
"Ay, balas dendam nih? ... pusing, Sayang," keluh Abim, memasang wajah memelas saat naik ke pembaringan bergabung dengan istrinya.
"Enggak. Kan tadi aku bilang fo-re-play, gak sampai pol," kekeh Zaylin membelakangi Abim.
"Gak kasihan sama aku?" ujarnya lemah.
Zaylin berbalik badan menghadap lelaki tampan dengan muka kusut menahan hasrat kini.
"Mau lanjut? aku ganti baju dulu, kuat nunggunya, Mas?" tanya Zaylin pelan seraya membelah wajahnya.
Abimanyu menatap lekat, menyusuri setiap inci wajah ayu. "Boleh?"
"Ya tentu boleh kalau Mas mau," cicitnya malu.
Tetap saja, jantungnya tak aman. Jika tiada terpaksa memberikan sugesti seperti tadi, sejujurnya Zaylin rikuh. Rasa malu hadir dominan saat beraksi tanpa penghalang, ditatap lapar oleh netra elang milik pria tampan yang baru beberapa hari menjadi suaminya. Mereka juga belum banyak menyelami karakter satu sama lain.
"Tapi nanti aku bisa tidak ya? kan gak enak berhenti di tengah jalan," cemasnya datang.
"Makanya, bertahap Oke? harus ngefeel sama aku dulu. Mau lanjutin appetizer atau tidur?" goda Zaylin lagi.
Senyum menawan Abimanyu terbit. "Main course gak bisa, appetizer boleh deh," pintanya.
Ada rasa segan memulai apa yang tak akan nikmat dikerjakan olehnya kini. (ðŸ¤) Namun Zaylin tetap akan mencoba stimulasi yang menurut otaknya akan berpengaruh signifikan terhadap ingatan menjijikkan itu.
Wanita dewasa yang berstatus sebagai istri berumur sepekan, malam ini menunaikan tugas kenikmatan tunggal bagi sang suami. Betapa dia menggunakan segala upaya berdasar pengetahuannya dalam memberi kepuasan batin untuk Abimanyu, tanpa penyatuan. (Istimna')
Le-nguhan Abimanyu kentara menyebut namanya.
"A-aku."
"Mas!" Zaylin tak tega, dia lalu menyiapkan dirinya. Tuntas atau tidak urusan nanti, yang penting suaminya mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Putra sulung Iriana membuka mata, melihat istrinya akan menanggalkan penghalang yang masih melekat.
"Jangan, Sayang. Aku gak sanggup jika berhenti ditengah jalan lagi. Biarkan seperti ini dulu, Oke. Mau kan?" Abim menahan tangan Zaylin.
Wanita ayu itu terdiam, lalu mengangguk dan kembali melanjutkan apa yang terjeda hingga tak lama kemudian, dia menyaksikan puncak pelepasan suami tampan.
"Alhamdulillah." Zaylin tersipu, tak mengira dirinya mampu. Dia turun dari sana dan berbaring menelungkup.
Abimanyu mendekap tubuh yang lelah dan ambruk disampingnya. "Makasih, Sayang. Baru tangannya yang udah gak vir-gin," kekeh Abim, menciumi tengkuk Zaylin sebab ia membenamkan wajah di atas tilam.
"Gak usah malu, Ay. Aku bersih-bersih dulu ya," ujarnya lagi, masih tak mendapat respon dari sang istri.
Setelah kepergian Abimanyu, Zaylin mengangkat wajahnya. "Jantung, aman lah ... si ganteng lagi mandi," dia mengusap dadanya.
Beberapa menit selanjutnya, menjelang tengah malam.
Setelah mandi, Abimanyu terlihat lebih bugar kini, dia mendapati lampu kamar telah padam. Tubuh kekarnya naik ke pembaringan bergabung dengan Zaylin yang masih setia berbaring membelakangi.
Wanita ayu merasakan kasurnya melesak, jantung pun mulai berdebar kembali. Terlebih lengan kekar itu kini melingkari pinggangnya, menarik diri ke dalam pelukan.
"Sayang, lihat aku dulu dong."
"Gak mau, malu," cicitnya dibalik selimut.
"Kok malu, tadi perasaan enggak kok. Malah enjoy gitu kayak berpengalaman," ucap Abim menggoda, dia tertawa renyah.
"Tuh kan, Mas juga menilai aku begitu atas segala upaya yang aku bisa tadi, padahal cuma pake naluri ... ish, malu malu maluuuu, Mas."
Abimanyu terkekeh, dia kian erat mendekap tubuh sintal Zaylin. "Cuma becanda, tahu kok istriku gak pernah aneh-aneh. Dalam kitab yang membahas semua hal tentang pernikahan juga hubungan pasutri itu justru lebih detail, meski teori. Bener kan, Sayang?" tebak Abim.
"Kan kan kan dibahas. Udah ah," rengek Zaylin.
"Janji berusaha lebih baik agar dapat membahagiakan istriku lahir batin. Lihat aku, Sayang," Abim menarik bahu Zaylin agar menghadapnya.
