
"Roger ngancam aku, kalau masih mengusik Alexander maka dia bakal sentuh Zaylin. Aku gak mau istri dan keluargaku menjadi korban atas kejahatan mereka. Percobaan pembunuhan yang Alexander lakukan terhadapku dan mungkin ini juga atas bantuan Roger menjadi sebuah dilema. Om, bagusnya gimana ini," Abimanyu cemas.
Obrolan serius mereka tanpa disadari terdengar oleh Zaylin. Inginnya tidak ingin turut campur namun jika keselamatannya menjadi taruhan, bukan tak mungkin bila Ibu pun akan terseret dalam kubangan pembalasan Roger.
Cinta pada seseorang nan begitu buta terkadang melenakan, entah siapa dan bagaimana wujud pasangannya. Mereka menasbihkan diri bahwa apa yang dilakukan adalah simbol ketulusan juga kesetiaan atas pengangungan satu kata sakti itu, love.
Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Zaylin sore itu. Dia memilih menepi ke halaman belakang, melihat hamparan rumput jepang yang subur dikelilingi oleh berbagi jenis bunga.
"Apa baiknya dicancel aja ya? toh Mas Abim baik saja dan masih hidup. Kabarnya perampasan harta itu di ganti sejumlah uang sebab Distro yang di renggut paksa Alexander sudah beralih fungsi. Mudahkan urusan suamiku, ya Robb."
Zaylin merenung, apa tindakan paling baik untuk mereka. Diamnya putri Zulkarnaen nyata membuat seseorang yang melihatnya duduk di teras belakang, tak berkedip.
"Ngapain disini, bukannya sama Abim didepan," tegur Arjuna. Dia menyadari bahwa wanita pilihan sang kakak sungguh indah.
"Cuma duduk sambil ngopi," jawab Zaylin lugas, tak ingin menanggapi lebih, pun pandangannya tetap lurus mengabaikan kehadiran pria di belakang.
"Ya aku tau kalau itu. Apa kau tidak menyesal?" tanya Juna lagi.
"Untuk? ... ah ya, jika maksudmu menyesal memilih Mas, tentu saja tidak. Justru happy asal kau tahu, aku memiliki dia disampingku," tegas Zaylin. Tangan kanannya mengangkat cangkir kopi yang telah kehilangan uap.
"Ku kira. Apa kau normal?"
Zaylin mulai jengah. Dia menoleh ke arah Arjuna. "Dengar ini, apa pedulimu dengan kata normal atau sebaliknya? kau menuduhku pansos pada Mas? cih, yang benar saja. Kau lihat saja nanti," cibir Zaylin sinis.
Arjuna masih setengah percaya pada kakak iparnya ini. Apakah benar tulus atau sekedar memanfaatkan kondisi kakaknya demi menaikkan derajat.
Awalnya dia yakin sebab Zaylin terlihat sangat lembut. Namun belakangan, dia melihat dirinya dekat dengan Liam. Lelaki dengan sejuta pesona, sangat kaya namun dingin terhadap wanita, bahkan mantan istrinya.
Tempo hari, keduanya bertemu. Liam adalah penyuka seni, dia meminta Arjuna membuat mural dikediaman sang pengusaha resort itu. Tak biasanya Liam membicarakan seorang wanita dengan menggebu. Lambat laun, Arjuna mengetahui identitas perempuan yang kerap sahabatnya bicarakan. Yaitu sang kakak ipar.
Putra bungsu Iriana, hanya tak ingin Zaylin memperalat perasaan Abimanyu. Sang kakak pernah khilaf, bukan tak mungkin akan kembali ke jalan kesesatan bila ditengah jalan, dia menyerah akan usaha taubatnya.
Juna khawatir, ditengah kisruh rumah tangga mereka, hati Zaylin akan perlahan berubah haluan sebab kedekatan Atthar dengannya. Liam sosok idaman bagi para wanita, maskulin dan memiliki segalanya. Arjuna menilai jika Abimanyu tidak dapat memenuhi kebutuhan batin, bukan tak mungkin Zaylin akan berpaling.
"Oke, aku lihat nanti. Awas jika kau menyakiti kakakku. Bila pikirmu kau bisa mengelabui Abim, silahkan saja tapi tidak denganku. Apabila ketahuan selingkuh, aku yang akan pertama kali menyeretmu dalam kondisi bu-gil ke hadapan Abim. Ingat itu!" ancam Juna seraya menatap tajam sang kakak ipar dan meniupkan asap rokok ke wajahnya.
