ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 33. LUNAS



Sepasang sejoli baru saja masuk ke hunian apartemen type 2BR yang baru saja dibeli oleh Abimanyu disisi utara Jakarta. View yang menghadap ke laut menjadi poin utama ketika dia memilih salah satu unit di gedung dengan tinggi menjulang.


"Ini punya Mas?" tanya Zaylin kagum saat baru menjejakkan kaki di unit apartemen yang menurutnya mewah.


"Punya kamu, Sayang, hadiah." Abimanyu meletakkan semua paper bag milik Zaylin di mini sofa, kemudian dia membuka master bedroom hunian dengan dua kamar itu.


"Tidak mewah tapi cukup nyaman, aku suka mini balkon yang menghadap Laut, juga karena ini full furnished jadi jikalau kamu ingin pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan sekolah, kita pilih disini," ujar Abimanyu lagi.


"Punya aku, kok bisa? Mas jangan bercanda," kekeh Zaylin seraya membuka tirai, ingin menyaksikan langsung view pantai yang berbeda dengan suasana kampungnya.


"Iya, hadiah pernikahan sebab aku mendapatkan wanita sempurna segala-galanya," kata Abimanyu berdiri di sebelah Zaylin.


Menantu Iriana tersenyum, mengucapkan terimakasih pada sang suami. "Tadi maksudnya pindah sekolah ke mana? pindah tempat tinggal?" tanya Zaylin ragu. Jarak hunian ini menuju Kasih Bunda lumayan jauh, belasan kilometer jaraknya.


"Kalau mau. Sebab aku gak ingin Graciella tahu siapa kamu terlebih Atthar, sepertinya dia juga bakal kecanduan sama kamu," lirih Abimanyu seraya membuka pintu balkon dan keluar menikmati semilir angin laut Jepang sore hari.


Zaylin tak berani menanggapi, dia lebih memilih keluar kamar, membongkar semua bahan makanan untuk mereka selama bermalam disini. Mencoba membuat satu hidangan yang dia bisa dan suaminya sukai.


Topik sensitif disaat wanita ayu baru merintis karir namun sebab kecemburuan dan peristiwa belum terjadi harus kembali terusik. Bukan tidak ingin mengikuti keinginan Abimanyu namun bagi Zaylin, ini berlebihan.


Belum lagi jika Iriana menikah lagi, mau tidak mau, salah satu dari mereka harus pindah hunian. Mungkin ini yang menyebabkan ide pindah kerja juga hunian menghantui Abim. Lokasi Distro yang baru akan dia buka pun ternyata masih dalam satu kawasan.


Tiada percakapan hingga malam menjelang, keduanya asik dengan pekerjaan masing-masing.


Tepat pukul sepuluh malam.


"Mas." Zaylin memanggil lirih sang suami yang masih asik didepan laptopnya. Lelaki dalam balutan kaos oblong dan celana jogger tak menyahuti langsung panggilannya.


Satu detik, dua detik.


"Ya? bentar Ay, dikit lagi. Sedang design untuk dinding Distro," kata Abim, tak melihat sang istri.


Lima menit berdiri menunggu di balik sofa single, akhirnya Zaylin memberanikan diri melangkah ke hadapan Abim. "Maass."


Kaki jenjang nan mulus tanpa alas kaki, terpampang dihadapan Abimanyu, jemari yang tengah asik menekan tuts diatas keyboard pun perlahan berhenti kala netra elang itu melirik dengan ekor mata, menyusuri pemandangan menggoda.


Pelan, perlahan, akhirnya kepala Abimanyu terangkat. Nampak dihadapan kini, penampilan seksi sang istri dalam balutan lingerie. Bahkan dia tidak menyadari jika lampu beberapa ruangan telah padam, termasuk kamar utama sebab pintunya terbuka.


Abimanyu seketika meredupkan pencahayaan di mana dia duduk lalu merentangkan kedua tangan siap menyambut bidadari miliknya.


"Cantik banget, sini." Senyumnya merekah, melihat sang istri begitu seksi.


Zaylin menyambut ajakan suaminya, duduk di pangkuan dengan kedua lengan Abimanyu melingkari pinggang ramping nan seksi.


"Aku coba ya," bisik Abimanyu sesaat meminta persetujuan.


Entah memang Zaylin tengah terbakar atau Abimanyu sudah kian terbiasa oleh bau tubuh sang wanita. Lelaki tampan meski masih dalam tahap akhir terapi itu mulai berniat melanjutkan, dia mencoba akan memberikan hak Zaylin.


