
Hari H pernikahan Arjuna.
Liam menjadi pendamping pengantin pria, kali ini dia mau tak mau mengikuti keinginan sang sahabat di hari bahagianya. Atthar sangat menempel dengan Abimanyu, kemanapun calon ayah itu pergi, bocah tampan selalu membuntuti. Kehadiran Liam tak banyak mengubah apapun jika Abim ada didekatnya.
Saat jamuan untuk para tamu digelar, tiba-tiba Atthar berseru pada seseorang. Dia lantas melepaskan diri dari Abimanyu hingga membuat pria itu terkejut.
"Ontyyyyyyyyyy!" seru Atthar menabrakkan dirinya ke tubuh seorang gadis.
Wanita ayu menoleh. "Hai bunny baby Huey little buddy," balas gadis nan ayu dengan pashmina menjuntai, tersenyum menyambut sang bocah.
"Kangen Onty," kata Atthar memeluk Raline lalu meminta gadis itu menggendongnya.
Liam menangkap gelagat Atthar saat teriak tadi, sontak terkejut akan kehadiran seseorang yang dikenal, dia menghampiri keduanya. "Line, apa kabar?" sapa Liam.
"Hai, baik Om. Eh, kenal juga ya?" tanya Raline masih menggendong putra Liam.
"Om lagi, Om lagi. Mas kek, Kanda kek ... Juna sahabat aku," protes Liam seraya menjelaskan hubungan antara mereka.
Liam dan Rey berteman karib. Mereka saling mengenal sebab pernah menjalin kerjasama terkait kontrak kerja Exona untuk sistem keamanan bagi banyak resort miliknya kala itu. Selain itu, ternyata keduanya ada dalam satu club golf yang sama.
"Ya gimana, Mas itu panggilan khusus buat someone special lah ... Atthar udah sekolah ya sekarang? dimana, Sayang?" ucap Raline untuk Liam juga pangeran Achazia.
"Ehm, sekolah sama mommy, tuh mommy," tunjuk nya pada Zaylin yang sama menatap padanya sebab masih khawatir akan sikap bocah itu tadi.
"Mommy? Atthar sudah punya mommy lagi?" tanya Raline memastikan, melihat sekilas pada wajah Liam. Entah, ada sedikit kecewa terselip di sana.
"Belum, nunggu kamu lulus aja, mau gak? ... Ayah gimana kabar? sibuk terus ya," goda sang duda kemudian mengajak Raline duduk di private table.
Glek.
"Baik. Mereka kemarin pulang ke California jenguk Kakek Jimsey terus ke Solo dan Cirebon. Ini aku juga baru balik dari Singapura, Om. Ayah sakit jadi aku tugas sebagai perantara," sahut gadis ayu.
"Kusuma tersebar sih ya jadi kalau jalan ya sekalian. Makin cantik aja, putri Reynan Lee. Kuliah dimana, Line?"
"Sini aja, Borobudur yang deket dengan rumah tinggal nyebrang jalan. Kata ayah, biar kawan pria gak punya alasan buat antar aku pulang," kekehnya kemudian menurunkan Atthar kala bocah itu merengek meminta es krim.
"Masih tetep anti pacaran ya, Kusuma," sahut Liam tertawa renyah.
"Hm gitu deh. Aku antar Atthar dulu ya Om. Sekalian nyampein pesan kakek dan ayah, gak bisa hadir," ujarnya lagi.
"Kenal dimana sama Juna?"
"Ish, tulisan Exona di lobby itu kan Om Juna yang buat. Lalu yang di Orchid Ballroom, hasil kreasi beliau juga, banyak sih ada beberapa tapi aku gak hafal," terang Raline sambil lalu.
Liam mengangguk, melepas kepergian gadis ayu dengan putranya. "Atthar itu pemilih, dia akan ramah pada orang yang memiliki kasih sayang. Pengennya sih gak nikah lagi, tapi kalaupun ada niatan ya nyari yang Atthar nyaman," gumam pemilik resort Sakhair.
Dari jauh, lelaki dewasa usia tiga puluh lima tahun itu tak melepas pandang dari wanita ayu. Meski tak berdarah ningrat sebab Rey dan Mega hanyalah anak adopsi Jimsey alias Galuh Kusuma namun mereka diasuh oleh keluarga besar Kusuma hingga adab dan kesantunan Rey pun persis seperti mereka.
