
Menjelang tengah malam.
Gedoran kencang menggetarkan daun pintu kayu borneo berlapis cat putih di cluster Victoria, kediaman Iriana.
Fasad depan yang asri ditumbuhi banyak bunga didalam pot serta sepasang mini chair anyaman rotan nampak sudah bergeser dari tempatnya.
Jejak alas sepatu akibat tanah basah yang mereka pijak sebab hujan sore tadi sukses mencetak noda diatas lantai granit putih teras cantik milik janda ayu Ibrahim Yasa.
"Abimanyu Yasa, keluar!" teriak salah satu lelaki berkacamata hitam.
Satpam komplek yang kecolongan tergopoh mendekati kediaman mantan petinggi Angkatan Udara itu. "Hei, jangan buat keributan. Tengah malam ini!" serunya tak kalah lantang.
Merasa terusik oleh tua bangka dalam balutan seragam putih hitam mirip kotoran cicak. Mereka menghalau kedua lelaki sepuh itu. "Jangan ikut campur kalau gak mau macam Bebek pak Slamet, patah tulang!" bisik pria jangkung seraya menepuk pipi peyot salah satu security.
Tak gentar, Pak Sardi, mulai melawan. Ini adalah daerah kekuasaannya. Jurus ala si pitung sedikit banyak dia kuasai meski jantung tak dipungkiri, nyaris lepas dari tempatnya.
"Ayo, lawan kita." Tantang Pak Sardi, si satpam komplek nan sepuh.
"Gue tiup juga rubuh, tua bangka!" maki si jangkung melayangkan pukulan.
Terjadi kisruh di tengah malam buta. Gedoran dan teriakan kian menggema, mengundang perhatian beberapa penghuni lain nan membuka pintu rumah masing-masing. Ada yang berlari memanggil Ketua RW, sebagian lagi mengerumuni kediaman purnawirawan itu.
Zaylin yang mendengar kegaduhan, membuka matanya. Dia beringsut dalam pelukan Abimanyu, membangunkan sang suami. "Mas, diluar ribut, ada apa? Mas."
"Kamu mimpi, Sayang?" Abimanyu enggan membuka mata.
"Enggak. Tuh dengar, suara gedoran dan teriakan. Sayang, bangun, tengok dulu," rengek Zaylin meminta suaminya bangun.
Abimayu memaksa netranya membuka, menyediakan telinga. Sesaat kemudian.
"Astaghfirullah. Ibu. Ay, tunggu di sini ya, jangan keluar. Temani Ibu saja," tubuh tegap itu bangkit lalu membelai wajah istrinya sebelum keluar kamar.
"Ikut, Mas." Zaylin beringsut, menyusul sang suami.
Baru saja keduanya menutup pintu kamar, Iriana sudah di depan ruang tamu, mengintip dari jendela.
"Bim, siapa? serem amat. Kamu masih punya hutang?" bisik Iriana saat melihat putranya menghampiri.
"Gak ada. Kata Juna kan sudah beres semua, Bu. Mereka mau ngapain sih?"
Abimanyu lantas membuka pintu sebab suasana diluar kian ramai namun berhasil di redam Ketua RW.
"Kenapa ini, ada apa?" tanya Abim saat membuka pintu dan berdiri di teras.
"Mana Alexa?" sergah sang pria berkacamata hitam.
Zaylin ingin tertawa melihat kebodohan salah satu pria itu. Malam buta memakai sesuatu yang menambah gelap penglihatan.
"Alexa? bukannya ditempat kalian?"
"Jangan banyak bacot, minggir!" pria arogan menyingkirkan Abimanyu.
Putra Iriana terhuyung hingga membentur tembok, membuat satu pekikan panik keluar dari bibir sang Ibu. Pun para satpam sudah mulai ancang-ancang melawan kembali. Seruan pak RW mereka indahkan. Lelaki gagah itu berusaha menerobos masuk kediaman.
"Jangan coba-coba ganggu keluargaku," tegas Zaylin sudah siap dengan kuda-kudanya.
"Ay, jangan. Biarkan saja mereka cari kedalam, toh gak ada apapun."
"Ini rumah Ibu suamiku. Dan aku wajib menjaga semua harta beliau, terlebih kehormatan kalian. Sini, kalau mau maksa masuk, hadapi aku dulu."
Abimanyu mencegah Zaylin namun terlambat, wanita ayu itu telah menerima serangan dari sang pria berkacamata hitam. Dirinya ingin menghalau, namun teriakan di halaman akibat si jangkung dikeroyok massa mengaburkan konsentrasi Abim.
Zaylin masih menangkis serangan beruntun. Sementara Iriana berdiri mematung di sudut ruangan, tampak ketakutan.
Bugh. Braaakk.
"PERGI!"
