ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 41. BYE GRACE



Setelah peristiwa Graciella dinyatakan over dosis.


Dalam sebuah pangggilan telepon.


"Menghitung jam, dia akan lenyap mulus tanpa jejak. Bagaimanapun mereka mencari bukti, tetap saja OD akan keluar sebagai diagnosa. Jangan lupa upahku," ujar seorang pria di ujung sana.


"Sudah aku transfer lengkap dengan bonus. Aku akan ke sana, rencana sudah siap bukan? jangan sampai RE mencium apa yang ku lakukan," pinta sang wanita manipulatif.


"Done."


Panggilan kedua belah pihak yang hanya diketahui oleh mereka, berakhir. Alexa tersenyum puas. "Tidak ada yang boleh menyentuh Abimanyu ku, termasuk Zaylin. Jika aku tak dapat kembali padanya, maka siapapun jangan harap dapat bahagia," lirihnya memandang diri nan sempurna dari pantulan cermin.


"Aku merasa ragaku terjebak dalam diri yang salah. Ketika melihat kamu pertama kalinya, gairah itu menguat, meski sebagai pimpinan kau bijak menjaga jarak. Aku seharusnya berterima kasih pada Graciella telah membuat Abim jatuh dalam pelukanku. Ku pikir, mengambil semua hartamu dan membuat diri sempurna akan menarikmu kembali. Nyatanya kau memilih dia."


"Roger, dia baik padaku. Aku hanya menggunakannya tameng agar hidupku aman dalam pelarian. Kau tahu kan, duniaku? dan saat ini, aku melihat kamu sungguh berbeda, Abimanyu," Alexa bergumam. Dia merasa cinta sejatinya telah di temukan.


"Aku gak ingin harta. Abim, kamu bisa mengerti kan alasan aku," ucap Alexa, mata cantiknya mengembun.


Tiket penerbangan telah dia siapkan untuk mengunjungi Indonesia. Roger sangat sibuk bergerak dalam dunia bawah untuk waktu yang lama. Ini adalah kesempatan bagus bagi dirinya kabur atas bantuan seorang ahli.


...***...


Indonesia, dua hari kemudian.


Bukan hanya Liam Sakha yang terkejut atas tajuk berita pagi ini. Tunangan Graciella itu bahkan belum mengumumkan konfrensi pers atas rencana pengakhiran hubungan mereka.


Pagi ini, sang CEO resort itu masih stay di rumah sakit sebab Atthar belum sepenuhnya pulih. Dia tercenung mendengar semua ini.


Asisten Liam tergesa masuk ke dalam ruangan mengatakan bahwa di lobby banyak pewarta yang menanyakan kabarnya kala kabar duka mencuat.


"Kamu atur wartawan, aku akan menyelinap keluar menuju kediaman Graciella," ujar Liam, seraya mengangkat panggilan telepon.


Asisten George menghubungi dirinya, meminta kehadiran Liam saat Graciella akan di bawa ke rumah duka sekaligus klarifikasi pada pemilik perusahaan Ardian Company.


"Baik, aku akan ke sana sekarang."


Pemilik Sakhair pamit pada Atthar untuk mengucapkan belasungkawa atas kematian Graciella. Bocah kecil itu nampak sedih, mendengar wanita yang pernah dekat dengan sang ayah berpulang.


"Do'akan onty ya Daddy," pintanya pilu.


Liam tahu, dalam hati Atthar, dia tak sepenuhnya membenci Graciella, hanya saja penolakan yang diperlihatkan Atthar menunjukkan bahwa dia tak suka akan sikap kepura-puraan wanita itu.


...*...


Rumah duka.


Kehadiran Liam Sakha sontak membuat pewarta heboh. Berbagai pertanyaan dilayangkan pada sang duda tampan di tengah gempuran tamu yang tak kunjung surut datang.


Asisten George sigap menuntun pria perlente itu menuju ruang dimana jenazah Graciella bersemayam.


Liam menghampiri peti mati nan indah. "Hai Grace, maaf atas pertemuan terakhir yang membuatmu pergi dengan amarah. Selamat jalan, terima kasih sudah menemani hari kami selama ini. Aku pernah menyayangimu seperti layaknya seorang kekasih dan Atthar titip doa untukmu," ucap Liam menatap wajah cantik yang terbaring tenang di sana.


