
Abimanyu melihat mobil keluar dari hunian. Dia lantas menuju pintu, namun terkunci. Lelaki bertubuh tegap itu kembali ke sisi jendela, membuka celah dari sana, kepalanya lalu melongok ke arah luar. "Sh-ittttt, tinggi sekali," umpatnya kesal, tetapi dia melihat pipa diujung bagunan yang mungkin dapat digunakan untuk meluncur ke bawah.
Tak habis pikir, dia kembali ke dalam, mencari berbagai benda yang dapat dijadikan bekal juga alat pertahanan diri. Nampaknya ini adalah kamar utama, Abimanyu menemukan gunting lipat, handuk, cermin kecil, tali pita, dan semua barang yang dia pikir akan berguna.
Setelah semua siap, dia kembali ke sisi jendela, memindai sekeliling kemana arah tujuan terdekat meminta bantuan sekaligus memastikan tiada CCTV di sekitar.
Setelah mengikat kuat sepatunya, dia mulai mengeluarkan kaki ke celah jendela, disusul memiringkan tubuh agar dapat masuk dan menggeser nya perlahan.
Hanya ada sedikit pijakan lumayan dapat mengenai ujung sepatu sebagai pertahanan agar dirinya tak jatuh bedebum menyentuh tanah. Mengandalkan kekuatan jari, Abimanyu mulai berjalan pelan.
"Argh." Tangannya berhasil meraih pipa di ujung kiri bangunan.
Handuk yang tadi dia ambil, diselipkan dalam celah tipis tautan pipa itu. Setelah memastikan kuat, Abim lantas mencoba bertumpu pada tautan simpul dan meluncur ke bawah.
Shhuutttt.
"Mulus." Dia pun melompat saat hanya tersisa beberapa jengkal.
Mata elang putra Iriana pun dengan cepat menilik sekitar lalu mengendap untuk mengambil ancang-ancang menaiki tembok.
Bugh. Suara kaki berbenturan dengan dinding beton.
Lagi, tenaganya harus dia maksimalkan, kekuatan tangan menjadi andalan Abim saat ini. "Adek, Ibu, do'ain ayah ya. Kita segera ketemu lagi," lirih Abimanyu menyemangati dirinya agar tak mudah menyerah. "Sayang, Zaylin. Aku milikmu."
Tembok setinggi dua meter hampir di gapainya. Saat berada di atas, Abimanyu sejenak melihat bagunan megah yang menjulang.
"Kesalahanmu, tidak ada penjaga, Alex. Bye." Senyum Abimanyu lolos di bibir sensualnya.
Sraaakk.
Kakak Arjuna akan menjatuhkan diri, dia berusaha tetap menempel pada dinding agar tak terlalu curam dan berdampak luka parah pada kakinya.
"Bismillah, mudahkan ya Robb. Engkau Maha Tahu usaha hamba untuk kembali ke jalan-Mu. Namun bilamana aku harus pulang menemui anak istriku dalam bentuk jasad, maka setidaknya aku syahid dalam berjuang melawan nafsu. Aylin," Abimanyu menghela nafas, menghapus bulir bening yang sempat muncul karena kesesakan juga ketidakpastian akan nasib diri.
Dia lalu mulai masuk kedalam hutan. Menyusuri jalur tanpa jejak seraya melihat sekitar apabila terdapat makanan. "Bumi Allah luas, in sya Allah aku bisa bertahan."
Abimanyu kian tenggelam dalam rimbunnya wilayah asing yang tak dia ketahui kemana ujungnya. Harapan putra Ibrahim hanya satu, menemukan sumber alat komunikasi. Dia sempat menyalakan gps sebelum ponsel miliknya ia tinggalkan di sana.
...***...
Singapore.
Roger evoque kebakaran jenggot kala mengetahui bahwa Alexa yang di kediamannya bukanlah sang istri. Wanita samaran itupun lantas di habisi tanpa basa basi setelah membeberkan semua rencana sang Nyonya.
Pemilik bisnis underground itu menghubungi Liam menanyakan tentang keterangan yang dia berikan. "Jadi semua atas ulahnya? dan Abimanyu dinyatakan hilang?" tegas sang mafia.
Tak butuh waktu lama, Roger lalu meminta disiapkan heli untuk menuju lokasi yang di duga adalah tempat persembunyian sang wanita cantik miliknya.
