ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 23. NEW JOB



Dua jam berlalu.


Pasangan Yasa menghabiskan waktu di cafetaria. Zaylin nampak sibuk dengan gawai di tangan ketika Abimanyu menanyakan sesuatu tentang Alexa tadi.


"Dia ngancam kamu maksudnya ngapain ya, Ay?"


"Minta Mas balikan sama dia," jawab Zaylin ringan, masih tak melepas pandang pada gawai.


"Dih, ogah. Aku sudah punya kamu," balasnya cepat.


Zaylin meletakkan gawai nya, mencoba menelisik kedalam retina coklat tua di hadapan.


"Sejujurnya kah? apakah jika tiada aku, Mas akan balikan sama dia? secara cantik begitu dan sudah sempurna," lirih Zaylin membelai wajah tampan sang suami.


Abimanyu tak lantas menjawab. "Belum dapat kamu percayakah? sebelum kita melakukan itu secara sempurna? aku tiada rasa sejak awal, entah mengapa hingga terjadi dua kali saat bersamanya."


"Ay, nggh, hmm, anu ... gak lewat belakang semua kok ... astaghfirullah, gue malu sama kamu, ngerti gak sih, Sayang," Abimanyu berpaling wajah, tak kuasa menatap istri cantik nan sholihah.


Bukannya marah, Zaylin malah tersenyum simpul. "Mas, liat aku. Maass," kekehnya lirih.


"Tau ah, kamu sih. Nih pegang...." Abim menarik telapak tangan Zaylin, menyentuh dadanya.


"Gue ngomong gitu aja susah payah loh Ay. Sampe berdebar hebat gini. Lihat ini, gemeteran," seriusnya, tak suka Zaylin memaksanya.


"Iya maaf. Besok deep konseling, keluarkan semua ya jangan dipendam terus kita sholat taubat lagi. Dan puasa," saran Zaylin menggenggam erat jemari suaminya.


Abim menoleh. "Please, bantu aku. Trauma ku termasuk menengah tapi karena kamu seperti ini yang buat aku minder Ai. Kayak gak pantas gitu loh...."


"Gak pantas gimana? Mas normal bagi aku, hanya Allah titipkan sedikit ujian padaku. Apa masalahnya? kita kan sedang ikhtiar," jawab Aylin.


"Nah ini nih, bikin aku minder. Pria baik untuk wanita baik."


"Terus maunya gimana? pisah? karena gak pantas?" cecar Zaylin.


"Jangan! Sayang, jangan ... please jangan tinggalin aku. Aylin, jangan," mohonnya dengan sorot mata ketakutan.


"Pria baik untuk wanita baik, benar. Jodoh cerminan diri, itu juga betul. Tapi Allah mendatangkan Mas ke hadapan aku bukan tanpa maksud ... baiknya kita belum tentu demikian menurut Allah, pun sebaliknya. Jadi, apa yang dipasangkan saat ini itulah rezeki. Ujian, apakah aku malah semakin menjerumuskan atau kebalikan itu," terang Zaylin lagi.


"Jangan pernah bilang diri tak pantas. Kita sama manusia, bukankah Allah lebih menyukai pendosa yang bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat daripada mengaku diri baik namun jauh dari apa yang disukai Allah? pilih mana," tegasnya lagi.


Abimayu tak banyak kata, dia memeluk erat wanita ayu disampingnya.


"Pulang yuk. Mau nempel sama kamu," bisiknya.


Zaylin mengangguk. Fase berat Abimanyu kala bertatap muka dengan masa lalu. Sedikit orang yang mempunyai luka batin berani menghadapi ketakutan terbesarnya.


Sang suami bukanlah pecandu se-ks atau dr_ugs. Dia berada di titik rendah kala itu menurut versinya, bukan pembelaan atas sikap tersebut, namun Zaylin menilai bahwa ini juga bagian dari perjuangan. Bahkan mungkin dirinya yang harus banyak berkorban.


"Kalau Mas bilang jangan meninggalkan, maka aku meminta, jangan lepaskan," pinta Zaylin seraya bangkit.


Pasangan Yasa keluar dari cafetaria dan kembali melajukan kendaraan mereka menuju kediaman.


Empat puluh menit berlalu.


Iriana menyambut kedatangan keduanya, terutama Zaylin. Mertua ayu itu sungguh telaten mengurusi segala kebutuhan sang menantu hingga terkadang Aylin merasa risih.


"Anak gadis Ibu satu-satunya, kudu nurut Ibu selama tinggal disini, gak usah kerjain apa-apa. Cukup layani Abim saja," ujarnya suatu ketika.


"Lin, temani Ibu bikin kue, Aylin capek gak?" tanya Iriana kala putri dan putranya menginjakkan kaki di teras.


"Boleh, Bu. Aylin ganti baju dulu," jawabnya.


"Gak boleh. Kan tadi aku bilang, mau nempel sama kamu Ay," protes Abim.


"Pinjem sebentar Bim, sejam palingan. Kamu bisa ngopi kek atau ngapain gitu. Bentar lagi kan Ashar," bujuk Iriana.


"Justru bentar lagi Ashar nanti Aylin ngaji sampai jelang maghrib bablas isya, makin lama aja nempelnya," putra sulung ini enggan mengalah.


Kriing. Ponsel Zaylin berdering ditengah kisruh anak dan Ibu.


