
"Apa syaratnya, Ay?" sahut Abim ragu.
"Tolong disebutkan, syarat untuk Nak Abimanyu, Neng," lanjut ketua RW.
Hening.
Sunyi.
"Sederhana kok. Macam syarat yang diajukan Dedek Lesty," canda Zaylin.
Semua hadirin tertawa mendengar penuturan calon pengantin wanita.
"Yang serius, Neng. Mangga, sebutkan," tukas pak RW lagi.
"Bismillah, aku hanya ingin dilibatkan secara penuh terhadap pengambilan keputusan apapun. Meski hasil akhir tidak mutlak atas kesepakatan kami nanti, tapi inginku agar beliau urun saran padaku lebih dulu," ungkap Zaylin, menegaskan keinginannya.
Kali ini tokoh masyarakat itu beralih pandang pada Abimanyu. "Bagaimana, Nak Abim? sanggup dan setuju?"
"In sya Allah, setuju dan sanggup." Abimanyu lugas menjawab permintaan Zaylin.
Sesi selanjutnya mengarah pada keputusan inti. Kakak Ibrahim Yasa mengajukan tanggal akad nikah agar dilangsungkan tiga hari dari sekarang pada keluarga wanita.
Zaylin sudah menduga hal ini, dia menghela nafas kasar hingga membuat Zahid Huzema menoleh ke arahnya.
Lelaki paruh baya pun meminta izin untuk bicara berdua dengan sang kemenakan di kamar.
"Neng, sini bicara dulu."
Zaylin pun bangkit, mengikuti sang paman menuju lamanya.
Tamu undangan dipersilakan mencicipi suguhan khas desa tepi pantai seraya menanti keputusan walimah.
Didalam kamar.
"Kamu sudah yakin sama Nak Abim, Neng?" tanya Zahid lembut.
Zaylin perlahan mengangguk. "In sya Allah. Nyai bilang, dia pria baik. Aku lihat juga begitu. Abah, doakan Aylin ya," ucapnya mulai parau.
Zahid mengusap kepala sang keponakan. Hatinya gerimis, menyadari waktu berlalu sangat cepat. Ada rasa sedih menyelinap kalbu. Terselip rasa tidak rela bahwa keluarga satu-satunya akan terberai kembali.
"Iya, tentu. In sya Allah."
"Abah, ikut Aylin ya. Mas Abim bilang setuju bila Abah ikut," isak Zaylin kian jelas.
Zahid hanya diam. Dia masih setia berdiri di samping Zaylin. Wajahnya menengadah keatas berusaha menghalau pedih sebab netra yang mulai membasah. Jangan sampai bulir bening turun hingga membuat keponakan kesayangan urung melangkah menuju bahtera hidup baru sebab merasa berat hati meninggalkan lelaki tua seorang diri.
"A-abah."
"Bismillah, Abah ridho sama Aylin. Ja-ngan berat karena Abah. Disini ban-yak te-tangga bagai sau-dara yang bantu, Abah gak kesepi-an in sya Allah. Banyak hal dapat dilakukan le-laki tua ini, Neng," ucapnya susah payah, terbata.
Zaylin memeluk erat sang paman. Berkat tangan dinginnya lah dia masih hidup, mengenyam pendidikan layak juga tak kekurangan kasih sayang meski bukan dari orang tua kandung.
Kilasan peristiwa kelam belasan tahun silam, kembali merangsek dalam ingatan. Pencarian keluarga yang terberai akibat bencana hingga berujung pada pelukan keduanya, bagai hari ini.
"Aylin sa-yyaa-nng A-ab-aah."
"Aylin sa-yyaa-nng A-ab-aah."
Isakan Zaylin kian terdengar, suara paraunya membuat degup jantung Zahid bergetar hebat. Dadanya sesak tak lagi kuasa menahan gejolak kesedihan.
Air mata itu ikut luruh seiring pelukan yang dia berikan untuk sang keponakan.
Tangan keriput itu menyeka jejak bulir air mata dari wajah cantik gadis ayu berusia matang di hadapan. "Jangan nangis. Kan masih bisa main kesini nanti dengan suamimu. Doakan Abah panjang umur ya biar bisa lihat cucu," ujar Zahid memaksakan wajah senja itu tersenyum.
Bukannya surut, air mata justru kian deras mengalir membasahi wajah Zaylin hingga tetesan bening nan terasa asin itu jatuh luruh mengenai hijab yang dia kenakan.
