ZAYLIN HUZEFA

ZAYLIN HUZEFA
BAB 43. SIUMAN



Juna menceritakan awal mulai kisah yang melatari Abimanyu terjerumus dengan Alexa. Andil terbesarnya lah nan menyebabkan sang kakak trauma. Putra bungsu Iriana mengisahkan bagaimana proses antara Zaylin dan Abim bertemu, melakukan berbagai konseling hingga sang kakak dapat terbebas dari bayang masa kelamnya.


"Sejak peristiwa itu, aku mati-matian mendekati Abim, mencarinya, membantu dalam diam semua bisnis kala dia menghilang dulu akibat percobaan pembunuhan yang dilakukan Alexa dibantu Roger, guna memperbarui kesalahan. Sekarang, aku melakukan kecerobohan itu lagi," kesal Juna merasa diri tak guna.


"Pantas, Zaylin terlihat begitu memuja Abimanyu. Dia sangat teguh, beruntung banget kakakmu itu," ujar Liam kemudian setelah mendapat kisah utuh keluarga sang sahabat.


"What, Roger?" Liam menyadari sesuatu.


"Hem, Roger evoque, kau kenal?"


"Oh sh-ittttt. Jadi, Alexa yang itu? seriously? wanita sempurna itu adalah?" Liam membelalak. Keinginan untuk ke kantor musnah sudah. Dia tertarik lebih jauh.


"Jangan bilang kau tahu sesuatu," ujar Juna lagi.


Liam menatap lurus dalam manik mata Juna. Dia berusaha menegaskan jawaban.


"Jangan liat aku kek gitu, Rizkia aja gak pernah. Nanti aku baper dan kayak Abim gimana? kita khilaf," celoteh Juna risih.


Liam terbahak. "Begitu ternyata," dia masih terkekeh atas ucapan Juna.


"Aku kenal Roger sebatas sebab dia member resort milikku. Aku sungguh tak mengira, Roger sangat memuja wanitanya dan ternyata dia," ucap Liam lagi, seraya memanggil asistennya untuk membawa laptop.


"Memang, bahkan untuk kasus kedua, Roger mengancam akan menghabisi Zaylin dan Ibu jika Abim tak menarik gugatan pidana atas tuduhan percobaan pembunuhan. Semua asset Abimanyu yang diambil Alexa dulu, dia kembalikan lagi dalam bentuk cash," terang Juna.


Asisten Liam masuk ke kamar tamu di mana sang bos berada sambil membawa laptop yang diminta beliau.


"Thanks, Hans," Liam menerima uluran benda dari tangan sang asisten lalu dia membuka sebuah file disana.


"Jika tak salah duga, Alexa pernah memintaku untuk membuatkan sebuah design rumah tinggal yang estetik dan ramah lingkungan namun sangat canggih. Aku kemudian menyarankan padanya ke salah seorang sahabat, semua file perjanjian kontrak perkenalan perantara antar kita kebetulan aku abadikan kala itu," ujar Liam Sakha, jemarinya masih lincah menari diatas tuts keyboard.


"Semua pelanggan, kau hafal?" tanya Juna.


"Gak semua, Roger adalah customer loyall Sakhair, dia sangat meminta privasi kelas satu nan mumpuni bila menyewa resort ku. Apabila pelayanan kami prima, dia tak segan melebihkan tips bagi semua karyawan yang terlibat namun ancaman sebaliknya tak main-main. Apabila privasinya terusik, dia akan mempersulit jalan bisnis di masa depan. Menurutmu, jika ada pelanggan sepertinya, apakah kau tak menjadikan dia prioritas?" Liam membalik argumen Juna.


Arjuna mengangguk setuju. Riskan berhubungan dengan orang seperti Roger. Satu sisi dapat menaikkan prestige juga income tak biasa, namun sebaliknya bakal menjadi bumerang bilamana melakukan satu kesalahan.


"Nah, ini. Kau kenal? jika tidak, aku akan menanyakan padanya," ujar Liam memperlihatkan sebuah foto bertiga mereka, Alexa, Liam juga sang Architects.


"Enggak. Kau kan mau bantu, jangan setengah-setengah donk. Inget Zaylin, kandungannya baru dua bulan, lekaslah," desak Juna lagi.


"Iya iya, aku hubungi dia."


Liam mencoba menghubungi sang sahabat kenalannya guna menanyakan perihal design beberapa tahun silam. "Gak aktif, udah ganti nomer. Eh, masa iya? gak mungkin," ujarnya lagi.


