ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 17. SAH



Hotel, Pangandaran.


Keluarga Yasa menyewa kamar hotel untuk mereka menginap sembari menunggu acara akad nikah tiga hari lagi.


Iriana memutuskan satu kamar dengan kedua putranya sedangkan ipar dan sahabat sang suami diberikan ruangan masing-masing oleh Abim.


Dua orang pria tampan duduk di sofa tengah ruangan sibuk menghubungi EO yang dia sewa untuk membantu prosesi sakral di kediaman Zaylin. Termasuk menghias bingkisan.


"Kak, maharnya apa?" tanya Ibu.


Abimanyu lupa, dia lalu bangkit mengambil sesuatu di saku kemeja batik yang ia kenakan tadi.


Lelaki yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek itu kembali duduk di sofa, bersebelahan dengan Iriana. Dia lalu membuka lipatan kertas yang Zaylin berikan.


"Maharnya uang secukupnya untuk ia gunakan sebagai sedekah di panti asuhan yang letaknya tak jauh dari kediaman," Abimanyu menyimpulkan.


"Mana Ibu lihat ... Mas, aku menerima berapapun atau apapun mahar yang akan diberikan, asalkan bernilai sebab aku berniat langsung melepaskan hakku untuk saudara yang kurang beruntung disekitar kediaman Abah," ucap Iriana membaca tulisan Zaylin disana.


Ibu kedua pria tampan itu tersenyum pada sang putra sulung. "Ibu dapat jackpot. Kak, mau mahar apa jadi?"


"Aamiin. Uang saja Bu, biar bisa langsung Aylin serahkan nanti," jawab Abim.


"Berapa Kak? sekalian aku mau tarik tunai. Juga ketemu EO dibawah," ujar Arjuna bersiap turun ke lobby.


"Ambil dari sini. Dua puluh, dan tolong belikan ini," Abimanyu menyerahkan satu kartu silver miliknya.


"Loh masih ada uang disini? bukannya digasak ya?"


"Yang di gasak CC platinum. Uangku yang disitu aman, sebab tidak menarik, cuma silver," kekeh Abimanyu.


"Pinter juga," Juna tertawa renyah. Dia membawa daftar barang yang akan dibeli.


"Kak, kamu yang harusnya belikan semua keperluan istrimu, bukan Juna," tegur Ibu.


"Itu bukan benda pribadi. Hanya pesan parcel buah, kue untuk hari H juga set perhiasan yang sudah aku pesan, Juna tinggal ambil Bu," terang Abimanyu.


"Aylin gak mau bawa banyak barang, jadi aku memilih yang ringkas saja. Disana kan cuma syukuran, uang dapur sudah aku transfer ke dia ... dua hari setelah ini, Nyai minta syukuran di pondok untuk para sahabat Aylin, juga semuanya telah rampung. Ibu jangan kuatir," tutur Abim menenangkan sang Bunda.


"Ya Allah, kamu semua. Biar Ibu yang atur saat resepsi di Jakarta ya nanti," Iriana cemas, Abimanyu banyak pengeluaran setelah kasus yang menimpa. Tentulah tabungannya menipis, dia khawatir akan kondisi keuangan sang putra setelah menikah.


"Allah menjamin rezeki sebab menikah, Bu. Jangan khawatir, cafe dan distro ku masih jalan semua kok, aku masih punya satu mobil juga rumah yang layak bagi Aylin nanti," Abimanyu kembali menepuk telapak tangan ibunya.


"Doakan kami, jangan putus. Ya Bu," pintanya seraya merebahkan kepala diatas kedua paha sang Bunda.


"In sya Allah, sehat ya Kak. Lekas diberi kebahagiaan dan di titipin amanah," doa Iriana meluncur.


"Aamiin. Kalau urusan itu, gimana Aylin saja. Dia ku izinkan bekerja jika pindah ke Jakarta selama masih belum ada kesibukan berarti," balas Abimanyu.


Obrolan ibu dan anak membahas persiapan pernikahan nyatanya membuat Iriana kembali mengenali sisi manja sang putra.


...***...


Tiga hari kemudian.


Tepat pukul sepuluh pagi rombongan keluarga Abimayu bertolak ke kediaman mempelai wanita untuk melangsungkan akad nikah.


Pasangan ulama yang menolong Abimanyu, sekaligus perantara keduanya bertemu hingga ikrar hari ini pun datang, bergabung bersama rombongan mempelai pria.


"Siap lahir bathin, Nak Abim?" tanya Yai Bashir saat keduanya turun dari mobil.


"In sya Allah, Yai. Bismillah," ujar Abimanyu mantap.