"Abah ikut kami," lagi permintaan disertai isakan masih berusaha membujuk sang Paman.
"Sudah, jangan begitu. Gak baik. Rumah tangga mu harus bersih dari campur tangan orang tua, Neng. Abah takut gak bisa bersikap adil bilamana tahu isi biduk bahtera kalian," tegas Zahid lagi.
"Jadi gimana? diterima? tiga hari lagi walimah? mereka dari jauh, jangan sampai menyulitkan proses menikah," tandasnya.
Zaylin menyeka wajah dengan punggung tangan. Meraih tisu dari atas meja untuk menghalau cairan bening yang turun dari hidungnya.
"In sya Allah. Mas Abim gak mau lama-lama sebab masih ada urusan yang harus diselesaikan tapi ingin aku ikut dengannya," jawab Zaylin.
"Alhamdulilah. Dia lelaki baik, hanya khilaf saja. Jangan ungkit ya Neng, sembuhkan dan ajak ke jalan lurus kembali. Semua manusia itu tempatnya salah tapi Allah memberi kita kesempatan untuk memperbaiki bahkan sekelas Fir'aun sekalipun, bilamana malaikat Jibril tak menyumpal mulutnya dengan tanah, mungkin raja dzolim nan lalim itu juga akan bertaubat," pesan Zahid untuk Zaylin.
Gadis ayu itu mengangguk. Dia tahu betul aib calon suaminya. Bahkan akan menemani Abimanyu terapi hingga betul-betul sembuh. Terlebih dia juga kini melihat gurat cinta pada tatapan matanya.
Pasangan keponakan dan paman itu akhirnya keluar kamar setelah beberapa menit bertukar sedih dan keputusan. Keduanya bergabung kembali dengan para tamu melanjutkan pembahasan yang tertunda mengenai tanggal penetapan akad nikah.
Ketua RW menanyakan hasil akhir pada Zahid. "Bagaimana Kang?"
"Alhamdulillah, Neng Aylin setuju akad nikah dilangsungkan tiga hari kedepan. Untuk mahar silakan tanya langsung padanya," tutur Zahid lagi.
"Alhamdulillah." Suara hadirin mengucap syukur.
Ketika Zaylin ditanya tentang mahar. Dia menyerahkan secarik kertas dan berpesan agar Abimanyu membukanya jika telah tiba di Hotel tempat mereka menginap.
Perbincangan pun berlanjut hingga satu jam kedepan, rombongan Abimanyu pamit undur diri untuk melakukan persiapan jelang walimah.
...***...
Singapore.
Seseorang tengah berdiri di depan jendela besar sebuah kamar dalam hunian mewah. Pandangannya jauh menelisik angkasa. Sekelebat ingatan yang dia anggap manis kembali berpendar menari di retina dengan kontak lens abu-abu.
Tangannya membakar lintingan tembakau yang lama tak ia hisap. Hari ini laporan dari anak buahnya tentang sosok yang setengah mati dia cari membawa kabar bahagia sekaligus menyesakkan dada.
Semudah itukah dia lupa? batinnya. Asap putih perlahan mengepul tanda batangan coklat ditangan siap untuk di hisap dalam. Dia menarik nafas lalu menghembuskan perlahan dari bibir nan sensual pemilik tubuh tinggi semampai.
"Abim, ternyata masih hidup. Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Apakah kau masih ingat denganku? malam kita? menikahi gadis, benarkah itu berasal dari hatimu atau hanya sebagai pelarian mu saja? seperti saat kau bersamaku?"
"Jika kau ingin semua harta yang ku rampas kembali, maukah kau menemuiku lagi? atau bagaimana bila aku berkunjung sekedar mengucapkan selamat di pernikahanmu nanti?"
"Abimanyu Yasa. Pesonamu memang tiada terkira, bahkan aku masih mendamba mu sesekali."
Hembusan nafas disertai deru aroma kuat cigarette menusuk penciuman, hampir memenuhi ruangan bilamana jendela lebar itu tak dia buka.
"Hatiku ternyata masih merasa sesak meninggalkanmu demi dia. Abimanyu Yasa, akankah wanita itu bersedia meninggalkan dirimu bila tahu kisah kita?"
Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk smirk menyebalkan. Sebuah rencana terlintas dalam benak piciknya.
.
.
...____________________...