ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 11. SATU URUSAN LAGI



"Lanjut," Abimanyu semakin yakin.


Yusuf kemudian bersiap, mohon izin menutup pintu kamar mandi sejenak, agar dirinya dapat bebenah lebih dulu sebelum melanjutkan prosesinya.


Setelah lima menit menunggu sang putra sulung guru.


Abimanyu kini berada di ruang tamu kediaman Yai. Ia menggeser beberapa kursi agar mendapatkan space lega saat Yusuf memperagakan gerakan sholat.


Tak lama, pemuda itu bergabung dengannya dan Yai, di ruang tamu.


"Kalau gerakan sholat, sama seperti sholat sunnah biasa. Namun niatnya berbeda ... ushalli sunnatat-taubati rokaataini lillahi taala, niat dalam hati ya Kang, lalu takbirotul ihram nya dengan bersuara, Allahu akbar," ujar Yusuf.


Abimanyu memperhatikan seksama. "Sendirian ya, gak bisa jama'ah," tanya Abim.


"Diutamakan untuk dilakukan secara sendirian dan tidak berjamaah, karena sholat taubat merupakan sholat nafilah yang tidak disyariatkan untuk dikerjakan secara bersama-sama," jelas Yusuf lagi, pemuda itu dengan sabar menerangkan apa yang Abimanyu tanyakan.


"Sholat ini dilakukan sebanyak dua rakaat dengan sekali salam ... nah setelah salam, sebelum doa, baca istighfar dulu Kang ... pakai bacaan yang ini, Astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi ... setelah itu baru doa, sungguh-sungguh mohon ampun. Selesai," pungkas Yusuf menjelaskan setiap tahapan tentang sholat taubat.


"Pokoknya yang penting niat, karena segala sesuatu yang membedakan adalah perkara niatnya. Jika sudah paham, ana pamit melanjutkan pekerjaan tadi. Kembali ke Buya ya," ucap putra sulung Yai Bashir pada Abim.


Abimanyu mengangguk. "Silakan Kang, maaf sudah menghambat pekerjaannya tadi. Syukron," balas Abim seraya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada juga membungkukkan badannya perlahan.


Selama praktek tadi, Yai hanya menunggu keduanya di ruang tamu.


"Gimana, sudah jelas?"


"Sudah alhamdulillah. Lega hati ini. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya Yai?"


"Menyelesaikan perkara dunia, yang belum usai, Nak. Seraya terus memperbaiki diri agar istiqomah, berkumpul dengan orang sholih karena taubat itu berasal dari kata kerja taaba ... kata tersebut terbentuk dari huruf ta, wau, dan ba sehingga menjadi tawaba yang artinya pulang, kembali, dan penyesalan."


"Jika sudah melakukan taubatan nasuha maka seperti yang Allah sampaikan dalam surat at taubah ... sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang... istiqomah itu berat, namun bukan berarti gak bisa. Mohon pada Allah agar menemani apa yang kita kerjakan dan mintalah Aylin untuk meneguhkan hati." Nasehat Yai sebelum Abimanyu pamit dari hadapan beliau.


Banyak kata namun seakan tak cukup menggambarkan betapa putra Ibrahim Yasa itu berterimakasih.


"Ana telah menerima titipan, Maa sya Allah, semoga rezeki Nak Abim selalu Allah jaga, thoyyib lagi berkah, aamiin." Yai Bashir tempo hari menerima satu amplop berisi uang dan beberapa sak bahan makanan pokok dari pengusaha tampan yang ia tolong.


"Aamiin. Aku pamit ya Yai, Juna sudah menunggu. Mau ke rumah sakit dulu, check-up kondisi kaki," sambung Abimanyu seraya undur diri, menjulurkan tangan meminta salim pada sang panutan sebelum pergi.


"Fii amanillah, jangan sungkan main ke sini dengan Aylin nanti ya, Nak abim."


Pemuda tampan yang memakai salah satu nama tokoh pewayangan itu mengangguk, sejujurnya dari dalam hati ia merasa berat sekaligus haru. Masih ada orang baik di dunia fana jelang akhir jaman seperti saat ini. Yang tak menghakimi dirinya meski berlumur dosa.


Ting. Notifikasi pesan masuk.


Grup chat BimZay.


"Hati-hati Mas. Kabari ya hasil check-up hari ini. Maaf semalam aku sudah tidur dan sekarang sedikit luang, jadi baru balas chat disini." Tulis Zaylin saat mentag namanya di grup chat.