Zaylin menepuk pelan lengan sang suami lalu sedikit menjauh dari mereka, duduk di kursi depan pantry.


"Selamat siang, Assalamu'alaikum."


"Siang. Maaf dengan Ibu Zaylin? saya dari Yayasan Kasih Bunda Jakarta, bisa minta waktu Anda sepuluh menit?" suara operator.


"Silakan, Nona."


"Berkenaan dengan CV yang Anda kirimkan by e-mail. Jika Bu Zaylin berkenan, kami tertarik untuk mendengar langsung visi misi Anda sebagai tenaga pendidik esok pagi pukul sembilan pagi, di kantor sekertariat," ujar suara lembut operator wanita.


"Baik. Saya bersedia, terima kasih," balas Zaylin antusias.


"Sampai bertemu esok pagi. Selamat siang," pungkas suara di ujung sana.


Abimanyu yang menguping pembicaraan mereka, menepuk bahu istrinya.


Zaylin menoleh, dengan binar berseri. "Panggilan interview, Mas. Besok jam sembilan pagi. Aku boleh pergi?"


"Dimana? aku antar," balas Abim, mengusap pipi semulus jalan tol baru jadi.


"Jalan Pangeran Wicaksana, Yayasan Kasih Bunda," jawab Zaylin lagi.


"Itu sekolah elite Sayang, Labschool Kasih Bunda dari PAUD sampai high School, bukan?" seru Iriana ikut bahagia.


"Kayaknya iya, Bu. Aylin kirim lima CV kemarin, itupun Mas Abim yang mengarahkan pilihan sekolahnya," jawab Zaylin.


"Besok aku antar sekalian jalan ke kantor distro, ditungguin aja, gak lama palingan kan?" ujar Abim, menarik jemari istrinya ke kamar, mengabaikan seruan Iriana agar meninggalkan Zaylin disana.


Malam menjelang tidur.


Zaylin menyiapkan baju yang akan dia kenakan serta pakaian sang suami diatas meja rias.


"Semoga di terima, biar langsung belanja outfit formal ya, Sayang. Kamu gak bawa banyak baju dari sana," pungkas Abimanyu menutup aktivitas hari ini.


...***...


Keesokan pagi.


Zaylin sudah berada di kantor Yayasan Kasih Bunda, dia datang tiga puluh menit lebih awal atas anjuran Abimanyu.


Lelaki itu menemani dirinya di lorong koridor saat menunggu wakil Yayasan tiba.


Sesaat kemudian. Wanita anggun nan berkelas masuk kedalam ruangan dan meminta Zaylin menghadap beliau. Abimanyu harap cemas bagai menunggu istri yang tengah melahirkan, pikirnya.


Menit berjalan terlalu lamban hingga teriakan anak kecil memecah kekalutan hatinya.


"Gak mau, pulang. Pulaaaaang! Papa. Papa! mau Mama, Mama!" teriaknya lantang disertai tangisan memekakkan telinga.


Dua orang guru, berusaha menenangkan sang bocah namun tiada kunjung berhasil.


"Mas, liat apa?" Zaylin menepuk bahu sang suami yang menatap pada amukan anak kecil diujung gedung tak jauh dari sana.


"Kasian banget. Itu, Ay," tunjuk Abimanyu.


Zaylin memperhatikan seksama. Tanpa sadar, kakinya melangkah mendekati sang anak tantrum juga kedua gurunya.


"Permisi, saya Zaylin. Boleh coba membujuk dia?" sapanya ramah.


Kedua guru, saling bersitatap, lalu mengangguk samar, mengizinkan Zaylin mendekat.


Anak lelaki itu masih histeris, menutup mata dan meringkuk di pojok pagar.


"Assalamu'alaikum, aku Zaylin. Boleh ikut duduk ya, capek daritadi jalan keliling tapi gak menemukan seorang teman," ujarnya lembut.


Sang bocah masih menangis, meski tidak terlalu kencang seperti diawal.


"Aku baru pindah ke sini. Banyak tidak tahunya, ku lihat seragam mu bagus, pasti kamu sudah bersekolah disini sangat lama. Maukah kamu menunjukkan padaku letak cafetaria? aku haus, ingin menangis rasanya, tiada orang yang peduli akan rasa dahaga ini," ujar Zaylin sedikit menirukan suara parau ingin menangis.


Lelaki imut itu tiba-tiba diam. Dia mendongakkan kepalanya. Sementara Zaylin menunduk.


Puk. Puk. Dia menepuk pelan lengan Zaylin.


"A-ku p-punya air, kau m-ma-au?" tanyanya terbata.


Zaylin mengangguk. "Dimana kelasmu? aku antar kesana."


Bocah kecil tampan itu lalu menarik lengan Zaylin agar bangkit. Dan menuntunnya menuju kelas.


Kedua orang guru mengikuti keduanya kembali ke ruangan. Zaylin meminta izin meminum air dari botol minum si bocah tanpa menyentuh bibir wadah.


"Terima kasih, apa kita jadi teman sekarang?" tanya Aylin lagi.


Anak kecil itu mengangguk antusias. "Atthar."


"Oke Atthar. We're gonna be a friend, kamu mau stay belajar disini atau apa yang kau inginkan?"


"My Mommy."


"Disini banyak Mommy. Ibu guru, its your moms," bujuknya.


"Kamu juga?" mata sipitnya mengerjap lucu.


.


.


...______________________...