
...Perasaan adalah apa yang kau rasa...
...logika adalah angan semata...
...Aku tak mampu mengeja rasa...
...karena kau menghanyutkan aku dalam...
...kubangan rasa...
...🌹🌹🌹🌹...
Ayam berkokok begitu nyaring, membuat gadis yang sedang terlelap mulai menggeliyat. Perlahan matanya mulai terbuka, mengerjap menatap jam backer yang berada diatas nakas.
Tara menghembuskan napas kesal, bagaimana tidak jika dirinya harus menjalani hukuman dari sang ayah sebelum berangkat sekolah.
"Males banget gue cuci mobil pagi pagi kek gini. Tara nggak kuat yah dingin!!!," teriakya membangunkan makhluk disamping kamar Tara.
"Woy jangan berisik napa, nggak tahu ini jam berapa hah!?."
"Ckk gara gara abang nih Tara jadi kena hukuman!."
Teriak mereka berdua dari dalam kamar, Dirgo semakin menenggelamkan wajahnya tanpa peduli tudingan dari Tara.
"Dasar awas ya bang, gue kempesin tuh ban motor!."
"Dibilangin jangan kasih tahu Zehn kejadian waktu direstoran juga!. Mulut lo kayak perempuan tau nggak?. Comberan!!!."
"Helooo!!!, gue lagi ngomong loh bang!?," Tara berdecak sebal saat suara dengkuran kembali terdengar.
"Dasar kebo!!!."
Dengan malas Tara menginjakkan kaki turun dari ranjang dan segera mandi. Cukup lima belas menit untuk menyegarkan badan, Tara mengambil kaos berwarna pink dan celana pendek agar lebih leluasa untuk pekerjaan cuci mencuci.
"Ya tuhan, turunkanlah malaikat buat bantu Tara!!!," ujarnya mengangkat kedu telapak tangan.
Lebay banget sih lu Tar!
Jarum jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, membuat Tara mencuci dengan heboh. Takut jika dia akan terlambat, apalagi hari ini adalah hari kesaktian pancasila yang harus masuk menghadiri upacara bendera.
"Harusnya tuh tanggal merah, kenapa harus masuk kalau cuma mau berdiri. Panas panas lagi!," gerutunya sambil membersihkan kaca mobil.
"Coba bilang sekali lagi!!!."
Seketika wajah Tara memerah, wajahnya panik saat sang ayah sudah dibelakangnya dengan sebelah tangan membawa secangkir kopi.
"Ta..ta..tara ngg..nggak bii..bilang..apa a..apa kok yah!!!."
Jiwa kegagapan Tara langsung menyerbu, entah kenapa saat dihadapkan dengan ayahnya, penyakit gagap itu datang tiba tiba. Mungkin karena takut atau apalah, Tara juga tidak tahu!.
"Hukum! Hukum! Hukum! Hukum! Hukum! Hukum!!!."
Ye tukang kompor datang!
Dirgo memutari Tara dengan kepalan tangan yang digerakkan keatas dan terus berucap 'hukum'. Dasar abang Tara satu ini suka sekali membuat adiknya terkena hukuman negara.
'Abang laknat lu'
Dengan kesal Tara menyemprot Dirgo dengan selang yang dipegangnya, namun naas sasaran tidak tepat mengenai Dirgo yang sudah menghindar dibalik mobil. Tapi semprotan Tara berhasil mengenai seluruh tubuh dan motor yang baru saja tiba.
Wajah tercengang ketiganya sangat nampak, terlebih mata Tara yang ingin keluar dari tempatnya.
"OMG Tar, tanggung jawab!!!. Udah bikin anak orang basah kuyup sebelum waktunya!."
Ujar Dirgo langsung ngacir masuk kedalam rumah disusul Fariz sesudah mengatakan sesuatu pada Tara.
"Dilayani ya sayang, jangan sampai nanti masuk angin malah kamu yang repot!."
Shit!
Ingin sekali Tara mengumpati bapak dan anak sulungnya, tapi dia masih ingat dosa!.
"Gue udah mandi Tar!. Kenapa lo mandiin gue lagi!?."
