ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 28. PERCOBAAN



"Tuan Yasa." Suara suster memanggil Abimanyu untuk segera masuk dalam ruangan dokter.


Zaylin menoleh pada sang suami yang duduk disampingnya. Jemari mereka masih saling bertaut. Abim bangkit seraya menarik genggaman kedua telapak tangan.


Suster membuka panel pintu ruangan serba putih dengan gradasi warna abu tua, suasana akrab menyambut pasangan pengantin baru berkat sapaan seorang dokter paruh baya.


"Silakan duduk, ini istrinya Mas Abim?" sapanya ramah saat melihat wanita cantik disisi pasiennya.


"Iya, Dokter."


Pria paruh baya yang mengenakan jas putih khas tenaga medis, seketika canggung kala Zaylin menangkupkan telapak tangan didepan dada seraya tersenyum.


"Dokter, silakan dibacakan hasil lab Tuan Yasa," ujar suster menyerahkan selembar kertas yang di jepit pada holding tray. Sesaat beliau membaca deretan kalimat yang disodorkan suster.


Detik berikutnya.


"Baik. Secara umum semua masih dalam batas normal. Dan karena ini kunjungan kedua Mas Abim, aku simpulkan bahwa Anda sehat."


"Alhamdulillah," ucap pasangan Yasa bersamaan.


"Tapi ada tapinya ya, habiskan obat yang akan saya resepkan dalam dua pekan kedepan agar semua betul-betul bersih," imbuhnya lagi.


Zaylin menggenggam erat jemari Abimanyu dan tersenyum manis ke arahnya. Namun sayang, aksi mesra mereka diperhatikan oleh Daniel Siregar, sang dokter yang menangani Abimanyu.


"Cantik sekali. Gak salah kah, dia kok mau ya sama Abimanyu."


Putra Ibrahim Yasa merasa bahwa dokter paruh baya dihadapannya ini tertarik pada Zaylin. Dia mulai cemburu. Tanpa aba-aba, Abimanyu menyentuh dagu wanita cantik itu dan....


"Syukron, Sayang."


C-up. Abimanyu mengecup sekilas bibir manis yang menggoda sedari tadi.


"Ya ampun," bisik suster ikut menahan senyum akibat aksi bar-bar pasien.


"Duh, mataku," lirih Daniel antara ingin melayangkan sindiran sekaligus kesal.


"Mas, ish." Zaylin menunduk tersipu, dia tak kuasa mengangkat wajah terlebih menghadapi reaksi sang dokter.


"Oke, Dok. Ada lagi?"


Daniel menulis beberapa nama obat yang harus Abimanyu minum. Lalu menyerahkan resep tersebut pada suster.


"Tidak. Semoga sehat selalu, Mas Abim. Sayang, istrinya cantik banget padahal," ujarnya seraya menjulurkan tangan diudara.


Putra Iriana, menyambut uluran tangan Daniel. "Alhamdulillah bertaubat berkatnya, rezekiku sebab Allah hadiahkan cinta pada kami. Terima kasih banyak. Semoga kita tidak berjumpa lagi," kekeh Abimanyu melayangkan sindiran sembari melepas tautan.


Suster kemudian memberikan Abimanyu dua amplop. Berisi hasil diagnosa dan satu lagi adalah resep yang harus mereka tebus di apotek lantai bawah rumah sakit.


Kakak sulung Arjuna, berdiri lebih dulu, menarik kursi sang istri sedikit menjauh agar dia leluasa berbalik badan. Tak lupa lengan kirinya merangkul pinggang Zaylin mesra saat meninggalkan ruangan itu.


"Mas kenapa sih?" bisik Zaylin saat telah menjauh dari poly yang membuatnya gak nyaman.


"Dia naksir kamu. Dasar dokter genit," kesal Abim.


"Ada-ada aja tuh. Aku mau nanya juga gak nyaman jadinya. Cari dokter lain yang enak diajak konsultasi, Mas."


"Iya Sayang, aku juga pengen tanya tapi liat cara dia curi-curi pandang ke kamu jadi illfeel duluan. Kita ke apotek sebentar lalu belanja ya," ajak Abim.


"Kayaknya emang kudu segera di buka nih, jalur embargo biar gak ada lagi ancaman."


Abimanyu terkekeh pelan atas kalimat yang dia ucapkan dalam hati. Keduanya terus berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar.


Beberapa waktu berlalu, semua keperluan Abimanyu telah usai. Mereka pun melanjutkan aktivitas menuju sebuah Mall.


