ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 27. PRADUGA



"Putra Anda menderita kelainan yang berkaitan dengan warna. Aku baru menduga, maaf Tuan Liam. Dari analisa singkat tadi Atthar mengatakan bahwa apel tidak harus merah, langit tak selalu biru dan daun bukan hanya hijau ... Anda dapat mengklarifikasi kalimat Atthar tadi pada Bu Dina," ujar Zaylin menyampaikan tanda yang dia dapatkan.


"Gak mungkin. Anda mengada-ada, Bu Zaylin," Liam gusar, wajahnya pias meski tak mengurangi kadar kemaskulinan.


"Sabar Tuan Liam, Bu Zaylin belum melanjutkan ulasan pendapatnya," cegah Victoria menahan Liam agar tetap tenang.


Zaylin diam menunggu pria pemilik perusahaan Sakhair yang bergerak di bidang pariwisata itu bisa kooperatif kembali.


"Maaf Tuan Liam, seperti yang aku sampaikan di awal tadi bahwa ini hanyalah praduga, analisa sementara sebab sebaris pernyataan. Agar lebih jelasnya dan mungkin Anda membutuhkan bukti konkrit, silakan memeriksa semua hasil mewarnai Atthar langsung dari gurunya," saran Zaylin pada sang wali murid.


"Buta warna parsial, biasanya diturunkan oleh faktor genetik. Jika Anda berkeinginan mengunjungi rumah sakit dan berkonsultasi dengan ahli, mintalah penjelasan detail untuk Atthar," jelas sang guru, istri Abimanyu.


"Dari mana Anda dapat menyimpulkan bahwa putraku buta warna parsial?" cecarnya masih penuh emosi.


Zaylin menghela nafas. "Banyak sumber informasi, Tuan. Buta warna itu bukan berarti penderitanya tiada dapat mengenali warna sama sekali. Yang dialami Atthar kurasa masuk dalam kategori parsial ... mereka rata-rata kesulitan mengenali jenis warna merah, biru, hijau dan kuning."


"Jika Anda perhatikan kalimat keberatan Atthar, maka itu sinkron bukan? dan alasan kenapa putra Anda tantrum juga berkenaan dengan itu," tegas Zaylin lagi.


"Atthar bilang, bahwa dia tidak suka diatur jika mewarnai. Teman juga Ibu guru berpatokan pada hal-hal baku yang seharusnya jika dalam koridor seni, anak dapat bereksplorasi sesuai imajinasi di usia mereka. Tidak serta merta memaksakan stigma bahwa apel harus merah. Langit selalu biru ... apel hijau, oren kan ada, langit hitam, kelabu juga bisa," tandas Zaylin, kali ini dirinya gagal menahan intonasi suara agar tetap lembut. Liam bebal.


Victoria mengerti apa yang disampaikan Zaylin. Beliau memanggil Dina, salah satu guru Atthar agar dapat duduk bersama dan menceritakan keseharian putra Liam dikelas. Terutama memperlihatkan hasil mewarnai si bocah lucu nan tampan.


Hampir satu jam.


Zaylin mulai gelisah, dia tak enak hati pada sang suami yang masih menunggunya di dalam mobil.


Wanita ayu pun memberanikan diri pamit, meski dia tahu Liam masih sangat ingin mencari tahu tentang putranya. Namun, ini bukanlah wewenang Zaylin, sebab dia bukan guru langsung sang pangeran Achazia.


"Bu Victoria, maaf aku sudah boleh pamit?" tanya Zaylin kala Liam masih berkutat dengan semua lembaran kertas milik Atthar.


"Silakan, jam kerja Anda juga sudah selesai bukan? terima kasih banyak, Bu Zaylin," ujar sang kepala sekolah, bangkit dari duduknya.


Merasa mendapat izin, wanita berbalut setelan blazer mewah itu pun pamit, ia bangkit membungkukkan badan lalu memutari kursi meninggalkan ruangan.


"Eh, mau kemana? kok seenaknya pergi! urusan kita belum selesai!" cegah Liam lagi.


"Urusan yang mana?" tanya Zaylin, ingin memastikan.


"Hmm, ya ya itu tadi, buta warna."


"Aku bukanlah ahli. Untuk kasus tersebut sebaiknya Anda mengunjungi tenaga medis terkait keluhan Atthar. Permisi, terima kasih."


Zaylin melanjutkan langkah, keluar dari ruangan dan menuju kubikelnya untuk mengambil tas.


Beberapa menit berlalu.