Wajah Tara memerah persis seperti tomat busuk. Sungguh dia ingin menghilang dari sini. Melihat pemandangan didepannya benar benar membuat Tara enggan berkedip. Seragam yang terkena air itu langsung tembus pandang memperlihatkan roti sobek dari sang empu.
"Ma..maaf Zehn!?," ujarnya sambil membelakangi Zehn, yah basah sudah. Mau gimana lagi nasi sudah menjadi bubur.
Zehn turun dari mobilnya, melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Dengan langkah pasti Zehn mengambil alih selang dari Tara dan mulai membersihkan mobil.
"Loh Zehn, sini biar gue aja!."
"Udah gih sana siap siap!!, biar gue lanjutin. Nanti kita telat lagi."
"Nggak usah lo kan udah pake seragam nanti basah," ujar Tara tanpa dong ding dong lagi. Zehn terkekeh menatap wajah polos mungil Tara, sungguh selau menggemaskan.
"Lah kan udah basah seragam gue gara gara lo!!!."
'Bego lu Tar'
"Aahh iya ya lupa. Sorry!!!."
"Yaudah cepat ganti baju," ucap Zehn sambil terus mengelap.
"Iya, tapi kenapa lo kesini?."
"Buat jemput yang namanya Tara saendria putri, paham? Atau ada yang mau ditanyakan lagi? Sebelum gue mandiin lo disini!, gimana?."
"I..iya udah nggak ada kok, gue juga udah mandi nggak perlu dimandiin lagi udah bye Tara ganti baju dulu," sahut Tara berlari kecil memasuki rumah, dan jangan ditanyakan lagi wajahnya yang sudah berubah warna menjadi ungu:(.
Disinilah Zehn dan Tara berada, didepan para murid yang sedang khidmad mengikuti upacara. Tepat dibelakang tiang bendera merah putih, seulas senyum tak luntur diwajah manis Tara.
Baginya saat ini adalah momen dimana sebuah hukuman yang indah. Lebih indah dari hukuman yang diberikan sang ayah. Emm sejak kapan hukuman momen terindah, Tara?. Sangat tidak masuk diakal, tapi masuk diakal Tara!.
Seharusnya dia malu, bahkan hanya sekedar tersenyum. Tapi ini anak benar benar aneh, sedari tadi memandang tak tentu arah dengan ukiran bulan menghiasi wajah. Sedangkan dari kejauhan Chika dan Maya menatap bingung sahabatnya yang satu ini, bukannya menundukkan wajah seperti murid lain yang telat, eh dia malah senyam senyum nggak jelas.
"Ngada ngada lu May. Masih pagi ini, belum ada setan yang bangun kali!."
"Ya elah emang setan juga tidur hah?."
"Ya iyalah, diakan juga butuh istirahat buat masuk ketubuh manusia."
"Tuh tuh kan lo lihat!, tambah parah nih anak!."
Tongkat kayu mendarat mulus dikaki Maya dan Chika yang membuatnya meringis, hendak mengomel tapi malah wajah si pak buncit yang nongol. Guru BK ter alay yang sering digosipkan para murid.
"Eh..Bapak!. Tumben Bapak pagi ini ganteng banget."
"Iya nih May, apalagi perut Bapak agak kecil ya!."
"Aduh tambah tinggi juga loh pak__oh ya plus tambah mehoy tuh kacamata, baru ya pak??," lanjut Chika dengan mengdipkan sebelah matanya yang kemudian menyesal dalam batin.
'Amit amit deh Chik'
"Masih berani bicara kalian!?."
Langsung deh kincep, menghadap kedepan lagi tanpa ba bi bu be bo. Dahlah capek kalau berurusan sama si Pak Buncit mah!. Selain alay juga terkenal killer.
Zehn yang berada disamping Tara merasa aneh, diliriknya Tara berulang ulang dan masih sama. Rona bahagia tercetak jelas, membuat Zehn berpikir apa yang membuat juniornya ini bahagia sekali saat dihukum.
"Lo nggak sakit kan Tar?."
"Tara sehat lahir batin kok!."
