ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 47. DITEMUKAN



Keesokan pagi.


Hujan menyertai pencarian setelah matahari menyingsing. Orang sewaan Dion mulai menyusuri perbukitan, daerah bersemak, secara bersama-sama. Bahkan Liam mengirimkan dua agent khusus dari kepolisian setempat dengan membawa anjing pelacak. Nampaknya sang pemilik resort tidak main-main dalam membalas budi baik Juna serta Zaylin.


Menjelang siang.


Abimanyu tak dapat turun dari atas pohon yang dia jadikan tempat berlindung. Tenaganya habis, tampungan embun cukup untuk membasahi kerongkongan yang dahaga. Kakinya cedera, dia merasakan sakit menusuk tulang akibat tidak dapat menghalau dingin dengan benar. Tubuh lemah pun terasa demam, Abim menggigil hebat.


"Ay, maaf ya jika aku tak kembali. Maafkan Ayah gak bisa lihat dan dampingi adek tumbuh hingga besar nanti. Gak bisa azankan saat kamu lahir ke dunia," lirih Abim pilu.


Air matanya meluncur deras. Hanya permohonan doa dipanjatkan tak henti dalam hati seraya berusaha untuk melakukan sholat yang dapat dilaksanakan dalam situasi genting.


Menjelang siang.


Lamat suara gaduh di sertai gonggongan anjing. Kian lama makin jelas, Abimanyu yang memejam berusaha menghalau sakit pun terusik. Badannya lunglai tak lagi mampu melawan jikalau diserang binatang buas, dia pasrah.


"Kaaaakkkk! Abim! kaaaaakkk!" teriakan Juna.


"Ah, halusinasi saja, Bim. Juna mana bisa mencapai sini. Jun, titip Aylin dan anakku ya. Maaf menambah bebanmu lagi," lirih Abimanyu Yasa, masih menatap rimbun dedaunan diatas netranya.


"Disana!" ujar Dion. Dia melihat anjing pemburu dari teropongnya, berhenti disalah satu pohon besar nan rimbun.


Semua personil yang berasa disekitar pun menuju titik lokasi diduga Abimanyu berada. Juna berlari sekuat tenaga seraya berseru. "Kaaaakkkk!"


Abimanyu merasa sekeliling sangat berisik, dia membuka mata dan berusaha menoleh ke bawah, menggeser tubuh lemahnya pelan.


"Juna, ju-na. Junaaaaaa," lirihnya. Dia hanya dapat melambaikan tangan kanannya tak seberapa tinggi namun pandangan adik kakak itu bertemu.


"Abim!" isak Juna haru.


"Bim, hang on. Mereka akan bantu kamu turun, Kaaak." Juna sudah tak sabar, dia melihat kakaknya teramat pucat meski dari kejauhan.


Dion mencapai titik temu bersama warga lokal yang dia sewa. Polisi hutan serta Pribumi berjibaku mencari cara agar dapat membawa Abimanyu keluar dari sana segera. Sementara lainnya kembali ke luar hutan untuk meminta mobil ambulan, juga sebagian membuat tandu darurat.


Satu jam evakuasi dilakukan para pencari Abimanyu. Saat petugas berhasil naik, suami Zaylin mengatakan bahwa kaki kirinya mati rasa. Dia pun meminta agar mereka merangsang syaraf otot kaki tersebut.


Dion khawatir akan kondisi Abim kala perlahan tubuh itu menyentuh tanah. Dipapah Juna, Abim luruh begitu saja. Dia rupanya menyerahkan hidup dan mati dalam genggaman sang adik.


Juna panik. "Kaak! Dion, lekas!" serunya lagi.


Ketegangan dimulai saat tandu yang membawa Abimanyu bergerak keluar hutan. Perjalanan menapaki jengkal demi jengkal tanah basah akhirnya menemui titik terang. Mobil siap membawa sang korban menuju rumah sakit. Selimut tebal membalut tubuh sang pemilik distro itu.


Dalam perjalanan ke klinik darurat, bibir pucat Abimanyu perlahan kembali bersemu. Arjuna lega meski suhu tubuh kakaknya meninggi.


"Mungkin ada cedera dalam, Jun. Kaki Abimanyu pernah retak kan?" tanya Dion.


"Iya, hampir satu tahun lalu. Dia harusnya masih kontrol meski sudah lepas gips. Semoga gak kenapa-kenapa ya," balas sang adik.


Klinik darurat ditempuh dalam masa satu jam. Hari sudah menjelang sore saat Abimanyu tiba di sana dan mendapatkan pertolongan. Juna lega, dia menghela nafas menunggu bersama Dion di depan kamar perawatan.


Nampak orang kepercayaan Liam itu tengah berbicara dengan sang sahabat melalui ponselnya. Juna lalu berterima kasih pada warga lokal, polisi hutan juga beberapa jajaran lainnya. Dion pun mengucapkan hal yang sama kala mereka akan pamit sebab tugas telah rampung.


"Jun, Bos Liam." Dion menyerahkan gawai miliknya kala benda pipih itu berdering kembali.


