
Malam menjelang.
Sore tadi, kurir yang Zaylin kirim untuk mengantar sesuatu padanya, tiba. Pak Satpam membuka pintu pagar agar mobil Juna dapat masuk ke parkiran kost mewah sementara.
Saat Abimanyu turun perlahan dari pintu sebelah kiri, Pak Samin menghampiri dirinya.
"Mas, ini ada titipan paket," tegur beliau seraya menyerahkan satu kotak kecil berwana coklat.
"Thanks ya Pak. Aku masuk dulu, permisi," balas sang pemilik kamar no 14 di lantai dua, mengucap terimakasih untuk penjaga kost.
Lelaki yang tak jauh berbeda dengan dirinya itu mengangguk tersenyum dan menyilakan kedua penghuni kost juragan cantik itu masuk ke hunian.
Sesampainya didalam kamar. Abimanyu lantas membuka apa yang dia bawa tadi dari bawah, sementara sang adik bergegas mandi karena malam ini dirinya akan kembali ke Jakarta.
Grup chat BimZay.
"Assalamu'alaikum, Aylin. Thanks ya, paketnya udah diterima. Aku pakai nanti malam jelang tidur ... malam ini Juna pulang, mengabarkan pada Ibu tentang rencana kita. Juga untuk mengurus satu kasus terhadap apa yang menimpaku. Kata Yai, semua urusanku sebelumnya harus diselesaikan," Abimanyu menulis di sana.
Satu menit berlalu.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah jika sudah sampai. Mas, cedera serius ya, jika dari laporan medisnya? kalau memang belum bisa rekomendasikan buka gips, jangan dipaksa nanti malah makin parah." Balas Zaylin pada pesan Abim di atas chatnya.
"Titip pesan buat Nak Juna. Agar hati-hati di perjalanan ya Nak Abim." Bu Syaida menyela obrolan mereka berdua.
"Baik, saya sampaikan Bu. Terimakasih." Abim men-tag chat pengasuh calon istrinya itu.
"Semoga semua lancar hingga hari H." Sambung pengawas mereka.
"Aamiin." Balas kedua calon pengantin atas tulisan ketua yayasan tadi.
"Kontrol dua minggu lagi ko. Semoga lekas normal, di bantu obat luar dari kamu nih, kali dobel khasiat jadi pemulihan lebih cepat."
"Aamiin." Zaylin menulis ucapan doa, kali ini ditujukan untuk calon suaminya.
"Bu, aku boleh nemenin Mas Abim kontrol akhir gak? dengan Wirda?" tanya Zaylin pada Ibu Syaida.
"Jika hanya kepentingan menemani, dengan satu teman dan mahram bagi Aylin. Boleh, silakan." Ibu Syaida membalas segera pertanyaan yang diajukan oleh anak asuhnya itu.
"Syukron Bu."
"Mas, kabari Aylin ya kalau mau check-up lagi. In sya allah aku temani jika senggang, meski gak janji. Hanya berencana dulu." Pungkas Zaylin.
"Ok. Terimakasih, Aylin. Aku bersih-bersih dulu ya. Juna sudah selesai. Assalamu'alaikum." Tutup Abimanyu, pada grup chat mereka.
"Wa'alaikumsalam." Balas kedua wanita yang ada di dalamnya.
Close, Chat BimZay.
Asrama Al-Islamiyyah.
Sejujurnya gadis ayu itu penasaran, benarkah rumor yang beredar tentang calon suaminya adalah korban pembegalan dan perampokan beberapa bulan silam.
Mengingat satu lembaran diagnosa dokter konseling, yang pernah dia baca. Apakah ini kasus kriminal biasa ataukah ada kisah asmara didalamnya. Ingin bertanya langsung, namun Zaylin masih segan.
Putri Zulkarnaen Huzama hanya tak ingin, kisah masa lalu suaminya dengan seseorang disana, kembali menguar menggoyahkan keteguhan hati pria itu.
"Niatku kan emang mau bantuin Mas Abim ya. Perkara lain, harusnya aku siap atas resiko yang akan timbul. Kata Abah, ini pilihanku dan harus teguh ... kuat ya Aylin, bantu suamimu kembali menjadi lelaki sholeh, aamiin." Ucap Zaylin dalam hati.
Gadis ayu mojang Bandung akhirnya mencoba beristirahat malam ini setelah otaknya berkutat memikirkan cerita Juna saat di rumahnya. Kala Abim bicara berdua dengan Abah di bale.
"Abimanyu khilaf. Dia begitu karena ada andil aku didalamnya. Tapi tak ku kira, pelariannya demikian. Kakaku bilang, melihatmu pertama kali menumbuhkan lagi sesuatu yang telah lama mati, dalam hatinya."
