ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 24. KISRUH



"Kamu juga?"


"Sure, aku pun boleh Atthar panggil Mommy, do you happy now?" tanya Zaylin lagi.


Bocah lelaki itu mengangguk antusias, dia melipat jari kiri dan menyisakan kelingking yang menjulang.


"Pinky promise, kelingking kanan please," pinta Zaylin.


"Why? same finger," balas Atthar.


"Karena tangan kanan digunakan untuk semua hal baik, berteman, belajar juga memulai kegiatan banyak memakai ini kan?" Zaylin mengangkat tangan kanan Atthar ke udara.


Atthar achazia mengikuti arahan Zaylin. Keduanya pun berjanji bertemu esok pagi. Wanita ayu berpesan pada si bocah gempal nan lucu, bahwa hari ini dia harus menjadi anak baik.


Senyum mengembang sempurna menampilkan deret gigi putih Atthar saat Zaylin pamit pada kedua orang gurunya dan menyambangi Abim yang diam-diam mengamati segala perilaku sang istri kala didalam sana.


"Luwesnya, siap jadi mommy nieh," ujar Abimanyu kala sang istri akan masuk ke dalam mobil mereka.


"Siap lahir batin, in sya Allah," balasnya lugas, sedikit menoreh di hati Abim.


Perjalanan berlanjut menuju kantor sang suami tampan. Zaylin membantu memperbaiki pembukuan yang kacau balau setelah ditinggal beberapa bulan oleh sang pemilik.


Wajah lelah suaminya kentara tercetak sehingga dia tak tega mengungkap ketika menemukan kecurangan baru. Yang di rampas Alexa ternyata bukan cuma uang di brangkas, CC dan dua Distronya namun satu mobil terbukti dari surat jual beli yang dikirimkan baru-baru ini.


"Aku janji, kamu bakalan bayar semua yang pernah kau ambil dari suamiku," tekad Zaylin dalam hati.


Lama keduanya berkutat dengan segala tumpukan kertas hingga hari menjelang Ashar.


Ting.


Satu pesan notif masuk dalam ponsel Abimanyu.


Zaylin meminta izin membuka pesan disana setelah beberapa bunyi yang mengganggu tak jua di hiraukan empunya.


"Mas."


"Tolong bacakan, Ay. Lagi gak mood buka ponsel," ujar Abim.


"Tutup kasusnya. Aku ganti sejumlah uang." Zaylin membacakan tulisan disana. Niat hati melanjutkan kalimat namun urung dia bacakan.


"Alexa milikku, sudahi kasusnya jika kau ingin selamat. Minta padanya untuk segera kembali sebelum aku berubah pikiran. Jika kau enggan, kita barter saja. Istrimu juga tak kalah cantik dari wanita jadi-jadian itu." Zaylin membaca kalimat dalam hati.


"Enak saja meminta suamiku, sampaikan sendiri toh kamu punya uang bukan? memaksa Alexa pulang bukanlah hal sulit kurasa," pikir Zaylin menanggapi pesan nyeleneh itu seraya bergumam.


"Ay, kenapa?"


"Hm, enggak. Aman, Mas," Zaylin menutupi keadaan sebenarnya.


Abimanyu mencurigai sesuatu. Dia meminta ponselnya kembali dan membaca pesan disana.


"Ngancam dan nyuruh aku?" Abim terheran.


"Hmm, abaikan," sahut Zaylin cepat.


"Bukan dari suaminya ini, Ay. Jebakan kurasa," ujar lelaki Yasa lagi.


"Sepertinya begitu. Mas, jika aku meminta tutup kasus gimana?"


"Gak akan berhenti sampai disini, kecuali aku membuka kesepakatan dengan Roger," jelas kakak kandung Arjuna.


"Roger?"


"Suami Alexander. Kita ke Singapura kalau begitu ... sekalian honeymoon. Nanti aku tanya Arjuna dimana tempat tinggal dua manusia itu," ajak Abimanyu lagi.


"Gak bisa Mas, kan aku baru diterima kerja tadi. Lupa ya?"


"Kamu diterima, Sayang? kok gak bilang?"


"Belum bilang emang ya? lupa ... besok mulai masuk kerja, Mas, boleh?" tanya Zaylin ragu.


"Emang kalau gak aku izinkan, kamu mau?"


"Iya. Gak apa, paling nanti buka private les di rumah," Zaylin mencoba peruntungan.


