
"Gak gitu, Juna." Iriana menarik lengan anaknya, tak ingin si bungsu salah paham.
Arjuna menoleh, membalikkan badan menghadap sang Bunda. "Bu, Juna bentar lagi nikah setelah Abim. Belum tentu juga Zaylin mau tinggal di sini. Ibu boleh menikah lagi agar ada teman. Bukan cuma buat partner se-kss tapi pasangan yang bisa membagi semua kecanggungan Ibu apabila dibicarakan dengan kami," goda Juna membuat pipi Iriana merona.
"Udah gak mood begituan. Kasihan Gilmot nanti," jawab Iriana berlalu.
"Dih, langsung nyambung ke Om Gim, padahal Juna gak ngomongin dia. Ciyyee, cinta bersemi ... dia tulus sama Ibu, pikirkan ya," Juna mengecup pipi Iriana lalu pergi menuju kamarnya untuk bersiap pergi menuju galery.
Satu jam berlalu begitu cepat.
Arjuna telah rapi, di tangannya menenteng satu tote bag berisi berbagai gulungan kertas.
"Apa itu?"
"Site plan rencana pernikahan Abim. Satu bulan itu cepat, Kakak minta meskipun Zaylin belum menerima pinangan resmi, tapi tetap harus disiapkan. Jadi aku sibuk mulai hari ini, juga masalah gugatan yang barusan masuk. Aku bakal ngawal, sebagai permulaan," tegasnya lagi.
Iriana hanya diam memandangi punggung putra bungsunya. Teringat almarhum suami, bagaimana dia akan menaruh muka kala dipertemukan Tuhan lagi dengannya nanti.
"Bu." Juna menyeka air mata bundanya. "Bantu Zaylin nanti ya," pintanya.
"Rizkia gak mau dibantu juga?"
"Aku gak mau nyusahin Ibu. Jangan sedih lagi, Juna dan Abim in sya Allah sudah taubat, mau nyenengin Ibu. Pamit ya, kerja dulu," ucap Arjuna, tak lama mobil HR-V Hybrid miliknya meninggalkan kediaman.
"Ibra, anakmu. Maafkan aku."
Wanita ayu yang merasa masih sangat terpukul kembali masuk kedalam kamarnya. Menumpahkan berkubik air mata diatas hamparan sajadah.
"Ampuni Aku yang menelantarkan Abimanyu. Timpakan pedih hanya padaku ya Robb. Jangan putraku, biarkan dia bahagia. Lapangkanlah jalan taubat dan jaga agar dia tak kembali pada kesesatan. Aamiin," lirih doa mengalun bagi si sulung.
...***...
Dua minggu kemudian.
Pengadilan, Jakarta.
Arjuna dan Gilmot tengah berada di ruang persidangan kasus pembobolan kartu kredit juga lainnya. Satu terdakwa telah duduk di kursi pesakitan, dia adalah sekretaris sang Kakak.
Alasannya klise, hanya untuk hidup mewah tanpa banyak kerja keras. Karena diimingi hukuman lebih ringan, dia akhirnya menyebut satu nama untuk gugatan kasus kedua. Penjualan asset.
Hari ini adalah sidang kedua gugatan awal, para saksi mengarah padanya. Jika semua lancar maka tak butuh waktu lama untuk mendengar putusan hakim atas kasus ini.
"Om, kira-kira bulan ini kelar gak?"
"In sya Allah, selesai. Toh sudah semua masuk kan? dia juga sudah tidak punya alibi sebab saksi kita terlalu kuat," ujar Gilmot lagi.
Tiga jam kemudian, menjelang waktu dzuhur habis. Arjuna bergegas menuju musholla untuk menunaikan sholat dzuhur.
"Om gak sholat?" tegur Juna melihat paman angkatnya itu hanya diam.
"M-mau kok, mau," jawab Gilmot terbata.
"Kalau mau ngelamar Ibu. Perbaiki ibadah dulu sebab akan jadi Imam kami terlebih beliau, tapi tujuan berubahnya karena Allah bukan Ibu," tegas putra bungsu Ibrahim Yasa.
Gilmot tersenyum lebar, dia menepuk lengan Arjuna.
"Apakah kali ini, kamu melihatku Ir? semua yang kulakukan karenamu, menjaga kebugaran, gak merokok, rapi bagai Ibra, bahkan kerap menolak fee wanita. Aku gak bisa, sebab setiap kali hendak melakukan dosa, wajah polosmu tiba-tiba muncul dalam benakku, Iriana."