Kedua anak manusia satu sama lain berusaha memantaskan diri. Zaylin yakin, Allah memberikan Abimanyu jalan padanya karena alasan tertentu. Mungkin sebagai ujian keimanan baginya atau hal lain, semoga menjadi tiket ke surga.
Jakarta.
Arjuna baru tiba di kediaman ibu mereka saat menjelang Subuh. Beberapa kali dia berhenti di rest area karena mengantuk hingga perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu tiga jam, harus molor menjadi hampir lima jam.
"Juna, istirahat dulu. Jangan langsung kerja lagi," tegur Ibu saat melihat putra keduanya langsung masuk ke ruang kerja milik almarhum suaminya.
"Kata Abim, harus masuk gugatan Bu. Nanti Juna gak keburu, kan mau lukis di galery juga siang ini. Ketemu klien," jawab sang putra bungsu, duduk di kursi putar.
"Kakakmu baik Jun?" Iriana kembali menanyakan kabar putra sulungnya.
"Baik, hanya kakinya masih di gips satu. Lainnya sih Ok. Sudah kembali tampan," seloroh Arjuna berusaha menghibur Bunda yang masih terlihat merasa bersalah sekaligus merindu.
Wanita paruh baya dengan look menawan, hanya tersenyum menanggapi celotehan anak bungsunya itu.
Jeda, sejenak.
Istri Ibrahim Yasa, memperhatikan cara kerja Arjuna dalam menyiapkan berkas. Satu tangan kanan memilah dokumen, sedangkan jemari kiri nya menekan tuts pada gawai yang terletak di atas meja, untuk menghubungi seseorang.
"Kamu persis Ayah. Kalau sudah kerja begini," ucap sang Mama, melihat putranya sangat serius.
Arjuna tak menanggapi perkataan Bundanya itu, dia sedang bicara dengan lawyer yang diminta datang esok pagi sebelum dirinya pergi ke galery.
"Gimana Bu? tadi bilang apa? maaf Juna lagi ngomong sama Om Gilmot," sambung Juna, sekilas mendengar ibunya bicara bersamaan dengan suara lawyer sahabat ayah yang mengudara.
"Gak apa, Ibu kangen Ayah kamu. Sudah Jun? sarapan dulu atau teh hangat ya, Ibu siapkan. Bentar lagi Subuh," balas sang Bunda, seraya bangkit dari duduk di hadapan meja kerja milik suaminya itu, keluar menuju pantry.
Adik Abimanyu kali ini mengikuti saran ibu kandungnya. Keluar dari ruangan Papa dan mengekori sang Bunda. Duduk manis di meja makan menanti ransum booster pagi buta hadir di hadapannya.
Tak lama menunggu, Ibu dan anak akhirnya duduk dalam satu meja kembali. Mengenang masa mereka saat belum dewasa. Bercengkrama penuh suka di ruangan yang sama, beberapa puluh tahun silam.
After breakfast.
Sahabat setia Ibrahim Yasa, datang ke komplek perumahan mewah para purnawirawan angkatan udara. Dia mengetuk pintu depan kediaman Iriana, dimana Arjuna tinggal saat ini.
"Masuk Om." Seru sang empu mengajaknya masuk.
Keduanya lantas duduk di ruang tamu, berbagi pemikiran tentang apa dan siapa yang akan mereka hadapi nanti. Lawyer mumpuni urusan tindak pidana ini telah siap memasukkan gugatan setelah membaca berkas yang Juna siapkan.
"Om masukkan berkas dulu ya, selama dua hari ke depan, kamu harus sudah siapkan saksi Jun. Jika yang kita miliki semua kuat, Abim bisa menang telak ini."
"Saksi sudah siap dan aman, Om. Tinggal eksekusi saja. Abim ingin, paling tidak kasus perdana ini dapat selesai sebelum pernikahannya," terang Arjuna lagi.
"Kayaknya bisa, kalau gugatan ringan. Kita coba dah. Om permisi ya, langsung kerja nih demi ponakan," ucapnya seraya bangkit dan keluar dari rumah mereka menuju mobilnya.
"Hati-hati, Gim," Iriana ikut mengantar kepergian sahabat suaminya itu.
"Salam buat Abim ya, Ir. Kamu juga, hati-hati," pungkasnya sebelum range rover itu meninggalkan garasi hunian mereka.
"Bu, Om Gim, masih suka ya sama Ibu? belum nikah pula tuh sampai kini. Ibu kalau mau nikah lagi, boleh ko. Biar ada teman," bisik Juna di telinga Ibu yang tertutup hijab.
"Tahu darimana kamu? pacarnya banyak, Jun."
"Dari tatapan matanya ke Ibu. Lagi pula harusnya titip salam ke Abim itu padaku, bukan ke Ibu. Kan yang tahu sikon Abim itu aku," imbuh Juna seraya meninggalkan sang Mama yang masih diam berdiri di teras rumah.
"Gak gitu, Juna...."
.
.