"Om, aku pamit ya." Raline mengembalikan Atthar pada sang ayah.
"Mas, Raline. Mas," pinta Liam lagi, sedikit memaksa.
"Gak bisa, kan tadi udah bilang alasannya," balas gadis ayu tersenyum manis.
"Hm, Line. Boleh ngobrol sebentar gak? sepuluh menit," pinta Liam, seraya menyuruh Atthar menuju Zaylin.
"Boleh, dimana? aku udah di jemput suruhan ayah, tuh," tunjuk si gadis.
"Disini aja, duduk please," ujar duda tampan.
Raline mengikuti permintaan Liam Sakha, duduk di hadapan pria itu.
"What!" Raline membola. Memang, dirinya mengagumi sosok pria di hadapan, tapi apa kata ayah dan keluarga besar. Usianya kini baru dua puluh tahun, berbeda jarak belasan tahun dengannya.
"Serius."
"Kok bisa?" Sergah Raline heran.
"Bisa lah. Lagian Atthar nempel sama kamu."
"Wih, dapat satu paket ya," gelak sang gadis menanggapi ucapan Liam.
"Gak Om. Pikirkan lagi deh, aku ini pecicilan, makanya suka di kira adik kak Maira, anak bunda Naya. Gak pantes buat jadi istri Om yang wah ... lagipula aku masih sekolah, Om," ujar Raline mencoba mengelak meski degup jantungnya bertalu.
"Kamu yang harus pikirkan, aku sih yes," sanggah Liam tak ingin mundur.
"Ini lamaran ya? garing amat. Hm, Bapak gak punya ide bagus gitu dalam hal romantis," tawa renyah Raline membuat Liam malu. Benar, dia tak mencerminkan seorang Sakhair.
"Pamit ya Om. Sampai jumpa lain waktu," ujar Raline menghindar bangkit.
"Pekan depan ya Line," ujar Liam seraya bangkit menghormati si gadis.
Raline hanya tersenyum, meninggalkan duda tampan."Whatever, Mas."
Abimanyu memperhatikan dari kejauhan lalu menghampiri sahabat adiknya. "Siapa?"
"Anak temanku, calon ibu Atthar. Cocok gak?"
"Sepertinya gadis baik, gas aja. Lagian Atthar butuh Ibu, gak udah menahan diri," ujar Abim menepuk lengan Liam. Diangguki oleh pengusaha resort itu.
...*...
Dua pekan kemudian.
Kediaman Yasa baru saja selesai mengadakan syukuran atas pernikahan Iriana dan Gilmot. Abimanyu dilarang pindah rumah sebelum Zaylin melahirkan nanti.
Kedua putra Iriana menyambut sang ayah sambung dengan penuh harapan agar dapat menjaga juga memberikan ibunya kebahagiaan di hari senja mereka.
"Do'akan ya Bim, Jun. Aku bisa bahagiakan dia, wanita yang ku cintai sejak lama," ucap sang ayah baru.
"Aamiin, semoga kalian bahagia. Selamat ya Bu and Pa," balas Abim memeluk keduanya bergantian.
Lengkap sudah kebahgiaan keluarga Yasa setelah berjibaku dengan segala keterpurukan, ujian iman juga kesabaran. Bila Arjuna dan Rizkia bersiap pergi bulan madu, lain hal dengan Abim Zaylin, mereka memutuskan mudik menemani Zahid untuk beberapa hari kedepan, memberi waktu pada sang bunda juga Gilmot agar tak terlalu canggung dan memiliki waktu berkualitas berdua sebab Iriana menolak untuk bepergian.
...***...
Singapura.
Anak buah Roger memberikan draft informasi tentang gadis yang menolong sang pimpinan tempo hari.
"Bukan gadis biasa. Dia bagian dari Exona, ada Jimsey, ayahnya adalah sang mantan asisten Mahendra sekaligus anak angkat Jimsey. Juga latar belakang religius keluarga besar Kusuma. Hmm, menarik," ucap Roger melihat riwayat keluarga Raline.
"Bagaimana caranya mengenal kamu lebih dekat. Entah, ada satu dorongan dari dalam hati untuk melihatmu."
.
.
..._____________________...
...Tamat. ...