
"Ay, buka Sayang." Abimanyu masih setia berdiri di depan pintu bathroom kamar mereka.
Tak lama kemudian, Zaylin membuka kunci dari dalam namun tak memutar handlenya. Tubuh molek itu lemas setelah memuntahkan segala isi dari dalam lambung.
Ceklak.
"Astaghfirullah," Abimayu segera menyongsong sang istri kala dia membuka pintu melihat Zaylin hampir roboh.
"Mas, sakit," bisiknya lirih nan lemah.
"Kamu diem duduk diatas tempat tidur dulu, nanti aku minta mbak buat ngepel, atau mau keluar kamar dulu?" kata Abimanyu seraya menggendong tubuh lunglai Zaylin menuju pembaringan.
"Keluar boleh?"
"Boleh, sebentar aku bantu pakaikan outer dulu ya," sahut Abim. Dia lalu membuka lemari, mengambil outer panjang juga celana kulot longgar untuk menutup homy dress sexy yang Zaylin kenakan.
Pembicaraan di ruang keluarga terus berlangsung hingga saat keduanya bergabung kembali, Juna sudah hampir rampung mmeceklis semua kebutuhan untuk rencan acara lamarannya.
"Maaf ya Bu, aku bikin rusuh," ucap Zaylin tak enak hati saat melihat tatapan sinis Juna terhadapnya.
"Sudah selesai semua kok, kamu kenapa? sakit? ini wangi parfum Abim yang tumpah?" tanya Iriana.
"Sampel bibit parfum dari temanku, makanya menyengat dan bikin Aylin mual," jawab Abimanyu.
"Isi juga kali, Bim," seloroh Iriana membuat keduanya saling pandang.
"Ay."
"Hm, gak tahu Bu. Tapi emang udah lewat sih," cicit Zaylin merasa teledor.
Iriana tersenyum. "Besok coba cek dulu, kalau enggak ya jangan beban. Masih banyak kesempatan, tapi jika dititipi rezeki, di jaga betul-betul," sarannya untuk sang menantu, diangguki oleh Zaylin.
Setelah semua pembicaraan inti kepentingan Juna. Semua anggota keluarga Yasa kembali ke kamar masing-masing. Berbeda dengan Abimanyu, dia langsung bergegas keluar rumah menuju apotek 24 jam untuk membeli alat test kehamilan.
Ba'da subuh.
Pasangan Yasa tengah saling memeluk disamping ranjang kala Zaylin menunjukkan hasil pada alat test kehamilan yang baru saja dia coba.
"Ay, jaga adek ya," bisik Abimanyu haru. Dia memeluk erat istrinya.
Zaylin tak kuasa menjawab, hanya anggukan samar dalam pelukan dada bidang sang suami yang sanggup diberikan sebagai tanda setuju.
"Beri kabar Ibu yuk," ucap Abim kala keduanya melerai pelukan.
"Mas aja, aku disini ya. Ingin izin gak masuk kerja, pusing banget kepala," keluh Aylin.
"Kabari Abah juga ya," sambung Abim antusias, kala akan keluar kamar.
Lelaki tampan putra Ibrahim lalu mengetuk pintu kamar Iriana, dia menghambur masuk begitu saja meskipun sang Ibu belum menjawab permintaan dirinya.
"Bim, kenapa?" tanyanya masih dalam balutan mukena.
"Bu, ini." Abimanyu menyodorkan sesuatu ke hadapan sang Ibu.
Iriana menyambut uluran benda dari tangan sang putra sulung. Dia mendapati sebuah jawaban disana. "Alhamdulillah."
"Tentu. Im, akhirnya kita punya cucu, ini calon anak Abim," Iriana bermonolog seakan sang suami ada disana bersama mereka.
Abimanyu memeluk sang Bunda, mengusap punggung ringkihnya lembut seraya meminta doa dari Iriana.
"Yang sabar ngadepin mood Ibu hamil, ikhlas dan rajin berdoa supaya keturunan kalian sholih, jaga ucapan, pandangan juga sikap ya, Bim. Makasih banyak, Ibu senang sekali," tuturnya lagi mengusap kepala Abimanyu sebagai ungkapan syukur dan sayang.
Pagi syahdu menyelimuti keluarga Yasa bahkan Arjuna ikut bahagia atas kabar kehamilan iparnya itu.
...***...
Singapore.
Alexa mengajak Grace untuk bertemu di suatu tempat, dia sungguh penasaran tentang sosoknya. Menjelang jam appointment, keduanya pun bertatap muka.
Tidak ada pembicaraan yang menjurus pada sosok yang mereka cintai di masa silam. Alexa menduga bahwa Grace adalah mantan kekasih Abimanyu yang tengah mengincar lelaki itu lagi.
Ingin rasa hati bekerja sama dengannya untuk menyingkirkan Zaylin dari Abimanyu, namun sebuah rencana justru melintas dalam benak. Jika Zaylin tersingkir, maka mereka akan menjadi musuh. Kenapa tidak Grace saja yang harus disingkirkan? pikir Alexa.
Obrolan dua wanita nyata kian akrab, sayang Grace tak mengetahui muslihat di balik ini semua. Dia tak menyangka apabila sosok ayu di hadapannya ini adalah musuh dalam selimut.
"Dia ku tinggalkan dan aku menyesal kini," gumam Grace suatu masa kala tegukan wine terakhir dalam gelas.
Pernyataan yang sontak membuat Alexa tersenyum, dia bersorak dalam hati.
"Kamu meninggalkan dia, lalu Abim jatuh ke pelukanku. Kamulah penyebab kami bertemu. Maka sepatutnya harus kau lupakan dia selamanya."
Alexa tak banyak bicara, dia hanya menanggapi, memuji atas segala yang Grace lakukan. Hingga saat keduanya berpisah, wanita tunangan Liam itu tak jua menyadari nyawanya terancam.
"Bye. Kalau ke Jakarta, kabari aku ya," ucap Grace pada Alexa setelah dua jam pertemuan keduanya.
Wanita milik Roger evoque itu lantas menghubungi seseorang, mengatur rencana dalam waktu dekat. Dia sudah lelah menghadapi sang mafia, ingin lepas dari segala kemewahan dan membujuk Abimanyu menjalin kedekatan dengannya dengan alasan, ingin bertaubat.
"Lembut saja, jangan berlebihan. Buatlah semua normal dan alami. Bagaimana caranya? kau pikirkan, aku tahu beres," bisik Alexa kala memberikan instruksi untuk seseorang.
Lepas dari pertemuan itu, Graciella menyerah. Dia menghubungi Liam pertama kali. Namun respon yang lelaki itu berikan sungguh di kuar dugaan.
"Atthar kenapa?" tanya Graciella berpura peduli.
"Gejala typus," jawab Liam singkat.
"Aku akan pulang segera, menemani dia agar kau bisa sedikit longgar dan dapat bekerja dengan baik," tutur Grace lagi mencoba mengambil simpati Liam.
Lelaki itu hanya berdehem sebagai jawaban persetujuannya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, jika sudah kembali," kata pemilik Sakhair.
"Jangan bilang kau akan mengakhiri hubungan kita," tegas wanita ayu di negeri singa.
Ayah kandung Atthar tak menjawab pertanyaan tunangannya itu, dia menggantungnya dengan meminta Graciella agar bersiap diri.
.
.
...________________...