"Architects itu lenyap, Bos! draft lokasi Nyonya pun semua menghilang." Asisten Roger melaporkan kabar terkini.
Pimpinan bisnis bawah pun mengumpat kasar, dia lalu menghubungi kembali Liam juga orang-orang ahli miliknya.
"Kita pergi!" Titah Roger pada beberapa anak buahnya.
Tak ingin ketinggalan, Liam pun meminta orang kepercayaan untuk pergi bersama Juna, namun menyisir wilayah berbeda.
Kediaman Liam Sakha.
Pemilik resort ternama meminta Juna yang sudah beberapa hari menginap di tempatnya untuk pergi bersama Dion.
"Jun, Dion bakal nemenin kamu di sana. Bawa semua yang diperlukan. Aktifkan ponsel segala mode agar aku dapat membantu dari sini. Roger menuju kediaman rahasia Alexa, namun dugaanku mungkin Abim akan melarikan diri. Nah, Dion sudah memindai lokasi temu jika Abimanyu memang kabur," terang Liam kemudian saat akan melepas keduanya pergi.
"Ini hari ketiga, semoga pencarian ku tak lama mengingat lokasi nya luas sekali, Papua," ujar Arjuna.
"Aku akan meng-handle sementara bisnis kalian dengan orang-orangku. Ku harap, balas budi ku setara," sambung sang pengusaha resort.
Juna mengangguk, dia menepuk lengan sang sahabat lalu bergegas pergi. Pencarian sang kakak kali ini berat. Bahkan dia harus menunda rencana menikahi Rizkia demi ingin agar keluarganya lengkap saat syukuran nanti.
"Bim, kuatkan di sana. Maafkan aku, Kak. Karenaku semua begini," sesalnya dalam lirih saat mobil yang di kendarai mereka melaju meninggalkan kediaman Sakhair.
Antara Roger, Juna dan Abimanyu mereka sama tengah berjuang menemui orang tersayang.
...***...
Kediaman Yasa.
Zaylin berusaha menegarkan diri saat kepala sekolah menyambangi kediaman Iriana. Didampingi sang mertua, Zaylin mengungkapkan alasan sebenarnya tentang kehamilan nan riskan juga sebab sang suami tengah bertugas di luar kota sehingga dirinya tiada sanggup untuk melakukan aktivitas berat tanpa bantuan pujaan hati.
Kepala sekolah meminta Zaylin agar tak mengambil keputusan tergesa, dirinya membutuhkan sosok bagai sang guru baru sehingga berniat mempertahankan aset hingga Zaylin pulih kembali.
"Istirahat saja dulu, Bu Aylin. Kami akan menunggu Anda kembali hingga sehat nanti. Semangat ya, adek bayi nya lagi ingin Bunda jeda sejenak," ucap Victoria menegarkan diri Zaylin.
Saran sang kepsek diangguki oleh Iriana agar menantunya itu tak kian hilang harapan menjalani hari. Opsi menawarkan ajaran streaming pun kemudian mengemuka di antara percakapan ketiga wanita menjelang sore hari.
Beberapa jam setelah kepergian sang pimpinan Kasih Bunda. Zaylin memilih ke kamarnya lagi. Tak henti dia bermunajat meminta kemudahan bagi rumah tangganya serta keselamatan sang suami.
Semburat sinar merah perlahan tergantikan pekatnya malam. Jika Abimanyu berjibaku menyalakan api sebagai penghangat suhu juga penjagaan diri, lain hal dengan Zaylin. Dia tengah menangis kala sang paman menghubungi dirinya.
"Abah, doakan Mas ya," isak Zaylin pilu membuat Zahid tak leluasa memberinya motivasi.
"Kuat Neng. Kuat, doa itu senjata orang mukmin, yakin pasti ada jalan terbaik. Abah selalu mendoakan kalian," ucap Zahid tak kalah sendu.
Wejangan teduh sang paman, sedikit menguatkan kembali serpihan hati yang memang kian rendah menakar tegar. "Ayah akan menemui kita lagi, Adek yakin juga kan? ayah pasti bisa...." isakan Zaylin serta merta membuat Iriana yang mendengar dari balik pintu, meneteskan deras bulir bening dari netra senjanya.
.
.
...___________________...
...Kok 😠ya...