ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 8. KEJUJURAN



"BimZay?" gumam Zaylin di dalam kamar sambil berbaring. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian kerja bagai romusha.


"Wa alaikum salam," balas Zaylin lebih dulu menanggapi pesan sang wali.


"Wa'alaikumussalam." Kali ini Abimanyu yang menulis pesan.


"Silakan jika ingin saling kenal, jaga kesantunan dan jangan berlebihan." Pesan Bu Syaida muncul kembali.


"Baik, Bu." Balas Abim.


"In sya Allah ... Mas Abim, jadi ke rumah? kapan? biar Ibu menyampaikan ke Abah tidak mendadak."


Grup chat terjeda lama, kosong tanpa balasan kembali.


Di paviliun pondok.


Abimanyu tak segera membalas pesan Zaylin, jantungnya mulai berdetak kencang.


"Mas? duh Mas," ucapnya sumringah membaca kalimat balasan Zaylin.


Sementara di asrama.


"Dih, lama amat balas. Padahal udah baca sejak tadi. Katanya serius ingin datang tapi malah dicuekin, ibu nungguin loh. Hei Abimanyu," Zaylin kesal. Matanya sudah lelah, kelopaknya dipaksa tetap membuka menunggu balasan sang pria.


Grup Chat BimZay.


"In sya Allah lusa ya, Aylin. Aku baru saja mendapatkan restu dari Ibu juga sudah bertemu dengan adikku tadi siang, semoga lancar yaa."


Abimanyu membalas pesan Zaylin. Ketik hapus, ketik hapus beberapa kali dia lakukan hingga muncul barisan kalimat tadi.


"Lusa? ku kira pekan depan?" Zaylin sampai bangun dari rebahan, mengerjapkan matanya jikalau ia salah baca.


"Eh, iya maksudnya pekan depan, lusa setelah kamu libur. Maaf, grogi." Abimanyu meralat kalimatnya diatas.


"Oh, ku kira 😑." Zaylin menanggapi lengkap dengan emot muka ekspresi datar.


"Alhamdulillah. Ibu sampaikan ke Abah nya Aylin ya, Abim." Bu Syaida membalas pesan Abimanyu.


"Baik, silakan. Bu, terimakasih." Abim men-tag bu Syaida.


"Sama-sama Abim."


"Aylin, selamat istirahat. Besok masih ngurusin data prestasi siswa ya? semoga semua selesai pada waktunya."


Hening.


Hingga berjam lamanya, pesan terakhir pria tampan bernama Abimanyu masih menggantung tak jua mendapatkan balasan.


Paviliun pondok.


Lelaki yang berstatus sebagai tamu akhirnya keluar kamar meski menjelang tengah malam. Justru saat seperti ini dirinya kerap mendatangi masjid untuk membantu piket santri persiapan jelang tahajud.


Ada juga yang menghafal kalam Allah di jam segini. Lebih tenang dan masuk ke Qolbu, kata beberapa santri tahfidz.


Awalnya ia heran, tengah malam begini mereka justru terjaga, namun setelah mengetahui makna tentang memakmurkan masjid, ia pun tergugah.


At taubah ayat 18 menjadi ibroh baginya dalam menjalani hidup. Dia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang memakmurkan masjid. Karena kriteria yang termasuk didalamnya adalah hanya orang-orang beriman kepada Allah, hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, tidak takut apapun kecuali karena Allah.


"Istiqomah Kang, kuncinya agar hidup antum tenang. Jauhi yang Allah larang, melakukan sesuatu niatkan lillah, sudah itu saja," ucap santri senior suatu malam.


Abimanyu akui, lingkungan berpengaruh besar terhadap perubahannya saat ini. Besok, Yai janji akan mengajarinya cara bertaubat. Taubatan Nasuha.


Saat berdiam diri didalam masjid, dia teringat akan jadwal konseling esok pagi. Hatinya seketika merapal doa.


"Ya Robb, hidupku penuh dosa kala menjauh dari-Mu. Ar-Rahman, Dzat yang memberi nikmat dunia dan akhirat. Nama khusus, karena hanya Engkau yang memilikinya. Mudahkan jalan taubat ku, ya Robb."


...***...


Satu pekan kemudian.


Konseling Abim mendapatkan kemajuan. Meski belum naik signifikan ia bahagia. Hidup barunya akan dimulai.


"Aamiin. Besok jangan lupa, aku pindahan ke kost-an sementara. Siapkan semuanya ya, Adiku sayang. Lalu kita menemui paman zaylin," pinta Abim setelah mendapatkan beberapa hantaran yang sudah di hias cantik


Hari H, Pangandaran.