"Ay, ehm, bagaimana?"


"Di sini?"


"Di sana."


Body tegap putra Iriana, membopong tubuh sang istri menuju peraduan. Pekerjaan yang sejatinya belum rampung pun kini dia tinggalkan begitu saja.


Putri Zulkarnaen menghalau segala perasaan takut kala ibadah halal akan mereka jelang. Zaylin tak ingin haknya tertunda lebih lama, dia rela berusaha lebih keras demi sang suami.


"We did it, thanks honey," lirih Abim membisikkan kata mesra bagi wanitanya.


Hati Zaylin gerimis, malam yang dinanti setelah lima bulan menyandang status istri Abimanyu Yasa telah dia dapatkan. Wanita ayu itu bahkan tanpa sadar menangis.


Mungkin malam ini hanya sedikit yang Aylin rasakan. Dia terus berusaha membuat Abimanyu fokus dengan dirinya, berkali ia meminta agar sang suami menyebut nama panggilan khusus bagi pemilik nama Zaylin Huzefa itu.


Zaylin menuntunnya melafalkan doa dan bersiap menyongsong rasa surga dunia bersama. Lolos sudah air mata kelegaan wanita ayu, tanpa Abimanyu ketahui. Hatinya bahagia, haknya telah dia dapatkan. Lebih dari itu, Abimanyu sudah bisa berfantasi dengannya, perlahan keluar dari bayang Alexander.


"Istriku, Aylin."


Beberapa menit menjelang. Kala kantuk mulai menyergap raga, keduanya saling mencurahkan isi hati.


"Kalau Mas mau aku pindah ngajar, boleh saja. Besok mungkin coba lihat sekolah di sekitar sini untuk referensi apabila keputusan final nanti. Jikalau pun harus resign, tunggu satu tahun boleh? agar aku memiliki sesuatu jejak atau prestasi disana sehingga menaikkan value diri," pinta Zaylin lirih.


"Kelamaan enggak? selama kurun waktu itu aku khawatir Atthar justru makin susah lepas dariku, nanti Liam kian brutal menghadapi putranya. Kasihan anak itu," ujar Zaylin menimbang keinginan.


"Whatever Sayang. Nanti kita cari solusi sama-sama. Yang jelas aku akan penuhi segala keinginanmu juga, maaf ya sudah membuat kita berjarak sore tadi," balas Abim menyadari kesalahan mereka.


"Hm, aku juga minta maaf, bukannya menjelaskan malah menjauh. Lain kali, tegur aku ya, Mas," pinta sang wanita ayu.


"Iya, kamu gak capek? istirahat dulu yuk, besok kita bahas lagi," balas Abimanyu Yasa, menarik selimut kian ke atas sehingga menutup sempurna tubuh mereka dan menghalau dingin.


...***...


Hunian mewah Sakhair. Saat yang sama.


Graciella mengatakan keberatan apabila setiap hari dia harus mengantar Atthar ke sekolah sebelum berangkat kerja. Pertengkaran kecil diantara keduanya pun terjadi.


"Aku gak mau diantar Onty, Pih. Gak mau," rengek Atthar.


"Sayang, coba kamu pikir, aku harus antar dia dulu? bisa telat dong nanti ke kantor? apa kata para karyawan aku?" keluh Graciella.


"Latihan lah Grace, kan nanti aku memintamu juga buat ngawasin Atthar kala aku sedang bepergian bisnis ... dan kamu Atthar, panggil Mami, bukan Onty," tegas Liam pada keduanya.


"Enggak." Pangeran Sakhair mulai berani membantah.


"Kan, anakmu aja begitu. Sampai kapan kita begini, kamu gantungin status kita, Sayang," bujuk Graciella lagi, menduselkan diri masuk dalam pelukan.


"Daddy akuu! sana!" Atthar mendorong tubuh Graciella hingga rambutnya berantakan.


Wanita itu ingin berteriak, namun seketika dia sadar ada Liam dihadapannya.


"Sampai kamu berhasil membujuk Atthar untuk menerima mu sebagai ibu sambungnya," balas Liam untuk Graciella.


"Sia-lan. Kapan aku bisa menikmati semua resort mewah Sakhair? apa aku singkirkan bocah tengil ini?"


.


.


.


...________________________...