ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 34. EMOSI LIAM



Keesokan pagi.


Setelah sarapan, Abimanyu melarang Zaylin melakukan sesuatu. Dia mengunci pintu kamar agar istrinya itu tak turun dari ranjang. Padahal hari ini Zaylin masih harus pergi ke sekolah meski tiada jam mengajar baginya, sebab teringat janji pada Atthar.


"Enggak boleh kemana-mana. Kita udah janji habiskan waktu weekend kan, lagipula kamu gak ada jadwal ngajar di hari Jum'at Ay, kan kamu sendiri yang bilang jam kerja senin sampai kamis mulai pagi hingga menjelang Ashar," tuntut Abimanyu mencubit pipi wanita yang sedang merebahkan kepala diatas guling.


"Tapi janji sama Atthar, aku lupa. Gimana donk?" Zaylin cemas membayangkan reaksi anak itu ketika dia ingkar janji.


"Tengok setelah aku pulang jum'atan saja, kalau dia masih disekolah. Aku ada appointment dengan seseorang siang nanti, sekalian kita lunch," bujuk Abim lagi, seraya menarik selimut.


Menantu Iriana mengangguk, namun tiba-tiba dia beringsut heran. "Sih, Mas. Mau ngapain?"


"Gak usah pura-pura polos." Abimanyu menarik tubuh sintal yang hendak melarikan diri ke ujung tempat tidur mereka.


...***...


Kasih Bunda, saat yang sama.


Atthar tidak mau masuk kedalam kelas, dia menunggu Zaylin. Mereka berjanji akan bercerita seru pagi ini, tentang pengalaman Atthar menjadi anak jagoan kala menyambangi dokter kemarin. Juga dia akan berkeluh kesah mengenai ketidaksukaannya pada sang calon Mami juga paksaan dari sang ayah untuk memanggil wanita itu ibu.


"Mau mommy Zaylin. Atthar mau mommy," tangisnya pilu meski sudah tak histeris seperti biasanya.


Dina terus mencoba membujuk lelaki kecil tampan nan lucu itu agar mau menunggu didalam kelas, bujukan manis Dina, mengikuti gaya Zaylin sehingga Atthar luluh.


Liam sudah naik pitam. Dia mewanti pada kepala sekolah agar menjauhkan Zaylin dengan sang putra. Terlebih Graciella mengatakan bahwa guru baru itu juga seakan mempengaruhi psikis Atthar agar membantah kedua orang tuanya.


Kisruh di ruang kepsek, nyata membuat beberapa guru berbisik hingga didengar oleh Dina. Dia terusik ingin membela teman seperjuangan. Gadis ayu itu lalu menuju ruang kepsek untuk mengatakan hal yang sesungguhnya sebab dia berada di sana.


"Maaf Nyonya Liam, aku ada disana bila Anda lupa. Ibu Zaylin tidak menyampaikan sesuatu untuk menolak kehadiran Anda, melainkan membujuk Atthar agar bersedia pergi siang itu," ujar Dina meluruskan perkara.


Sanggahan Dina tak Liam pedulikan. Dia tetap meminta agar anaknya dijauhkan dari jangkauan si guru.


"Bukan Bu Zaylin yang mendekat, namun Atthar terkadang mencari beliau, Tuan Liam. Maaf, aku hanya menyampaikan hal yang kami ketahui," ucap Dina seraya pamit.


Pemilik Sakhair Resort itu bertahan di ruang kepala sekolah sembari menjelaskan hasil diagnosa dokter untuk putranya. Dalam masa pengawasan dokter, Atthar harus mengenakan kacamata atau lensa kontak yang diwarnai (tinted) untuk membantu membedakan warna.


"Tolong bantu sounding Atthar agar mau mengenakan benda ini sesuai petunjuk dokter. Ini dilakukan sebagai salah satu upaya terapi meski aku tahu belum ada metode yang dapat menyembuhkan buta warna. Sehtidak dia bisa mengatasi sedikit kekurangan yang dimiliki," ujar Liam menyerahkan satu buah benda didalam box warna biru.


Kepsek menerima dan bersedia membantu proses terapi sang anak didik. Dirinya juga berjanji akan mengawasi Atthar lebih baik mulai saat ini.


Karena hari ini jum'at, maka jam pelajaran sedikit lebih pendek dibanding hari biasa. Lelaki pimpinan Sakhair ingin menunggu putranya hingga dia pulang nanti.


Ba'da Jum'at.


Sesuai janji Abim, dia akan mengantar Zaylin menemui Atthar untuk meminta maaf sebab dia ingkar janji pagi ini. Saat baru saja turun dari mobilnya, dia melihat Atthar telah bersama Liam juga Graciella.


