
Kabar bahwa Zaylin hamil cepat tersebar di sekolah tempat dia mengajar, karena kondisi yang baru dia ketahui membuat istri Abimanyu harus meminta izin cuti beberapa hari guna menyesuaikan kondisi tubuh yang mendadak mood swing setelah kehadiran janin itu terdeteksi.
"Jangan nakal ya, sayang sama Ibu," kata Abimanyu disisi perut sang istri yang tengah terlelap setelah sarapan tadi.
Lelaki tampan itu trenyuh, tak mengira bahwa kini dia memiliki sebuah keluarga berkat wanita ayu di sampingnya ini. "Kalau bukan karena Zaylin huzefa, mungkin aku masih dalam bayangan masa lalu."
"Baru aku sadari, mengapa pelaku korban kekerasan se-ksual akan melampiaskan hal serupa pada sesama sebab trauma. Tanpa sadar ketika melakukan atau menjadi korban, ingatan itu terus berputar sehingga menimbulkan satu fantasi homogen. Terlebih jika individunya menganggap ini aib berlebihan dan berpotensi melukai batin keluarga. Tekanan emosi sosial akan membuat traumanya kian parah sehingga mencari pelarian dan pelampiasan atas kemarahan yang gak tersalurkan," gumam Abimanyu, seraya membelai wajah ayu.
"Dan semua pria, tak seberuntung aku. Menemukan kamu nan bersedia berjuang sama-sama. Kenapa kamu begitu yakin aku akan sembuh, Sayang? bahkan diri ini pun sempat meragu hingga berniat mengasingkan diri," lirihnya mendadak melow.
Abimanyu Yasa memejamkan mata. Dia mengingat kilas balik peristiwa bermula hingga hampir satu tahun ini, berkat ditemani oleh Zaylin dia dapat mendongakkan kepalanya tegak kembali.
"Allahumma ba'daha, fabiayyi ala i robbi--" Abim tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Dia teramat bersyukur.
Isakan halus dari pemilik suara berat itu terdengar Zaylin. "Mas, kenapa?" tanya wanita ayu, meminta masuk dalam pelukan.
"Bahagia. Bersyukur. Nikmat. Haru, teramat sangat melebur jadi satu," lirih sang suami, menghela nafas berat melepaskan segala rasa didada.
"Hmm, Ayah melow ya," gumam Zaylin masih memejam.
"Bener Ibu, Ayah melow, karena kalian," balas Abim mengecup dahi Zaylin.
Hari bahagia mereka habiskan sepanjang waktu menikmati moment. Damai, karena semua alat komunikasi dipadamkan.
...***...
Rumah sakit.
Suhu badan Atthar kembali panas meninggi hingga menggigil. Bibir pucat dengan kulit ari mulai kering dan mengelupas itu tak henti menyebutkan nama Zaylin.
"Mommy Zaylin. Mommy," racau Atthar mengigau.
Liam tak kuasa melihat sang putra tersiksa. Dia menyerah, menghubungi guru yang pernah dia perintah agar tak mendekati putranya. Dia pun lalu menghubungi pimpinan sekolah.
"Selamat pagi, Bu. Apakah aku boleh meminta waktu pada Bu Zaylin izin menjeda jam pelajaran sebentar untuk menjenguk Atthar di rumah sakit? putraku ingin bertemu," pinta Liam pada kepsek Kasih Bunda.
"Pagi, Pak Liam. Bu Zaylin izin tidak masuk sekolah untuk dua hari ke depan sebab sedang kurang enak badan," jawab Kepsek Kasih Bunda.
"Apa? tidak masuk karena kurang enak badan?" tanyanya memastikan saat sambungan via udara. Dia kemudian meminta izin agar dapat menghubungi Zaylin secara personal.
Setelah berhasil mendapatkan kontak sang guru, Liam bergegas menekan deretan angka pada layar gawai. Beberapa kali suara operator mengatakan bahwa nomer sedang di luar jangkauan.
Emosi Liam kian memuncak kala dirinya sangat kesulitan menghubungi Zaylin. Nomor ponsel wanita itu tidak aktif. Sementara Atthar kian memprihatinkan.
Mau tak mau, dia menurunkan ego, meminta alamat tinggal sang guru pada kepsek kemudian memberikan tugas pada asistennya untuk datang ke rumah Zaylin dan meminta secara langsung agar dia bersedia menemui putranya.