Tidak banyak yang tahu akan ada kunjungan dari seseorang untuk mengenal keluarga Huzama, hanya Ibu Syaida, Zahid juga Zaylin yang akan menyambut tamu mereka.


Tak lama, kedatangan HR-V hybrid itu memasuki pelataran kediaman Huzama. Dua pria berstelan kemeja batik lengan panjang dipadu trouser coklat tua, turun dari kuda besi beroda empat yang membawanya kesebuah desa di tepi pantai.


"Assalamu'alaikum," salam keduanya disambut dengan uluran tangan sang Wali.


"Wa'alaikumussalam, mari masuk." Ajak Zahid, paman Zaylin menyambut di depan pintu.


Obrolan serius langsung mengemuka tanpa basa basi. Hingga satu keputusan Zahid, mengejutkan Zaylin.


"Abah belum bisa memutuskan jika kalian belum pernah bicara langsung dari hati ke hati, bukan Abah yang akan menjalani namun kamu berdua. Silakan bicara, di ruang terbuka, berdua...." ucap sang paman kemudian.


"Ta-pi Aylin udah bilang ikut Abah," cicitnya malu. Ia merasa bersalah tak membalas pesan Abimanyu terakhir kali. Membiarkan grup chat itu kosong selama satu pekan terakhir.


"Ayo, Aylin dan Abim ... kami melihat kalian dari sini," sambung Bu Syaida.


Dengan ragu, Zaylin bangkit diikuti Abimanyu keluar menuju bale di kebun seberang rumah mereka.


Keduanya canggung saat telah mencapai tempat ngobrol sejenak. Namun Abimanyu memberanikan diri bicara lebih dulu.


"Aylin, ini hasil konselingku. Itu aib yang ku punya. Aku pasrah apapun keputusanmu nanti," Abimanyu menyodorkan sesuatu ke hadapan gadis yang duduk di sisi kiri bale, sementara dia duduk di tengah.


Tangan gadis itu terulur menerima gulungan kertas. Dia membacanya pelan, sekilas raut wajahnya terkejut. Menatap wajah Abimanyu sesaat kemudian menurunkan kembali pandangan guna melanjutkan kalimat yang belum tuntas.


Zaylin menyerahkan kembali lembaran tadi pada Abimanyu dengan tangan kanannya.


Hening beberapa menit.


"Mas, niat teguh gak? janji sama aku?" lirihnya hampir tak terdengar.


"In sya Allah, jika kamu bantu aku. Keluargaku tahu, Aylin," balas Abim menunduk malu. Dia betul-betul pasrah. Hatinya tak henti memanjatkan doa.


"Jangan ceritakan lagi, meskipun ke Abah, ya. Ini rahasia pernikahan kita. Do'akan aku sanggup menemani Mas Abim keluar dari sana," tutur Zaylin lembut seraya mengulas senyum, sekilas pandang melihat pria tampan disampingnya.


"Aylin, kau? tak menyesal kah?" tanya Abim meyakinkan dirinya. Dia takut gadis itu merasa terpaksa.


"Allah mendatangkan Mas ke aku, bukan kebetulan. Banyak yang ingin mendekati namun tak juga berani menghadap Abah."


"Jodoh juga bisa jadi merupakan seseorang yang membantu meringankan permasalahan. Kalaupun aku tidak terjun langsung menyelesaikan persoalan, namun setidaknya kehadiran ku bisa menguatkan ... kurasa aku butuh sosok Mas Abimanyu, untuk alasan apa? nanti ku beritahu saat telah halal bagimu," imbuhnya lagi.


Abimanyu tercenung seakan tak percaya pada pendengarannya.


"Bismillah ya Aylin ... kita saling bantu dan menguatkan," balas lelaki tampan calon suami Zaylin dengan sorot mata berkaca-kaca.


"Iya. Aamiin."


"Kau ada yang diinginkan dariku?" tanya putra sulung Yasa Ibrahim.


"Enggak ada. Aku ikut kemanapun Mas tinggal, jangan khawatir pekerjaanku nanti. Itu hanya selingan kala menunggu imamku datang," tuturnya dengan wajah merona.


"Maa sya Allah. Nemu bidadari syurga di sini, Alhamdulillah ... aku gak larang kamu kerja selama sadar akan kewajiban yang sesungguhnya. Juga, aku gak akan maksa kamu buat...."


"Cukup ... kita bahas hal lainnya nanti sambil jalan," Zaylin menyudahi percakapan mereka dan mengajak kembali ke rumah.


"Beneran tegas, sampai kaget aku. Wajahnya seketika berubah manis, judes kadang lembut, Zaylin huzefa."


Setelah keduanya masuk kedalam hunian rumah panggung nan sederhana, Zahid bertanya kembali pada keduanya.


"Gimana?"


.


.


..._____________________...