"Bilang pada majikanmu, jangankan menjamah, melihat pria kaleng itu pun tak sudi. Gunakan otak kriminalnya agar si jadi-jadian tak dapat leluasa bergerak. Untuk apa menikmati tubuh palsu, sementara Abimanyu memiliki wanita tulen!" sinis Zaylin, berbicara di telinga si pria yang tersungkur. Kaki terbalut piyama itu menekan telapak tangan kanan preman, sementara tangan satunya dipelintir sang Nyonya Abim.
"Arrrggghhh! lepas!" racaunya menahan sakit.
"Jangan berani mengganggu keluargaku!"
Blugh.
Lelaki berkacamata hitam pun bangkit, beringsut menarik kakinya yang kesakitan akibat tempurung lututnya dihajar Zaylin tadi.
"Awas kalian," ancamnya sebelum pergi.
Nahas harus di alami kedua orang asing, pihak kepolisian telah datang ke lokasi hingga keduanya digadang petugas keamanan disana.
Abimanyu mengucapkan permohonan maaf pada semua tetangga juga aparat keamanan dan pak RW sebab menimbulkan kegaduhan diruang publik, setelah mobil polisi itu pergi.
Tak lama, keadaan kembali lengang. Para warga mewanti agar satpam komplek lebih waspada lagi di kemudian hari.
"Alexa siapa?" tanya Ibu setelah keadaan sunyi.
Zaylin tak angkat bicara, biarkan sang suami yang menjelaskan. Setelah beberapa menit berlalu, Iriana akhirnya mengerti.
Ditengah malam buta, dia menelpon sahabat suaminya itu agar memberikan perlindungan bagi putra dan menantunya.
"Aku berusaha keluar dari mereka. Bang Gilmot melarang untuk datang ke pengadilan. Apa ku sudahi saja ya? agar tak berurusan dengannya lagi?" tanya Abim.
"Besok lagi, Mas diskusi nya, istirahat dulu," ujar Zaylin berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Sesungguhnya hati wanita yang masih virgin itu risau. Namun otaknya tak dapat bekerja lebih baik kini sehingga dia mengindahkan obrolan Abimanyu.
...***...
Satu pekan selanjutnya.
Roger meminta bertemu dengan Abimanyu, dia telah membawa Alexa kembali ke negaranya lebih dulu setelah kejadian malam itu.
Kini lelaki pimpinan klan bisnis negeri singa ingin membuat kesepakatan.
"Aku kembalikan semua harta yang pernah Alexa ambil. Utuh, tapi dengan satu syarat jangan berhubungan lagi dengannya," pinta sang pria kekar.
"Aku pun enggan. Telah memiliki Zaylin nan sempurna disisiku," jawab Abim cepat.
"Andai suatu hari aku lihat kalian kembali bertemu, jangan harap nyawamu masih menyatu dengan raga, Abimanyu!"
Putra Ibrahim Yasa hanya tersenyum mengejek pada pria dihadapannya. Sungguh pernyataan konyol, pikirnya.
"Harusnya bukan aku yang kau ancam, tapi dia, Alexander. Pria milikmu itu tergila padaku, namun aku sangat waras, kejadian dulu adalah kebodohan paling mutlak yang pernah ku lakukan," pungkas Abim.
"Jika kau menyentuh Alexa-ku. Zaylin mu pun akan aku sentuh, sepertinya sangat lezat menikmati wanita binal milikmu," ejek Roger lagi.
"KAU! Jangan coba-coba ganggu Zaylin!" sergah Abim berdiri menggebrak meja, tak terima istrinya dilecehkan.
"Semua tergantung perilakumu, Abimanyu. Bye!"
Roger evoque melenggang pergi seraya mengecup foto Zaylin yang dia dapatkan secara candid lalu di terbangkan ke udara.
Tangan lelaki Yasa mengepal geram, mengambil foto Zaylin lalu merobeknya.
...***...
Sekolah Kasih Bunda.
Atthar kembali mengamuk dikelas, kali ini tantrum hebat tanpa sebab dan mengunci diri didalam lemari mainan, sehingga guru pun memanggil sang ayah.
Hampir satu jam anak kecil itu mengamuk. Bujukan sang ayah juga guru yang bergantian mendekati Atthar tak jua berhasil. Kepala sekolah akhirnya menyerah, lalu memanggil Zaylin yang masih bertugas di ruangan lain.
Wanita ayu itu berjalan pelan, memikirkan cara agar si bocah mau membuka diri dan tidak terluka.
"Halo Atthar." Suara lembut Zaylin menyapa sang bocah.
Mendengar suara yang dia inginkan. Atthar membuka diri, melonggarkan cekalan tangannya yang mulai lebam dari pintu lemari.
"Mom-mmyyyy," isaknya pilu.
.
.
..._________________________...
...Done Alexa...