Sedikit kesedihan terselip, dalam perjalanan tadi, asistennya mengatakan bahwa dugaan meninggalnya Graciella disebabkan oleh over dosis sebuah obat yang hanya bisa di beli oleh kaum borjuis. Efek smooth dan rileks dicari oleh mereka yang depresi. Dan Graciella mempunyai motif demikian sebab hubungannya kandas.


George Adrian menarik Liam menuju ruangan sebelah jenazah. Pria senja itu meminta klarifikasi kejadian terkahir yang terjadi di antara mereka.


Ayah Atthar Achazia menjelaskan gamblang perbincangan saat itu dan ketika Liam disudutkan atas sebuah penggiringan opini bahwa dia mempunyai motif untuk melenyapkan sang pewaris, Liam terpaksa menunjukkan deretan video milik almarhum.


...*...


Bukan hanya Liam, Arjuna dan Abimanyu pun terkejut atas apa yang mereka baca dalam berita surat kabar online.


"Pewaris Adrian Company, Graciella vey Adrian meninggal dunia di Mansion AdsC atas dugaan over dosis."


Juna lantas menghubungi sang kakak memastikan kebenaran berita yang baru saja dia baca.


"Halo, Kak."


"Ya Jun. Grace?" tanya Abim langsung.


"Iya, ke sana?" balas Juna.


"Hem. Dia pernah akan menjadi calon istriku. Aku akan bilang Aylin dulu," ujar Abimanyu pada sang adik. Juna berkata akan menemaninya ke sana.


Zaylin mendengar percakapan adik kakak itu, dia masih belum bisa beraktivitas. Flek kembali muncul, mual muntah hebat menyertai kehamilan membuat dirinya sangat bergantung pada Abimanyu.


"Ay."


"Hm, boleh pergi asal hati-hati. Mas tahu, inginnya aku melarang karena hatiku tak tenang namun apabila ini demi kebaikan. Juga saat terakhir kita jumpa dia di dunia, maka pergilah. Sama Juna kan?" ujar Zaylin lembut, masih berbaring di atas dipan.


"Iya dengan Juna." Abimanyu mengecup dahi Zaylin sebelum dia pergi. Memandang wajahnya lama seakan merasakan sesuatu.


"Kenapa sih liatinnya gitu," kata Zaylin melihat Abimanyu sedikit aneh.


"Pengen simpen wajah kamu dalam ingatan, yang banyak. Siapa tahu, modal buat aku lolos dari kesulitan bukan? do'akan aku ya Sayang," pungkas Abim. Calon ayah itu memeluk Zaylin erat, menghidu kuat wangi milik sang istri.


Satu jam kemudian.


Kakak adik Yasa telah berada di rumah duka. Juna bertemu beberapa koleganya di sana hingga mengabaikan Abimanyu yang masih mematung berdiri di sisi peti mati.


"Tak ku kira, kita akan berakhir seperti ini Grace. Kamu dulu terlalu cemerlang di mataku, bahkan kini. Selamat jalan ya mantan, semoga bahagia di sisi Tuhan Maha Kasih," bisik Abimanyu seraya meletakkan buket bunga kesukaan sang mantan tunangan.


Saat yang sama.


"Selamat jalan Graciella."


Abimanyu mengenali suara ini, dia menoleh ke arah kanannya. "Kamu, sedang apa disini? apa hubungan mu dengan Grace?"


"Halo Sayang. Aku rindu, dan yang membawaku ke sini, adalah dia," ujar Alexa. Dia undercover.


"Ikut aku atau Zaylin dan anakmu, mati!" Alexa memperlihatkan rumah Iriana dipantau anak buahnya.


"Jangan lukai anak istriku!" geram Abimanyu hendak mencekik Alexa namun todongan pisau tepat di jantungnya menahan dia untuk bergerak maju.


"Juna." Abimanyu menekan tombol panggilan cepat namun Juna tengah sibuk berbincang.


.


.


..._______________________...


...Nangis, inget peristiwa itu, ya Allah lindungi anak-anak korban kekerasan se-ksual. Nanti Mommy jelasin di akhir ya, alasan mommy nulis begini, siapa sosok Alexa, juga Abim dan Zaylin. Astaghfirullah, sesek. ...