"Tuhan, apakah ini jalanku. Menangani kasus Abimanyu, mengetahui penyimpangan perilakunya juga sebagai upaya agar aku menjaga keluarga Ibra lagi? bila iya, mudahkan jalan kami, kembali pada-Mu."
Sementara di kota lainnya.
Rumah sakit, Bandung.
Abimanyu melakukan check-up akhir tanpa Zaylin. Dia sengaja menghindari calon istrinya itu. Tak ingin merepotkan terlebih mereka bukan mahram.
"Maaf ya Aylin, aku gak ngabarin kamu. Sedang berusaha menjaga diri agar ketika kita memulai ini tidak terselip sedikitpun nafsu. Entahlah, aku hanya ingin memperlakukanmu begitu," batin Abimanyu.
"Tuan Yasa," suara suster memanggilnya.
"Aylin."
"Ayo, ku temani," ujarnya terengah sebab berlari menghampiri Abimanyu.
Keduanya masuk ke dalam ruangan dokter, sementara teman yang Zaylin ajak, menunggu di Koridor depan poli.
Beberapa menit di dalam ruangan dokter.
"Alhamdulillah, sisa pemulihan ya? sekarang mau ke Jakarta atau ke Kost-an?" tanya Zaylin saat baru keluar dari sana. Ingin membantu Abimanyu duduk di Koridor poli namun sadar dia belum mahram baginya.
"Eh, hati-hati, Mas." Zaylin mulai cemas.
Abimanyu tersenyum membuat gadis itu salah tingkah. "Disini dulu, pekan depan Ibu ke sini. Aku sudah mulai kerja lagi," imbuhnya.
Zaylin duduk berjarak satu kursi di sebelah pria itu. "Mas. Nanti aku ingin bicara perihal itu kalau ada Ibu, boleh?" tunduk nya ragu.
"Boleh, tanyakan semua yang ingin kau tahu tentang aku," balas Abimanyu.
"Allah, cantiknya. Pengen nyubit pipi dia."
"Nyonya Yasa," suara suster memanggil Zaylin, agar mengambil tambahan resep sebab gadis itu memintanya.
"Tunggu ya, aku ambilkan obatnya dulu." Zaylin bangkit menuju meja suster.
"Nyonya Yasa, dan dia gak sadar dipanggil begitu," kekeh Abimanyu melihat calon istrinya antusias membantu.
Setelah obat dan lainnya lengkap, ketiganya perlahan menuruni basemen rumah sakit bersiap pulang.
"Pakai mobilku saja, tunggu disini," ucap Zaylin menahan Abimanyu di lobby dan dia berlari ke parkiran mengambil mobilnya.
Gadis ayu itu meminta bantuan security untuk menahan tubuh bagian atas saat Abimanyu akan masuk ke bangku belakang.
Setelah memastikan semua nyaman, Ayla putih itu meninggalkan rumah sakit menuju Kost-an baru Abimanyu.
"Mewah sekali."
"Disini saja, Ay. Aku bisa," pinta sang penghuni Kost.
Zaylin tak mengindahkan ucapan Abimanyu, dia memanggil security meminta bantuan untuk memapah calon suaminya.
"Kata dokter kan belum boleh penekanan terlalu berat, Mas. Dibantu dulu ya," ujarnya saat dia menolak.
Security kostan mewah itu membantu Abimanyu hingga masuk ke dalam unit. Zaylin meletakkan semua obat-obatan Abimanyu disalah satu meja. Menyiapkan air disana juga bekal yang dia bawa untuknya.
"Aku pamit ya. Jaga diri dan hati-hati. Ayo beb," ajaknya pada sang sahabat yang setia menemani tanpa banyak kata.
Abimanyu pasrah, menikmati perhatian calon istrinya itu. "Makasih banyak, maaf merepotkan padahal tadinya sengaja gak ngabarin," balas Abim.
Zaylin hanya mengangguk samar seraya tersenyum manis. "Assalamu'alaikum."
Degh.
"Manisnya ... Wa'alaikumsalam." Abimanyu melambai dari tempat duduknya dan meminta pada gadis itu untuk menutup pintu.
"Memang masih agak nyeri ... nikmat ujian, begini ya? biar terselip nafsu ketergesaan. Jalan taubat memang gak mudah," lirih Abimanyu saat mendengar suara mobil Zaylin perlahan meninggalkan kostnya.
Kriinngg. Ponsel Abim berdering.
"Assalamu'alaikum ... Kak, kasus awal satu langkah lagi kelar. Kita sekarang sedang siapkan gugatan kedua. Kau mau tahu siapa yang bantu penghianat itu kali ini?"
"Siapa?"
.
.
...______________________...