ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 31. GRACIELLA ARDIAN



"Kemana?" tanya Andre, customer Juna.


"Private room, over there," tunjuk Arjuna seraya mendahului melangkah.


Satu jam, over midnight.


Kedua pria saling berjabat tangan di depan private room, nampak telah menyetujui sebuah kesepakatan kerjasama yang akan dilangsungkannya lusa nanti.


Andre kemudian berlalu menyamping ke arah kanan, mendahului Juna untuk menyapa seseorang.


"Hai Baby, aku sudah selesai. Bisakah kita pergi?" suara Andre terdengar melembut di telinga Juna.


Tak ingin menoleh untuk mengetahui urusan mereka, Arjuna kembali masuk dalam private room membereskan tab juga sketsa yang dia buat tadi untuk sang klien.


Si-al, pintu ruangan itu tak tertutup sehingga seseorang dapat mengenalinya.


"Kamu, Arjuna kan? Hai," sapa seseorang.


Arjuna menoleh. "Sh-iiitttt!" gumamnya tak lagi dapat menghindar.


"Kamu kenal dia? Candy?" tanya Andre saat melintasi ruangan yang baru saja dia gunakan, seraya menggamit mesra pinggang wanitanya.


"Hm, kita pernah dekat, bukan begitu, Juna?" jawab si gadis dengan senyum menawan.


"Hai Grace, Mr. Andre. Kita teman. Aku permisi, morning." Arjuna mengangguk samar pada kliennya seraya berlalu.


"Grace? namamu siapa? Candy atau Grace?" tanya Andre nampak bagai dibodohi.


Arjuna mendengar sekilas obrolan mereka tak jauh dari sana, saat langkah kakinya menjauh.


"Salam untuk Abim ya, Jun. Kita juga cuma teman ko," seru Graciella.


Adik Abimanyu tak lagi merespon sapaan genit dari sang mantan kekasih. Dia terus melangkah mengabaikan sekitar hingga HR-V Hybrid tak lama melaju keluar dari tempat ajeb-ajeb yang terkadang membuat manusia sejenak kehilangan jati diri. Berdalih mengesampingkan urusan kerumitan hidup.


"Fu-ckkk, kenapa harus ketemu dia dan muncul lagi di sini. Bukankah Graciella telah menikah dengan konglomerat negeri bambu. Penyebab aku ditinggalkan dulu," Juna bermonolog.


"Jangan sampai Rizkia dan Abim tahu. Kurasa, dia masih menyimpan sedikit rasa suka terhadap Grace. Bim, wanitamu di kagumi Liam dan kamu mungkin akan terkesan dengan Graciella kini. Sumpah, dia sangat...." Juna merasa ngilu hati jika membayangkan apa yang telah dia perbuat pada sang kakak.


"Semoga enggak. Kuncinya ada pada Zaylin dan Abim sendiri. Hei kalian, cepet punya baby karena setidaknya kehadiran anak bisa mempertahankan cinta yang berangsur-angsur memudar," ucap Arjuna menatap lengang nya jalanan ibukota menjelang pagi hari.


...***...


Dua pekan kemudian.


Gugatan Abimanyu atas kasus kedua, percobaan pembunuhan berhasil Gilmot batalkan meski dia bertaruh sesuatu. Ancaman Roger rupanya tidak main-main.


Ibu mendapatkan teror bangkai binatang yang dikirimkan via kurir dengan caption silakan lanjutkan dan berakhir seperti ini.


Abimanyu tak ingin keluarganya dibayangi teror sehingga terpaksa menutup kasus kedua. Paling tidak, pekan ini keadaan kembali tenang.


Belum juga reda masalah ketegangan keluarga akibat masa lalu Abimanyu. Gilmot datang menemui lelaki kepala keluarga Yasa itu di distro miliknya.


"Om, tumben. Ada apa?"


"Urusan pribadi sama kamu, Bim," ucapnya ragu.


"Bilang aja, nanti kalau bisa ya Abim bantuin. Ada apa sih, tegang amat," balas suami Zaylin melihat kegugupan sahabat sang ayah.


"Gue, boleh gak lamar Iriana?"


Dhuuaaaaaarrrr. Abimanyu membeku.


Lelaki dihadapan akan menikahi sang Ibu. Sementara Abim masih meragu apakah hatinya dapat menerima sosok baru pengganti Ibrahim.


"Bim."


Gilmot mengangguk. "Kalau kamu mau pindah, udah tenang karena ada aku," kekehnya santai.


