekarang malah pengen tidur di dalam sel, cckk!!," ujar Pak Hendro.


"Nggak apa-apa kan Zehn?."


"Sekali kali cobain lah!," lanjut Dirgo.


Mereka ber enam hendak melangkah menuju sel, tapi terhenti tak kala suara bass mengintrupsi.


"Tunggu!!!."


"Ada apa ya, pak Ren?," tanya Pak Hendro kepada pak Rendi yang baru saja masuk ke dalam ruang introgasi.


"Saya seperti kenal sama kamu, tapi di mana ya!?."


Deg


Jantung Dirgo memompa lebih cepat saat mengingat polisi yang baru saja menunjuknya.


'Mati gue, please jangan ingat!. Amnesia kan pak Rendi detik ini juga, please ya tuhan!.'


"Oh iya, kamu anaknya pak Fariz bukan!?."


SKAKMAT


🌹🌹🌹🌹


WOAAHH AKHIRNYA UP PANJANG BUAT PARA READERS TERCINTA HEHEEHE😁


BONUS UP NIH,, LAGI KANGEN SAMA SUARA KALIANNNN🥳


CEMANGATIN MIKI DONGG, LAGI DROP NIH LANJUTIN ZEHNTARA KOK NGGAK TAMAT TAMAT YAH? KAN CAPE NGETIKNYA HIKKSSS😭


GIMANA NIH SAMA CHAP SKAKMATT INI!???


KALAU FARIZ TAHU DIRGO MA ZEHN IKUT TAWURAN, GIMANA YA?


DITEMBAK KAH?


...SPAAMMM KOMEN...


...VOTE AND...


...POIN...


...~Jangan lupa saling menghargai...


...LOVE YOU ALL GAESSS😚...