
Satu bulan sejak kepulangan Abimanyu. Kondisi keluarga mereka mulai stabil. Rencana Juna lamaran pun akan di gelar esok hari.
Zaylin sudah kembali mengajar di Kasih Bunda, setiap akan pulang sekolah Atthar selalu menciumi perut buncit guru idola itu sebelum dia pulang dengan sang Ayah. Hubungan antara keluarga Sakha juga kian membaik, Liam memenuhi janjinya untuk menyediakan waktu khusus setiap hari bagi Atthar.
Jika ada urusan ke luar negeri, dia tak sungkan menitipkan putranya itu pada Abimanyu agar sang pemilik resort leluasa dalam bekerja.
Pukul sepuluh siang. Rombongan keluarga Yasa bersiap menuju kediaman Rizkia yang berjarak sepuluh kilometer dari lokasi mereka kini. Sang sahabat tak dapat menemani sebab tengah tugas di luar kota.
Perjalanan di tempuh dalam waktu singkat. Kediaman Rizkia tampak berbeda, lebih megah sebab di pasangi tenda. Keluarga Yasa pun mulai memasuki hunian disambut oleh tuan rumah.
Dua jam mengutarakan maksud menjadi penentuan tanggal walimah keduanya. Semua sepakat resepsi akan di gelar dua pekan dari sekarang. Juna yang memang sudah menyiapkan segalanya, menyanggupi permintaan keluarga Rizkia bahkan lelaki itu meminta di majukan pekan depan.
"Jangan buru-buru, kasih waktu calon besan buat persiapan sebab keluarga wanita biasanya banyak printilan," ujar Gilmot memberi saran pada Juna.
Bukan hanya calon pengantin yang menjadi pusat perhatian. Khalayak justru sangat tertarik dengan pasangan yang ada di belakang Iriana.
"Kakak ipar Juna, ini suaminya," ujar Iriana menjelaskan pada keluarga besan.
"Oh, kami kira kakak perempuan Juna, sebab mirip. Sedang nunggu anak kedua ya?" tanya calon besan, melihat Atthar menempel ketat pada Zaylin.
"Alhamdulillah," jawab Abimanyu tak ingin banyak kata. Atthar bagai putra sulungnya kini, semua serba ayah, bukan lagi Zaylin apabila dia menginap di rumah mereka.
"Ayah, haus. Ayah, ngantuk," celoteh Atthar, seraya merebahkan badan di pangkuan Zaylin, mengusap perut sang Ibu idola sambil merengek pada Abim.
Reaksi Atthar menjadi alarm bagi keluarga Yasa bahwa mereka harus pamit. Bocah tampan itu mulai bosan sehingga mengganggu Abimanyu kala memberikan ucapan perpisahan.
Satu jam kemudian.
Atthar rewel, tak biasanya merajuk tidak jelas apa yang dia minta semenjak pulang tadi. Abimanyu kewalahan menghadapi mood anak itu hingga Atthar berhenti membuat ulah saat Zaylin mulai mengaji.
Kepala Keluarga Yasa, mendekati sang istri yang berada di atas ranjang seraya menarik Atthar, mungkin bocah itu terlampau lelah.
"Abang, sini bobok," ucap Zaylin kala melihat Atthar masih merajuk pada Abimanyu.
"Sama ayah," rengeknya lagi.
"Manja banget sama kamu, Mas. Dia kenapa sih, tumben," tanya Zaylin, mengusap kepala Atthar saat Abim rebahkan di sebelahnya.
"Gak tahu kenapa ... Abang bete ya? bobok dulu, nanti sore kita belajar naik sepeda lagi," bujuk Abim menepuk lengan putra Liam.
Tak ada sahutan dadi Atthar, Zaylin lalu melanjutkan bacaan ngaji diikuti sang suami. Keduanya getol sebab sebentar lagi akan memasuki usia kandungan empat bulan, saat ruh mulai ditiupkan.
Pasangan Yasa masih berurutan melantunkan al qadr, al Kautsar dan al furqon. Disambung oleh Abimanyu membaca doa. "Allahummah fadz maa fii bathnii Zaylin huzefa minal janiini waj'alhu dzurriyyatan thayyibatan, waj'alhu waladan shalihan shahiihan mu'aataa, 'aaqilan haadziqan 'aaliman 'aamilan sa'iidan marzuuqan lil khairaati," lirih Abimanyu seraya mengusap perut Zaylin.
"Aamiin ... Atthar tidur, dia kecapean ini sih. Sabar banget ya Ayah, ngadepin tingkah dia," kekeh Zaylin tak lama kala putra Liam sudah terpejam.
