ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 15. JAWABAN ZAYLIN



Sebelum pergi tidur, Abimanyu menyempatkan diri untuk mengirimkan chat pada perantara calon istrinya, menanyakan beberapa hal terkait kesukaan Zaylin.


Menjelang keputusan lamaran.


Hari ini Iriana baru saja tiba di Bandung dengan Arjuna, guna menyambangi kediaman Zaylin di Pangandaran lusa nanti.


Saat sedang melepas rindu, pintu kost-an Abimanyu diketuk seseorang. Arjuna bangkit dari duduk nyamannya di sofa menuju pintu.


"Assalamu'alaikum," suara lembut wanita ayu disana.


"Wa'alaikumsalam. Zaylin, masuk yuk. Ada Ibu," ujar Juna. Dia membuka pintu lebar dan berdiri menempel dinding agar Zaylin bisa leluasa melihat ke dalam ruangan.


Wanita ayu menimbang. "Gak usah, beliau pasti masih lelah belum istirahat. Aku hanya mampir sekalian mau share ini ke Mas Abim sebab permintaannya pada Bu Syaida beberapa waktu lalu." Zaylin menyerahkan satu map berukuran sedang, berwarna coklat tua kehadapan Juna.


"Ay, temui ibu dulu," suara Abim membuat gadis ayu itu menoleh padanya.


"Ehm, tapi Mas, aku gak boleh lama-lama. Gak ada yang bisa dimintakan tolong buat antar ini," elaknya ingin segera pergi dari hadapan.


Jantungnya tidak aman, kata-kata manis beberapa pekan lalu masih teringat jelas dalam benak. Terlebih mereka tak melakukan komunikasi apapun meski didalam grup chat.


Hari ini Zaylin terpaksa mengantar isi pesan sendiri sebab waktu untuk menjawab pinangan Abim, hanya tersisa esok hari. Khawatir akan menghambat urusan keluarga mereka.


"Ay, temui Ibu." Abimanyu mengulangi permintaannya.


Putra sulung Yasa mengulurkan tangan sebagai isyarat agar calon istrinya masuk. Namun Zaylin bergeming.


Iriana melihat kedua putranya diambang pintu, penasaran apa yang membuat mereka bertahan disana, dia pun melangkah menghampiri.


"Ini Zaylin? maa sya allah, Ibu gak capek. Lagi siapin makan buat anak-anak. Masuk yuk Neng," ajak Ibu mendekati pintu.


Zaylin terpana, ibu Abimanyu sangat cantik dan terlihat merawat diri. Wajar bila kedua putra di hadapan ini berwajah rupawan, ternyata ini asal usul gen mereka berdua.


Kemenakan Zahid Huzema mengangguk. "Maaf Ibu. Hm, mungkin lain kali," ujar Aylin, meraih telapak tangan kanan sang Mama lalu menciumnya bolak balik.


Arjuna yang baru melihat pertama kali apa yang dilakukan calon kakak iparnya itu terpana, gadis ini sudah memuliakan Ibu meski baru pertama kali jumpa. Dia menyenggol lengan sang kakak, sementara Abimanyu menunduk tersenyum.


"Buru-buru banget. Hati-hati ya Neng," ujar Iriana mengusap kepala terbalut hijab panjang itu.


Zaylin tersenyum manis. "Aku pamit, maaf semuanya. Assalamu'alaikum." Wakil kepala sekolah TK Al-Islamiyah membungkuk pelan lalu mundur dua langkah dan meninggalkan muka pintu kost yang terbuka.


"Kak, semoga di terima. Jangan di sia-siakan. Kamu gak akan dapat pengganti Zaylin nanti," tukas sang Bunda.


Arjuna kembali menutup pintu, dia menghubungi kekasihnya, Rizkia. Mengatakan pada gadis itu bahwa ia akan menemani sang kakak lamaran lusa nanti dan memintanya segera bersiap sebab Juna memiliki rencana serupa.


Iriana melanjutkan aktivitas memasak yang sudah lama tak ia lakukan. Sementara Abimanyu membuka isi map yang diberikan oleh wanita pujaan, seraya menemani sang Bunda di meja makan.


"Apa itu Kak?"


"Semua kebutuhan pribadi Zaylin, Bu. Dari warna, jawaban dekor backdrop, barang pribadi dan lainnya," balas Abim.


Lelaki tampan itu lalu membuka tab miliknya, menulis ulang semua info tadi dalam note aplikasi agar memudahkan dirinya ketika membeli beberapa barang yang diinginkan.


Putra sulung Ibrahim Yasa, membaca banyak paragraf disana. "Keinginan membangun keluarga, biodata, prestasi, karir juga tujuan hidup. Bu, aku happy banget baca semua tulisan Aylin disini," ujar Abim pada bundanya.


Iriana mendekat, meninggalkan bunyi gemelutuk kuah masakan diatas kompor. "Mateng ya, tertata rapi. Terlihat pendiam tapi dapat mengkomunikasikan niatannya dalam sebuah tulisan. Pinter," Iriana mengomentari sang calon menantu.