"Iya, gak apa. Aku masih di pondok, baru mau keluar dengan Juna ke rumah sakit. Nanti ku kabari lagi. Selamat melanjutkan pekerjaan ya Aylin, jangan lupa ishoma nanti." Balas Abimanyu sesaat sebelum sang adik menegurnya karena ia lamban masuk ke dalam mobil sementara cuaca terik siang itu.


Tak ada lagi percakapan disana meski Abimanyu berharap Zaylin kembali membalasnya.


"Ck, yang kasmaran. Mandangin mulu handphone," cibir Juna saat sang kakak telah masuk ke dalam mobilnya.


"Sirik. Jun...."


"Kata Yai. Aku harus menyelesaikan urusan dunia. Bantu aku ya, mengusut semua kasus pemukulan juga perampasan harta," ucapnya sedikit ragu. Ia khawatir jika bertemu seseorang, imannya kembali goyah.


"Biar aku Kak, jangan lagi terlibat dalam circle mereka. Kakak hanya duduk manis saja melihat hasilnya nanti. Aku sudah mengumpulkan beberapa bukti, baiknya ajukan gugatan pemanasan dulu sebagai shock terapi, gimana?" tawar sang adik seraya menginjak gas lebih dalam agar mobil melaju cepat untuk meneruskan perjalanan menuju rumah sakit.


"Boleh, dimulai dari mana? aku minta sebelum pernikahan harus sudah selesai bisa?"


"Dari yang paling ringan. Pembobolan brangkas, CC, juga penjualan asset ini nanti disambung gugatan untuk upaya pengingkaran kepercayaan ... gak akan lekas rampung, karena banyak tahapan kak. Paling lanjut sidangnya nanti setelah resepsi," beber Arjuna menimbang proses hukum.


"Lama amat, pakai lawyer Papa aja dulu. Kan tegas banget itu Bang Gilmot...." pinta sang kakak.


"Iya itu pakai beliau ko. Kaget loh Kak, dia sampe ngelus dada, mentang-mentang montok," tawa Arjuna kembali mengudara, menggema dalam kabin mobil yang mereka kendarai.


Lelah mentertawakan kekonyolan. Topik selanjutnya dibahas kembali.


"Mau dirayain atau private aja? Lokasi dimana? cafe milikku lega loh kak bagian belakang, sudah ku beli dan sengaja dijadikan venue untuk wedding," terang sang adik tampan.


"Hmmm, misi promosi mode on. Kamu atur Jun ... mungkin dua kali resepsi kayaknya. Teman-teman Aylin banyak di sini, tapi akan aku tanyakan sekalian saat berikan hasil dari rumah sakit," imbuhnya menegaskan rencana pernikahannya beberapa minggu lagi.


"Eh, kan Aylin belum setuju Kak, menerima pinangan. Bapak pede amat," tawa Arjuna menguar.


"Bukannya doain, malah ngatain. Diamlah, aku minta pendapat Ibu saja. Resepsi di gabung disini saja atau di kampung halaman Aylin...." ujung keputusan Abimanyu kali ini tepat.


Satu jam berada di rumah sakit.


Abimanyu sibuk menulis pesan di ponselnya, mengabarkan pada Zaylin juga Ibu terkait hasil pemeriksaan kaki.


"Hasilnya belum begitu bagus, tapi sudah berangsur membaik. Masih harus pakai gips hingga dua pekan kedepan. Dan kontrol terakhir satu kali lagi, sekaligus pelepasan gips nya nanti." Abimanyu mengirimkan tulisan panjangnya ke grup chat dan nomer sang Bunda.


Ting. Notifikasi pesan masuk.


"Mas, boleh lihat hasilnya? aku buka wapri belum ada." Zaylin membalas.


"Sudah ku kirim, barusan."


Jeda.


"Aku mau minta kurir kirimkan sesuatu ke kost-an Mas Abim, semoga bisa meredakan rasa sakit. Itu salep agar otot kaki bisa rileks kalau malam hari, katanya bisa mempercepat proses pemulihan. Dicoba ya, send alamat please."


Tulisan Zaylin dalam grup chat sukses membuat satu lengkung senyuman terbit di wajah tampannya. Dia pun segera mengirimkan alamat tempat tinggal sementara yang baru ia huni semalam seraya mengucapkan terimakasih.


Chat BimZay. End.


"Ciyee, yang dapat perhatian," sindir Juna sambil membantu sang kakak berdiri dari ruang tunggu farmasi, setelah obat-obatan mereka bayar.


"Gini ya rasanya, jadi gak sabar, Jun."


"Sebulan itu, kali ini baru ku rasakan lebih lama dari biasanya."


.


.


...______________________...