Wanita ayu berjalan cepat menuju mobil sang suami. Corolla Altis hitam yang sudah di modif sang pemilik nampak mentereng di terpa teriknya sinar mentari.


Tuk. Tuk.


"Mas." Zaylin mengetuk jendela pintu mobil sebelah kiri.


Klik.


Handle pintu ditarik Zaylin, dia terburu duduk di sana langsung memasang seat belt.


"Pelan, Sayang. Astaghfirullah, kamu habis lari Ay?" Abim menarik tisu lalu menyeka bulir keringat yang muncul di dahi istrinya.


"Minum dulu," Abim menyodorkan satu botol air mineral dari dashboard.


"Haus, Mas tahu aja aku habis nyerocos didalem," ujarnya seraya menerima uluran air minum.


"Tahu lah, muka istriku sampai tegang begini. Kenapa sih? mau sharing gak?" tanya Abim, sabar menunggu agar istrinya sedikit rileks sebelum mereka pergi.


Jemari lelaki itu masih setia mengusap pipi Zaylin, sesekali menghapus butir bening susulan yang muncul.


"Atthar tantrum hampir satu jam lebih, sebab perkara warna. Walhasil aku menduga ada kelainan dengan bocah itu dan seperti biasa, ayahnya tidak terima. Dia emosi," tutur Zaylin menceritakan kilas peristiwa.


"Kelainan apa, Sayang? ya ampun, bukannya makasih malah tega banget bikin istriku sampai berkeringat begini. Aku turun sebentar," ujar Abim setelah menyeka keringat Zaylin dengan telapak tangannya.


"Eh eh, mau kemana, Mas?" Zaylin menahan lengan sang suami kala dia sudah membuka pintu mobilnya.


"Nyamperin dia lah, minta maaf sama kamu. Pasti dia ngomong kasar kan?"


"Sudah, biarin dulu. Ayok pergi, aku juga lapar," rengek Zaylin agar Abim segera melajukan kendaraannya meninggalkan pelataran parkir sekolah.


Abimanyu menatap lekat iris wanita ayu yang memegang telapak tangannya.


"Abaikan. Bukan urusan Mas," ujar Zaylin seraya mengecup punggung tangan Abim. Pria itu luluh. Dia mengurungkan niat menyambar Liam disana.


Tak lama, sedan mewah keluaran Toyota itu meluncur meninggalkan pelataran sekolah menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan.


"Mas sakit? kok gak bilang sama aku, nanti apa kata Ibu, anaknya gak diperhatikan," keluh Zaylin tak enak hati.


"Engak sakit. Aku cuma mau kamu dengerin hasil pemeriksaan doang, Sayang," balas Abimanyu cepat.


"Pemeriksaan apa? gak cerita sama aku juga, mulai main rahasia ya? kan janji syarat aku dipenuhi, Mas!" Zaylin merajuk, merasa Abimanyu melanggar syarat pernikahan darinya.


"Ini aslinya Aylin ya, gampang ngambek," kekeh Abim, membelai pipi kanan kemenakan Huzama.


Menantu Iriana diam. Tak lagi ingin bicara, dia enggan mendebat sang suami meski hatinya ingin.


Abimanyu membiarkan suasana kabin mobil hening. Dia bermaksud memberikan kejutan bagi Zaylin nanti. Ini adalah salah satu usahanya untuk menuju malam istimewa.


Sepuluh menit berlalu begitu saja. Sedan mewah putra Ibrahim Yasa memasuki basement rumah sakit. Tanpa banyak tanya, Abimanyu menautkan jemari kala wanita ayu itu keluar dari kendaraan yang mereka naiki.


"Jangan cemberut melulu, nanti makin cantik. Aku hukum teu ereun," bisiknya membuat semburat merona muncul di pipi Zaylin. (gak berhenti)


Abimanyu lebih suka seperti ini, banyak aksi cinta yang dia tunjukkan untuk sang pujaan hati. Langkah keduanya mantap menaiki lift, menyusuri koridor hingga berhenti di poly khusus spesialis kulit dan kela-min.


Zaylin menoleh, sorot matanya menelisik kedalam retina hitam nan meneduhkan.


"Kejutan. Aku mau kamu juga tahu, keadaanku yang sebenarnya. Jangan ada yang disembunyikan bukan?" tegas Abim menatap lekat iris mata wanita berwajah oval.


Zaylin mengangguk cepat. "Lets go, kita hadapi sama-sama."


Tak lama menunggu, nama Abimanyu dipanggil oleh suster. "Tuan Yasa."


Keduanya lalu bangkit. "We're ready."


.


.


..._____________________...