Menjelang siang.
Kediaman Iriana kedatangan tamu tak diundang yang mencari menantunya. Wanita ayu itu mengatakan bahwa Zaylin tengah beristirahat setelah pulang dari dokter obgyn pagi tadi.
Perintah sang pimpinan, dia dilarang mengutarakan maksud kedatangan selain pada tujuan, namun Iriana bersikukuh menahan usaha sang asisten sehingga alasan utama pemaksaan agar Zaylin ikut dengannya pun mencuat.
"Begitu ya, sebentar saya coba beritahu pada Aylin ya, tapi jangan berharap banyak," ujar sang tuan rumah meninggalkan asisten Liam di ruang tamu.
Saat Iriana mengetuk kamar putranya, Abimanyu mengatakan akan mencoba membujuk Aylin dan meminta utusan menunggu mereka sejenak.
...*...
Zaylin sudah berada di sisi brangkar sang pangeran Achazia, dia berulang kali membacakan doa kesembuhan. Meniupkan ke ubun-ubun serta dada Atthar, mengusap semua bagian tubuh mungil nan terlihat kuyu.
"Sehat lagi ya Atthar Sayang. Ibu mau punya bayi, nanti kalau dia sudah lahir, Ibu kenalkan padamu. Kamu, harus kuat dan lekas pulih. Ibu sayang Atthar," bisik Zaylin mengusap kepala putra Liam beberapa kali.
Panas tubuhnya berangsur menurun. Zaylin mencoba memberikan kompres air hangat serat menyeka keringat dingin yang mulai keluar dari tubuh Atthar.
"Kata Dokter, obatnya harus diganti namun aku mencegah. Anakku mungkin hanya rindu pada Anda," sesal Liam melihat betapa kehadiran Zaylin sangat berpengaruh signifikan.
Guru muda itu hanya mengangguk menerima permohonan maaf Liam.
"Jangan dulu, kasihan Atthar. Tapi maaf Tuan Liam, istriku gak bisa lama di sini sebab dia tengah mengandung lima minggu dan masih harus sangat hati-hati," jelas Abimanyu meluncurkan kode agar Liam tak serta merta mengganggu Zaylin.
Degh. "Hamil, di-dia sedang hamil?"
Liam Sakha terlihat lesu, namun pandangan teduh dia hadiahkan pada sosok ayu disamping brangkar yang memunggunginya.
"Dosa Liam, dosa kagum dengan istri orang."
Saat pasangan Yasa akan pamit, tiba-tiba pintu kamar perawatan itu terbuka. "Baby boy," seru Graciella masuk begitu saja menghampiri Liam dan tanpa segan memeluknya paksa didepan Abimanyu.
Zaylin menyingkir dari ranjang Atthar. Dia bergabung dengan suaminya dan meminta izin pamit.
"Hai Bim. Lama gak ketemu ya," tegur Graciella ramah tak memperdulikan Liam yang menaruh curiga.
Abimanyu tidak mengindahkan sapaan Grace, dia langsung menarik pinggang Zaylin dan pamit pada Liam. Keduanya pun melangkah keluar kamar.
"Bim, gak sopan amat sama temen lama," sindir Graciella lagi.
"Jangan ganggu, lagian dia sudah punya istri. Kamu masih tunangan aku, ngapain sih. Jaga etika, Grace," sergah Liam merasa janggal atas sikap wanitanya.
"Aku kan cuma nyapa, gak merebut," elak Graciella lagi.
Respon bebal yang dia berikan nyata membuat Liam tak ingin menunda pembicaraan penting itu.
"Grace, kita sudahi ini sampai di sini, aku akan klarifikasi dan konfrensi pers jika diperlukan," ujar Liam to the point.
"What? kau memintaku kembali kesini hanya untuk mendengar keputusan sepihak darimu? " sanggah Grace mulai emosi.
"Aku gak minta kamu balik loh. Kamu yang ingin pulang jenguk Atthar bukan? jangan merubah fakta," cecar Liam tak terima.
"Aku gak mau, pokoknya gak mau," Grace bersikukuh.
Liam menghela nafas berat. Dia lalu menuju meja nakas, membuka laci paling bawah dan meraih amplop coklat dari sana.
"Jelaskan ini, itu alasan ku untuk putus." Liam melempar apa yang dia pegang ke atas meja, tepat didepan Graciella duduk.
"A-apa ini?"
.
.
...___________________...