ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 18. BAYANG MASA LALU



Ba'da maghrib semua tamu sudah kembali ke kediaman masing-masing Termasuk keluarga Abim, mereka beristirahat di hotel sembari menunggu lusa saat syukuran di pondok akan digelar.


Di teras rumah, hanya tersisa beberapa tetangga masih mengobrol dengan sang paman. Sementara EO sudah merapikan semua dekor yang mereka gunakan hari itu. Abimanyu memilih mandi setelah sholat maghrib tadi. Sedangkan Zaylin tengah bersiap mengemasi beberapa barang sebab sebagian akan ia bawa.


Pukul sepuluh malam, Abimanyu bergabung mengobrol dengan beberapa tetangga juga sang paman diteras.


"Manten baru kok begadang, sana masuk. Kita biasa ngobrol kalau malam minggu sebab keesokan pagi biasanya pantai ramai pengunjung. Apalagi warung kang Zahid, rame," kata salah satu tetangga mereka.


"Bentar lagi Kang," jawab Abimanyu malu.


"Tuh, lampu kamar sudah padam, Nak Abim istirahat gih. Besok mau pergi ke panti kan?" ujar sang Paman.


Abimanyu mengangguki ucapan sang paman. Karena terus didesak untuk segera masuk ke dalam bilik, akhirnya menantu Zahid pun menyerah. Lelaki tampan itu pamit undur diri dari obrolan para pria di teras dan masuk kedalam rumah.


Tangan kekar namun lembut itu kemudian menekan handle pintu kamar utama perlahan. Derit suara engsel yang kurang pelumas menimbulkan suara pertanda bahwa seseorang tengah masuk kedalamnya.


Abimanyu melihat Zaylin telah tertidur miring ke arah kanan membelakanginya. Masih lengkap menggunakan hijab.


Putra sulung Ibrahim Yasa canggung, dia perlahan duduk ditepi ranjang.


"Bim, ini kan bukan kali pertama kamu. Eh, astaghfirullah. Dia berbeda." Abimanyu mengusap kasar wajah tampannya, memori kelam kembali mencuat.


Dia melirik kearah Zaylin, wanita itu diam bergeming. Hatinya resah, perlahan dia ikut merebahkan tubuh yang terasa lelah disamping sang istri.


"Ay. Sudah tidur?" bisik Abimanyu tak berani menyentuhnya.


Hening.


Jam dinding diatas meja rias hampir menunjukan angka sebelas malam. Dia pun mencoba memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.


"My Man"


"My best."


Bisikan yang terngiang dikepala kian jelas. Abimanyu gelisah, gerakan kecil tubuhnya mulai mengusik Zaylin.


Merasakan sisi kasur yang melesak dan bergetar halus, wanita ayu itu perlahan berbalik badan. Sejujurnya dia sangat mengantuk hingga tak menyadari bahwa sang suami telah berbaring di ranjang yang sama.


Degh.


Zaylin beringsut hingga berbaring terlentang, kepalanya perlahan menoleh ke arah kiri, memandang wajah tampan dalam temaram cahaya lampu yang masuk dari celah bawah pintu.


Lagi, Abimanyu merasa gelisah dalam tidurnya dan kali ini Zaylin menangkap gerakan kecil pemilik tubuh tegap itu.


Suara ngariung sudah tak terdengar dari luar. Membuat suasana kamar kian sunyi, hanya decit jangkrik dari kejauhan menjadi satu-satunya sumber bunyi.


"Mas," bisik Zaylin menyentuh lengan Abimanyu sebab suaminya itu kian gelisah.


Tiba-tiba. "Pergi!" Abimanyu terhenyak, bangun dari tidurnya.


Jantungnya berdegup kencang, nafas memburu bagai tengah berlari sprint, peluh sebesar butir jagung menghiasi dahinya kini.


Zaylin ikut bangkit dan mengusap lengan Abim. "Mas, kenapa?"


Lelaki itu menepis usapan di lengannya. "Enyah!"


Putri Zulkarnaen terkejut. "Mas. Ini aku," lirihnya seraya kembali menyentuh ditempat yang sama.


Mendengar suara lembut, Abimanyu tersadar. "Astaghfirullah, Sayang. Maaf, aku ngapain kamu?" tanyanya seraya memeriksa kondisi tubuh istrinya.


Zaylin tersenyum, menggeleng pelan. "Enggak di apa-apain, Mas mimpi buruk?"


Dia mengangguk. "Maaf ya Sayang, maaf," sesal lelaki Yasa.


