
Pencarian Alexa dan Abimanyu masih terus dilakukan. Kedua kubu tak sejalan kini namun mereka pernah bertemu di satu titik keesokan harinya.
Roger melacak sang wanita tengah berada di sebuah pemukiman warga lokal yang di jaga ketat oleh penguasa perbatasan. Langkahnya tak bisa dijegal, Alexa berhasil di amankan.
Lelaki berpengaruh itu meluapkan kekesalan pada sang istri lantaran berkali menghianati dirinya. Dia membawa Alexa kembali ke mansion ditengah hutan.
"Kenapa?" tanya Roger pilu seraya menatap dalam manik mata pujaan hati.
"Karena aku lelah denganmu. Aku tak pernah mencintai dirimu, Roger. Kamu hanya ku jadikan alat untuk mencapai angan dan segala yang ku inginkan," ucap Alexa tak kalah sendu.
Wanita itu menangis, dia tahu telah sangat melukai seseorang yang sudah banyak berkorban untuknya. Cinta Roger memang tulus namun keposesifan dirinya membuat sang wanita ciptaan manusia itu jengah.
Alexa memang bagai ratu, sempurna tapi siapa nyana, hatinya kosong setelah mencapai apa yang diidamkan banyak kaum sepertinya.
"Jadi kau mau bagaimana? pisah denganku?" ujar sang mafia, masih lembut menanyakan perihal hati wanita itu kini.
"Aku ingin dengan dia, jikalau pun aku mati dan harus bertaubat suatu hari nanti. Aku tetap ingin bersamanya. Menjalani detik kematian didepannya," isak Alexa.
"Apa tidak ada yang membekas dariku? selain uang dan isi dunia, Alexa?" tanya pimpinan bisnis lintas negara, menghampiri sang wanita yang jatuh terduduk di lantai.
Alexa, menatap sendu wajah suaminya. Orang paling berjasa namun tetap ia ingkari bahkan keberadaanya tak mampu mengisi kekosongan hati nan pedih. Ada sekelumit bahagia, namun berujung kegelisahan.
"Aku berterima kasih padamu," lirih Alexa. Dia kini pasrah bilamana harus berakhir di tangan sang penguasa.
Sorot mata kerinduan Roger terpancar, air matanya luruh membasahi pipi lelaki bagai singa bila berhadapan dengan musuh. Namun kali ini, hatinya hancur, dia mengakui kelemahan dihadapan wanita yang dia cinta meski tak sepenuhnya dikatakan normal.
"Love you, Sayang. Kamu tahu kan, aku tulus mencintaimu?"
Alexa mengangguk, tak jua surut air mata melihat Roger terluka. "A-aku tahu. Terima kasih banyak," balasnya masih menunduk.
Roger lalu meraih wajah cantik itu, menghapus jejak bulir air mata dengan kedua ibu jarinya. Perlahan, dia mendekatkan wajah lalu memagut sesuatu yang sangat ingin dia lakukan.
"So sorry. Ini terlalu sakit, untukku. Sorry, Baby," bisiknya seraya menangis di telinga Alexa.
Slutt. Slutt.
Tubuh seksi itu perlahan rubuh dalam dekapan Roger setelah dua peluru menembus jantungnya dari jarak dekat. Sang mafia meletakkan senjata yang baru dia gunakan, lalu menarik Alexa, memposisikan agar menghadap wajahnya.
"Maaf," isak Roger lagi.
Alexa hanya tersenyum, samar mengangguk dalam dekapan. Dia menyongsong akhir hidupnya tetap dalam pelukan Roger, masih berstatus sebagai istrinya.
"Baby, Sorry."
Roger merintih pilu, wajahnya bersimbah air mata, mendekap tubuh nan lunglai saat kelopak cantik itu tertutup sempurna, dengan darah yang mulai menggenang.
"Aku gak mau, kamu pergi. Aku gak bisa lihat kamu dengan pria lain dan lebih baik seperti ini, kamu tetap milikku. Ingin memaafkan seperti yang telah lalu namun ini terlalu sakit, Alexa."
Bos mafia itu menegarkan diri, dia lalu meletakkan jasad sang wanita begitu saja di atas lantai. Sebelum bangkit, Roger masih menciumi mesra wajah istri cantiknya itu.
