
"Lin, kenapa? jangan buat Ibu takut," isak Iriana masih menunggu menantunya mereda.
"Mas, ketemu, Bu. Aku sampai sesak sebab bahagia. Tapi kaki Mas sepertinya cedera lagi jadi gak bisa buru-buru pulang," jujur Zaylin atas kegelisahan.
"Yang benar, Lin? alhamdulillah, anakku selamat," ucap Iriana tak kalah haru.
"Aku happy Bu." Zaylin kembali menangis, Iriana pun memeluk sang menantu, meredakan tangisnya.
Kedua wanita itu saling menguatkan, meleburkan sedih seiring bahagia. Iriana bahkan tak pernah melepaskan menantunya sendirian, dia teringat pesan sang putra untuk menjaga anak dan istrinya.
"Bu, malam ini gak usah temani aku di sini, aku jauh lebih baik. Mas mau call nanti malam menjelang tidur," ucap Zaylin kala melepas pelukan.
Irianan mengangguk. "Pintu kamar jangan di tutup ya, Lin. Biar Ibu bisa tetep lihat kamu, Ibu gak bisa tidur di kamar, juga pengen lihat drakor love married itu loh. Mumpung gak ada Juna jadi bisa begadang," kekehnya lagi.
Zaylin tersenyum. "Iya Bu. Orang Om Gilmot masih berjaga?"
"Kata Gilmot, masih di luar sampai Juna balik, " jawab sang mertua.
"Syukurlah, alhamdulillah."
Kalimat Zaylin menjadi pamungkas atas segala kecemasan keduanya. Iriana lalu meninggalkan Zaylin di dalam kamar.
Menjelang tengah malam waktu Indonesia barat. Ponsel Zaylin kembali berbunyi. Nama yang sama seperti siang tadi muncul di layar gawai.
"Mas. Apakah sudah lebih baik?" tanya Zaylin seketika kala melihat wajah tampan suaminya.
"Alhamdulillah, aku udah enakan dibanding tadi. Kakiku ada rasanya meski berat untuk di gerakkan. Besok coba rontgen ulang, doakan hasilnya baik ya, Sayang," pinta Abim, dengan mata sayu.
"Alhamdulillah. Aamiin, tidur Mas kalau capek. Pasti reaksi obat itu," ujar sang istri lagi.
"Hm, bentar lagi. Pengen liat kamu dulu. Adek rewel gak? masih mual parah?" tanya Abim risau atas kondisi yang tak sepenuhnya dia tahu.
"Habis infusan, kata suster gak ditambah lagi. Barusan di lepas dan berkurang rasa mual, aku juga bisa makan banyak tadi setelah beberapa hari hanya bisa minum. Adek nyariin kamu kali ya, Mas," lirih putri Zulkarnaen.
"Karena kamu nya cemas, Ay. Adek juga merasakan meski dia belum di tiupkan ruh tapi kan ngikut sama kamu," imbuh sang pria.
"Hm, gimana aku gak takut, cemas, kuatir dan lainnya. Kamu ngilang, sama dia juga. Kan aku gimana," suara parau nan tercekat kembali hadir, Zaylin teringat masa beratnya beberapa hari lalu.
"Mas pergi sepekan, tanpa kabar buat aku," kali ini tangisnya pecah.
"Ay, Ay. Sudah, iya maaf. Memang aku gak sepatutnya pergi," sesal Abimanyu lagi.
Keduanya larut dalam obrolan malam hingga Zaylin tertidur.
Satu pekan kemudian.
Kemenakan Zahid sudah dapat beraktivitas ringan semenjak Abimanyu rutin menghubungi dirinya via udara. Ternyata support moril sang suami yang Zaylin butuhkan, obat dari segala kesusahan menjalani trimester awal kehamilan ini.
Wanita ayu tengah duduk di teras ditemani asisten rumah tangga yang tengah membersihkan rumput juga menata ulang pot bunga atas permintaan Iriana.
Mertua cantiknya tengah pergi ke acara perkumpulan para istri purnawirawan di Korem tak jauh dari kediaman mereka. Orang-orang suruhan Gilmot kini masuk ke hunian, menempati teras samping sebab Iriana tidak di kediaman.
Tiba-tiba. Sebuah mobil berhenti tepat di depan kediaman. Orang Gilmot sudah bersiaga di sisi Zaylin, siap menjaga sang amanah apabila suruhan Roger datang.
