
"Selamat atas pernikahan kalian. Apakah aku boleh datang dan memberikan doa restu?" pesan seseorang di ujung sana.
Pesan yang terabaikan nyata membuat si pengirim geram. Dia menginstruksikan dua orang anak buahnya untuk mengirimkan bingkisan bagi kedua mempelai.
"Kau ingin menggugat ku? akan aku buat luka yang sama untuk orang tersayangmu. Ck, bila betul kau menyayanginya," gumam sosok yang dulu pernah menjalin kedekatan dengan Abimanyu.
Kerinduan serta penyesalan terhadap sosok Abimanyu, mengaburkan pendengarannya. Dia tak mengetahui sang suami yang telah masuk ke dalam kamar.
"Kau masih mengingatnya? setelah apa yang kamu dapat dariku? hingga seperti ini?" geram lelaki perkasa di hadapan.
"Roger, bukan begitu. Dia menggugat ku, Honey. Lihat ini," kilahnya menyerahkan dua lembar somasi pada sosok berjasa atas hidupnya itu.
"Baby, jangan berulah. Kau tahu akibatnya bukan? bila kaca di wardrobe room masih tak terlihat jua olehmu, akan aku pasang disekeliling tembok kamar ini agar senantiasa mengingatkan dari mana asal usulmu," ujarnya sinis, seraya menarik wajah sang istri mendekat padanya.
Kepala seonggok daging berbusana seksi yang tengah duduk di sisi ranjang itu menengadah. Menatap nyalak pada sang dominan.
"Aku ingat semua yang kau beri," jawabnya susah payah akibat mulut yang masih di cengkeram olehnya.
"Bagus. Layani aku, tunjukkan kemampuanmu yang baru," tarik Roger pada tubuh sintal nan berotot agar memulai aksi.
Sejujurnya dia ingin pergi, bayangan hidup glamour memang dia dapatkan. Kemolekan tubuh yang dia idamkan telah tercapai, ia kini sempurna. Namun sama sekali tiada lagi rasa kenikmatan yang menjalar, berbeda kala mencicipi kemurnian Abimanyu.
Meski hanya dua kali ia memiliki kesempatan menikmati kemaskulinan pria itu, namun bayang saat bersamanya tak bisa ditepis.
Abimanyu yang seketika terperdaya di bawah pengaruh miras membuatnya dengan mudah menggasak semua apa yang pria itu miliki.
"Meski kamu tak sadar kala melakukan itu denganku, tapi rasanya ... duhai Abimanyu."
Plakk. Suara tamparan di tubuh yang telah beraksi.
"Alexa!" sang dominan meminta lebih dari biasanya.
Suasana ruangan megah tak lagi lengang seperti semula. Pantulan cermin cukup menggambarkan aktivitas mereka dengan gamblang. Seketika menyusul sebuah suara memecah hening udara kondominium sang dominan. Bagai lengkingan panjang auman srigala saat mencari perhatian lawan jenis.
Sang pelayan gairah, ambruk ke sisi tubuh suaminya. Dia telah menyiksa diri sendiri, penyesalan jiwa yang salah tempat pun, datang terlambat.
"Aku harus membayangkan sosokmu agar dapat seperti ini. Aku ingin kembali, Abimanyu."
...***...
Bandung, ba'da Isya.
Abimanyu dan Zaylin baru saja selesai mengikuti rangkaian acara untuk mereka. Syukuran berjalan lancar hingga tersisa keluarga inti di kediaman sang Yai.
Rombongan keluarga Abim akan langsung pamit pulang ke Jakarta setelah hampir satu pekan mereka pergi pulang antar kota demi menemani mempelai pria melangsungkan pernikahan.
"Terima kasih atas segala kebaikan, bantuan dan semua hal yang Abimanyu dapatkan selama di sini, terlebih putraku kembali seutuhnya. Bahkan menemukan pendamping," ujar Iriana mengutarakan betapa ia bersyukur.
"Semua yang terjadi adalah kehendak-Nya. Bukan kuasa siapapun. Ana juga banyak belajar dari Nak Abimanyu. Semoga Zaylin dapat menjadi rem dalam bahtera mereka," balas sang Yai Bashir, melepas kepergian keluarga pria yang menjadi tamunya beberapa bulan ini.
Tak lama rombongan pun meninggalkan kediaman sang Yai. Hanya tersisa pasangan pengantin baru.