Abimanyu seketika menyadari keputusan untuk pindah tempat tinggal menjadi boomerang baginya.


"Hm, aku baru rencanain buat pindahan kok Om, gak sekonyong-konyong ninggalin Ibu," balas sang putra sulung Iriana.


"Ya tujuannya kan ngejaga, Bim. Mau ada kamu atau enggak, ada hal yang gak bisa kami bagi pada anak," tegas Gilmot lagi.


Abimanyu menatap sekilas pada manik mata hitam pria didepannya. Gilmot memang lebih gagah dibanding Ibrahim Yasa, juga masih sangat menjaga penampil sehingga tak kentara jika akan memasuki usia setengah abad.


"Untuk alasan itu bisa aku terima. Om, masih punya keinginan untuk memiliki anak?"


Gilmot tertawa renyah. "Ya kalau Iriana mau, aku ok aja," kelakarnya.


"Oh no. Aku gak bisa, syarat dariku, jangan punya baby atas pernikahan kalian. Ibu sudah senja lah Om, banyak faktor resiko nanti. Juga, aku gak bisa kasih keputusan langsung untuk Om, kudu rembukan dengan Juna dulu," tutur Abimanyu panjang.


Gilmot mengangguki syarat dari Abimanyu. Sejujurnya dia ingin memiliki seorang putra dari Iriana namun ultimatum sang putra Yasa tegas.


"Ok. Kapan aku dapat jawaban, Bim?"


"Lusa ya, akan aku sampaikan dulu berita ini. Apabila Ibu bersedia ya silakan dibicarakan lagi," ujar Abimanyu.


Hidangan ringan khas distro menyambangi meja mereka, obrolan antar kedua pria pun harus berakhir beberapa menit kedepan sebab Abimanyu harus menjemput Zaylin di sekolah.


Semenjak dia kembali mengurus bisnisnya. Distro milik Abimanyu perlahan mulai ramai kembali. Berbagai terobosan dilakukan pria itu atas saran Zaylin, kini dia berencana akan membuka distro sejenis di lokasi lain.


Corolla Altis black metalik, meluncur elegan membelah jalanan ibukota siang itu. Mobil yang dikendarai Abimanyu perlahan memasuki kawasan sekolah elite setelah dua puluh menit berjibaku menerjang panasnya aspal.


Seperti biasa, Abim menunggu di parkiran khusus guru. Baru saja, tuas rem dia tarik ke atas. Sebuah keributan nampak dari kaca spionnya.


Awalnya dia tak ambil pusing, namun karena sosok cantik istrinya terlihat, fokusnya beralih. Abimanyu mengamati dari dalam mobil.


"Gak mau, ingin sama Papi. Mommy," Atthar berlari menabrakkan dirinya ke tubuh Zaylin saat wanita ayu itu berjalan di lorong menuju ruang guru.


"Eh, kenapa Atthar?" tanya Zaylin pada Dina, gurunya, sambil mengusap punggung anak lelaki yang menangis.


"Itu Bu. Pak Liam minta izin agar Atthar pulang cepat sebab akan ke dokter memeriksakan kondisi matanya namun beliau tidak bisa menjemput, dan meminta calon Maminya kemari," jelas Dina.


Wanita ayu nan terlihat berkelas itu menghampiri mereka di lorong.


"Oh ini Bu Zaylin?" sinis Graciella, memindai penampilan anggun sang guru.


"Benar." Zaylin tak kalah menatap tegas. Dia lalu berjongkok membujuk Atthar agar bersedia pergi.


Bocah lelaki itu erat memeluk leher Zaylin yang tertutup hijab, hingga tak lama kemudian, dia luluh sebab besok Zaylin akan menyambutnya kala dia datang dan bersedia mendengarkan kisah hari ini sebelum masuk ke kelas.


"Gak perlu dipaksa. Tolong sampaikan pada Tuan Liam, bahwa Atthar hanya butuh didengarkan pendapatnya." Guru cantik itu menuntun Atthar menuju mobil sang wanita calon Mami anak didiknya.


"Jangan coba-coba menarik simpati Liam. Dia milikku. Lagipula kalian tidak setara," tegas Graciella saat Zaylin menutup pintu belakang mobilnya, setelah memastikan Atthar nyaman duduk disana.


"Suamiku, lebih dari Tuan Liam, asal kau tahu," tandas Zaylin melambaikan tangan untuk lelaki kecil nan tampan, lalu meninggalkan mobil mewah itu kembali menuju ruang guru


Sementara di dalam mobil.


"Dia. Di-a?"


.


.


..._______________________...