
"Hah? apa? bukan mahram? Baby, mata dia buta ya," ujar Alexa menatap tajam Abimanyu.
Yang ditatap malah asik menautkan jemari lalu meninggalkan sosok ayu disana.
"Abim!" Alexa menarik lengan Abim.
"Lepas!" sergah suami Zaylin menepis cekalan Alexa.
Pasangan Yasa tetap melenggang masuk, lelaki tampan itu lalu melingkarkan lengan kirinya menempel di pinggang ramping sang istri.
"Dia cantik banget. Kok aku insecure ya, Mas. Dulu gitu gak?"
Abimanyu tak serta merta menjawab pertanyaan kemenakan Zahid. Dia mengunci mulutnya rapat hingga tiba di debat pintu ruang sidang yang masih tertutup.
"Aku gak mau jawab. Malu sama kamu," tunduk Abimanyu kini menempelkan kepala pada wajah Zaylin. Dia mendekap tubuh ramping itu dari belakang, melingkarkan kedua lengan kokohnya didepan dada sang istri seakan menegaskan bahwa wanita tulen ini, miliknya.
Zaylin menengadah, lalu mengecup dagu yang menempel di dahinya tadi.
"Mas harus terbuka sama aku, biar ketika konseling lanjutan nanti, dapat release lebih cepat. Tapi jangan dipaksakan, perlahan saja. Yang penting ada rasa nyaman ketika membuka hal itu lagi," tuturnya lembut, berbisik seraya mengatakan kalimat mesra yang membuat Abim merona.
"Pinter ngerayu kalau diluar. Coba dikamar, Sayang," balasnya lagi.
"Ehheemm, Bim, udah ketemu dia?" tegur suara pria paruh baya.
"Pamer terooosss," timpa Arjuna melihat sang kakak yang enggan lepas dari istrinya sejak menikah.
"Sudah Om. Sidang lanjutan nanti, aku gak harus hadir kan?"
"Bisa diwakilkan oleh kuasa hukum nanti, Bim. Yang penting awal saja. Kamu kan gak nyaman, eh dia cantik, ku kira tulen laki," bisik Gilmot.
"Tadinya juga laki, gue aja ketutup genderuwo. Heran," sesalnya berbisik tak ingin didengar Zaylin. Dia malu.
Wanita ayu yang masih dalam dekapan Abimanyu hanya tersenyum simpul mendengar samar pengakuan suaminya.
"Bismillah bisa keluar dari lingkaran liwath ya Mas, meski saat itu dia sedang di masa transisi dan belum sesempurna sekarang. Tetap saja dia pria dan bisa dipakai depan belakang, eeehh."
Zaylin tanpa sadar terkekeh pelan dalam pelukan Abimanyu, mengundang reaksi curiga pria dibelakangnya.
"Hayo, ngetawain aku ya," bisik Abim.
"Eggak. Cuma pikiran konyol saja, Mas. Yuk masuk," ujar Aylin menarik tubuh yang enggan lepas itu memasuki ruang sidang.
Wanita ayu dalam balutan busana syar'i tahu bahwa suaminya tidak nyaman ketika di ajukan beberapa pertanyaan. Zaylin kemudian memilih memasang headset kala Abimanyu berkali meliriknya. Agar pria yang tengah duduk di tengah ruangan itu sedikit lega mengakui apa yang seharusnya.
Hampir empat jam mereka ada dalam ruangan menegangkan itu hingga semua hadirin disana bubar setelah ketok palu hakim.
"Baru diadili di dunia ya, Sayang. Aku sudah ketakutan, bagaimana nanti di akhirat. Ay, makan di cafetaria dekat sini aja ya. Aku lapar banget," pinta Abimanyu saat dia berpisah dengan Gilmot dan Arjuna diparkiran.
Zaylin hanya tersenyum manis, lalu mengangguki keinginan sang suami sebelum dirinya masuk ke dalam mobil.
Lima belas menit berikutnya.
Pasangan serasi itu memasuki family cafe yang cozy, mengambil tempat duduk di sisi barat dari pintu masuk.
"Aku ke toilet dulu ya. Kamu bisa order, pilihkan untukku," pinta Abim sebelum berlalu.
Putri Zulkarnaen mengangguk, tak lama waitress menghampiri mejanya. Dia menjulurkan tangan kanan seraya greeting menyapa customer.
