ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 10. KESUNGGUHAN



Saatnya kehidupan baru di mulai.


Hampir tengah malam mereka tiba di kost-an baru Abimanyu. Ingin mengantar sang kakak kembali ke pondokan namun tak enak hati karena menjelang waktu sunyi. Alias waktu santri istirahat dan muroja'ah.


Akhirnya kedua pria tampan itupun memutuskan pulang ke kost-an. Sekaligus melihat kondisi terkini hunian sang kakak.


"Jun, mirip apartemen studio ya? interiornya cakep, gak begitu jauh dengan tempat Zaylin mengajar nanti kalau iya dia mau di ajak pindah ke sini," ujar Abimanyu saat memasuki unitnya.


"Promo Kak. Tante yang punya, noh rumah dia di seberang. Semua kamarnya ada balkon meski cuma dua lantai. Dan ini kost-an selalu lekas full karena selain harga gak begitu beda jauh, lihat aja sekeliling ... lux banget kan? tinggal bawa diri doank," jelas Arjuna, yang tak sengaja mendapatkan kamar kosong karena berkenalan dengan sang tante di sebuah cafe saat dia baru tiba di Bandung.


"Gak bilang apa-apa kan sama dia?"


"Enggak lah, ngapain?" elak Juna. Sementara Abimanyu masih menatap lekat padanya.


"Ck, iya iya. Aku ngasih kupon free 30 lembar untuk setiap kunjungan dia ke cafe, maksimal bawa dua orang per kedatangan," jujur Juna kemudian.


"Cafe siapa?" cecar Abimanyu.


"Kakak lah, masa aku?" tawanya mengudara, merasa konyol sekaligus geli saat membayangkan tatapan genit sang wanita kala itu.


"Kebiasaan, jangan sampai Zaylin salah paham, bahwa ini bukan ideku," sungut Abim seraya melihat ke ruangan lainnya.


Tak lama keduanya memilih beristirahat. Juna tidur di sofa sedangkan Abim, masuk ke kamarnya.


Grup Chat BimZay.


"Assalamu'alaikum."


"Aylin, Bu ... aku sudah tiba di Bandung kembali. Selamat istirahat." Tulis Abimanyu di grup pesan.


"Oh iya lupa. Izin wapri ke Aylin ya Bu ... untuk mengirimkan pict hasil pemeriksaan dokter." Imbuhnya lagi seraya men-tag nomer Bu Syaida.


"Aylin, nanti aku send laporan perkembangan aku by wapri ya." Kali ini pria tampan itu mencatut nama gadisnya.


Setelah mengirimkan beberapa pesan. Dia mematikan benda pipih itu lalu men-charge karena lowbatt.


"Ba'da subuh nanti ke pondok. Ikut kajian duha. Sekarang tidur dulu lah, ngantuk banget." Abimanyu keluar dari kamar, menuju bathroom, ia membersihkan tubuhnya sebelum beristirahat.


Satu kebiasaan yang tak akan pernah dia tinggalkan bagaimanapun lelahnya badan. Dirinya telah terbiasa tidur dalam kondisi wangi dan bersih.


Jika Abimanyu memilih lekas beristirahat, berbeda dengan Arjuna. Dia memikirkan gadis itu.


"Ternyata kamu, yang ku temui saat berebut parkiran tempo hari. Cantik memang dan galak. Semoga Abim kami kembali...." lirihnya di sela kantuk.


Keesokan pagi.


Abimanyu sudah meninggalkan kostan barunya menuju pondok ba'da subuh tadi menggunakan jasa ojek online roda dua karena Arjuna masih tidur. Hari ini jadwal pengusaha cafe nan tampan itu padat karena harus ke rumah sakit memeriksa kondisi kakinya.


"Semoga nanti, gips yang di tungkai sudah boleh dilepas," ucapnya saat baru turun dari motor yang khas dengan helm hijaunya itu.


Perlahan langkah kakinya mulai memasuki pelataran aula saat kajian baru saja di mulai. Beberapa santri yang akrab dengannya menawarkan bantuan saat melihat sang tamu masih sedikit kesulitan berjalan tanpa bantuan tongkat.


"Aku lupa bawa penyangga," batin Abim.


Satu jam kemudian.


Yai Bashir memang telah menunggu tamunya itu hadir. Beliau meminta lelaki tampan itu masuk ke kediaman seperti biasanya.


"Nak Abim, mari," ajak Yai pada sosok muda di shaf paling belakang saat ia melintas hendak keluar Aula.


