
Tepat minggu malam, pasangan Yasa kembali ke kediaman sang Bunda. Kebetulan keluarga intinya lengkap, ada Juna juga Rizkia disana saat mereka tiba.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Bim, Ay udah puas mojoknya? sampai lupa pulang," kata Iriana kala melihat anak mantunya menyalami dia di ruang tamu.
Abimanyu tersenyum simpul mendengar sang Ibu menggodanya sementara Zaylin hanya menunduk malu, terlebih ada orang lain dalam ruangan itu.
"Belum tapi kan Zaylin kerja besok, juga ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada Ibu," jawab Abim seraya berlalu, mengabaikan kehadiran Rizkia.
Zaylin yang tak enak hati melihat sikap acuh suaminya, berusaha menutupi dengan menyapa sang Nona. "Halo, salam kenal, saya Zaylin," ucapnya untuk Rizkia setelah dia salim dan duduk di samping Ibu lalu menjulurkan tangan untuk berjabat.
"Hai, Kak. Maaf ya gak hadir ke Bandung sebab pekerjaanku gak bisa ditinggal," sahut Rizkia, menyambut uluran tangan Zaylin.
"Doanya yang penting, lagipula jauh ... oh iya Bu, Mas Abim mau bicara kayaknya sama Ibu di dalam," ujar Zaylin untuk Rizkia lalu berbisik pada Iriana.
"Iyakah?" tanya sang mertua wanita, lalu dia bangkit.
"Kia, Ay, Ibu kedalam ya. Kalian ngobrol dulu," ujar wanita ayu, meninggalkan menantu juga kekasih Juna di ruang tamu.
Saat Iriana masuk, kedua putranya telah siap menanti di ruang keluarga. Setelah Ibundanya duduk, Abimanyu lantas menceritakan hal yang harus dia sampaikan berkaitan dengan permintaan Gilmot.
Waktu berjalan hampir dua puluh menit kala sang putra sulung sedikit demi sedikit menjelaskan keinginan keduanya apabila Iriana menerima lamaran pria yang notabene sahabat dekat ayah mereka.
"Sekarang gimana keputusan Ibu, kita dengarkan," tanya Abim diangguki oleh Juna.
Wanita paruh baya nan masih sangat terlihat cantik sebab menjaga penampilan, memandang satu per satu wajah putranya. Seakan waktu bergulir cepat, baru kemarin ia melahirkan mereka namun kini dirinya mulai terlihat renta dan memasuki usia senja.
Iriana menghela nafas. "Bim, Jun, memang ikhlas jika Ibu menikah lagi? rasanya kok enggan ya," ragunya tercipta.
"Ya kalau Ibu memang butuh teman ngobrol untuk segala hal, kita Ok aja kok. Cuma satu syaratnya, gak usah punya anak lagi," tegas Juna.
"Juga, mungkin aku gak selamanya tinggal dengan Ibu meski saat ini ku akui belum memiliki rumah. Hanya saja, masa itu akan tiba. Nah Ibu nanti gimana?" cemas sang bungsu lagi.
"Ya nanti saja, dipikirkan kalau kamu jadi pindah. Gak sekarang," sanggah Iriana.
"Meski aku dan Aylin akan tetap menjaga Ibu, nginep disini atau nanti gantian dengan Juna namun tetap saja pasti Ibu memiliki ruang kosong setelah ayah tiada bukan? jadi semua aku serahkan pada Ibu," tegas Abimanyu.
Iriana menundukkan kepala, teringat kisah kasih dengan Ibrahim. Dia mengetahui Gilmot menaruh suka setelah dirinya menerima pernyataan cinta Ibrahim Yasa.
"Bu, gak naksir sama Om Gilmot? cakep loh, mana proporsional pula kan meski seumuran Ibu," goda Juna, mengerti hati ibunya meragu.
"Ya gak bisa dilihat cuma dari sisi itu. Dulu ya, dulu sekali, sebelum Ibu kenal dengan ayah kalian. Gilmot lah yang mengenalkan kami. Ibu pikir, dia gak suka sama Ibu jadi akhirnya ayah kalian juaranya," kekeh Iriana mengenang kejadian silam.
"Jadi sekarang masih cinta gak Bu?" cecar Abim baru mengetahui kisah mereka.
Abimanyu melirik Juna, mungkin rasa itu masih ada namun ibu tepis sebab usia yang tak lagi muda. Namun kedua putranya ingin sang Bunda juga bahagia di usia senja.
