ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 20. GAGAL



Kamar kost-an mewah bagai tiada pendingin udara kini, hawa panas menguar. Dua raga nampak bergelung di bawah tabir bercorak abstrak di atas ranjang yang mulai acak akibat terjadinya permainan di permukaan pembaringan.


Saat akan terjadi sesuatu yang membuat mereka menyatu, Abimanyu berhenti. "Sa-sayang. Maaf, a-aku gak bisa," ujar pria tampan, perlahan beringsut melepaskan diri dan bergegas masuk ke dalam toilet.


"Haah?"


Zaylin nampak kecewa, sedikit lagi dia akan mencicipi rasa yang biasa di usung para pasangan halal akan nikmatnya surga dunia. Gairah pun menurun drastis, ia menarik selimut seraya mencari baju yang terberai.


Dengan sigap, Zaylin telah berbusana kembali, lalu menjulurkan kaki mulusnya. Tangan ramping itu meraih celana pendek milik Abimanyu yang tak sempat dia bawa tadi.


Tok. Tok.


"Mas."


Hening. Tiada sahutan dari dalam, hanya bunyi gemericik derasnya air shower membentur lantai.


Zaylin setia berdiri didepan bathroom, mengetuk beberapa lama disana.


Tok. Tok. Tok.


"Mas. Mas, tolong buka. Jangan buat aku cemas, Mas," Zaylin mulai panik. Dia meninggalkan muka kamar mandi, mencari kunci cadangan dengan membuka semua laci yang dilihatnya.


"Ketemu." Jemari lentiknya bergetar kala memasukkan lempeng tembaga ke dalam lubang kunci.


Brak.


"Innalillahi, Mas!" Zaylin sigap meraih handuk yang tersampir pada tiang towel dalam bathroom. Membalut tubuh suami yang membelakangi, terduduk di bawah guyuran shower.


"Jangan begini, aku gak apa. Mas," isakan Zaylin terdengar seraya mendekap erat dan berusaha mengajak bangkit Abim.


"Maaf Sayang, maaf."


"Lupakan. Jangan begini, aku gak apa!" ucap Zaylin mengulangi kalimatnya.


"Ayo bangun. Kalau Mas kasihan padaku, bangun!" serunya kepayahan mengangkat tubuh sang suami. Kini dirinya pun telah basah kuyup karena terkena guyuran shower akibat kesusahan menarik Abim.


Abimanyu bangkit, berbalik badan lalu mendekap istrinya ke dalam pelukan di bawah shower cabin.


"Maaf. Aku bodoh, maaf."


"Sudah, sudah ya. Ganti baju, kita bicara. Oke?" Zaylin meraih wajah tampan nan sendu, mengusap lembut pipi Abimanyu agar segera berpakaian.


Wanita ayu perlahan menarik sang suami menjauh dari shower. Mengajaknya keluar kamar mandi.


"Baju Mas, disini ya. Aku mandi dulu," ujar Zaylin masuk ke dalam bathroom setelah menyiapkan keperluan sang suami.


Beberapa menit berikutnya.


Tiada percakapan diantara mereka. Zaylin membuat kopi jahe dan menyuguhkan ke hadapan pria yang masih bergeming duduk di sofa.


"Mas, minum dulu biar hangat," ujar kemenakan Zahid.


Wanita ayu itu lalu meraih telapak kaki Abim, mengoleskan minyak gosok agar tubuh suaminya hangat juga memberi lotion pada tungkai sebab nampak tergores.


"Jangan Sayang, biar," cegah Abim saat mendapat perlakuan manis dari istrinya.


"Izinkan aku melayani semua kebutuhan suamiku. Mas, aku gak akan menyerah!" tegasnya seraya tersenyum manis.


Abimanyu trenyuh, dia mengusap pipi wanita ayu yang tengah duduk bersimpuh di samping kakinya.


"Maaf ya."


"Diulangin terus maafnya. Gak apa, aku akan buat Mas Abim hanya mengingatku. Tubuh ini milikku. Jejak itu kupastikan terhapus dari sini, dan sini apalagi ini," kekeh Zaylin menunjuk pada kepala, dada juga sesuatu yang gagal dia rasa malam ini. (😂)


Kakak Arjuna tersenyum samar. "Aku menunggu," ujarnya membalas ucapan Zaylin.


"Mau sharing, sama aku?" Zaylin beringsut bangkit, mendudukkan dirinya ke pangkuan sang suami.


"Iya, sini Sayang ... jangan marah ya," bisiknya mendekap tubuh seksi dalam pangkuan.


"Hmm, enggak. Paling ngamuk doang," celetuknya seraya terkekeh.


"Urung ah. Aku gak sanggup kalau kamu diamkan, Ay," ucapnya seraya menyandarkan kepala di ceruk leher sang istri.


"Bercanda, Mas. Ayo, cerita," desak Zaylin lagi.


"Tadi tiba-tiba ingat dia, malam itu, hmm Ay, aku melakukannya pertama kali dengan Alexa," ujar Abimanyu.