Wejangan bagi keduanya kembali diterima sebelum mereka diizinkan pulang oleh sang Nyai.
"Pamit ya Nyai. Nanti Aylin selesaikan semua pekerjaan sebelum pindah ikut Mas Abim," ujarnya pada sosok panutan seraya mencium punggung tangan beliau.
"Aylin atur saja. Ana tidak ada sangkut paut dengan lembaga. Sering sowan kesini, jangan segan. Kapanpun kami tetap terbuka bagi kalian," tutur Nyai lembut mengusap kepala staff yang telah dia anggap bagai putri kandung itu.
Beberapa menit kedepan, keduanya pamit setelah dua orang santri mengabarkan bahwa semua hantaran, bingkisan telah diletakkan dalam bagasi juga jok belakang mobil milik Zaylin.
Tiga puluh menit selanjutnya.
Abimanyu memarkirkan Ayla putih masuk dalam garasi kost-an mewah, hunian sementara mereka.
"Aku bisa bawa beberapa kok Mas. Biar gak naik turun," balasnya seraya membuka pintu kiri lalu menuju bagasi, mengeluarkan beberapa barang dari sana.
Abimanyu tak bisa mencegah, istrinya memang terbiasa mandiri. Jangan lupa, bahwa Zaylin juga sangat tegas.
Lima belas menit berlalu kini keduanya telah masuk ke dalam hunian. Menata barang yang terlihat sangat banyak disana.
"Mandi dulu, Ai. Nanti lagi beres-beresnya. Sudah malam," saran Abimanyu mendekap tubuh semampai itu dari samping.
"Tapi aku stres liat berantakan gini, Mas, boleh ya dibereskan," bujuknya memohon.
"Enggak. Ini malam pertama kita tanpa siapapun. Aku cuma ingin kita dekat," bisik Abimanyu mesra.
Wanita dalam dekapan tersipu, lalu mengangguk samar. "Lepas, mau mandi dulu dan siapin kamar sebelum tidur," lirih Zaylin.
Abimanyu tersenyum melihat istrinya bersikap malu-malu, dia pun melonggarkan pelukan dan membiarkan gadis ayu itu menjauh darinya.
"Jangan lama-lama, Sayang." Kakak Arjuna mengikuti langkah sang istri yang masuk kedalam kamar. Dia meraih ponsel dari saku celana berniat membuka pesan yang mungkin ada untuknya.
"Ya batre low." Abimanyu membuka laci meja nakas, meraih kabel charger disana. Pop-up pesan satu persatu masuk membuat suara bising beberapa saat.
"Lupa di silent mode pula nih," gerutunya.
Masih dalam posisi mengisi daya, Abimanyu membuka beberapa pesan.
Matanya membelalak kala melihat satu isi massage dari seseorang yang mungkin dia kenal.
"Siapa? apa dia?"
"Siapa Mas," Zaylin mendekat, memeluk lengan kekar disampingnya.
Abim tak ingin menyembunyikan apapun dari wanita ayu ini, dia memperlihatkan pesan misterius itu.
"Mantan?"
Putra Iriana menggeleng samar. "Entah, aku gak yakin. Apa dia?"
"Dia?"
"I-itu, Sayang. Hmm, dia," Abim rikuh.
Melihat suaminya terlihat segan, Zaylin tersenyum. "Aku paham, Mas. Balas saja, bilang suruh datang jika dia mau. Aku ingin melihat sosoknya," kekeh Zaylin.
"Sayang, jangan dibuat bercanda ah."
"Aku serius, Mas. Mau lihat dia, se--"
C-up. Abim mengecup pipi Zaylin agar istrinya berhenti menggoda.
"Jangan lagi berurusan dengan mereka," cemasnya lagi.
"Jangan di hindari, tapi hadapi ketakutan ini sama-sama, Mas. Besok konseling lagi kan? gih mandi dulu biar segar," saran Zaylin mengusap lengan Abimanyu.
Lelaki tampan itu bangkit dan bergegas membersihkan diri, hingga menit berikutnya mereka telah berada di atas ranjang, saling memeluk.
Notif ponselnya kembali berbunyi berkali saat sang empu tengah sibuk menyuguhkan sesuatu yang seharusnya telah lama mereka lakukan.
.
.
..._______________________...