ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 45. BERBURU



Menjelang petang.


Alexa kembali ke rumah mewahnya membawa banyak persediaan makanan. Dua orang maid wanita menyambut sang majikan kala melihat mobil Chevrolet Spin itu memasuki hunian mewah.


Wajah berseri sang wanita ciptaan manusia terpancar jelas. Bayangan akan kehidupan keduanya kembali mengemuka, dia akan membujuk Abimanyu perlahan.


Rupa dan penampilan fisik kini melebihi wanita normal, tentu sang pria juga akan lebih merasa nyaman kala bermesraan dengannya kelak, setidaknya itu angan Alexa nan membumbung tinggi.


Langkah kaki jenjang nan mulus terekspos jelas itu tergesa menaiki anak tangga menuju kamar super luxury yang sengaja dia buat agar tak perlu susah payah turun ke luar jika lapar dan sebagainya. Mirip sebuah apartemen studio dalam hunian.


"Sayaaang, aku pulang, maaf ya dikunci," ujar Alexa melembutkan suaranya seraya memutar kunci pada panel.


"Abim, Sayang." Alexa masuk ke dalam kamar, dia tak melihat pria yang dia suka diatas pembaringan. Langkah kaki kemudian menuju bathroom, tak dia jua temui sosok tampan itu di sana.


"Enggak, jangan. Abiiimmm!" Alexa panik, dia melihat sekeliling. Tak ada yang berubah, namun matanya membelalak kala melihat gorden nampak melambai tertiup angin, samar.


Wanita cantik itu mendekat, dengan tangan bergetar dia menyibak tirai yang menempel pada jendela. "Bodoh! kamu bodoh!"


"Abiiimmm." Teriaknya lantang memecah kesunyian hingga mengejutkan sekelompok hewan bersayap, kepakannya menyerukan suara memecah angkasa.


"Kok bisa dia muat di celah ini ya?" kesal Alexa, dia lalu membuka laptopnya, melihat kemana pria itu pergi.


"Damn! gak kelihatan, rupanya dia cerdik. Sh-ittttt, Roger."


Alexa kini panik, bisa jadi Roger juga tengah memburunya. Dia harus bergegas membuat satu alibi. Bagus juga Abimanyu kabur sehingga tiada bukti otentik bagi lelaki itu apabila ia murka.


Mencoba merileksasi pikiran, Alexa menghela nafas. Menyusun rencana seandainya Roger langsung mengeksekusi dirinya.


"Dua jam lagi, mungkin mereka akan tiba. Aku baiknya kabur," ucapnya kemudian.


Alexa berkemas, semua benda berharga miliknya di bawa. Dia lalu menuruni tangga menuju lantai dasar, tak mengatakan apapun pada kedua maid lokal yang dipekerjakan.


Chevrolet Spin itu kemudian kembali bergerak meninggalkan kediaman mewah yang memang dia bangun untuk persembunyian.


"Jika keadaan membaik, aku akan kembali," gumam Alexa saat menerobos jalanan setapak. Dia tak merasakan takut akan terjangan hewan buas, baginya kemarahan Roger evoque bagai kiamat.


Jika Alexa kabur melarikan diri dari kejaran Roger evoque, Abimanyu kini tengah berjibaku dengan lembabnya udara malam hari di dalam hutan lebat. Jaket yang dia ambil lumayan untuk menghalau dingin. Berbekal kemampuan naluriah dia memanjat pohon, membuat tempat bernaung sementara dengan memanfaatkan kondisi hutan.


Dalam perjalanan tadi, dirinya menemukan sumber air juga berbagai jenis buah yang aman di makan. Paling tidak sebagai ganjal perut kala malam agar tak terserang hipoksia. Yang dia khawatirkan saat ini adalah serangga kecil bahkan nyamuk nan sangat mengganggu. Berharap pagi segera datang.


"Aku baru tahu, rasa syukur nikmat untuk merasakan tidur di tempat hangat, memeluk Zaylin. Baru beberapa hari, tapi sudah kangen kamu bagai setengah waras. Hutan lebat begini, pilihannya hanya ada dua, Borneo atau Papua." Abimanyu merenung.


"Benar. Papua." Abimanyu sering melihat capture lokasi wisata yang asistennya dulu ajukan, semua berkutat di daerah sekeliling Papua. Karena budget besar yang harus dia keluarkan untuk family trip dengan karyawan, maka lokasi ini tak pernah Abim loloskan.