Putra Ibrahim Yasa menghentikan aktivitas nya sejenak. Memandang wajah oval Sang istri yang terlihat pasrah akan keinginannya.


"Enggak, boleh kerja asal tahu batasan dan aku yakin kami paham untuk urusan ini," sambungnya lagi.


"Aku tahu, sebagian hartaku ludes. Maaf bila hidup bersama ku gak se luxury saat kamu sendiri ya, Ay," ucap Abim kala hendak turun dari mobilnya.


"Aku menerima apapun yang suamiku berikan. Itu sudah cukup," senyum manis sang mantan kepala sekolah, terbit.


Pasangan pengantin baru lalu mulai menyusuri beberapa outlet di dalam Mall.


Tiba-tiba.


"Mommy!" suara seorang bocah.


Abimanyu menoleh ke sumber suara. "Anak itu kan yang tadi pagi, Ay."


Merasa langkah suaminya terhenti, Zaylin menoleh. "Eh Atthar, sama siapa?"


Bocah gempal itu berlari menabrakkan dirinya ke tubuh Zaylin, namun hanya membentur kaki jenjang wanita ayu.


Abimanyu dilanda cemburu terlebih seorang lelaki seusianya melangkah mendekati mereka.


"Atthar, siapa? dia bukan mommy," suara maskulin pria matang berdiri menjulang didepan ketiganya.


"My Mommy, Zaylin."


"Maaf biar saya jelaskan. Saya guru baru di Kasih Bunda, kebetulan tadi pagi bertemu putra Anda dan kita sepakat menjadi teman," terang Zaylin kemudian.


"Tapi sebutan Mommy?"


"Atthar menginginkan ibunya dan menolak belajar, jadi aku mengatakan padanya bahwa semua ibu guru di sekolah adalah orang tuanya," pungkas Aylin.


Abimanyu jengah. Dia ingin menyela namun tak memiliki peran di topik yang sedang mereka bincangkan.


"Salam kenal, saya Abim. Suami Zaylin," ujar Abim menyodorkan tangan kanannya.


"Oh iya, maaf. Saya Liam Sakha, ayah Atthar." Lelaki mempesona itu menjabat uluran tangan Abimanyu.


"Nona, baiknya Anda tak mengajarkan pada anakku dengan menyebut para gurunya sebagai mommy. Ibunya telah meninggal jadi aku gak mau dia ketergantungan pada seseorang yang akan membuatnya tidak bisa membedakan mana guru dan ibunya," Liam mengajukan keberatan.


Zaylin mengerti, konteks yang dia ingin sampaikan pada Atthar akan diperbaiki sedikit demi sedikit. Misinya saat itu hanya sebagai aksi bujukan sederhana.


Abim meminta Zaylin agar tak mendebat lelaki dihadapan. Memilih mendengarkan seksama.


Ajakan paksa Tuan Liam membuat Zaylin miris. Atthar menangis histeris tak ingin lepas dari Zaylin. Abimanyu kasihan pada bocah kecil itu namun apa yang disampaikan Liam, ada benarnya.


"Jangan sampai ya, Ay. Dia disangka anakmu," keluh Abim.


"Ya gak apa. Kan anak didik namanya. Lagian yang kandung belum dapat," cicitnya seraya berlalu.


Degh.


"Benar, aku tak memberikan hakmu secara utuh."


Pasangan Yasa, kembali ke kediaman menjelang pukul sembilan malam. Tiada percakapan lagi setelahnya. Zaylin masih memikirkan Atthar.


...***...


Sementara ditempat lainnya.


Sang dominan baru saja menjejakkan kaki di Indonesia. Dia mendapatkan kabar bahwa Alexa nekad menemui pria itu lagi dengan alasan tuntutan kasus.


Apartemen mewah milik Roger dia sambangi, namun tak juga menemukan keberadaan wanitanya.


"CARI DIA, BILA PERLU SERET KEDUANYA KESINI," titah Roger, lelaki itu menduga, Abimanyu masih ingin menjalin hubungan menggunakan alasan hukum.


Beberapa pria bersetelan serba hitam, kembali hilir mudik mendapat mandat Sang majikan. Mereka lalu bersiap menuju kediaman Abimanyu juga menyisir tempat lainnya.


"Abimanyu Yasa! tunggu saja!"


Pimpinan klan bisnis underground di negeri Singa, tak pelak termakan siasat sang istri cantiknya itu.


.


.


..._____________________...


...UP bab ini dan Kusuma, sejak jam 8 malam tapi entah naik jam berapa. ...