
"Apa ini? aku gak mau, kamu jelaskan saja," elak Graciella kembali mengembalikan amplop ke dalam dekapan Liam sebab pria itu masih berdiri.
Sang duda berdecak malas, dia lalu membuka isi bungkusan coklat ditangannya itu.
"Ini, ini, ini, koleksi? aku ada di etalase nomer berapa? dan kapan kamu butuh, langsung masuk keranjang kuning lalu check out payment, begitu?" tanya Liam dingin.
"Kau pikir aku barang di toko belanja online? bisa kamu pilih sebagai aplusan kapan aja? kalau mau koleksi, kurang banyak Grace. Setidaknya kamu harus punya sepuluh lagi juga harus sering live, agar penghasilan mu lumayan," sinis Liam.
Graciella memungut kertas yang berjatuhan dilantai. Dia tersenyum sinis. "Kau pun sama kan? punya banyak mantan," balas Grace.
"Mantan, bukan one night stand. Setidaknya Atthar terlahir dari bibit yang sudah halal dimiliki, bukan asal buka segel, coba lalu gak jadi beli," sergah Liam, menohok Graciella.
"Ck ini cuma alasan yang kau buat kan, Liam? mengusirku perlahan," kata Graciella masih tak mengakui kebenaran.
Asisten Sakhair masuk ke dalam ruangan dimana mereka berseteru. "Ini, Tuan." Dia menyerahkan sesuatu.
Liam lalu menyalakan proyektor, mengarahkan ke dinding. Lalu menarik Graciella duduk kembali di sofa dengannya.
"Apalagi ini?" tanya sang wanita cantik.
"Diam dulu, kita lihat film seru," ucap Liam kali ini lebih santai.
Tak lama, slide mulai bergulir pelan. Grace menyadari apa yang akan ditampilkan selanjutnya. Dia bangkit, namun lengannya di tahan Liam dengan kuat.
"Awh, lepas. Sakit!" pekik Graciella. Dia ingin mematikan benda yang membuatnya merasa dikuliti.
"Ini judul pertama, masih ada lima episode lainnya. Denganku belum bukan, apa kau ingin membuat live di sini, Grace?" senyum menyebalkan Liam muncul.
"F-uckk! kau menjebakku," umpat Graciella Ardian.
"Apa? masih bersikukuh?"
"Saham Ardian company, akan aku kembalikan. Dokumen kepengurusan khusus sudah disiapkan oleh lawyer. Tenang saja, alasan pembatalan pertunangan kita yang sesungguhnya tidak akan terkuak. Ayahmu hanya akan tahu, kita tak sejalan," bisik Liam mendekat ke telinga sang wanita dengan sejuta pesona.
"Karena Zaylin? kau ingin dia bersamamu kan?"
"Hem, kau bisa menyingkirkan Abimanyu?" tanya Liam menyelidik.
Senyum mengembang Grace terukir di wajah ayu. "Bisa diatur. Abim milikku, kau bebas membawa wanita itu pergi," tegasnya lagi.
"Zaylin sedang hamil. Aku tak keberatan merawat anak mereka. Kau mampu? bagaimana caranya?" desak Liam.
"Jadi ini alasan sebenarnya kau ingin lepas dariku, Liam Sakha?" tuduh Graciella kembali memutar fakta.
"Dan kamu, berniat merebut Abimanyu namun tetap menjalin hubungan denganku? jangan ngimpi Grace. Jikalau aku memang menginginkan Zaylin menjadi istriku kelak, bukan menggunakan cara kotor seperti mu. Pergilah, bye." Liam meminta asistennya agar menarik Graciella dari hadapan.
Teriakan dari wanita itu memekakkan telinga hingga membuat Atthar terusik. Bocah kecil itu sadar, membuka kelopak mata perlahan seraya mengangkat tangan yang dipasang infus.
"Pi," lirih Atthar.
"Ya Boy? masih sakit? tadi Bu Zaylin ke sini jenguk kamu tapi sekarang sudah pulang," terang sang ayah.
"Hm, aku dengar," balas Atthar masih setengah terpejam.