Kini netra keduanya bersitatap.
"Istimna' itu sesekali dibolehkan, sebagai upaya lain dalam menyenangkan suami jika keduanya saling ridho. Tapi gak boleh menjadi suatu kebiasaan terlebih aku dalam kondisi sempurna seperti saat ini," lirih Zaylin.
Abimanyu merasa bersalah. "Maaf. Karena ketidakmampuanku saat ini membuatmu berdiri di tepi antara dosa dan meraih pahala, Sayang."
Zaylin hanya membelai wajah tampan, tak menanggapi lagi kalimat sang suami. "Bobok yuk, besok beres-beres. Aku juga mau search sekolah baru, jika bulan depan ikut pindah dengan Mas ke Jakarta. Sidang kedua dimulai kan?"
"Iya Sayang. Aku banyak hutang ya sama kamu, Ay. Hutang anu sampai prestige," tutur sang pemilik Distro kekinian.
"Kesiapan mental, batin dan financial saat menerima pernikahan membuat Zaylin huzefa lebih mumpuni dibanding aku, ternyata," puji Abim lagi, mengecup dahi istrinya.
Keesokan pagi.
Pasangan muda yang tengah di mabuk cinta, tak saling rela berjauhan. Abimanyu menempel ketat pada Zaylin sepanjang hari, termasuk saat membuka semua kotak hadiah pernikahan mereka. Satu bingkisan terakhir yang keduanya buka nyata membuat Abimanyu terkejut.
"Semoga pernikahan kalian bahagia, tanpa bayangku."
"Buang!"
"Ini kemeja Mas? kok bisa ada sama dia, apa jangan-jangan?" Zaylin menebak pakaian Abimanyu tertinggal saat mereka melakukan dosa.
"Iya, Sayang. Enyahkan, aku gak mau lihat." Titah Abimanyu.
"Alexa, Mas?"
Abimanyu mengangguk samar, dia berpaling muka. Terlihat usaha gigih Abim keluar dari bayang masa lalunya membuat Zaylin merasa semangat. Justru sangat penasaran bagaimana rupa Alexa yang pernah menoreh luka batin pada sang suami.
...***...
Satu bulan kemudian.
Zaylin pamit mengundurkan diri dari jabatan yang diembannya selama lebih dari tiga tahun. Fasilitas yang dia terima selama bekerja di Al-Islamiyah resmi di kembalikan pada yayasan. Setelah berpamitan ke semua jajaran, pasangan muda Yasa bertolak ke Jakarta.
Abimanyu mengajak Zaylin tinggal sementara di kediaman sang Bunda. Sebagai teman Iriana dikala dia sibuk menata kehidupan financial agar kembali kokoh.
Besok adalah sidang awal kasus kedua digelar. Malam ini kakak beradik itu tengah rembukan bersama Gilmot di ruang kerja hingga jelang tengah malam, apabila Iriana tidak mengetuk pintu, mereka mungkin belum akan membubarkan diri.
"Kak, sudah mau pagi. Kasihan Aylin, temani lekas," pinta sang Bunda diangguki Abim segera.
Abimanyu masuk kedalam kamar yang berseberangan dengan ruang keluarga, berganti baju lalu memeluk tubuh istrinya dan menyusul ke alam mimpi.
Keesokan pagi.
Zaylin terlihat sangat ayu dalam balutan gamis hitam dan hijab biru dihiasi motif pattern, senada dengan kemeja sang suami. Mereka kini telah berada di parkiran pengadilan negeri untuk pembacaan gugatan atas kasus kedua.
"Cantik banget," bisik Abim kala membantu sang istri keluar dari mobilnya.
"Dia datang, Mas?" tanya Zaylin, menyapu sikon sekitar.
"Katanya iya."
Wanita ayu itu meraba dada Abimanyu. Menduga detak abnormal disana, namun tak dia dapatkan.
"Apa? aku biasa saja, Sayang. Ada kamu di sisiku," bisik Abimanyu mengecup pipi Zaylin.
Tiba-tiba.
"Benarkah biasa saja, saat jumpa aku? halo Sayang," sapa lembut suara seseorang.
Kedua netra pasangan itu menoleh ke arah suara. Abimanyu terkejut, menyapu penampilan sosok di hadapannya seksama.
"Gak mungkin," lirihnya pelan.
"Perkenalkan, Nona Zaylin. Aku, Alexa," ujarnya menjulurkan tangan ramping nan mulus mengajak berkenalan.
Zaylin menatap takjub, dia cantik sekali. Namun putri Zulkarnaen tak menanggapi uluran tangannya. Zaylin menangkupkan kedua telapak tangan didepan dada.
"Maaf, bukan mahram."
Dhuaaarrr.
"Gak mungkin. Dia tahu siapa aku?"
.
.
...______________________...
...Noh, siapakah Alexa? 🤠clue nya udah dari bab berapa itu ya, mommy gak pernah sebut gender tapi penekanan di suku kata yang merujuk pada.... jeng jeng....