"Atthar, Hai. Maafkan Ibu ya, tadi terlambat bangun jadi batal kesekolah pagi ini, are you wanna go home now?" sapa Zaylin tergesa menghampiri mobil keluarga Sakhair.


Atthar menoleh, namun seketika berpaling muka. Dia marah dan kecewa sebab idola nya tak menepati janji. Anak itu, masuk begitu saja dengan Graciella kedalam mobil tanpa memberikan tanggapan.


"Aku minta, jauhi anakku Bu Zaylin. Jangan lagi usik dia, meskipun Atthar yang mendekat, sepatutnya Anda acuhkan. Ku harap, bahasa yang ku sampaikan ini dapat Anda pahami, selamat siang." Liam memberikan kalimat penegasan pada sang guru baru.


"Jadi, jika Atthar merengek, tantrum, aku harus tetap mengabaikan? baik, jika itu mau Anda," sahut Zaylin.


Melihat istrinya seakan di Intimidasi, Abimanyu keluar dari mobil dan menghampiri keduanya. "Ada apa, Ay?"


"Gak apa, Mas. Yuk pergi," ajak Zaylin meski Liam menatap remeh.


Sementara di dalam mobil, seseorang langsung mengenali sosok yang pernah dia tinggalkan dulu. Saat pasangan Yasa melangkah pergi, suara wanita mencegah langkah Zaylin. "Abim!"


Abimanyu tahu siapa yang memanggilnya, terlebih suara Liam mendominasi, menegur pada sang wanita tepat setelah sapaan itu mengemuka.


"Mas."


"Jalan Ay, jangan hiraukan." Abimanyu menarik lengan Zaylin untuk segera masuk kedalam mobilnya.


"Dia bakalan ganggu kamu, Mas. Kenapa pake keluar mobil segala sih," sungut Zaylin kesal.


"Karena Liam mengintimidasi istriku dan aku tak bisa tinggal diam. Bukan kamu yang salah, tapi bocah tengil itu. Kapan anakku lahir, Ay?" kecemburuan Abimanyu menelurkan pertanyaan konyol.


Zaylin yang kesal kini berubah keki mendengar keluhan juga keinginan sang suami. "Kudu rajin bikin, biar bibitnya lekas bertunas," balasnya asal.


Suasana kabin Corolla Altis pun menjadi riuh tawa renyah pasangan Yasa. Tak lama kemudian kendaraan mereka meluncur meninggalkan pelataran sekolah setelah beberapa menit mobil Liam pergi lebih dulu.


Situasi dimobil mewah Sakhair.


Liam terus mencoba membuat putranya bicara setelah aksi mogok ngomong yang bocah kecil itu lakukan semenjak tadi. Liam tahu, Atthar kecewa padanya sebab tak mendengar keluhan tentang Graciella.


Wanita ayu yang diklaim akan menjadi Nyonya Sakhair justru terlihat acuh dan seakan sibuk dengan pemikiran sendiri, meski beberpa kali Liam menegurnya.


"Kamu ini gimana sih Grace, anakmu ngambek malah sibuk ngelamun. Bantu aku bujuk Atthar!" kesal Liam menegur Graciella.


"Bukan anakku, aku hanya ibu sambungnya," ketus Graciella tak suka diganggu.


"Ini yang menyebabkan aku tidak yakin padamu. Kepedulianmu pada Atthar sangat minim, boro-boro mau menyayangi, berusaha membujuk pun susah," Liam mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


"Oh, jadi ini alasan kamu? selalu ini, bilang saja jika kau ingin memutuskan pertunangan kita. Tak usah susah payah menjelaskan alasannya lagi, karena aku tahu, kau mengincar wanita itu."


"Dia lagi, kamu jangan mengada-ada, ini antara kita," tegas Liam.


"Turunkan aku. Jika kau enggan berkomitmen denganku yang seperti ini, aku juga tak sudi menjadi budak rumah tanggamu yang melulu harus ikut aturan. Kau mengincar Zaylin? aku juga bisa mendapat pria yang ku mau," tandas Graciella, seraya menendang kursi driver agar berhenti.


Liam tersulut emosi, melihat Grace keluar mobil. Dia mengejar wanita itu dan meledakkan segala amarahnya disana. Sementara Atthar menangis, meringkuk di jok belakang melihat ayahnya lagi-lagi terluka sebab wanita.


"Mommy ... mommy...." Tangis pilu lirih terdengar.


Corolla Altis melintas kala kedua insan itu masih kisruh atas sesuatu yang terpicu oleh mereka. Abimanyu dan Zaylin, tak akan mengira, badai apa nan menerpa di masa depan.


.


.


...___________________...