"Alexa minta dia tutup mulut lah. Kau tidak punya spy, Liam? ckck kere sekali," cibir Juna menilai Liam lamban.


"Jangan meremehkanku, Buddy."


Pemilik resort itu bangkit menuju sisi jendela. Suaranya lebih lirih dari saat tadi, Juna yakin dia sedang menghubungi seseorang yang mumpuni membantu mereka.


Beberapa menit berlalu.


"Kau pulang atau bagaimana? dia minta waktu dua hari," pungkas Liam, masih berdiri di sisi jendela.


"Pulang dulu. Mau bicara dengan Zaylin." Juna bangkit perlahan, tubuhnya sudah jauh lebih baik dibanding tadi.


"Jun, aku akan bantu cari sainganku, kakakmu. Tapi jika dia tak dapat lagi kita jangkau, izinkan aku menjaga Zaylin ya," ujar Liam sebelum Juna berlalu.


"Abim kuat, dia akan selamat. Jangan ngarep, Bro," kekeh Juna, menepuk lengan sang sahabat. "Thanks a lot, Liam," sambungnya diikuti senyuman tipis ayah Atthar.


Zaylin tak lepas dari dzikir seraya terus mengirimkan pesan rindu untuk sang suami meskipun dia tahu semua yang dilakukan tak akan pernah berbalas.


"Mas, aku kangen," isaknya memeluk baju terakhir yang Abimanyu kenakan.


Irianan kian khawatir akan kondisi sang menantu, dia tak pernah melepaskan pandangan darinya. Teringat pesan sang putra sulung kala mengabarkan berita bahagia.


"Lin, minum jus ya dan ngemil," pinta sang mertua.


Zaylin mengangguk, ada atau tiada Abim dirinya bertekad menjaga buah cinta mereka hingga tiba saat bertemu kembali.


"Jaga kesehatan agar lekas kuat dan bisa mandiri," ujar Iriana membelai lembut kepala menantunya.


"Iya Bu. Aku gak sabar bisa keluar kamar, mencari Mas Abim kemanapun yang ku bisa," balas Zaylin tersenyum getir.


Saat kedua wanita saling menguatkan, Juna masuk ke dalam kamar mereka.


"Bu. Mbak," sapanya ramah pada Zaylin.


"Jun, gimana?"


"Mbak, aku minta tolong sama Liam buat mencari kakak, dua hari waktu yang dia minta untuk mendapatkan kabar lanjutan. Om Gilmot menaruh orangnya disekitar rumah kita, baiknya Mbak resign agar aman." Juna menatap iparnya tajam.


Zaylin mengangguk samar, dia akan mengikuti semua arahan keluarga Abimanyu agar buah hati mereka selamat.


"Aku setuju gimana baiknya. Yang jelas, amanah Mas agar menjaga adek, akan ku lanjutkan. Bu, aku rindu Mas," ucap Zaylin, bibirnya bergetar menahan getir, berusaha tegar dihadapan mereka.


Iriana memeluk erat sang menantu, menenangkan ibu hamil agar tak memikul beban berat.


...***...


Sementara di hunian lain.


Abimanyu berpura belum sadar kala Alexa menghampiri sisi ranjangnya. Dia bergeming.


"Harusnya sudah siuman, tapi kok belum ya? apa dia terlalu banyak menuang dosis?" gumam sang wanita.


Istri Roger evoque kemudian memeriksa semua fasilitas dalam kamar, memastikan terkunci rapat sebelum dia meninggalkan tawanan untuk menuju kota sejenak.


"Istirahat lah, aku akan membawamu pindah dengan identitas yang baru hingga tak ada yang mengenali kita berdua."


Alexa mengecup pipi sang pria tampan nan masih terlelap kemudahan meninggalkan kamar mewah itu dalam temaram.


Setelah kepergian Alexa, Abimanyu membuka kelopak matanya. Kepala pening masih mendera hebat. "F-ucck!" dia menyeka jejak kecupan Alexa.


"Sayang, doakan aku. Zaylin, aku kangen kamu," kata Abimanyu menarik nafas kasar seraya bangkit.


Netra elangnya melihat ke sekeliling, mencoba memindai lokasi dimana dia berada kini.


"Hutan? dimana ini?" Abimanyu lantas menyiapkan diri untuk sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.


.


.


...____________________...