
"Gimana?" tanya Zahid saat keduanya telah duduk kembali.
"Aylin, iya," jawab gadis itu menunduk malu.
Abimanyu melihatnya sekilas, dan tersenyum tipis.
"Nak Abim?" Bu Syaida, tak ketinggalan bertanya pada pemuda tampan di hadapannya.
"Aku pun, sebagaimana niatan awal berkunjung ke sini," balas Abim.
Obrolan keluarga yang berangsur akrab, mulai menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Kedua calon pasangan itu kemudian menyepakati satu keputusan bahwa masa ini akan mereka jalani selama satu bulan mendatang sebelum menuju ke jenjang lebih tinggi, khitbah.
"Abah, bolehkah aku bicara berdua? ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," pinta Abimanyu segan.
"Boleh, dimana Nak?"
"Di mana saja boleh, bale tadi juga gak apa asal dapat leluasa bicara tanpa rasa was-was terdengar oleh yang bukan berkepentingan," ucap sang pria muda tampan, sesekali wajahnya tertunduk. Rasa sungkan kala di tatap Zahid, sebab sesuatu kekurangan yang dia miliki.
Abah mengangguk kemudian berdiri dan bangkit dari ruang tamu itu mengajak Abimanyu ke bale di depan sana, tempat yang sama dengan pembicaraan dengan Zaylin tadi.
Saat di atas bale.
"Silakan Nak, in sya Allah aman karena kebun ini memang Abah yang menjaga. Ada tembok setinggi dua meter yang mengelilingi, hanya bagian depan saja dipagari bambu. Bale ini tempat buat menimbang hasil panen. Tuh liat, tatanan pohonnya berjajar rapi. Jika ada orang menyelinap pasti ketahuan," tutur sang paman meyakinkan calon menantunya.
Penuturan sang wali wanitanya, Abimanyu angguki seraya tersenyum.
"Bismillah ... aku tinggal di Jakarta, dekat dengan istiqlal, daerah sawah besar. Masih mempunyai Ibu juga seorang paman di kota yang sama. Aku juga telah memiliki hunian di komplek yang sama dengan Ibu, juga dua cafe & distro yang masih dapat di selamatkan karena satu peristiwa," Abimanyu memulai kisahnya.
Zahid masih setia mendengarkan cerita sang calon mantu mengenai dirinya.
"Satu peristiwa yang menjadikan aku memiliki sebuah Aib. Zaylin melarang menceritakan apa kekurangan diriku pada Abah sesuai kesepakatan kami tadi. Jadi berkenaan dengan itu, aku memohon bantuan pada Abah, apabila suatu ketika Zaylin terluka atas apa yang aku lakukan di masa lalu hingga membuatnya pulang menemui Abah lagi. Mohon di terima, aku akan menjemputnya kembali," pintanya.
"Namun jika pada akhirnya keputusan Zaylin untuk pergi dan tak lagi bisa bertahan, aku akan mengembalikan dirinya secara baik pada Abah."
"Masa laluku kelam, meski bukan menjadi rutinitas namun aku sesekali melakukannya dulu, jika godaan itu datang. Aku terjerumus dosa besar. Untuk itu, aku juga memohon pada Abah agar ketika Zaylin kecewa atau terluka, ingatkan kembali akan niatnya membantuku ... aku sangat berusaha, bahkan melakukan pengobatan medis juga spiritual. Mohon dukungan Abah untuk kelapangan juga kekuatan hubungan kami di masa depan."
"Mungkin secara materi, aku sangat yakin dapat memenuhi segala kebutuhan istriku tanpa mengabaikan bakti pada Ibu dan Abah, namun kegundahan hati menghadapi Zaylin yang begitu sempurna tak ayal membuat nyaliku ciut. Aku juga membutuhkan Abah untuk menegurku jika keliru memperlakukan putri Abah," tutur Abimanyu, panjang kalimat permohonan sudah meluncur mulus dari bibirnya.
Wajah sang wali Zaylin seketika cerah, gurat senja tak menapik tercetak jelas namun siang itu tersamarkan berkat penuturan panjang calon menantu yang belum di kenal baik olehnya.