Zaylin menerima kartu menu dari waitress, dia lalu melihat susunan main course yang baik untuk di konsumsi suaminya.
Tiba-tiba.
"Dia suka steik, jika kau bingung," sambut suara wanita.
Zaylin tak menanggapi. Menantu Iriana telah lama mengamati menu, kebiasaan juga makanan favorit suaminya dibantu oleh mertua terkasih. Abimanyu suka makanan lokal, bilamana ada steik itu hanya mengikuti kolega atau rekan saat itu.
"Aku masih mengingat jelas semuanya, kamu tidak akan bisa menghapus jejakku," tegasnya duduk di hadapan Zaylin.
Wanita ayu berhijab pola pattern masih diam, enggan menanggapi ocehan unfaedah wanita jadi-jadian. Aylin malah asik memainkan games di ponselnya. Bersandar santai pada kursi yang menurut dia sangat nyaman.
Brakk. Alexa menggebrak meja.
"Heh!"
"Lihat saja nanti. Kami akan kembali bersama," ujarnya mulai gusar.
Zaylin menghela nafas, sekilas melihat tampilan mahluk setengah tulen.
"Silakan di coba, Tuan Alexander. Tetapi, jangan terlalu percaya diri. Lihatlah Anda kini, tentu sang dominan tak ingin kehilangan modal terlalu banyak bukan? kamu sudah pikirkan itu?" sinis Aylin melihat penampilannya kini.
"Bersama dengan suamiku lagi? yakin melepas semua apa yang telah kau raih? bukankah harta gasakan itu modal untuk pansos?"
"Biasanya pasangan mu tak akan mudah melepaskan, atau bisa jadi bebas begitu mudah namun ada konsekuensinya yang harus diemban. Nah, pertimbangkan lagi. Eh, aku baik loh, ngasih kamu saran," senyum sinis Zaylin Huzefa terbit.
Wanita berpakaian seksi mendengus. "Cih."
"Namakuu Alexa dan sayangnya lebih cantik dari mu," geram istri Roger Evoque.
"Tetap saja, PRIA," kekeh Zaylin renyah, menegaskan pada kata gender, membuat wajah lawannya merah padam.
"KAU!"
"Appa?"
"Aku yakin Abim belum menyentuhmu!" tawanya memecah ruang sunyi.
"Apa aku harus membagi trik baru suamiku padamu, bagaimana puasnya dia seraya menyebut namaku? ayy-liinnh-hhhh," bisik Zaylin menirukan desa-han Abimanyu.
Alexander namun tidak agung itu, bangkit. Dia geram, tak mengira bahwa istri Abimanyu begitu kokoh, tak mudah diintimidasi.
"Kita lihat saja nanti."
"He em, aku akan setia menonton. Bagus bila kamu bisa masuk net-flok, dapat bayaran tinggi buat melepaskan diri dari suamimu itu," tegas Zaylin tak kalah sangar.
Wanita kaleng itu menyerah kali ini. Dia lalu menggebrak meja dengan tas branded miliknya. Hendak meraih hijab Zaylin namun dengan sigap ditepis.
Istri Abimanyu bangkit. "Jangan macam-macam denganku," tunjuk Zaylin pada wajah cantik bagai barbie. Dia mencekal tangan lentik yang hendak melecehkannya.
"Lepas!" ujarnya paksa.
"Tuan Alex, perlu kau tahu ... hanya pikiran manusia yang menciptakan kategori itu dan mencoba memaksakan fakta ke lubang yang salah," tatap Zaylin tajam, menghempas Alexa.
"Sayang!" Abimanyu berlari kecil menghampiri istrinya.
Alexa kian naik pitam kala melihat Abimanyu begitu khawatir atas wanita sok suci didepannya. Dia pun berlalu dari hadapan mereka, begitu saja.
"Kamu gak apa? kok dia kesini sih?" heran Abimanyu.
"Sengaja mengintimidasi aku. Tenang aja Mas. Aku masih ingat banyak jurus karate meski lama tak berlatih, tapi tetap saja tenaga dia laki ya," kekeh Zaylin.
Tak lama pesanan mereka tiba, dan keduanya diam menyantap hidangan masing-masing, tentu dengan pikiran yang hilir mudik akibat peristiwa hari ini.
"Ku kira mudah, ternyata cukup sulit ya, Mas."
.
.
..._____________________...