ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 30. KISAH DAHULU



"Eh, apa emangnya? tadi aku bilang apa?" Liam kikuk, menyentuh tengkuknya seraya berpaling muka.


"Kamu bilang Zaylin orang yang cantik dan lembut. Jangan bilang ini salah satu trik kamu untuk menjauh dari ku," tuduh Graciella Ardian.


"Grace, please. Jangan bicarakan di depan Atthar," bisik Liam seraya menekan pundak sang wanita.


Setelah membujuk putranya untuk tidur, keduanya keluar kamar menuju ruang keluarga. Liam menegaskan bahwa dirinya tiada hubungan apapun dengan Zaylin. Justru dia menemukan keistimewaan yang Atthar miliki dari guru baru itu.


Sang lelaki kaya menjelaskan bahwa putra mahkota Sakhair itu memiliki kekurangan yang berkaitan dengan warna. Dan Liam bermaksud meminta Graciella agar dapat membujuk Atthar menemui dokter untuk dilakukan pemeriksaaan serius juga terapi dan sederet tindakan pencegahan lainnya, mengingat artikel yang dia baca bahwa kemungkinan Atthar untuk sembuh, nihil.


"Kenapa harus aku? kan dia yang menemukan kekurangan pada Atthar?" cibirnya tak suka.


"Kan kamu calon ibunya, Grace. Masa gak suka dengan kekurangan putraku? gak salah dengarkah aku ini?" tandas sang pria maskulin, terheran dengan sikap wanitanya.


Jika bukan karena perusahaan ayah Graciella yang menanam saham darurat saat itu, mungkin Liam banyak kehilangan bisnisnya. Meski semua ini tak pernah dia buka, namun dirinya mempunyai niat untuk balas budi.


Inginnya tak menjalin hubungan, namun tidak dipungkiri pesona Graciella tak terbantahkan meski wanita itu bisa dibilang perawan tua..Pernah Liam berpikir, mungkin bukan gadis sejati karena kehidupan hedonisme Graciella membuka peluang bahwa dia juga penganut sek-s bebas.


"Bu-bukan begitu, aku kan sibuk kerja di kantor bantuin Papa. Mungkin tidak bisa menemani Atthar saat konseling nanti. Aku gak mau kamu kecewa, Honey," kilah Graciella merayu Liam. Dia melingkarkan kedua lengan pada leher dan bahu ayah Atthar.


Wanita ayu dengan busana seksi, kian memunculkan hasrat kelelakian yang lama terpendam. Dia selalu saja menutupi kekurangan diri menggunakan tubuh sensualnya.


Saat bibir merah merona itu hampir menemukan muara, Liam memalingkan muka. Terbesit bayangan wajah ayu dihadapannya kini.


"Apa yang ku pikirkan. Dia lagi."


"Kau menolakku, Honey?" kesal Graciella, masih membelai wajah Liam yang kini dalam rengkuhannya.


"Sudah hampir sore, pulanglah. Katamu mau ada party," ujar Liam mengurai cekalan lengan yang mengalung di lehernya. Dia lalu berjalan ke sisi pintu samping ruang keluarga.


Liam Sakha, bagai di sodorkan banyak kepingan ingatan tentang guru baru putranya. Tatapan tegas mata Zaylin, setiap kata yang terlontar darinya penuh kekuatan bahkan cara duduk dan gestur, sangat mencerminkan bahasa wanita itu tangguh, tak mudah di intimidasi.


Sikap dan kemampuan komunikasi Zaylin mencerminkan bahwa dia wanita cerdas. Visioner namun penuh kelembutan.


"Sesungguhnya aku butuh wanita yang sepertinya. Ya Tuhan."


Graciella menangkap gelagat aneh sang kekasih yang kali ini menolak cumbuan darinya. Terbersit niat bahwa akan menyelinap siapa sosok Zaylin yang seakan menjadi bayang dalam hubungan mereka.


"Kamu ngusir aku, Honey?" tanya Graciella, mendekati Liam yang berdiri mematung di sisi pintu.


Liam menoleh. "Tidak, aku hanya mengingatkan ada acara yang harus kau hadiri, bukan?" jawab sang duda tampan.


Pemilik Sakhair, lalu mengusap lengan wanitanya. Lalu menggenggam jemari dan mengajaknya keluar hunian. Lelaki romantis itu membuka panel pintu mobil mewah milik sang gadis.


