
"Masih ingat aku?"
".... Kau?"
"Gimana kabar, Jun?" lirih Abimanyu, ada sedikit sesak hadir menyelimuti hatinya yang dingin.
"Kak, ya Allah, alhamdulillah kau masih hidup ... ini, bukan mimpi kan? aku insomnia dan baru saja akan terlelap," tuturnya beruntun.
"Alhamdulillah, Allah masih sayang. Mungkin minta aku taubat ... jangan berpura, aku tahu kamu paham masalahku," suara pria yang mukim di pesantren ini melemah, mengingat dosa besarnya.
"Ibu juga tahu ... beliau terpukul Kak, tapi juga menyalahkan dirinya. Bukan Ibu tidak peduli, namun beliau malu berhadapan denganmu karena merasa tak dapat mendidik dan menjagamu," terang Arjuna pada sang kakak.
"Ibu ... Jun, temui aku di pesantren bisa? lumayan jauh dari tempatmu. Kita bicara di sini," pinta Abimanyu pada adiknya yang lama tak dia gubris.
Lelaki yang bahagia karena menemukan bantuan itupun menyebutkan perlahan sebuah alamat dimana dia tinggal saat ini, pada sang adik.
"Ok, Kak. Jaga dirimu ya, aku juga punya banyak kisah. Sampai jumpa esok," balasnya cepat setelah menerima sebuah tujuan.
"Jangan beritahu orang lain dahulu, cukup kita berdua. Juga Ibu, aku tak lagi ingin membuatnya terluka...." sesal lelaki tampan dengan suara parau.
"Baik ... Kak?" panggil Arjuna ragu.
"Ya, Jun?"
"Maafkan aku, merebutnya darimu meski pada akhirnya dia pun mencampakkan aku," Arjuna mengakui kesalahan.
"Lupakan...."
"Aku tahu, itu penyebab keadaan mu saat ini. Aku turut andil ternyata ... maaf, izinkan kami membantumu kali ini, yah," pinta adik bungsu, tulus.
"Hmmm, do'akan aku saja. Allah sayang padaku, tak terlalu lama terjerumus dalam lubang nista, see you," Abimanyu mengakhiri panggilan dengan adiknya.
Hatinya ternyata masih lemah, dia melemparkan ponselnya begitu saja ke atas ranjang.
"Graciella Ardian ... kamu cinta pertamaku ... juga tak ku sangka, Arjuna pun demikian ... aku merelakanmu untuknya namun ternyata aku salah, kau merusak adikku demi kesenangan semata ... dan aku yang baru mengenal cinta, patah hati, larut dalam duka nestapa hingga bertemu dengan DIA, menjalin hubungan terlarang ... innalillahi," Abimanyu telah mengingat sempurna kepingan ingatan yang samar terangkai dua bulan ke belakang.
Rasa sakit di kepalanya masih kerap hadir jika ia mengingat kejadian malam nahas itu.
"Apa penyebabnya? hingga aku terdampar di sini?" Pemilik Yasa distro and cafe ini tertegun.
Malam itu dia berpikir keras, bagaimana cara menyampaikan keadaan serta niatan seriusnya nanti pada wali Zaylin.
"Semoga semua Allah mudahkan. Besok Yai akan mengajariku bagaimana cara taubatan nasuha yang benar ... Pa, maafkan aku menoreh tinta hitam di keluarga kita," sesal putra sulung keluarga Yasa Ibrahim, sang pensiunan tentara.
...***...
Jika Abimanyu dilanda kegalauan teramat sangat. Lain halnya dengan Zaylin. Gadis dengan usia matang ini nampak tenang kala menyampaikan berita tentang seorang pria yang akan menjalin kedekatan dengannya.
"Abah, do'ain ya beliau pria baik. Meski Nyai bilang punya aib, selama bukan musyrik aku akan berusaha menerima," ujar keponakan Zahid itu.
"Ajak ke sini kapan, Neng? Abah harus menilik bagaimana agamanya, sholeh atau tidak, menjauhi maksiat, ketaatan pada orang tua juga nasabnya, sudah mandiri belum, bisa gak dia bimbing kamu nanti ... ah, banyak. Dan semua itu harus Abah pastikan lebih dulu. Paham kan, Neng?" tanya Zahid dengan nada lembut.
Bukannya bimbang, Zaylin tertawa lepas mendengar ocehan sang paman terhadap kriteria calon suaminya.
"Gak bercanda, Neng. Kata hadist kan begitu...." sungut pamannya sedikit kesal.
"Iya Abah, kalau Ayah masih ada juga pasti sama kayak Abah begini. Pokoknya, Aylin ikut kata Abah ya ... redho ikhlas," pungkasnya agar sang paman tenang.
"Tentang aib nya? Kira-kira apa ya Neng?"