"Ya Liam. Thanks a lot. Aku gak tau lagi harus bilang apa selain makasih," ujar Juna pada sang sahabat.


"Aku ikut senang. Semoga Abim lekas pulih, meski aku patah hati," kekeh Liam merasa harapannya sirna.


"Si-alan Lu, do'ain abang gue yang buruk. Gue balik setelah Abim pulih, kalau Dion ada misi lagi gak apa kita di sini berdua," ucap Juna kemudian tak enak hati apabila menahan Dion terlalu lama.


Liam tertawa renyah. "Dion nemenin sampai selesai kok sama kalian di sana. Gak pake komersil lagi pulangnya. Aku nitip kalian menumpang ke pesawat teman, jika Abimanyu sudah fit dan boleh dipindahkan, kabari ya," ujar sang pengusaha resort.


Juna mengangguk meski Liam tak melihatnya. "Oke, thanks Buddy, thankyou so much," balas putra Iriana.


"Kak." Juna dan Dion masuk ke kamar perawatan Abimanyu.


"Hai Bim. Aku Dion." Sapa sang pemuda.


"Hai Dion, thanks. Aku padahal sudah pasrah," lirih Abimanyu.


"Pasrah gimana? gak mau liat anakmu? Zaylin sakit, Kak. Kondisinya lemah, lekas sehat agar kita bisa kembali," pinta Juna menatap sendu.


Abimanyu terkejut, dia menghela nafas kasar. "Ponselmu, mana?"


"Ini." Juna lalu menghubungkan panggilan ke nomer Zaylin.


Satu detik. Dua detik. Lima detik.


"Hm, assalamu'alaikum. Ya?" suara Zaylin, sangat lemah.


"Wa'alaikumsalam. Sayang, ubah mode video call ya."


Zaylin terdiam di sana, berusaha mencerna suara yang dia tangkap, namun tidak berani menduga apalagi berharap. "Y-yaa? a-apa?"


Abimanyu tak kalah haru, dia pun menahan sesaknya. "Ay, i-ini a-ku, Sayang."


Air mata Zaylin lolos. "Lagi," isaknya pecah, masih belum berani mengubah mode panggilan.


"Aku, Mas-mu. Ubah mode, Sayang. Ya," pinta Abimanyu lembut.


Zaylin pun mengikuti kemauan suara yang dia rindukan di ujung sana. Kini, nampaklah wajah Abimanyu nan terlihat pucat dengan banyak bekas luka.


"Mas." Bulir bening itu kian deras jatuh membasahi pipi mulus Zaylin. Dia bahkan harus mengerjapkan kelopak mata bulatnya beberapa kali agar pandangan itu lebih tegas.


"H-aai, Sa-yang."


Tiada percakapan yang terjadi, hanya isakan Zaylin yang terdengar. Juna dan Dion memilih meninggalkan Abimanyu agar mereka leluasa.


"Jangan nangis ya, aku baik saja hanya lemah sebab kehabisan tenaga. Terima kasih banyak, doamu Allah dengar, Sayang."


"Aku takut." Zaylin meluapkan kegelisahan.


"Ay, semangat ya. Aku belum bisa pulang dalam waktu dekat. Jaga Adek, titip salam kangen untuknya, sungguh rindu kalian," kali ini Abimanyu tak lagi menahan dorongan berkubik air mata yang mendesak di ujung netra. Dia lemah bila berhubungan dengan Zaylin yang menangis didepannya.


Wanita cantik itu mengangguk. "Iya. Bismillah, semangat lagi," kata Zaylin seraya tersenyum manis meski air mata masih kerap turun dari sudut si mata bulat.


"Do'ain terus ya Sayang, semoga kakiku gak parah jadi bisa lekas pulang. Salam buat Ibu. Nanti kalau ponsel Juna terisi daya lagi, aku call kamu sebelum tidur. Kirim foto Adek terbaru ya, sudah kontrol lagi kan?" tutur Abimanyu beruntun.


"Iya. Nanti dikirim. Mas jaga diri di sana ya, ikuti semua kata dokter, biar lekas sehat dan pulang. Aku kangen," Zaylin masih terisak, dia sibuk menghalau laju derasnya lelehan cairan yang tak kunjung surut.


"Iya Sayang. Aku juga kangen kalian, lowbatt Ay, sambung nanti lagi ya. Assalamu'alaikum," pungkas Abimanyu menutup panggilan saat suara notif habis daya terdengar.


Zaylin meletakkan gawai canggih itu begitu saja, dia menarik selimut, mengusap perutnya yang mulai terlihat menonjol.


"Ayah selamat, Sayang. Ayah bakal bersama kita lagi," isaknya kian jelas.


Iriana mendengar menantunya menangis, tergopoh masih dengan lelehan air wudhu membasahi wajah. "Lin, kenapa? ya Allah, kenapa Nak? Aylin bilang sama Ibu, kenapa?" wanita ayu itu cemas berlebihan, takut terjadi sesuatu dengan menanti dan calon cucunya.


.


.


...______________________...