"Lucu, dia jujur bilang gak bisa masak tapi bersedia belajar, males nyetrika sebab punggung panas dan tungkai sakit, gak suka pedas, dan kalau ha--" Abimanyu tersenyum membaca beberapa kekurangan calon istrinya.


"Semua serba coklat ya Kak, kesukaannya. Eh, montok," goda Iriana saat melihat ukuran underwear Zaylin.


"Bu, ish. Aurat dia ini, ada Juna," keluh Abim, otaknya jadi membayangkan yang tidak-tidak.


Iriana tertawa, dia hampir kelepasan. "Diterima, in sya Allah. Mau langsung minta akad, Kak?"


Abimanyu menoleh pada Juna yang asik dengan ponselnya. "Jun, berkas?"


"Done. Itu Kak, di koper wardrobe kita." Arjuna menjawab tanpa melihat ke arah kedua orang di dapur.


Iriana mengangguk pelan, dia meminta Arjun agar menghubungi kerabat sang Ayah juga Gilmot, supaya pria itu sekaligus mengurus berkas Zaylin masuk dalam anggota keluarga Yasa.


Grup Chat BimZay.


"Assalamu'alaikum, Mas. Maaf, jangan di belikan semua. Yang penting saja dan tidak merepotkan saat membawa semua barang itu kembali kesini," Zaylin men-tag Abim di sana.


"Wa'alaikumsalam. Jam berapa kunjungan, Nak Abim. Ibu dan Zaylin akan pulang sore ini," tanya Bu Syaida.


"Wa'alaikumsalam. Besok jam tujuh pagi berangkat dari sini, Bu."


"Ok Ay. Apa yang menurutmu penting?"


"Mas lebih tahu, dengan segala pertimbangan," jawabnya lugas. Gadis ayu lalu menghilang dari grup chat begitu saja.


Zaylin sibuk menata beberapa pasang pakaian ke dalam koper, menyelesaikan pekerjaan yang belum sepenuhnya selesai.


Entah hatinya atau hanya godaan nafsu saja, dia merasa Abimanyu akan meminta segera dilaksanakan akad nikah tak lama setelah lamaran diterima.


Dia juga harus menyiapkan kediaman, mengundang kerabat juga menyusun jawaban saat ditanya perihal khitbah Abimanyu nanti.


...***...


Pangandaran, lusa.


Kediaman Zaylin telah dihias sedemikian rupa oleh EO yang disewa Arjuna by online. Semua barang seserahan sebagai tanda keseriusan Abimanyu telah berjajar rapi di bagasi CR-V hybrid milik Arjuna.


Kakak Ibrahim Yasa juga Gilmot memilih datang langsung ke lokasi, bertemu keluarga calon mempelai pria disana.


Perjalanan panjang telah ditempuh hampir empat jam lamanya hingga dua mobil mewah itu pun memasuki desa dimana Zaylin tinggal. Rombongan keluarga Yasa turun disambut para tetangga Zahid.


Mereka kemudian masuk kedalam hunian. Setelah ramah tamah, tibalah pada inti acara.


Lantunan doa, istighfar serta sholawat menyertai sesi ini. Zaylin lalu diminta mengutarakan jawaban atas lamaran Abimanyu beberapa pekan lalu.


Dari ruang tamu yang sebagian terhalang tirai vitrace. Suara lembut wanita cantik itu terdengar.


"Aku sudah menunggu hari ini untuk waktu lumayan lama. Butuh banyak waktu mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Allah, memohon petunjuk dalam menentukan keputusan terbaik. Berkali bertanya pada hati, sudah tepatkah pilihanku? Dan lagi-lagi jawabannya tetap sama, itu kamu."


"Ciyyeeeee," sorak para hadirin mendengar jawaban Zaylin.


Abimanyu tertunduk, dia tersipu atas kalimat yang keluar dari sosok ayu dibalik tabir.


"Jadi diterima ya, Neng?" tanya ketua RW padanya.


"Bismillahirrahmanirrahim, atas restu Abah juga isyarat guruku, aku menerima pinangan Mas Abim."


"Alhamdulillah. Allahummaj'al haadzihil khitbah khitbatan mubaarokatan mushlihatan daaimatan abadan zhoohiran wa baathinan awwalan wa aakhiron bi rohmatika yaa arhamar roohimiin. Robbanaa taqobbal minnaa innaka antas samii'ul 'aliim wa tub 'alainaa innaka antat tawwaabur rohiim." Suara hadirin mengucap doa.


Iriana meraih tangan Abimanyu, menggenggam erat disana seraya tersenyum ke arahnya. "Mabruk, Kak," bisik wanita ayu dalam balutan gamis coklat tua.


Pembicaraan berlanjut mengenai tanggal penetapan akad nikah, agar tidak terlalu lama.


"Bagaimana Neng, punya syarat gak buat calon suaminya?" tanya pemuka agama disana.


"Hm, ada," ucap Zaylin mantap.


Degh.


"Apa syaratnya, Sayang?"


.


.


..._______________________...