Obrolan antara Ibu dan anak akhirnya berakhir dengan memberikan semua keputusan mutlak pada sang Bunda. Abimanyu juga menegaskan bahwa Gilmot menunggu waktu dua hari sejak saat ini berkaitan dengan jawaban Iriana terhadap lamarannya.
Sementara di ruang tamu.
Zaylin mendapatkan fakta bahwa ternyata Abimanyu pernah hampir menikah dengan Graciella Ardian sebelum wanita itu selingkuh dengan Arjuna. Rizkia menuturkan segala kebenaran penyebab Abimanyu begitu frustasi hingga terjerembab ke lembah nista, "Karena Grace mengatakan telah tidur dengan pacarku," ujar gadis itu murung.
"Namun Arjuna membantahnya hingga pertengkaran hebat antara adik kakak terjadi. Abim pergi ke club malam itu hingga mabuk begitu pula Juna entah kemana. Grace tetap mempertahankan Juna dan keduanya mengaku saling cinta hingga lambat laun pacarku kecanduan alkohol sebab rasa bersalah telah melukai sang kakak," sambung sang mahasiswa jurusan bisnis.
"Juna lalu mengenalku dalam sebuah pameran seni. Setelah beberapa kali jumpa, dia kala itu langsung jujur mengutarakan rasa suka, bercerita masa lalu sekaligus memintaku membantu keluar dari bayang wanita yang juga sempat membuatnya menjadi pecandu alkohol," ungkap Rizkia, ada kalanya mimik wajah ayu itu bahagia namun tak jarang kesedihan pun hinggap.
"Ya ampun, adik kakak dibuat rusak. Suamiku pelarian pada Alexander dan Juna dibuat demikian," lirih Zaylin tak habis pikir.
"Sebelum Mas Abim hilang, hubungan keduanya buruk Kak. Tidak saling bertegur sapa bahkan bagai musuh, sebab Ibu sakit parah yang membuat Abim sedikit luluh pada pacarku," isak Rizkia muncul.
"Kamu hebat, mengetahui semuanya meskipun status hanya orang luar sebab rasa percaya Juna terhadapmu ya, Kia. Dan tetap bertahan dengan adik suamiku, makasih ya Kia," ujar Zaylin kagum pada calon adik iparnya, mampu membawa Arjuna menjadi lebih baik.
"Makanya Kak, Juna gak mau lepasin aku sebab menurut pengakuannya dia lepas dari bayang Grace karena kehadiran aku, begitupun Mas Abim kan? Grace itu sangat pintar, mantan suaminya meninggal mendadak makanya dia balik ke Indo. Juna cerita sama aku, dia ketemu di club beberapa hari lalu dan melihat Grace dengan kawan dekatnya yang pengusaha resort, tapi gak yakin sih," tutur Rizkia, tak kalah berbisik.
"Iya, Juna bodoh jika melepaskan kamu ... pengusaha resort? siapa?" Zaylin menduga sesuatu.
"Sakhair. Jangan bilang-bilang ya Kak. Aku cuma gak mau Graciella mengusik Mas Abim lagi, ini pun sedang Juna pastikan kebenarannya alasan di balik dia kembali. Makanya aku diminta main ke sini, buat bujuk Ibu agar segera melakukan lamaran untukku," pungkas sang gadis.
"Ehhwemm," suara Abimanyu, memecah keintiman antara dua wanita.
"Mas. Ngagetin aja," tegur Zaylin terkejut.
"Kia, gak usah jejelin Aylin hal macam-macam ya, awas aja kamu," ancam Abim pada gadis cilik itu.
"Gak usah ancam pacarku Kak, urus saja Zaylin tuh, awasi agar tak selingkuh," balas Juna seraya menggamit jemari Rizkia untuk meninggalkan kediaman.
"Bu, aku antar Kia balik ya," seru Juna saat mencapai ambang pintu.
"Kak, Graciella dekat dengan Mr. Andre, klien ku juga diduga pacar Liam, sahabatku meski yang akhir, aku belum begitu yakin. Jika dia masih menyimpan cinta padamu, bukan gak mungkin si Liam dia tinggalkan. Kadang otak Graciella tak bisa ditebak kala mendekati seorang pria, bisa jadi karena harta atau karena rupa bahkan kepuasan," tandas sang adik, meninggalkan pasangan Yasa.
.
.
..._____________________...