"Love you, Sayang."
Lelaki tegap itu lalu keluar ruangan. Menaiki puluhan tangga untuk mencapai atap dan mulai masuk ke heli yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta.
Bom.
Kepulan asap hitam disertai suara ledakan membumbung tinggi. Roger tak melihat ke belakang, dia tengah sibuk menghalau laju air mata yang hendak merangsek keluar.
"Abimanyu akan memiliki putra. Kamu tak ku izinkan merusak kebahagiaan mereka. Toh, semua ini dimulai darimu," gumam sang mafia, memejamkan mata kala heli kian menjauh.
"Maaf meninggalkanmu sendiri dan begitu jauh, Alexa. Agar kau tahu, bahwa aku juga merasa seperti itu. Bye honey, sampai jumpa lagi," batin Roger evoque.
...***...
Abimanyu masih berjibaku dengan usaha pelariannya. Hutan itu mulai nampak renggang, tanda ujung ke rimbunan akan berakhir di pemukiman warga.
Tenaganya hampir terkuras habis, kakinya mulai terasa sakit. Cedera dahulu sepertinya akan kembali mendera. Abim terus berusaha melangkah meski tertatih dan pelan. Bermodal tongkat dia menuruni undakan tanah bersemak.
Menjelang petang, dirinya kembali menyiapkan perlindungan diri. Saat menemui sumber air, lelaki yang tak bisa mengacuhkan kebersihan tubuh itu pun sempat mandi membersihkannya tubuh, hingga keringat nan lengket sirna darinya.
"Ay, sedikit lagi," gumam sang pria, bila teringat istri dan calon anaknya entah mengapa air mata lelaki itu kian deras menetes.
Bila Abimanyu bersiap membuat tempat berteduh diatas pohon. Lain hal dengan Juna. Dion menyewa polisi hutan juga warga lokal untuk menyisir area perbatasan.
Pencarian mereka dihentikan kala malam menjelang sebab kondisi hutan hujan nan rawan gempuran babi hutan juga binatang nocturnal lainnya yang dapat mengancam nyawa apabila habitatnya terusik.
"Darimana pun, pasti akan berujung ke sini. Lebar muka hutan terbentang kisaran dua kilometer. Personil yang Anda sewa, akan di tempatkan merata, mereka dibekali peralatan mumpuni dan insting, sebab sudah menjadi keahlian alami penduduk lokal," tutur sang penjaga kawasan.
Arjuna berharap cemas akan nasib sang kakak. Jantungnya berdegup kencang menanti fajar menyingsing. Kabar dari walkie talkie tak bisa putra Iriana abaikan. Dia terjaga sepanjang malam.
Hampir satu pekan kakaknya lenyap di antah berantah. Dia hanya ingin kembali dengan membawa lelaki itu bersama.
Dalam gelisah, ponsel Juna berdering. "Ya Bu. Semoga dapat ketemu," ujar sang anak.
"Zaylin mual parah. Dia harus di infus sebab gak bisa menelan makanan. Tadi pulang dari rumah sakit check up, kondisi bayinya sehat tapi Ibunya lemah. Jika kondisi terus begini, resiko bagi keduanya. Jun, lekas bawa Abim pulang," isak Iriana tak kuasa menahan tangis kali ini.
"Doakan ya Bu, ini menunggu pagi. Semoga ketemu. Kalau gak, kita maksa masuk hutan," ujar Juna mencoba menenangkan sang Bunda.
Iriana mengangguki ucapan putra bungsunya. Tak lama panggilan berakhir saat Zaylin terlihat terjaga. "Bu."
"Ya, Lin. Haus atau mau makan?"
"Mas Abim, kedinginan. Dia bilang rindu aku," lirihnya masih memejam.
"Lin," panggil Iriana, seraya menghampiri ke sisi ranjang. "Loh, tidur? tadi ngigau?" Mertua Zaylin lalu meraba kening menantunya, khawatir terjadi demam namun kecemasan itu tak terjadi. Zaylin hanya lemah.
"Kak, anakmu rewel. Waktu ada kamu, Zaylin gak ngalamin mual parah sampai begini. Lekas kembali ya, entah mengapa, Ibu yakin kamu akan selamat," lirih Iriana, sambil memandang wajah menantunya.
.
.
...__________________...