Hampir menjelang Ashar, kala pasangan Yasa tiba di kediaman Iriana. Abimanyu meminta Zaylin pindah ke rumah pribadinya yang tak jauh dari kediaman Bunda namun ditepis sang istri. Putri Zulkarnaen ingin menemani Iriana, toh dia bekerja jadi tidak memiliki banyak waktu di rumah.


Merasa badannya lengket sebab keringat berlebih, Zaylin memilih mandi lebih dulu. Namun kiranya pilihan kali ini kurang tepat. Abimanyu mencuri kelengahan saat wanitanya tak mengunci pintu bathroom dengan benar.


"Mau mandi samaan, gak boleh? kan sunnah. Kata Sayyidah Aisyah, Rosulullah pernah mandi bersama dalam satu tempayan ... dan kelanjutan kisah ini kamu pasti tahu kan, Sayang," bisik Abimanyu di telinga Zaylin. Dia mendekap tubuh polos sang istri dari belakang.


Zaylin malu, dia tetap menghadap tembok dibawah guyuran shower, tak ingin berbalik saling berhadapan.


Kesempatan bagi Abimanyu untuk menggodanya. Dia meraih sabun cair yang kerap Zaylin gunakan. Menuang sedikit pada telapak tangan dan menggosok lembut hingga berbusa lalu perlahan membalurkan ke badan molek istrinya dimulai dari pinggang.


Sssrrrrr. Seketika bulu kuduk Zaylin meremang.


"Mas, jangan. Aku bisa," cicitnya seraya menahan gerakan tangan Abim.


"Nikmati, gantian nanti," bisik Abim tak kalah lirih. Dia mendaratkan satu kecupan di cuping telinga kiri istrinya.


"Hhggghhh," Zaylin menahan le-nguh suara seksinya.


Sementara dibalik tubuh molek, badan kekar Abimanyu telah sama basah akibat shower head yang dia ubah guyuran airnya menjadi mode spray, tak henti memulai aksi sentuhan yang kian menyiksa.


"M-maasss."


"Hmmm, apa? mau lanjut?"


"K-kaan gak bo-leeehh dulu."


"Makanya, mainan dulu aja ya," kekeh Abimanyu.


Seketika Zaylin terkesiap. Dia tiba-tiba berbalik badan, iris matanya menyorotkan perlawanan. Abimanyu merasa terpojok.


"Jangan mulai, Ay. Nanti aku gak tahan lagi."


"Siapa suruh, mancing aku. Mau mainan? ayok kita main," senyum manis nan menyeramkan muncul. Abimanyu bergegas keluar dari ruangan shower namun terlambat, Zaylin telah menahan satu lengannya.


"Mas seneng nantangin aku ya. Kali ini gak mau ngegantung. Mas jangan enak sendiri aja," kesalnya mencerca Abimanyu.


Lelaki keturunan purnawirawan itu menatap kedalam retina yang membuatnya mabuk kepayang.


"Jadi?"


"Mandi bersama yang benar, tanpa suara, sesuai sunnah," ujar Zaylin lagi.


"Ok Sayang. Maaf."


"Kecuali jika Mas mau lanjut, aku siap tapi gak boleh dikamar mandi," tegas menantu Iriana lagi.


Tak banyak kata, melihat Zaylin dalam kondisi tubuh nan basah tanpa benang sehelai pun, memicu gairahnya naik namun sebisa mungkin dia tahan.


"Yuk mandi yang bener. Bentar lagi waktu Ashar habis. Aku sabar ko," gumam Abimanyu pelan seraya mendorong tubuh Zaylin kembali ke shower cabin.


Keduanya menghabiskan waktu lebih lama dari kebiasaan ritual mandi masing-masing. Tepat pukul empat, Abimanyu masih menyeka rambut panjang istrinya dengan handuk, menyalakan hair dryer agar mahkota hitam legam Zaylin lekas kering supaya mukenah tidak basah saat menunaikan ibadah wajib.


Tak lama, pasangan Yasa pun keluar kamar, diruang tamu terdengar suara Gilmot. Pengacara sahabat almarhum ayah rupanya tengah berbincang dengan Iriana dan Arjuna.


"Wesh, pengantin baru basah melulu," sindir Gilmot melihat penampilan segar Abimanyu.


"Punya bini macam Zaylin ya eman-eman kalau kering terus, Om," tawa Abim menguar.


"Ada apa nih? bukannya kasus sudah di tutup? apa gugatan satunya bakal digelar lagi?" tanya Abimanyu pada Gilmot.


"Yes. Dan ini gak bisa ditangguhkan," pungkas Gilmot seraya menyodorkan berkas pada Abimanyu tepat setelah pria tampan itu duduk di sofa bergabung dengan Arjuna.


Degh.


.


.


...________________________...