Degh.


Zaylin membeku. "Benar, pasti masih terbayang."


Hening beberapa detik.


"Sayang, kan diem ... kamu nakutin aku ih, gak jadi ah."


Wanita dalam dekapan tersenyum. "Lanjutkan, aku dengerin Mas," lirihnya mengecup pipi Abimanyu.


"Antara sadar dan tidak. Aku tahu itu salah, jijik tapi rasa yang berbeda hadir karena perlakuan pro kurasa hingga mengaburkan logika. Dia aspri ku dulu. Awalnya kami saling acuh namun karena patah hati sebab calon istriku direbut Juna, membuatku limbung ... hingga melakukan sesuatu yang Allah larang," sesaknya.


"Gimana rasanya, Mas?" Zaylin tertawa.


"Tuhkan, kamu mah," keluh Abim, malu.


"Dih, aku nanya serius," tatapan tajam mata Zaylin menelisik kedalam manik Putra Yasa.


"Entah, lupa. Kan cuma dua kali, Sayang. Satunya karena pengaruh obat si-alan hingga kejadian nahas itu dan ujungnya ketemu kamu," tutur Abimanyu.


"Sekali atau dua kali, tetap saja, haram!"


"Iya, kok bisa ya aku."


"Entah, makanya aku tanya, gimana rasanya? apa berbeda?" gelak Zaylin mengundang reaksi gemas Abimanyu. Dia menggigit pipi istrinya.


"Sakit, Mas, ampun ... sekarang mau coba lagi gak?" tawar Zaylin lagi.


Abimanyu menatap lekat kedalam bola mata indah bagai malam.


"Takut kayak tadi," gumam Abim.


"Pemanasan."


Pemilik Yasa Distro tergelak. "Ku kira istriku polos, nyatanya paham," Abimanyu salah kira.


"Hmm ngeledek. Wanita kelebihan matang seusia ku yang setiap hari bergelut dengan para ibu-ibu muda sedikit banyak tahu teori lah Mas, sisa praktek aja nih," Zaylin ikut tertawa akan kalimatnya.


Lelaki tampan itu mulai rileks, ternyata istrinya mudah diajak bicara bahkan membuat ia lebih ringan menghadapi satu masalah inti aib ini.


"Sayang, kamu bilang memilihku sebab ada yang kau cari dan akan dijelaskan saat telah halal. Nah sekarang, coba utarakan alasanmu dulu," Abim ingat janji Zaylin kala keduanya dipertemukan pertama kali.


"Karena aku butuh sandaran kokoh, yang bisa membelaku, mau sama-sama belajar lebih baik dalam beribadah. Aku kangen Ayah dan kulihat sifat itu ada padamu, Mas. Tanggung jawab pada Ibu, mengalah, juga disiplin," tutur Zaylin menyandarkan kepalanya ke dada Abim.


"Alhamdulillah. Jadi gak? aku nungguin," usilnya mengajak mengulang apa yang terjeda.


Wanita ayu itu menatap wajah tampan suami yang menunduk menghadapnya. Perlahan Zaylin memberanikan diri memulai dan lambat laun merasakan gelenyar aneh sebab sesuatu mulai mengeras di bawah tubuhnya.


Putri Huzama berusaha konsentrasi penuh untuk menghalau bayang Alexa dari benak Abimanyu. "Hanya ada aku, love you Abimanyu Yasa," bisik menantu Iriana sangat lirih, mengemukakan banyak kata mesra, memuja disertai pujian lainnya.


Abim mendapat perlakuan istimewa dari wanita pujaan. Dia pasrah mengikuti semua permainan sang istri, sangat berusaha menjaga otaknya terfokus hanya pada Zaylin.


Wanita ayu menggeser tubuhnya, kali ini kedua insan duduk bertumpu saling berhadapan mengikis jarak. Meski pertama melakukannya bagi Zaylin, akan tetapi dia memberanikan diri. Bukan tanpa alasan wanita ayu yang sejujurnya masih sangat rikuh, berbuat demikian. Dia ingin segera menghapus ingatan durjana itu dalam benak sang suami agar dapat terbebas dari cengkeraman dosa.


Ketika nutfah tertabur nanti, Zaylin berharap mereka telah murni saling menitipkan benih agar keturunan Abimanyu lolos dari jerat lingkaran memori setan.


"Done, untuk malam ini." Zaylin bangkit, melepaskan diri dari dekapan Abim, merapikan dirinya yang sedikit kacau dan bangkit menjauh.


"Loh, Sa-sa-yang. Bagaimana ini?" wajah setengah sadar itu tampak linglung, aksi panas disudahi Zaylin.


"Kita impas," tawa renyah menantu Iriana terdengar menjauh berlari menuju kamar.


"Sayaaang. Jahat ih," kakak sulung Arjuna, tergopoh bangkit, susah payah mengejar sang istri yang masuk kedalam kamar mereka.


.


.


..._____________________...