"Maafkan Papi ya, Atthar. Graciella sudah pergi dari kehidupan kita. Mulai kini, Papi janji akan lebih care dengan mu. Kita habiskan waktu weekend berdua, jalan kemanapun kau mau. Ok?" bujuk sang ayah berharap semua kata manisnya dapat menjadi motivasi bagi Atthar untuk segera pulih.
"Hmm, mommy Zaylin?"
"Akan tetap jadi guru Atthar di sekolah. Kamu harus semangat agar dapat bertemu dengannya lagi," sambung Liam kemudian mendapat anggukan samar si pangeran Achazia.
...***...
Wanita pewaris Ardian company meracau bagai orang setengah waras saat digelandang keluar hingga ke lobby rumah sakit oleh sang asisten.
Wanita itu kemudian menaiki sebuah taksi untuk kembali pulang menuju rumahnya di kawasan Serpong.
Penerbangan yang dia lakukan secara mendadak pagi tadi membuat kepalanya sedikit merasa pusing akibat jetlag. Graciella memejamkan mata hingga tak menyadari bahwa mobil yang dia tumpangi telah melenceng jauh dari rute yang sebenarnya.
"Eh dimana aku?" tanya sang Nona muda.
"Silakan turun, Nona. A-aku gak tahu apa-apa tadi di minta ke sini oleh mereka," tunjuk driver takut.
Graciella melihat ke samping kanan, sudah berdiri seorang lelaki dengan setelan serba hitam. Pintu taksi pun dia buka paksa dan menarik lengan sang wanita cantik.
"Aah, lepasin aku!" amuk Graciella berontak.
"Cantik juga," ujar sang pria mengusap pipi wanita cantik dalam kungkungannya.
"Siapa kalian? suruhan siapa? Liam?"
"Tak perlu tahu. Yang jelas, kau harus musnah."
Bug. Tubuh semampai bergaun seksi itu jatuh tak sadarkan diri.
...***...
Dua hari kemudian, Ardian Mansion.
George Ardian, kalang kabut melihat kondisi putrinya pagi ini atas laporan maid. Setelah kembali dari Singapura Graciella di antar pulang menjelang petang oleh sebuah taksi. Saat itu supir mengatakan bahwa meminta mengantar sang Nona muda sebelum dirinya tak sadarkan diri.
Kini, tubuhnya terlihat lebam dengan banyak jejak suntikan. George tak mengira bahwa putrinya seorang pecandu.
"Sejak kapan dia begini? jawab aku!" serunya pada sang asisten Graciella.
"Nona suka clubbing tapi tidak dengan zat adiktif, Tuan. Saya tidak tahu kapan tepatnya dia mengkonsumsi barang haram tersebut," cicitnya takut.
Kala sang tuan besar panik dan mengamuk ke semua pekerjanya, team dokter tak lama pun tiba, mereka meminta waktu untuk melakukan sejumlah tindakan medis.
Diagnosis sementara menyatakan bahwa Graciella OD, namun dokter telah memberikan usaha pencegahan agar dampak yang di timbulkan tidak melebar hingga merusak organ vital.
Di saat genting, adik Graciella miris melihat kakaknya dari ambang pintu kamar. "Ganjaran buat dia, Pa. Bisa jadi kali ini, dia telah menyinggung seseorang. Aku tahu Grace tak pernah menyentuh barang haram selain bermain lelaki," seloroh Gery Adrian.
"Maksudmu apa? Grace tidak pernah macam-macam, jaga ucapan," hardik George pada putra bungsunya.
"Ckck Pa, ini kan dugaanku. Papa gak pernah tahu siapa Graciella diluar sana. Semua pria yang pernah menjalin hubungan dengan kakakku bukanlah orang sembarangan, termasuk Liam Sakha. Tunangan kebanggaan Papa itu, tapi sayang kakakku nampaknya bermain api dengan sang duda," Gery membuat argumen.
"Tuan Liam tidak terkait dengan ini, Bos." Asisten George menyatakan laporannya saat Graciella meracau kecewa dengan Liam yang seakan menggantung hubungan mereka.
"Jadi siapa?" George balik bertanya.
"Entah. Tanyakan saja padanya, apabila masih ada kesempatan baginya lolos dari maut," ucap sang adik seraya meninggalkan kamar Graciella.
.
.
...___________________...