"Entah, karena beliau hanya ingin bercerita dengan Abah nanti. Aku gak tahu," balas Zaylin cepat.
"Semoga benar katamu, bukan musyrik atau jenis dosa yang susah Allah ampuni ... aamiin." Meski bibir mengucap sebaris doa, tetap saja hati kecil Zahid gelisah.
"Kang, bantu aku memilih menantumu," batin Zahid.
Keesokan hari.
Zaylin terlambat menghadiri rapat akhir semester karena saat akan mengambil berkas fotokopian di ruko depan, dia bertemu seseorang yang sangat menyebalkan.
Tatkala dirinya sedang terburu namun pria itu bersikukuh tak mau menggeser mobilnya meski hanya beberapa meter.
"Anda dan aku datang hanya berbeda beberapa detik, berikan aku celah untuk parkir agar body belakang mobilku tidak menghalangi jalan," ujar Zaylin mulai naik pitam. Wajah ayunya terlihat garang dengan mata menatap tajam pada sang pria
"Urusanmu, bukan aku," balas pria itu cuek tak peduli dengan ocehannya.
Akhirnya wakil kepala sekolah ini pun mengalah, memarkirkan mobilnya lebih jauh dari tempat yang dia tuju membuatnya membuang waktu lebih lama untuk pergi pulang.
"Maaf terlambat," ujar Zaylin tak enak hati saat memasuki ruangan meeting, sebab insiden yang menjegalnya tadi.
...***...
Di tempat lainnya.
HR-V hybrid hitam memasuki pelataran pesantren sesuai alamat yang diberikan oleh Abimanyu semalam.
Setelah ia memarkirkan kendaraan mewahnya itu, Arjuna turun menemui sekretariat di sana, menanyakan keberadaan sang Kakak.
Beberapa santri khidmat mengantarnya menuju ruang tamu yang tersedia di sebelah Aula. Sembari menunggu seseorang yang dia maksud ingin temui.
Arjuna mengarahkan netra ke sekeliling ruangan, kental nuansa islami. Dalam hati ia berharap, sang kakak bisa keluar dari jerat masa lalu kelamnya.
Tak berapa lama kemudian.
Datang santri khidmat membawa sebuah baki berisi cangkir minuman beraroma teh khas melati, menguar hingga tercium oleh inderanya.
"Silakan Kang di minum dulu ... Kang Abim juga Yai, sedang menuju ke sini," ucap pria muda dengan wajah berseri.
Baru saja ia akan mengangkat gagang cawan, sebuah suara membuat ia mengurungkan niat mencecap teh hangat. Memilih memeluk sosok tampan di hadapannya.
"Jun," sapa sang Kakak.
"Kak." Arjuna bangkit, menepuk lengan kakak sulungnya itu lalu perlahan mendekat dan memeluknya erat.
"Alhamdulillah ... kakak benar, masih hidup," Arjuna terharu.
"Alhamdulillah, masih di beri umur panjang," lirihnya tak kalah haru.
"Assalamu'alaikum." Suara teduh nan berat milik seorang yang Abimanyu kagumi.
"Wa'alaikumussalaam," sahut keduanya bersama.
"Ganggu moment keluarga ya?" tanya Yai Bashir.
"Tidak Yai. Hanya terharu sedikit, bertemu lagi dengan adikku," kilah Abim seraya mengenalkan keduanya.
"Duduk Nak...."
Satu jam berlalu sangat singkat. Yai menjelaskan semua awal mula peristiwa yang menimpa tamunya. Arjuna tak habis pikir, ternyata temuannya sangat cocok dengan cerita versi Yai.
"Kita singkirkan dulu masalah konflik tindak pidana nya, Nak Arjun ... Nak Abim, akan memulai proses ta'ruf dengan seorang wanita ... untuk itulah, beliau menghubungi mu. Bila memang keadaan Ibu belum memungkinkan diajak serta, kalian berdua datanglah ke kediaman Aylin dan utarakan maksud baik Abimanyu pada walinya," tutur Yai.
"Kapan Kak?"
"Minggu depan, saat libur sekolah mulai ... bantu aku siapkan hantaran sederhana, Jun," pinta Abimanyu.
"Baik, adalagi?" tanya Arjuna.
"Itu saja dulu, langkah selanjutnya gimana nanti tanggapan keluarga Aylin," pungkas Yai Bashir.
"Siap ... pamit dulu ya Yai, aku izin membawa kakaku jalan sebentar," pinta Arjuna kemudian. Ia ingin menceritakan sebuah kisah pada sang kakak.
Setelah izin mereka kantongi, keduanya menuju mobil Arjuna, yang akan membawa Abimanyu ke suatu tempat.
.
.
...________________________...
...Misteri bertebaran... siapkan puyer, rate bintang 5 aja 😂...