ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 26. KETELEDORAN LIAM



"Mommyyyyyy." Bocah gempal itu langsung membuka kepalan tangannya, berlari ke arah Zaylin yang setengah berjongkok.


Tubuh Atthar bergetar sebab tergugu, bajunya basah bersimbah keringat, bibir mungil itu terlihat pucat dan suara khas anak kecil mulai terdengar serak.


Zaylin hanya mendekap erat anak didik nan lucu menggemaskan. Membelai surai rambut yang menempel sebab campuran keringat dan air mata, menyibak hingga dahinya terlihat.


"Feel better? haus?" tanya Zaylin lembut setelah tangisnya mereda.


Atthar mengangguk cepat. "He-em."


Masih sambil memeluk Atthar, kaki jenjang terbalut rok span panjang itu mengajak sang bocah melangkah pelan, bergeser dari tempatnya kini. Zaylin lalu mendudukkan pemilik tas Jerapah, lalu meraih botol minum dari atas meja.


"Pelan, hati-hati," pesannya pada Atthar saat meneguk air mineral.


Setelah betul-betul tenang, beberapa menit berlalu.


Zaylin mulai bertanya pada anak didiknya mengapa dia menangis histeris tadi, sekalian meminta Atthar mengatakan alasannya.


"Aku ingin mewarnai sesukaku, apel tidak harus berwarna merah bukan? langit juga gak selamanya biru dan banyak jenis daun," isak Atthar mengingat perkataan kawan-kawan dan gurunya.


"Iya benar. Atthar boleh berkreasi dengan warna sesukamu, tiada seorang pun melarang," balas Zaylin.


"But, they said...."


"Boleh Ibu lihat, mana gambar Atthar?" tanya Zaylin lagi.


Bocah kecil itu meraih kertas diatas mejanya, memperlihatkan pada Zaylin. Saat guru PAUD itu menerima lembar kerja Atthar, sekilas tiada kejanggalan dengan apa yang dia perbuat. Namun sedetik kemudian....


Degh.


Zaylin melihat kepada kedua guru kelas Atthar, memastikan apakah mereka mengetahui sesuatu yang berbeda dari anak didiknya ini.


"Sudah lebih baik? apakah ini, merasa jauh lebih lega?" tunjuk Zaylin mengusap dada sang bocah.


Atthar achazia mengangguk. "Feel better. E'em."


"Say alhamdulillah. Ibu boleh kembali mengajar lagi? adik-adik kelas Atthar menunggu di sana. Kita akan bicara lagi lain waktu, oke? apa Atthar mengerti? anak baik, berani belajar dengan kawan sebaya," bujuk Zaylin ketika bocah tampan itu memegang ujung blazernya.


Sudah hampir tiga puluh menit dirinya meninggalkan anak didik disana, dia merasa tak enak hati dengan guru senior juga kedua tenaga pendidik dikelas Atthar. Terlebih tatapan tajam tuan Liam yang memperhatikan segala perilakunya.


Isyarat mata Zaylin rupanya di pahami oleh Dina, guru baru seperti dirinya. Gadis ayu itu lalu menghampiri pasangan guru dan anak didik di meja Atthar.


"Dengan Ibu Dina ya, Bu Zaylin harus membantu kawan kecil Atthar disebelah, oke?" bujuknya lembut.


Meski tatapan memelas masih dilayangkan untuk Zaylin sebagai isyarat permohonan agar wanita itu tak meninggalkannya, istri Abimanyu tetap mencoba beranjak pergi dari sana.


"Say something jika Atthar tidak suka atau kurang nyaman. Sampaikan pada bu guru agar mereka mengerti maunya Atthar, anak baik disayang Ibu guru. Tos dulu," ucap Zaylin mengusap kepala sang bocah seraya berlalu setelah tos.


Seperti dugaan, pria tegap berusia matang itu mensejajarkan langkah tepat saat Zaylin akan kembali ke kelas. Namun sebelum protes dilayangkan oleh sang pria, menantu Iriana lebih dulu menahan argumentasi darinya.


"Jika Anda ingin mendebat ku, mari kita lakukan setelah kelas usai. Silakan tunggu di waiting room kepala sekolah, permisi."


"Anda ya, benar-benar!" geram Liam, tak menduga ada orang yang berani terhadapnya.


"Zaylin. Zaylin!" serunya lagi, namun wanita ayu itu indahkan.


Tak menghiraukan ketukan Liam di pintu kelas, Zaylin kembali mengajar anak usia dini yang berjumlah lima belas murid. Tugasnya terhambat sehingga dia berusaha membantu guru senior dengan meng-handle pekerjaan lainnya.


Rupanya Liam sangat marah melihat cara Zaylin mengintervensi tugas kedua guru Atthar. Dia seakan tidak nyaman atas perlakuan manis dan lembut dari wanita cantik terhadap sang putra.