"See you, baby, have fun di sana. Aku hanya sedang ingin menghabiskan sore sendiri," bisik Liam, seraya mengecup pipi sang gadis.


Graciella menggerutu seraya menutup pintu mobilnya dan tak lama, BMW M4 Coupe merah metalik meluncur meninggalkan halaman luas mansion Sakhair.


...***...


Sementara di kediaman lain.


Abimanyu mengajak bicara sang Ibu atas peristiwa yang melibatkan Arjuna serta tuduhan perselingkuhan yang dialamatkan pada Zaylin.


"Bim, mungkin Juna hanya khawatir. Aylin, jangan tersinggung ya. Tetaplah tinggal di sini toh Juna itu pulang selalu larut malam, gak akan ketemu kalian juga sebab dia bangun setelah lewat pukul sembilan pagi," tegas sang Ibu membujuk Abimanyu agar tidak meninggalkan kediamannya.


"Niatan Mas itu, gak serta merta langsung pindah kok Bu. Aku dan Mas, paling hanya weekend pulang ke rumah pribadi," imbuh Zaylin menjelaskan duduk perkara.


"Oh gak saban hari disana?" Iriana sumringah.


"Iya enggak. Aylin minta begitu," sambung Abim lagi.


"Ibu kira, kalian selamanya pindah. Iya, boleh kalau begitu. Ibu juga maklumin pengantin baru," kekeh Iriana menangkap maksud lain dari pasangan muda ini.


Zaylin seketika merona, dirinya kikuk ketika di tatap intens oleh sang mertua. "Bu-bukan gitu maksudnya, Bu." Tunduknya malu.


Iriana tertawa renyah, menepuk kedua telapak tangan menantunya yang berada di atas pangkuan.


"Kata Gilmot, gugatan kedua tetap masuk, namun jika dapat di cabut maka itu lebih baik. Itupun jika kamu menghendaki. Saran Ibu, lupakan saja, putus hubungan dengan para kaum sodom," cemas ibu kandung Abimanyu.


"Gimana Ay?"


"Ya kalau menurut Mas lebih baik begitu ya lepasin. Aku gak keberatan, sebab ancaman Roger itu takutnya bukan cuma aku, tapi menyasar Ibu juga," jujur Zaylin khawatir.


Abimanyu nampak menimbang. "Aku udah bilang serahin semua sama lawyer. Jadi fokus untuk hidup kita saja," tegas pemilik Yasa Distro.


Keputusan Abimanyu sedikit banyak terpengaruh oleh Ibu dan sang Istri. Juga mungkin ini adalah jalan terbaik. Meski rasanya tak terima atas perlakuan keji keduanya dulu. Namun Zaylin menegaskan, bila dia tidak di celakai, dan diselamatkan kala itu maka pertemuan juga pernikahan antar mereka tak akan pernah terjadi.


...***...


Menjelang tengah malam.


Arjuna sedang menunggu di sebuah club untuk bertemu dengan klien yang akan menyewa jasanya esok pagi hingga satu pekan ke depan. Team besutan milik pelukis handal ini telah menyiapkan banyak slide dalam tabnya untuk presentasi saat bertemu pelanggan nanti.


Permintaan sang Klien lah yang membuatnya menginjak tempat seperti ini ditengah malam buta, sebab calon pelanggan baru selesai meeting dan akan sedikit bersenang-senang sebelum terbang esok pagi. Terpaksa, sang perjaka tampan, mengikuti keinginan si customer.


Tanpa sadar, mata elangnya menyasar sosok yang tak asing tengah on floor menari diiringi dentuman musik yang memekakkan telinga.


"Dia, dia, itukan...." Arjuna meraup wajah kasar kala melihat sosok cantik disana.


"Jangan sampai dia tahu aku disini," ujar Juna, berniat pindah tempat duduk.


Baru saja dia menumpuk semua barang yang tergeletak dimeja, sebuah sapaan juga tepukan di lengan membuat konsentrasinya buyar. Arjuna terhenyak.


"Eh maaf Bro. Art Joona right?" tanya si pria dalam setelan jas mahal.


Juna menoleh. "Betul. Mr. Andre? bolehkah aku pindah ke tempat yang lebih privacy?" minta Juna tergesa ingin menghindar dari sosok yang belum menyadari keberadaannya.


"Kemana?" tanya sang, customer.


.


.


...___________________...


...Juna, liat siapa sih 🤭...