"Iya, Yai." Abimanyu mengikuti langkah pria bersahaja pemilik Al-Islamiyah.


Setelah keduanya duduk di ruang tamu. Yai Bashir memulai percakapan.


"Diterima, Yai. Syukron," balas Abimanyu cepat seraya tersenyum.


"Alhamdulillah, kapan batas waktunya?" tanya sang guru.


"Bulan depan ... biasanya apa saja yang dibawa Yai?" giliran Abimanyu kebingungan atas adat daerah tempat tinggal Zaylin.


"Saat khitbah? mau langsung menetapkan tanggal walimah atau gimana?"


"Iya, langsung saja. Biar gak kelamaan, takut Yai," ujarnya lagi.


"Takut diambil saudara muslim lainnya ya?" seloroh Yai Bashir, ia paham ketakutan Abimanyu.


"Betul, karena belum tentu wanita calon istriku bersedia menerima apa yang telah terjadi padaku beberapa bulan silam. Aylin, menerima bahkan dia melarangku membicarakan aib pada pamannya," tutur Abimanyu, merasa sangat bersyukur.


"Alhamdulillah, dia wanita baik. Jaga ya, Nak Abim ... jika tentang khitbah, semampunya saja, siapkan tanggal lalu mahar juga kelengkapan surat hendaknya sekalian dibawa nanti agar wali Aylin mudah mengurus dokumen," saran sang guru.


"Baik. Dan cara taubat nya bagaimana Yai?" Abimanyu menunduk dalam, ia malu bersitatap dengan lelaki fahim ilmu itu.


"Mau langsung praktek? nanti bisa diulangi di sepertiga malam atau setiap saat agar terjaga dari syahwat," imbuh beliau lagi.


"Boleh, jika Yai tidak sibuk pagi ini," sambung Abim cepat. Ia takut mengganggu waktu sang panutan masyarakat di sekitar wilayah ini.


"Bismillahirrahmanirrahim, sudah wudhu? jika belum, wudhu dulu."


"Sudah, Yai. Tadi sebelum kajian."


"Janji, sungguh-sungguh dalam hati, azzamkan, dawamkan, lalu jauhi lingkaran terdahulu. Janji bukan pada manusia, tapi pada Allah," Yai melihat kesungguhan dalam diri Abimanyu.


"Adakah perasaan menyesal? malu?"


"Tentu Yai. Bahkan aku...." Abimanyu tak dapat melanjutkan kata-katanya.


"Alhamdulillah ... sudah niat? jika belum, niatkan taubat mulai sekarang," Yai menuntun Abimanyu satu persatu.


"Yuk wudhu lagi, ana gambarkan cara mandi dan sholat taubat dulu," ajak Yai masuk ke dalam rumahnya. Beliau meminta bantuan pada anak sulung yang bernama Yusuf saat melintasi ruang keluarga.


Guru Abimanyu itu lantas menceritakan maksud meminta bantuan darinya hingga sang putra mengangguk tanda setuju.


"Maaf jadi repotin Akang," Abimanyu segan sekaligus malu terhadap lelaki muda dihadapannya.


"Ala wajib, Kang. Jangan malu sama manusia ya," ujarnya lagi.


Yusuf masuk ke dalam kamar mandi, sementara Abimanyu di luar melihat dengan seksama semua gerakan yang akan diperagakan olehnya. Lelaki itu mulai memutar kran air.


"Membasuh kedua telapak tangan hingga sela jari ... thoharoh, bersuci selayaknya kebiasaan. Lalu mulai berwudhu, seperti wudhu biasa, perhatikan rukunnya. Kemudian mandi."


"Baca niat mandi sebelum air mulai membasahi badan ... Nawaitul ghusla lit taubati 'an jami’idz dzunuubi lillaahi ta’aala lalu perlahan mengguyur tubuh bagian kanan lebih dahulu baru kiri, harus semua teraliri air ya Kang ... mulai kepala, sela rambut hingga antar jari kaki, juga semua lubang dan lipatan tubuh," tutur Yusuf memperagakan semuanya dihadapan Abimanyu. Mulai dari cara mengambil air jika dari dalam bak mandi ataupun langsung dengan kran.


"Dilakukan setiap saat atau satu kali saja, Kang?"


"Dengan bersungguh-sungguh, boleh satu kali atau jika ingin di ulangi, justru lebih baik," jawab sang putra Yai.


"Ada yang ingin ditanyakan lagi? sebelum kita lanjut?" sambung Yusuf.


"Lanjut," Abimanyu semakin yakin.


.


.


...___________________...