ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 14. GALAU



"Siapa?"


"Kasus awal biang keladi adalah sekretaris mu. Alasannya agar dapat hidup mewah diimingi harta rampasan. Namun sayang, si be-jat itu berkhianat. Jadi ceritanya teman makan teman. Siang tadi, tangan kananmu justru membongkar sosok dibalik pelaku utama," jelas Arjuna.


"Dugaanku benar?"


"Yes. Akan diapakan dia? sepertinya kasus kedua akan sulit mengingat rivalmu mendapatkan perlindungan ekstra dari suaminya."


"What, suami?" Abim terkejut.


"Kau cuma selingkuhan, Kak," gelak Arjuna.


"Juna, jangan bercanda. Dia bilang tak ingin berkomitmen," bantah Abimanyu.


"Denganmu. Setelah dia gasak separuh harta, kabarnya kini dia menetap di Singapura," jelas sang adik lagi.


Abimanyu mengingat kilas balik ingatan yang membuatnya merasa jijik sebagai manusia. Tipu daya setan mengaburkan logika kewarasan kala itu.


"Kak, halo."


"Kak."


"I-iya. Gue gila ya Jun," sesal nya.


"Sudah. Kan beranjak memantaskan diri bagi Zaylin bukan? kubur masa lalu, Kak. Dia gadis baik," Juna menenangkan sang Kakak.


"Hem, in sya Allah. Om Gilmot bilang apa saja?"


Arjuna kemudian menjelaskan rencana gugatan kedua atas perampasan harta, penjualan asset. Jika pengumpulan dokumen siap dalam dua minggu maka awal bulan depan, pengajuan berkas akan diserahkan.


Sang adik juga memaparkan tentang rencana lamaran untuk wanita Abimanyu. Site plan juga lainnya.


"Konsep garden party, maksimal invitation dua ratus tamu selama tiga jam. Menginap di Hotel Astin selama dua malam juga paket Honeywell satu pekan ke Labuan Bajo. Ada yang kurang?" tanya Arjuna.


"Warna? mahar? seserahan?"


"Bagian Kakak tanya ke Zaylin lah, masa aku?" ujar sang adik.


Putra bungsu Ibrahim Yasa juga mengingatkan agar Abimanyu menghapus semua circle dahulu dan tak menanggapi kembali segala bujuk rayu. Sebab, orang yang mengkhianati dirinya mempunyai koneksi juga mata-mata yang dapat menyulitkan proses gugatan kedua ini.


"Jika kalah bagaimana?"


"Gak usah dipikirkan Juna. Aku ikhlaskan, anggap sebagai pembasuhan dosa. Aku hanya ingin menegaskan bahwa apa yang dia perbuat salah dan percobaan pembunuhan itu jadikan sebagai senjata pamungkas. Paling tidak, dia jera," tegas Abimanyu.


"Ok. Pekan depan, Ibu ke sana. Kau sudah bisa bekerja kan? cafe mu aku alihkan by apps, Kakak bisa cek secara berkala dari jauh. Sistem yang kau buat dulu hanya diperbarui sedikit agar lebih sempurna dan memudahkan dalam bekerja," pungkas sang Adik menutup panggilan.


Abimanyu merasa bersyukur. Setidaknya dibalik peristiwa kelam nan menjijikkan dapat menyatukan lagi keluarga yang terberai.


Dia teringat dosa terhadap sang Bunda. Abimanyu kembali trenyuh. Dengan langkah tertatih dia menuju bathroom.


Hamparan sajadah kini tak lagi kering, permukaannya basah oleh banyaknya tetesan air mata milik sang pria tampan. Rasa malu juga penyesalan. Wajah ibu serta Zaylin membuatnya rikuh.


"Hatiku sakit. Akankah kedua wanita yang ku puja tak akan lagi ikut menanggung malu?"


"Allah, ampuni aku. Jagalah derajat dan muliakan wanita dalam hidupku," lirih Abimanyu meluruhkan lava bening dari ujung netra.


...***...


Di tempat lainnya.


Hati Zaylin dilanda gundah. Dia merasa rindu padahal baru saja siang tadi membantu Abimanyu hingga ke kediamannya.


"Jagalah hatiku dari hawa nafsu ya Robby. Teguhkanlah kalbu bahwa segala yang datang dari mu adalah baik. Aku melarangnya menceritakan kisah pilu itu pada siapapun, namun ketika membaginya denganku tak terbersit sedikitpun keraguan di matanya. Aku yakin, dia baik untukku. Jauhkanlah kami dari orang-orang hasad."


