
Abimanyu beberapa kali mengerjapkan mata kala melihat interaksi Zaylin dengan seorang wanita yang pernah di kenalnya, meski terbersit keraguan dalam hati.
"Dia. D-dia?"
"Ngapain di situ, dengan Atthar? jangan-jangan, Graciella istri Liam?" gumam Abimanyu seraya mengusap wajahnya kasar.
Menanti pujaan hati yang kerap dia tunggu dengan perasaan bahagia kini mendadak berubah menjadi ketidaknyamanan ingin segera meninggalkan tempat itu.
Berbagai spekulasi muncul dalam otak hingga saat Zaylin mengetuk kaca pintu mobil, dia mengabaikan.
Tuk. Tuk.
Tuk. Tuk.
"Mas."
Tuk.
"Eh." Abimanyu tergagap, dia lalu menekan tuts pada panel agar pintu samping kiri terbuka.
"Kenapa? hayo ngelamunin siapa?" tanya Zaylin saat Abimanyu hendak menarik seat belt untuknya.
"Sayang, kita bahas sambil lunch," ujar Abim. Tak lama Corolla Altis itu meluncur meninggalkan pelataran sekolah.
Beberapa waktu selanjutnya.
Abimanyu membawa sang istri menuju galery Juna. Meski tak melihat kehadiran adik kandungnya disana, sang kakak tetap melakukan pemesanan menu layaknya pelanggan biasa.
Suasana cafe merangkap galery seni terlihat lengang dan cozy siang itu. Cocok untuk membicarakan banyak hal penting bersama Zaylin.
Sambil menunggu pesanan tiba, pria tampan dalam balutan kemeja lengan pendek berwarna hitam dengan motif abstrak yang terlihat samar, mulai membuka percakapan serius.
"Ay, tadi yang wanita itu siapa, pas jemput Atthar," tanya Abim, dia merapatkan duduknya sembari mengalungkan lengan kebelakang bahu Zaylin.
"Tadi? hmmm ... pacar, eh calon Mami nya Atthar yang baru. Dia juga mengultimatum agar aku tak mendekati Liam, padahal boro-boro niat, mendekat juga ogah," keluh menantu Iriana, seraya merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Belum menikah berarti ya?"
"Kayaknya begitu. Mas kenal?" selidik Zaylin.
Abimanyu diam sesaat. Menimbang apakah perlu membuka masa lalu penyebab kekhilafan dirinya itu.
"Mas."
Zaylin merasa, Abim menyembunyikan sesuatu. Dia menunggu penjelasan sang suami sambil memainkan kancing kemejanya.
"Sstt, jangan di sini ah. Nanti kewalahan akunya," kekeh Abim atas sikap genit Zaylin.
"Yee, mesum. Tadi siapa, aku gak marah kalau Mas mau cerita," bujuk Zaylin lagi.
Abimanyu masih meragu. Istilah aku tidak marah, jika keluar dari bibir wanita maka itu bisa bermakna sebaliknya.
"Dia cantik, berkelas tapi sayang attitudenya minus. Apa semua wanita begitu ya kalau cemburu, toh apa yang dia sebut sebagai milik hanyalah titipan. Tak rela di rebut orang, saat merasa bahwa itu mutlak miliknya. Kayak aku sih, ke kamu juga gitu," lirih sang guru taman kanak-kanak.
Wanita ayu tengah bermanja, bukan tanpa maksud. Dia sedang membujuk agar Abimanyu nyaman terbuka padanya. Maklum, sang suami adalah seorang dengan type intro bagai dirinya.
Senyuman manis tersungging di bibir pria tampan nan tengah memeluk wanita cantik. Kecupan mesra dia hadiahkan didahi yang mulus tanpa penghalang.
"Pinter ngebujuk secara halus ternyata ya. Bismillah...."
Saat akan memulai kisah, pesanan mereka pun tiba. Zaylin memilih menjeda apa yang akan Abimanyu utarakan demi menjaga mood makan siang itu.
Lambat waktu berlalu kiranya menjadi lecutan bagi putra Iriana untuk berkata jujur.
Zaylin hanya mengangguki permintaan suaminya, masih menyantap es krim kopi sebagai dessert lunch mereka.
"Dia Graciella, mantan kekasihku dan Juna."
Wanita ayu yang tengah menyuapkan sendok es krim ke mulutnya, menjeda gerakan tangan kanan berhias cincin berlian itu.
"Dan kini calon istri Liam. Dia kayaknya belum tahu aku ini istri Mas Abim. Firasatku, dia mungkin akan kembali menyapa Mas. Bisa jadi ... ah lupakan, gak baik su'udzon," kekeh Zaylin.
"Jangan gitu Ay, ucapan kadang bisa jadi doa loh."
"Makanya gak aku lanjutkan. Apapun itu, stand by me, kata Nobita," senyum manis Zaylin terbit.
"Ay, gak usah pulang ke Ibu ya. Kita ke, hmmm," ragu Abimanyu, dia ingin menghabiskan malam romantis kali ini dengannya.
"Ikut."
Abimanyu tertawa renyah. "Udah nyambung aja ya kalau urusan gitu," ucapnya seraya mengusap kepala sang istri.
Putri Zulkarnaen pun menyambung tawa sang suami. "Tapi gak bawa amunisi, Mas. Beli dulu apa ya? biar berkesan," bisik Zaylin malu.
"Hem, beli dulu, stay vacation three days. Oke?" Abim tak kalah mesra berbisik, mengecup pipi terbalut hijab.
"Besok aku gak ngajar, ikut Mas ya."
"Stay on room. Kita gak bakalan keluar kamar, kamu siap-siap loh Sayang," lirih Abimanyu berhasil membuat semburat merona diwajah Zaylin.
"Oh ya, Om Gilmot mau melamar Ibu. Kira-kira gimana ya?"
"Hmm--"
"Apa? ulangi Kak!" suara Juna menghampiri meja mereka.
"Jun, duduk dulu...."
Arjuna mengikuti permintaan sang Kakak, dia duduk di sofa single. "Beneran?"
"Iya. Kamu gimana?" tanya Abim serius, menatap wajah sang adik.
"Gimana Ibu aja nanti. Tapi aku dan Rizkia kan mau lamaran juga, masa sih barengan?" kelih Arjuna lagi.
"Kita bicarakan di rumah saja. Aku pamit duluan ya, tolong bilang ke Ibu, kami gak pulang. Sampai jumpa minggu malam, Jun."
Abimanyu segera bangkit, menarik jemari Zaylin agar mengikuti langkahnya meninggalkan Art Joona, guna melanjutkan niatan mereka.
...***...
Di dalam kabin mobil lainnya.
Pangeran Achazia terlihat murung duduk di samping sang calon Mami. Jika bukan karena janjinya dengan Zaylin esok pagi, dia tak mungkin mau pergi bersama nenek lampir ini.
"Dia Zaylin? yang disebut Liam, dan tanpa sengaja memujinya. Cantik, dan terlihat gemulai, pantas saja."
"Aku akan mengawasimu, Zaylin. Dan Juna, gaya garis lukis hasil guratan tanganmu memang kian sempurna. Mungkinkah kau yang melukis mural di kediaman Liam? hmm nampaknya kisah ku akan lebih menarik dengan kemunculanmu, terlebih jika memang kamu dekat dengan Liam," gumam Graciella seraya melirik pada sang putra mahkota Sakha.
"Sekarang kamu boleh membantah ku, namun jangan harap dapat berulah, setelah aku menjadi Mami kamu," ancam Graciella pada Atthar, sontak membuat pria kecil itu mendelik ngeri.
.
.
...______________________...