Tepat setelah jam sekolah usai.


Menjelang dzuhur.


Zaylin kembali ke dalam ruangan khusus staff tenaga pengajar, meletakkan semua atribut juga tumpukan tugas dari murid didik nya.


Baru beberapa hari dirinya mendapatkan job baru, jangan sampai karena ketidakpuasan atas kinerja mengajar menjadikan sosok dengan pengaruh kuat, mempunyai alasan komplain sehingga menyebabkan dia kehilangan pekerjaan kembali.


Baru saja Zaylin duduk, meraih minumnya dan meneguk pelan. Sapaan OB membuat istri Abimanyu terkejut.


Puufftt. Uhuk.


"Ada apa? rusuh amat," tegur Zaylin seraya menyeka mulut dengan tisu.


"Dipanggil kepsek, Bu. Ada wali murid yang kesal akibat Ibu, katanya," ujar Weni semangat.


"Sebentar. Tolong sampaikan, aku segera ke sana. Haus, minum dulu," balas Zaylin lagi, melanjutkan aksi minum yang terjeda.


Setelah Weni pergi, wanita ayu pun beranjak dari kubikelnya menuju ruang kepala sekolah. Saat melewati lorong, dia melihat sang suami telah tiba diparkiran dalam khusus para guru, sejenak Zaylin menyapa.


"Mas, maaf tunggu sebentar ya. Aku dipanggil kepala sekolah dulu," ucap Zaylin seraya meraih telapak tangan kanan Abimanyu.


"Ada masalah, Sayang?"


"Enggak tahu, maaf Mas jadi nungguin aku," sesalnya.


"Gak apa, selesaikan dulu. Setelah ini, kita kerumah sakit," sahut Abim meraih tangan istrinya.


"Rumah sakit? kan bukan jadwal konseling, Mas sakit? ya Allah, mana yang sakit? a-aku izin ke kepsek ya mau antar Mas," paniknya muncul seraya memindai penampilan sang suami.


Abimanyu justru tersenyum riang, Zaylin mengkhawatirkan dirinya. "Enggak, Sayang. Gih, selesaikan dulu sana. Aku baik-baik aja kok. Nanti ku jelaskan sambil jalan kalau urusanmu beres," terangnya lagi.


Meski masih merasa janggal, Zaylin akhirnya mengikuti arahan Abimanyu. Dia berbalik menuju ruangan semula.


Tok. Tok.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, masuk Bu Zaylin." Suara lembut kepala sekolah.


Baru saja Zaylin duduk, Liam sudah menyerangnya dengan begitu banyak argumen yang menyudutkan sang guru baru.


Wanita ayu ini hanya diam mendengarkan meski bibirnya terasa gatal ingin segera menyemburkan api bagai kapten Zuko musuh avatar Aang.


Setelah cercaan pria arogan itu selesai. Zaylin hanya akan melontarkan beberapa pertanyaan padanya.


"Tuan Liam, apakah Atthar putra kandung Anda?"


"Jika iya, mengapa Anda mengabaikan kondisinya? sudah dilakukan pencegahan atau pengobatan seperti apa sejauh ini terhadap signal yang Atthar berikan?"


"Ah ya, satu lagi. Apa salah jika ada yang peduli pada anak Anda? aku tidak menyalahi aturan, bahkan kedatanganku kesana atas permintaan kepala sekolah langsung," tegas Zaylin beruntun, sungguh dia gemas.


"Apa maksud Anda? ingin mengungkit privasi ku?" tegas Zaylin lagi.


"Jawab saja, sebab jika memang Anda peduli pada Atthar tentulah mengerti kekurangan putra kandung sendiri," telak Zaylin menohok Liam. Dia kini bagai seorang pengendali elemen udara, berada diatas angin.


Liam terdiam, desakan kepala sekolah pun dia abaikan.


"Anda tidak tahu?" tebak Zaylin kemudian.


Lelaki itu tak bergeming, dia bingung. Menurutnya Atthar tak memiliki kekurangan. Dia menatap wajah oval cantik yang entah mengapa dalam pandangan kini terlihat memesona.


"Sudah ku duga. Putramu menderita... eh, maaf Bu Victoria, aku boleh menyebutkan dugaanku atas putra beliau?" tanya Zaylin pada kepsek.


"Silakan."


"Sebutkan saja langsung tanpa basa basi," cecar Liam lagi.


Zaylin tersenyum samar. "Putra Anda, menderita...."


.


.


..._________________________...


...Up pelan disini, mommy hanya mampu nulis 4000 kata sehari dibagi 3 bab, itupun jika pekerjaan lain tidak deadline. Tapi janji ko, bakalan diselesaikan semuanya. Mamaciih kesayangan sudah setia dan support 🥰❤. ...