"Baik, Nak Abim. Abah akan ingat segala pesan yang disampaikan. Abah do'akan kalian berdua disetiap sujud Abah. Semoga langgeng, Zaylin memang mandiri sejak belia. Abah ngerti jika banyak pria merasa minder padanya. Tegur secara baik istrimu dengan kelembutan ya Nak Abim ... bagaimanapun juga, dia akan tetap patuh apabila suaminya sama-sama dalam keadaan tenang saat kalian bicara nanti ... Abah titip Aylin, jadikan ibadahnya sempurna sebagai anak juga istri, ya," balas Abah Zahid pada Abimanyu.
Kedua lelaki beda zaman saling meleburkan segala angan dan keinginan satu sama lain. Banyak pengajaran yang Abim dapatkan dari sosok sederhana nan teduh itu.
"Dia, amanah Abah. Sekarang akan beralih padamu. Semoga pernikahan kalian jadi ladang amal ya. Bahagia dunia akhirat, aamiin," sambung Zahid kemudian.
Satu jam tanpa terasa mereka habiskan berbincang di tempat asri nan teduh karena semilir angin pedesaan.
Ibu Syaida lalu menghampiri keduanya, seraya membawa baki berisi makanan juga gelas minuman hangat.
"Makan siang di sini saja ya, Aylin bilang kangen makan di luar," ucap sang kepala yayasan.
"Bener, enak di sini mumpung lagi teduh," balas Zahid Huzama.
Tak lama Arjuna bergabung dengan kedua pria, menyampaikan bahwa sang kakak sulung adalah orang mandiri dan bertanggungjawab bahkan terhadap adiknya dulu. Pria muda itu juga meminta dukungan Zahid untuk menjadi mediasi bagi keduanya apabila ricuh di kemudian hari. Karena kakaknya special satu paket dengan masa lalu yang tak biasa.
Abimanyu pikir, Zaylin akan ikut makan siang di bale. Kesempatan baginya mencuri pandang sebelum mereka berpisah nanti. Namun sayang, gadis itu memilih makan bersama Bu Syaida di teras rumah.
"Ku kira akan makan ramean di sini, Bah," Abim memberanikan diri bertanya pada sang wali.
"Aylin mungkin sedang membagi informasi untuk Nyai melalui Bu Syaida. Bisa jadi sedang curhat sesama wanita karena biasanya kaum hawa akan lebih luwes mengutarakan isi hati kala sedang santai, no jaim-jaim kalau anak sekarang sih. Dan makan, adalah salah satu waktu santai untuk mengobrol kecuali acara makannya petinggi ya, beda lagi. Kita ndeso jadi ya begitulah...." ucap Zahid di iringi kekehan kedua pria muda yang tengah bersantap bersama.
Setelah makan siang, semua insan yang terlibat acara pertemuan hari itu melaksanakan sholat berjamaah di ruang tamu, sebelum akhirnya kedua pemuda tampan pamit undur diri kembali pulang.
"Kami pamit, in sya Allah kemari dengan Ibu jika masa sebulan mendatang di lalui dengan baik juga lancar hingga membuka pintu khitbah," ucap Abimanyu sebelum meninggalkan kediaman Zaylin.
Zahid mengamini segala harapan yang di sampaikan Abimanyu, juga doa oleh Bu Syaida, menutup hari itu. Mereka lalu melepas kendaraan tamunya perlahan meninggalkan pekarangan.
...***...
Dalam perjalanan pulang.
"Kak, rumah kontrakan sudah siap, mau langsung pindahan ke Jakarta atau tunggu Zaylin diterima kerja dulu disana?" tanya Juna saat mobil mereka telah memasuki jalan raya kembali.
"Nanti aku tanya. Malam ini Yai akan ngajarin aku cara taubat Jun," balas sang kakak.
"Lancar deh Kak. Aku juga mau ikut boleh? kan gak tahu ya, kita punya dosa apa. Aku ingin memperbaiki segalanya terutama sikapku yang kasar pada Ibu beberapa waktu silam," sesal Arjuna, ia melihat perubahan besar dalam diri kakak sulungnya itu setelah mukim di gudang ilmu.
"Datang saja malam ini ba'da isya, sekalian angkut semua barangku. Jangan lupa niatan infaqku disiapkan, Jun."
Abimanyu sedikit lega setelah berbicara dengan wali sah Zaylin. Saatnya kehidupan baru, dimulai.
.
.
...______________________...