Biasanya musuh akan membalas apa yang dilakukan lawan. Mungkin nanti, tiada menutup celah bahwa dirinya didatangi orang asing dan membujuk agar tak menikahi sang calon imam.


"Benar kata Abah, aku harus teguh."


Wanita ayu dengan rambut panjang sebahu berbaring di atas ranjangnya. Matanya memejam, sesaat bibir pink mengulas senyum.


Wajah tampan itu muncul, meski Abimanyu tengah belajar menjaga pandangannya namun dia juga sesekali mencuri pandang.


Terlebih saat suster memanggilnya dengan sebutan Nyonya Yasa. Dia tak menolak dan membiarkan. Ada rasa bahagia terselip disana.


"Mas tuh kenapa bisa begitu? padahal Mas gak terlihat demikian dari luar. Ya Allah, lupa. Namanya juga ujian bagi hamba. Mungkin juga ini adalah jalan untuk kami agar kembali dekat padamu."


"Ya Allah ganteng banget. Mas Abiiiiimmm," pekik Zaylin, suaranya tertahan sebab wajah merona itu ditutup bantal oleh kedua tangannya.


"Abah, gusti. Uring-uringan gini. Beginikah jatuh cinta? membayangkan dia saja sanggup membuat jantungku gak beres," sorak Zaylin, kali ini menghentakkan kedua kakinya naik turun diatas ranjang.


Rasa kantuk menjalari netra namun tak jua kelopak mata itu kunjung menutup. Bayangan senyum menawan Abimanyu selalu menari di retinanya.


Merasa sulit berdamai dengan rasa kantuk. Zaylin membuka medsos nya, dia memasang sebuah foto diri nampak punggung di bibir pantai lalu menulis caption disana.


"Jarak, sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan diciptakan oleh perasaan, sedangkan jarak hanya rintangan yang bisa ditempuh untuk bertemu."


"Ketika dua hati ditakdirkan untuk satu sama lain, tiada jarak terlalu jauh, tak ada waktu terbuang meski saling menunggu bahkan mustahil cinta lain dapat menghancurkan mereka."


~Postingan siap ditampilkan~


Mungkin malam ini banyak manusia galau dimuka bumi, baru sepuluh menit dirinya mengunggah, apa yang dia pajang di laman medsos nya telah banyak mendapat respon dari mahluk sejenis.


Satu yang menarik perhatian Zaylin hingga dirinya menutup mulut dengan kedua telapak tangan tak percaya, kala sebuah nama menanggapi kalimat tadi dengan sebuah jawaban.


"Selama kamu berada di hatiku dan aku berada di hatimu, tiada jarak membentang sehingga menghalau cinta kita kala akan memulai perjalanan. Sebab rinduku tak pandai menunggu, untukmu Sayang, kenalilah doa yang kutitipkan dalam detik waktu."


"Bima_Zy."


"Allah, apakah itu kamu Mas?" Zaylin bangun dari rebahan, dia berjingkrak sambil memeluk benda pipih yang membuatnya setengah waras.


"Ya Allah, aku gila. Astaghfirullah, Astaghfirullah ya Allah, astaghfirullah," Zaylin kembali duduk, menyadari kekhilafan, dia pun mengusap dadanya perlahan.


"Lindungi kami dari godaan nafsu, aamiin. Selamat malam, Mas. Aku gak tahu itu kamu atau bukan, tapi aku happy."


Gadis ayu yang baru mengenal cinta lalu beranjak berwudhu, berusaha memejamkan mata.


Sementara di tempat lain.


Abimanyu tengah menyelesaikan pekerjaannya satu persatu setelah obrolan dengan Arjuna berakhir. Dia merasa penat, sejenak berselancar mengunjungi dunia maya.


Media sosial milik Zaylin telah lama dia ikuti semenjak mencari tahu tentang gadis itu. Dia tak sengaja membaca postingan yang baru saja diunggah wanitanya.


Wajah tampan mengulas senyum membaca runutan kata tersusun rapi disana.


"Rindu ya? sama donk, aku juga."


Abimanyu lalu merespon caption milik Zaylin dengan menggunakan nama akunnya. Bima_Zy.


"Jaga dia ya Allah. Jaga cinta kami."


.


.


..._______________________...