Meski busana yang dikenakan manten pria nampak biasa, namun sebab kesederhanaan itu membuat kharisma Abimanyu kian menguar.


Putra sulung Ibrahim ingin menghormati gurunya, sehingga yang dia kenakan saat ini hanya sarung putih, dipadu kemeja warna senada, dan jas hitam melengkapi tampilan maskulin Abimanyu Yasa.


Betul-betul bagai putra seorang tokoh agama, entah karena kharisma Yai atau pesona sang manten itu sendiri. Runutan acara pun dimulai dengan adat mapag panganten.


Hatinya berdegup kencang kala mulai berjabat tangan dengan wali hakim dan harus menjawab lafal ijab dalam bahasa Sunda.


"Tarima abdi nikah jeung kawinna Zaylin Huzefa bintu Zulkarnaen, ku mas kawin nu disebatkeun tadi dibayar kontan."


"Bagaimana, saksi?"


"Sah. Sah. Sah."


"Alhamdulillah." Hadirin mengucap doa di pimpin oleh Yai Bashir.


Iriana yang duduk bersama Nyai Bashir, meneteskan air mata haru menyaksikan putra sulungnya melepas masa lajang nan suram.


"Kuat ya, ikhlas dan doakan Nak Abim selalu. Doa Ibu in sya Allah mustajab, ingatkan keduanya apabila terselip khilaf," Nyai berbisik seraya menepuk kepalan tangan Iriana di pangkuan.


Wanita paruh baya yang masih sangat ayu itu tertunduk, mengangguk pelan berusaha menghalau laju air mata. Dia bukan sedih namun terlampau bahagia.


Tiba saatnya Abimanyu menyerahkan mahar pada sang istri yang berada di dalam kamar. Zahid membawa mempelai pria masuk menemui Zaylin.


Didalam kamar, wanita ayu itu hanya sendiri. Wajahnya menunduk, bulir bening nampak membasahi tisu yang ia genggam.


"Kalian bicaralah," ucap Abah meninggalkan keduanya.


Abimayu merasa canggung, ini kali pertama dia hanya berdua dengan seorang wanita dalam satu ruangan setelah berbulan lamanya belajar menahan nafsu juga pandangan.


Dia memilih berjongkok, menyetarakan posisi sebab Zaylin duduk di sisi ranjang. Jemarinya menyeka jejak tangis diwajah ayu. "Lihat aku, Ay," pintanya lembut, seraya menggenggam telapak tangan sang istri.


Gadis dalam balutan kebaya warna putih memberanikan diri menatap manik mata suaminya.


"Bagi semua rasa yang kamu punya denganku, Ok?"


Zaylin mengangguk samar. "In sya Allah."


Lelaki keturunan Marinir itu lalu mengusap wajah, membelai lembut ubun-ubun sang istri dan membacakan doa kebaikan untuknya.


"Aamiin," lirih Zaylin, dia nampak ragu ketika ingin meraih telapak tangan Abim untuk diciumnya.


"Bismillah." Satu kecupan mendarat di bibir tipis wanita yang baru saja sah dia nikahi.


Zaylin terkejut, dia menepuk bahu Abim kencang. "Mas!"


"Apa? milikku kan?" ujarnya seraya tersenyum simpul melihat wajah istrinya merona.


"Ini hak kamu, Sayang. Mau langsung diberikan atau besok sama-sama kesana?" tanya Abimanyu, menyerahkan kotak mahar di pangkuan Aylin.


"Besok, sama Mas kesananya." Wanita ayu lalu meminta telapak tangan suaminya untuk dia kecup takzim.


Percakapan ringan pasangan pengantin baru di jeda oleh Bu Syaida yang meminta mereka keluar kamar untuk menerima ucapan serta doa dari hadirin.


"Langgeng ya Kak, bahagia dan sehat terus sama Aylin. Jadi pemimpin keluarga yang bijak, welas asih juga semangat menjemput rizki nan thoyyib," Doa Iriana saat Abimanyu memeluknya.


"Sabar dengan Mas ya Neng. Teguh disisinya selalu," pesannya untuk sang menantu.


Suasana haru kentara saat Zaylin memeluk Zahid. Tangis keduanya sanggup membuat trenyuh semua yang hadir siang itu.


"Aylin sayang Abah. Makasih banyak Abah sudah rawat dan jaga Aylin hingga saat ini, sehat selalu ya Abah, doakan kami," bisik Zaylin dalam pelukan sang paman.


Zahid tak dapat berkata, hanya isakan disertai suara parau yang keluar dari bibirnya.


"Tugasku selesai, Kang. Putrimu sudah menemukan belahan jiwanya. Aku menyusul kalian, boleh kan?"


.


.


...______________________...