Abimanyu sekilas melihat apa yang adiknya perbuat pada Zaylin.
Uhuk. Uhuk.
"Juna! jangan kurang ajar! sudah ku bilang, jika kali ini kau mengusik milikku, aku gak segan membereskan mu juga," tegas Abimanyu.
Iriana melihat kegaduhan di halaman belakang. "Ada apa ini?"
"Juna Bu. Cari gara-gara sama aku," tuduh Abimanyu pada adiknya yang santai menanggapi.
"Mas. Aku gak apa kok," ujar Zaylin bangkit, menggenggam lengan Abimanyu.
"Gak gitu, Sayang. Dia gak sopan sama kamu, meskipun usianya diatasmu, statusnya tetaplah adik ipar," sergah Abimanyu lagi.
"Ibu gak ngerti. Kenapa kalian ini," Iriana bingung melihat kedua putranya.
"Bela terus. Tahu rasa aja Kak, nanti kalau dia selingkuh," tuduh Juna kali ini.
"Selingkuh apa? Mas, aku gak paham beneran," Zaylin gusar.
"Juna, jelaskan." Iriana mulai tak sabar.
Zaylin mengguncang pelan lengan sang suami. Menatap dalam manik mata sehitam malam lelaki pujaan.
"Bu, aku ke kamar dulu," ucap Abim seraya menarik jemari istrinya agar mengikuti.
Langkah cepat sang kepala keluarga membuat Zaylin sedikit tergopoh terlebih tangan kekar itu membanting pintu kamar sesaat setelah mereka berada di dalamnya.
"Mas, gak boleh kasar gitu. Aku jelasin duduk perkaranya, oke," bujuk Zaylin lagi, mencoba bicara meskipun Abimanyu membelakangi.
Abimanyu berbalik badan, namun bukannya marah, lelaki itu justru memeluknya erat. "Ay, jangan tinggalin aku ya."
Zaylin terpana. "Gak mungkin. Kan udah janji sama Mas, kita sama-sama. Dia menuduhku akan berselingkuh ... yang benar saja," keluh Zaylin, menikmati pelukan suami yang melembut.
"Dia mungkin hanya berniat melindungiku. Arjuna tahu jika aku belum dapat menyentuhmu secara utuh. Maaf Ay," bisik Abimanyu lagi.
"Kita bisa. Aku juga berusaha agar dapat menjadi objek fantasi suamiku, sudah ya. Mas percaya kan sama aku? ujian kita nyata berat," cemas Zaylin.
"Kita pindah ya, ke apartemen yang baru ku beli. Arjuna disini dengan Ibu," pinta Abimanyu.
"Kasihan Ibu, Mas. Masa sendirian, Juna kan pulang malam dan sibuk sekali," cegah Zaylin.
"Kalau pindah, kita bisa eksplor, Sayang. Atau kala weekend kita tidur disana, gimana?" tawar pemilik distro ini.
"Boleh jika begitu."
Bukan tanpa usaha, trauma itu perlahan disingkirkan keduanya agar keintiman mereka tidak diragukan oleh banyak pihak.
...***...
Sementara di kediaman lain.
Atthar mengamuk sepanjang hari, entah apa permintaannya. Semua penghuni kediaman mewah Sakhair tiada yang sanggup membujuk. Bahkan hingga sang kekasih Liam tiba, diacuhkan pria cilik itu.
"Atthar, Onty bawa sesuatu loh buat kamu, mau lihat gak?" bujuk sang wanita.
Tak ada respon dari pangeran Achazia meskipun calon ibu tirinya bersuara lembut persis Zaylin.
"No Atthar, Papi gak mau ikuti kemauan kamu lagi untuk mendatangkan Bu Zaylin. Tidur jika kau tak ingin bermain," tegas sang ayah, putus asa atas kelakuan putranya.
"Aku gak suka dia." Putra semata wayang menunjuk pada wajah wanita cantik di hadapan.
"Gak sopan, apa ini yang Bu Zaylin ajarkan padamu?" tuduh Liam, menyeret nama Zaylin padahal istri Abimanyu bukanlah guru Atthar.
"Siapa sih, Zaylin? incaran kamu, Mas?" tanya sang wanita.
"Bukan. Guru Atthar, tapi dia sangat lembut dan cantik," jawab Liam tanpa sadar.
"Apa kamu bilang tadi?"
"Eh? apa emangnya?" Liam kelepasan.
.
.
...________________________...