"Latihan biar kalau dia lahir, aku lebih siap. Salat dulu ya, Sayang. Lalu tidur siang," kata Abimanyu, sekilas mengecup perut Zaylin saat akan turun dari ranjang.
"Ayah," rengek Atthar belum terlalu pulas. Dia memegangi Abim.
"Sama Ibu ya, ayah salat sebentar," bisik Abim, mencium pipi sang pangeran Achazia. Bocah itu pun diam.
Zaylin melihat perubahan sikap Abimanyu yang signifikan setelah kepulangan dari Papua bulan lalu. Sosok ke-bapak-an begitu kentara terlihat, apalagi kala menghadapi mood kesayangan Liam. Bahkan Zaylin kadang tidak sesabar dirinya.
"Ayahmu terbaik, kamu beruntung, Sayang," bisik Zaylin mengajak berkomunikasi dengan calon bayinya.
Keluarga kecil mulai menikmati kebahagiaan setelah segala dera kesulitan.
...***...
Singapore.
Keseharian Roger setelah kepergian Alexa menjadi kacau balau. Pemilik bisnis olahan makanan juga jaringan bawah tanahnya mendadak tak semangat menjalani hari. Seperti saat ini, di sebuah resto salah satu hotel.
"Watch out!" teriak seorang gadis, menarik jasnya sekuat tenaga agar tak terserempet mobil sport yang baru saja melaju.
"Are you insane!" sentaknya lagi tanpa memperdulikan sekitar. Hijabnya hampir terlepas sebab tersangkut pada jemari kala menarik paksa orang asing.
"What the f-uck!" Roger menepis cekalan gadis itu.
"Raline!"
"Ryu, I'm good," balas Raline saat melihat Ryuki khawatir dengannya.
"Baguslah, aku cemas. Ayo, pergi dari sini, Mas ku dah nunggu tuh di dalam," ajak sang Sahabat.
"Kalian Indon?" tanya Roger tetapi di abaikan kedua gadis.
"Hey!"
Raline menoleh sejenak, melemparkan pandang ke sekitar saat beberapa pria asing mengerubuti lelaki yang baru saja dia tolong.
"Sir, are you ok?" tanya salah satu bodyguardnya.
"Hmm." Roger pun berlalu pergi dari sana.
Beberapa jam menjelang malam.
Raline berada di luar hotel untuk menemui seseorang atas permintaan sang ayah. Saat berjalan di lorong untuk memutus jarak kembali ke hotel, dia dikejutkan sekelompok tuna wisma yang meminta uang.
Raline memberikan selembar dolar bagi kedua pria itu, tetapi mereka malah merampas ponsel canggih custom sang ayah sehingga aksi kejar-kejaran pun terjadi.
"Balikin bego. Kamu pilih lawan yang salah!" teriak Raline. Dia menumpu kaki kiri sebagian kuda-kuda untuk bertolak ke dinding dan melayangkan tendangan ke arah pria yang merampas tasnya.
Bruk. Satu tumbang.
"Balikin!" Raline meminta baik-baik.
"Indonesian people. Try me," ujarnya menantang sang pemilik sabuk hitam.
Tanpa banyak cakap, Raline mengabulkan permintaan lawan. Pria itu tumbang, gawai custom ciptaan sang ayah, berhasil dia raih kembali.
Tiba-tiba. "Hey, Nona." Suara pria, menepuk bahu sang gadis.
Raline reflek, dia berpikir pria di belakang ini adalah kawanan yang sama dengan mereka. Tepisan, pukulan, tendangan di layangkan Raline sebab dia melawan. Namun, alangkah terkejut keduanya kala mengetahui wajah satu sama lain.
"You!"
"Kau kan yang tadi, dasar tua bangka. Ngagetin aja," ucap Raline, saat mengetahui pria di hadapan adalah orang yang sama saat siang tadi. Dia pun melenggang pergi.
"Hey! apa kau bilang? tua bangka!" Roger murka.
Raline berhenti, dia tak menduga lelaki itu paham bahasa yang ia gunakan saat mengumpat tadi. "Ciloko, kabur ah. Lariiiiiiii!" lirih Raline seraya berlari meninggalkan lorong.
"Bos."
"Selidiki siapa dia." Roger penasaran, sosok mungil tetapi tenaga juga keahlian bela diri yang dimiliki sangat mumpuni.
"Dia juga cantik. Muslimah. Who are you, Raline right."
.
.
...___________________...