
Arjuna meminta izin pada Yai untuk membawa kakaknya keluar lingkungan nan religius itu sejenak.
Selama beberapa puluh menit dalam perjalanan, kakak beradik itu hanya diam. Arjuna baru membuka mulutnya kala mereka tiba di tujuan.
"Kak, disini private meski outdoor, enak buat ngobrol. Yuk," ajaknya turun.
Abimanyu melihat ke sekeliling, ide segar muncul di kepalanya. Ia tak sabar mencapai table resto guna menuangkan ide yang berputar dalam otaknya.
"Jun, Ibu gimana?"
"Baik Kak, meski murung. Baiknya kakak kembali segera ke Jakarta, temui Ibu," saran Juna saat mereka telah mencapai meja.
Kedua pria tampan, duduk membicarakan hal utama. Diiringi tatapan kagum dari para kaum hawa yang kongkow di sana.
"Kita ke Pangandaran kapan? saranku bawa sesuatu yang netral, misalkan sebuah gelang atau necklace," ucap Juna di sela sesapan kopi dingin yang ia pesan.
"Bagaimana cara mengungkapkan keadaanku?" tanya Abim ragu.
"Memang masih Kak?"
"Entah, selama di sini, keinginan itu tak pernah muncul. Malah aku ketemu dia, langsung degh gitu ke hati. Apa artinya jika demikian?" tegas Abim ingin meminta pendapat adiknya.
"Mungkin cinta pada pandangan pertama? ciyeee, yang hatinya kembali menghangat," goda Arjuna.
"Ke pakar Kak, yuk. Daftar, mungkin sebab trauma yang di akibatkan olehku jua," ajak Juna pada Abimanyu, dirinya masih merasa bersalah oleh gambaran kisah mereka di masa silam.
"Aku sudah daftar Jun, besok mulai Konseling. Mau temani aku?"
"Yuk, jam berapa? aku menginap di hotel dekat sini," ucapnya lagi.
"Pukul sembilan tepat. Rumah sakit Murni, di ujung dua blok dari sini," imbuhnya lagi, di angguki antusias oleh Arjuna.
Keduanya menjeda obrolan sejenak, menikmati suguhan yang mulai datang satu persatu memenuhi meja.
"Apa yang kau temukan? selama aku tak ada?" Abimanyu membuka obrolan kembali setelah lama mereka hanya memperdengarkan suara kunyahan makanan yang berasal dari mulut keduanya.
"Banyak Kak, cafe and lounge yang berhasil aku selamatkan hanya tiga, yang dua lagi amblas. CCmu melebihi limit, namun sudah aku tutupi ... simpananmu aman, namun mobil sport kesayangan terpaksa aku lepas untuk menutupi semua hutang akibat manusia laknat itu ... ko bisa kak?" tanya Arjuna menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan keteledoran putra sulung
"Jujur, aku tak pernah memberinya akses. Mungkin orang terdekat di sekitar yang bisa menjebol semuanya. Dompetku aman namun ponsel ku raib ... CC platinum yang dia gasak, Allah masih kasihan padaku," Abimanyu menelan ludah, pahit rasa di khianati oleh orang yang pernah dia sayang.
"Masih bersyukur ya, setelah semua ini," sindir Arjuna.
"Harus Jun ... Imam Ibnul Qayyim berkata, tingkatan-tingkatan iman seluruhnya berkisar antara sabar dan syukur. Sebab rukun syukur itu ada tiga ... mengakui semua nikmat itu berasal dari Allah, menyebutkan secara lahir semua nikmat yang diberikan, menggunakan nikmat tersebut ke jalan yang Allah redho," terang Abimanyu pada adiknya.
"Wuih, dapat darimana kak," Arjuna seketika kagum, apakah sang kakak telah kembali?
"Kajian di pondok waktu bahas thariqul hijratain ... sungguh aku bagai ditampar saat itu. Aku sangat jauh dari kata syukur ... hingga Allah menjerumuskan dalam kehinaan mungkin agar aku sadar," sesalnya mengingat kemunduran logika kala itu.
"Kakak juga paham, tapi menyimpang. Ckck pantas Ibu shock, aku pun," sindir Juna mulai berani.
"Jangankan kamu, aku pun demikian," sesal putra sulung Yasa Ibrahim itu.