"Allohumma inni a'zubika min 'amalis syaithoni wa sayyi-atil ahlam." (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari perbuatan setan dan buruknya mimpi.)


"Sayang, maaf ya. Besok aku cerita," ujar Abimanyu mengulang-ulang kalimat serupa.


"Mimpi buruk tidak usah diceritakan, Mas. Berdoa dan berprasangka yang baik sama Allah saja. Bilamana tadi adalah kilasan masa lalu dalam alam bawah sadar, perlahan kita hapus itu. Ok? masih terapi kan?" tanya Zaylin lembut.


Abimanyu mengangguk. "Ya Allah, betapa beruntung aku," tunduknya.


"Kita sama-sama. Kalau aku mulai goyah, Mas jangan lepaskan ya," senyum Zaylin terbit.


"In sya Allah. Gak akan aku lepasin, jangan tinggalin aku ya Ay," kakak sulung Arjuna menarik Zaylin dalam pelukan.


"Enggak, sampai Allah yang beri isyarat untuk lepas," jawabnya lirih.


"Tidur yuk, aku ngantuk banget sebab kebut kerjaan sekolah. Mas Abim kan mendadak minta melanjutkan prosesi lebih cepat, jadi aku belum sempat mengajukan cuti," tutur Zaylin lagi.


Zaylin mungkin harus memulai mengambil sikap, dia ingin sang suami bebas dari bayang kelam. Maka telah wanita ayu putuskan akan selalu mengambil inisiatif. Seperti malam ini.


Keponakan Zahid mengajak suaminya kembali berbaring namun Abim cegah. "Buka dulu, gak baik tidur pakai hijab. Kan ini adalah hakku juga," ucapnya.


"Eh, maaf. Tadi masih rame, aku khawatir terbuka aurat sebab siapa tahu Abah atau tetangga masuk saat aku tidur," ujar Zaylin berniat menarik hijabnya lepas.


"Aku saja." Menantu Zulkarnaen perlahan melepaskan hijab hitam sebatas dada yang Zaylin kenakan.


Rambut panjang itu terlihat. "Maa sya Allah."


Yang ditatap justru menunduk karena malu. Abimanyu lalu menyentuh dagu Zaylin, membuat wajah ayu dalam temaram itu menghadapnya. "Cantiknya, istriku."


Kecupan ringan mendarat, Abim menikmati apa yang tengah dia perbuat pada istrinya.


"Mau sekarang, Mas?" cicit Zaylin kembali tak kuasa menengadah kepala, setelah aksi pembukaan yang diberikan sang suami.


Abimanyu tersenyum simpul. "Makasih ya Ay. Nanti saja, aku ingin kita betul-betul pacaran halal dulu. Tidur yuk," dia mengusap pipi Zaylin lembut lalu mengajaknya kembali berbaring.


Wanita cantik berusia matang, tanpa ragu, mulai menempelkan tubuhnya masuk dalam pelukan sang suami. "Kalau mimpi buruk lagi, terbagi sama aku," kekeh Zaylin pelan.


Putra Iriana hanya tersenyum simpul mendengar ocehan istrinya. Dia menarik selimut hingga menutup sempurna tubuh mereka.


"Baca doa, Mas," keduanya lirih melantunkan banyak doa sebelum masuk ke alam mimpi.


"Hai Sayang, aku bayang masa lalu. Kau tak akan pernah bisa menyentuhnya!"


"Aku sudah punya Aylin. Pergilah. Enyah."


...***...


Dua hari kemudian. Bandung.


Syukuran pernikahan Zaylin dan Abimanyu di pesantren atas permintaan guru mereka akan digelar ba'da dzuhur nanti. Sejak pagi, pasangan pengantin baru itu mulai sibuk menerima ucapan selamat, terutama sang mempelai wanita.


Besok pagi, gadis ayu itu memilih meninggalkan kamar Asrama dan pindah ke kost-an Abim agar sang suami tidak merasa canggung di lingkungan yang kurang akrab dengannya.


Atas permintaan Zaylin, pagi itu Arjuna ditugaskan oleh sang kakak guna membawa beberapa box kontainer berisi semua perlengkapan milik sang istri menuju kediaman sementara mereka.


Satu notif pesan, masuk ke dalam ponsel Abimanyu.


"Selamat atas pernikahan kalian. Apakah aku boleh datang dan memberikan doa restu?" pesan seseorang di ujung sana.


.


.


...______________________...