"Siapa Bu?" tanya maid.
"Entah," balas Zaylin cepat. Dia diminta masuk oleh suruhan Gilmot namun menolak sebelum tahu siapa gerangan tamunya.
Beberapa menit berikutnya. Sosok yang Zaylin rindukan muncul di hadapan.
"Mas."
Tatapan keduanya bertemu. Zaylin mulai menitikkan air mata bahagia. Dia tak mendapat kabar kapan suaminya pulang dan pagi ini Abim memberikan kejutan manis yang dia tunggu.
"Ay."
Abim melangkah masih di papah oleh sang adik. Berjalan tertatih sebab kakinya di gips. Sementara Liam, hanya diam bersandar di body mobil mewahnya melihat mereka.
"Mas," seru Zaylin kala ingin menyambut sang suami, namun tangan Abimanyu mengisyaratkan agar dia tetap di tempatnya.
Wanita cantik dalam balutan homy dress hijau toska dengan hijab senada, menunggu setia di teras. Jangan tanya ekspresi wajahnya. Ibu hamil itu sudah banjir air mata terlebih Juna membiarkan Abimanyu jalan perlahan tanpa bantuan menuju Zaylin.
"Sayang." Abimanyu merentangkan kedua lengannya kala jarak mereka kian dekat.
"Jangan lari, inget adek," imbuhnya lagi.
Tanpa banyak kata, Zaylin merengkuh tubuh tegap yang dia rindu. Pelukan erat dan nyaman milik suaminya, dia dapatkan kembali.
Juna menepi, dia masuk ke dalam rumah, melambai pada Liam agar mengikutinya.
Pasangan Yasa, meleburkan sedih, bahagia juga rasa kangen menjadi satu. Abimanyu sangat tahu rasanya agar wajib mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Allah kucurkan pada mereka.
"Aku benar-benar merasa nikmat Allah itu besar buat aku, Ay. Punya kamu, bisa selamat, terbebas dari masa lalu. Sehat dan akan jadi ayah," isaknya di bahu Zaylin.
"Allahumma ba'daha. Man jadda wa jadda, karena Mas sungguh-sungguh," imbuh Zaylin.
Keduanya mengurai pelukan kala Abimanyu mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit. "Ini ayah, Sayang. Kamu sehat kan?" ujar Putra sulung Iriana.
Zaylin tersenyum mendengar suara lembut suaminya untuk calon bayi mereka. Terlebih saat namanya dipanggil seseorang.
"Mommy."
Pasangan Yasa menoleh ke arah suara. "Atthar, sini Nak," ajak Zaylin memanggil sang bocah tampan yang masih menggenggam tangan ayahnya di luar pagar.
Anak didik Kasih Bunda itu berjalan pelan, seraya tersenyum menuju ke arah guru idolanya. "Mommy, boleh cium?" pintanya malu kala sudah didepan Zaylin.
"Boleh, sini," balas Zaylin, berjongkok pelan di bantu Abimanyu.
"Mommy, aku kangen. Terima kasih sudah kasih aku ki-ss di rumah sakit. Aku akan jadi Abang kan? adek di perut Mommy juga adikku," tanya Atthar dengan sorot mata berbinar.
"Atthar mau jadi Abang? boleh ... jadi anak baik ya, jangan lagi nangis sambil berteriak, Abang punya mulut dan bisa bicara, bilang apa yang Abang mau sama Ibu guru, Oke?" nasihat sang guru untuk pangeran Achazia.
Atthar mengangguk cepat. "Oke. Aku boleh main ke rumah Mommy kan?"
"Boleh," kali ini Abimanyu yang menjawab. Bukan tanpa alasan, ini adalah balas budi untuk Liam. Atthar butuh sosok yang baik hingga dia mandiri nanti atau mempunyai calon ibu baru meski Liam telah menyatakan enggan menikah kembali.
"Thanks ya. Aku tenang jika keluar negeri dalam waktu lama. Atthar dengan kalian," ujar Liam menghampiri mereka.
"Lu pikir, keluarga gue tempat titipan anak? masuk gih, biarin mereka," ujar Juna menarik Liam masuk. Meninggalkan ketiganya di sana.
"Bumil makin cantik aja ya, Jun."
"Sh-ittttt, ada Abim. Lu cari mati," kesal Juna melayangkan pukulan di lengan sang sahabat, sementara Liam tertawa renyah.
.
.
...__________________...
...Selesai 🥰...