'Aahh mimpi apa gue semalam bisa dihukum bareng kek gini sama my hero kayak difilm film aja, ahh bundaaTara jadi pengen cepat cepat ganti profil dua angsa!!!'
"Lain kali bangun lebih pagi ya biar nggak telat!."
"Kesiangan juga nggak apa apa, Tara nggak keberatan kok kalau harus dihukum terus, apalagi kalau sama__"
"Bisa diam tidak!?. Sudah telat masih berani beraninya bicara didepan sang saka merah putih!!!,"Â sengit Pak Buncit yang entah kenapa sudah ada debelakang Tara dan Zehn. Perasaan tadi baru saja menegur Chika dan Maya yang berada diseberang.
🌹🌹🌹🌹
Dua pasang netra saling menatap tajam, tidak ada secercah damai didalamnya. Sedangkan kedua pasang netra yang lain menanti satu kata yang saling dilemparkan kedua makhluk didepannya.
"Masih nggak mau ngomong?," ucap Saniya melipat tangannya didada.
Kedua tangan Tara saling meremas, cemas akan keadaan yang tiba tiba mencekam. Zehn mengulurkan tangannya, selang beberapa detik Ziropun menjabat dan saling mengeluarkan senyum penuh kepalsuan.
"Sorry bro!!!."
"Seharusnya maaf itu buat Tara, bukan gue!."
"Oke gue ngaku salah!," Ziro mendekati Tara dan mengulurkan tangannya. "Sorry udah kasar, waktu itu gue kelepasan!."
Dengan ragu Tara menjabatnya, dan mengangguk. Saniya tersenyum melihat ketiganya saling lempar senyum, mungkin hanya senyum diluar saja.
'Kalau bukan karena Saniya, gue ogah merendah sama mereka'
"Nah gitu dong!, nggak ada yang namanya berantem berantem lagi paham!?."
"Iya tuan putri Saniya!," sahut Ziro membungkukan badannya.
Ziro memeluk Zehn dan menepuk nepuk pundak dengan membisikkan sesuatu yang membuat Zehn semakin geram.
'Keluarga lo hancur bukan gara gara gue, tapi itu karena ulah lo sendiri Ro!!!'
"Oh ya Tar bisa bantu gue cari buku diperpus dulu?."
"Bisa San!."
"Yaudah kalian berdua tunggu disini dulu ya, sebentar kok cuma cari satu buku!," Zehn dan Ziro mengangguk.
Selepas kepergian dua gadis itu, Ziro tak segan segan menarik kerah Zehn.
"Semua masalah dihidup gue itu muncul gara gara lo, brengsek!!!."
"Kalau ngomong bisa dipikir dulu, jangan asal ngomong!!!!," ujar Zehn setenang mungkin, membiarkan cengkraman Ziro dikerahnya.
"Gue nggak asal ngomong, emang itu kenyataannya!!!."
"Mama sama papa cerai itu gara gara lo, dasar anak haram pembawa sial!!!."
BUUGHH
Satu hantaman mendarat dirahang Ziro. Emosi Zehn lagi lagi tersulut, dia dari dulu sulit mengontrol emosinya jika sudah menyangkut hal pribadinya.
"Gue tegasin ke lo!!!!, gue bukan anak haram!!!."
"Kalau lo bukan anak haram kenapa papa bawa lo pulang sendiri hah??, kemana orang tua lo!?."
Keadaan di perpustakaan mendadak hening saat beberapa kata keluar dari mulut Saniya. Membuat hati Tara seketika membeku, tidak pernah terpikir bahwa kata kata yang dia takutkan selama ini keluar langsung dari Saniya, dan semakin gelisah dibuatnya.
"Ke..kenapa lo putus!?."
"Karena gue tahu perasaan Ziro!."
🌹🌹🌹🌹
~Hayoo Saniya bilang apa tuh sama Tara!!??? Jeng jeng jeng......
Follow ig miki : @Naokimiki12 banyak kata kata mutiara cuplikan dari Zehntara dan beberapa info. DM kalau mau follback, thanks!
Love you all gaess😉
...~Jangan lupa saling menghargai😉...