"Impian Alexa, rupanya. Baiklah, lurus terus ke utara agar bertemu pemukiman warga," gumam Abimanyu merapatkan lengan, mendekap dada agar dirinya hangat.


...***...


Tengah malam.


Heli yang digunakan Roger mendarat tepat diatas bangunan megah yang Alexa bangun. Lelaki gagah itu langsung turun dan menerobos masuk. Sebab tak ada yang berjaga, Roger leluasa menggeledah hunian mewah sang istri.


"Tidak tahu. Saya hanya diminta bekerja di sini hingga Nyonya bilang berhenti," jawab salah satunya.


Roger evoque tak banyak bicara, dia meminta anak buahnya menyusuri setiap ruangan sementara dirinya menuju lantai dua.


"F-ucck Alexa, kau memanfaatkan kelengahan juga semua kemewahan yang aku berikan. Tunggu saja pembalasanku," geram sang pimpinan mafia, tangannya mengepal kuat. Rahang tegas itu kian mengetat hingga muncul urat leher di sana.


Saat kembali di lantai dasar, dia meminta anak buahnya menyusuri jejak digital Alexa. Roger menunggu di sofa mewah ruang keluarga.


Tak lama, Arjuna datang bersama Dion. Orang Liam telah menyiapkan kendaraan mereka dan akan tiba esok pagi sesuai lokasi titik koordinat yang Dion kirim tadi pada sang pengusaha.


"Mana Kakakku?" tanya Juna pada sang pimpinan yang tengah duduk menunggu asistennya bekerja.


"Entah. Alexa pun tidak ada," jawab Roger cepat.


Dion menyusuri ruangan hingga ke lantai atas, dirinya lama berdiam diri di sana hingga beberapa menit kemudian, lelaki kepercayaan Liam kembali turun menemui Juna.


"Mas Juna," panggil Dion agar menjauh dari kawanan Roger. Mereka lalu duduk di meja makan tak jauh dari kerumunan sang bisnisman klan Singapura itu.


"Abim berhasil kabur, dibawah jendela ada sesuatu benda yang bekas digunakan beliau, juga akan aku pastikan apakah jejak samar di dinding adalah upaya dirinya kala menaiki tembok pembatas," tutur Dion pada Juna.


"Jadi kakakku gak pergi sama dia?" Juna memastikan diri, harapan tercipta di setiap kalimat yang dia ucapkan.


"Enggak. Jika dugaanku benar, Abimanyu menuju utara, hanya saja jalur yang dia pakai adalah menembus hutan lebat. Kiranya jika dia kabur siang tadi, mungkin akan sampai tiga hari kedepan. Kita cegat di perbatasan hutan, semoga bisa ketemu," ujar Dion lagi.


Juna takjub akan kemampuan analisa kepercayaan Liam. "Kalau meleset?"


Dion tersenyum. "Melihat cara Abim kabur, dia bukan orang lemah. Andai melenceng dari jalur, titik temunya sama, mungkin terbentang jarak saja, hanya butuh waktu untuk menemukan meski dia sudah keluar dari hutan," ungkap Dion, menjelaskan secara grafis pada Juna di atas kertas.


Putra bungsu Iriana akhirnya mengerti jalan pikiran Dion. Dia mengangguk setuju dan menyusun strategi agar efektif kala penjemputan nanti.


Saat mereka berdua tengah sangat serius. Suasana menjelang dini hari dikejutkan oleh pergerakan orang-orang Roger evoque yang akan meninggalkan lokasi.


"Kemana?" tanya Arjuna melihat mereka sibuk berkemas.


"Not your bussiness," jawab sang lelaki pemilik bisnis lintas negara, pada Juna.


"Good luck," sambut Dion kemudian.


"Hm, you too. Akan aku pastikan kejadian ini tak akan terulang. Jika Abimanyu masih hidup nanti sampaikan terima kasih padanya sebab tak menyentuh wanitaku," ujar Roger evoque.


Juna mendecih. "Cih, Abim punya istri cantik juga sholihah di rumah, bahkan tengah menunggu kehadiran buah hati. Gak napsu liat begituan," cibir Juna, langsung mendapat tatapan tajam Roger.


Glek. Juna menelan ludah kasar, sadar telah salah bicara.


.


.


..._____________________...