Setelah membahas hantaran yang akan di bawa pekan depan untuk menemui keluarga Zaylin, juga rencana memberitahu tentang niatan Abim pada sang Bunda. Ponsel lelaki tampan itu bergetar.
Ting, ddrrtt.
Notifikasi pesan muncul.
"Siapa?" tanya sang adik kala melihat wajah sang Abang sumringah.
"Yai, membagi nomer kontak wali Zaylin. Namun bukan yang di rumah, melainkan di sekolah. Kata Yai, beliau adalah kepala yayasan," tutur Abimanyu.
"Ko bukan pamannya?"
"Kata beliau, karena Zaylin di titipkan pada kepala yayasan saat di terima bekerja di sana, wanita ini juga sumber kekuatan Zaylin. Namanya Ibu Syaida," imbuhnya lagi.
"Syaida, cocok dengan namanya. Lalu setelah itu bagaimana?"
"Zaylin siapa?" tanya Arjun seraya menyesap sisa kopi.
"Zaylin huzefa, namanya. Cantik kan, kayak orangnya. Awas kalau direbut lagi, aku gak segan melawan kali ini," ujar Abimanyu tertawa disambut adik semata wayang.
"Aku sudah punya Rizkia, dia semangat ku sejak saat itu. Masih kuliah, tapi dia mandiri. Aku suka," ungkapnya dengan wajah berbinar.
"Alhamdulillah ... ok, kamu tolong siapkan hantaran, aku akan menghubungi Ibu," tegas Abimanyu, sesaat sebelum mereka bangkit meninggalkan resto dan kembali ke pondok.
...***...
Hari yang sangat sibuk bagi para guru di TK Al-Islamiyah. Lusa adalah pembagian raport semua anak didik yang berjumlah hampir seratus lima puluh siswa, terbagi dalam lima kelas.
"Aylin, ada ibu Syaida di ruanganku, temuilah dulu," panggil kepala sekolah memecah keriangan di ruang guru yang riuh setelah pembagian uang kocokan arisan.
"Baik, Bu." Gadis cantik itu pergi memenuhi panggilan seniornya.
Tak berapa jauh jarak yang ditempuh, ia kini telah duduk berhadapan dengan wanita yang ia segani.
Tanpa membuang waktu, mereka membuka obrolan.
"Aylin, maa sya Allah, buah kesabaran. Nak Abimanyu sudah meminta padaku baru saja untuk bertemu esok hari. Siap Nak? jika iya, aku akan menjadi penghubung kalian juga ke Abah," tuturnya lembut.
"In sya Allah. Kapan Bu?"
"Nanti malam, karena Abimanyu sudah menetapkan hari akan berkunjung ke sana," jelas sang ketua yayasan.
"Baik, aku akan beritahu Abah."
Hanya jawaban lugas yang keluar dari bibirnya bila berhadapan dengan beliau, sebab rasa hormat yang tinggi.
Kehadiran wanita itu tak lama, setelah beberapa menit menyampaikan hal penting, beliau pamit.
...***...
Malam menjelang.
Abimanyu mencoba menghubungi wanita yang dia hancurkan hatinya. Lama panggilan itu menggantung di udara tak di balas seseorang di ujung sana.
"Ya, assalamu'alaikum," suara lembut seorang wanita.
"Wa'alaikumussalaam. Bu, ini aku."
"Kakak? Abimanyu? benarkah?" suara lembut itu berubah parau.
"Bu, maaf." Abimanyu terisak, juga suara wanita di ujung sana.
Susah payah lelaki berusia awal tiga puluhan itu menjelaskan keadaannya, mengutarakan maksud juga niatannya pada sang Bunda.
"Ibu ikhlas, redho. Maafkan Ibu ya, siapapun jodohmu nanti, Ibu merestui asalkan Abimanyu ku kembali," do'anya di ujung panggilan.
Banyak pesan yang keluar dari mulut sang Bunda untuknya malam ini, sebagai bekal bagi seorang Abimanyu menata kembali hidupnya.
Setelah ia puas meluapkan rasa pada wanita yang di rindukan. Notif pesan kembali muncul di layar gawai miliknya.
"BimZay," ucapnya heran, saat melihat grup chat baru.
"Assalamu'alaikum, Nak Abim, Aylin ... silakan jika ingin mengobrol ya. Ibu hanya menemani," tulis kalimat di sana.
.
.
..._______________________...