
Queen menatap dingin beberapa pria yang berdiri di hadapannya tanpa rasa takut sedikitpun,beberapa saat kemudian para pria bertubuh tinggi itu menyingkir memberi jalan dua pria tinggi yang salah satunya memiliki wajah tampan.
“Dimana Ibuku?”
Queen mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan seorang pria yang datang menemuinya dengan sikap kasar dan kurang bersahabat,apalagi caranya bertanya sungguh membuat Queen kesal.
“Maaf,siapa yang anda maksudkan!”
Darwin yang sama sekali tidak mengenali siapa wanita di hadapannya mendorong tubuh Queen,dan menerobos masuk begitu saja.melihat pria kurang ajar yang bertindak seenaknya di rumahnya,Queen menjambak rambut Darwin,menarik tubuhnya yang besar dan membantingnya dengan sekuat tenaga.para anak buah serta asistennya melongo tak percaya melihat keberanian,serta kemampuan wanita muda di hadapannya.
‘Brukkk’,,Darwin sedikit meringgis karena tubuhnya terbentur lantai,mendengar keributan serta suara jatuh Nyonya Lidya berlari kearah pintu dan melihat apa yang terjadi.Nyonya Lidya terkejut melihat Queen yang menarik dasi Darwin, dan siap melayangkan tinju pada wajah putranya.
"Hentikan Queen! "
Kepalan tangan Queen tertahan di udara, kepalanya menoleh ke arah Nyonya Lidya yang terlihat cemas dan ketakutan.
"Ibu! "
Queen menatap Darwin dan Nyonya Lidya secara bergantian, mengerti dengan arti dari tatapan Queen, Nyonya Lidya mengangguk pelan.
"Jadi pria kurang ajar ini putramu Bu? "
Darwin melebarkan kedua matanya mendengar ucapan wanita yang masih berada diatasnya, dengan tatapan dingin Queen menghempaskan tubuh Darwin.
"Kau tidak apa-apa sayang? "
Nyonya Lidya menghampiri putranya, memeriksa wajah sang putra yang hampir menjadi sasaran empuk dari tinju Queen.
"Aku tidak menghajar putramu Bu, aku hanya melempar tubuhnya! "
"Hahahaha,,,,! "
Suara tawa Nyonya Lidya menggema di ruangan, Darwin tertegun melihat sang ibu yang tertawa lepas tanpa beban sedikitpun. Nyonya Lidya membantu Darwin berdiri, Queen masih menatap pria dihadapannya dengan dingin.
"Maafkan putraku! "
"Ibu tidak perlu meminta maaf padaku, putramu yang tidak sopan dan seharusnya meminta maaf padaku, bukan ibu! "
"Tapi putraku tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu bukan? "
"Ibu wanita ini menjambak rambutku, dan membanting tubuhku. Aku yang korban disini bukan dia! "
Queen melemparkan tatapan tajamnya, tak Terima dengan apa yang Darwin ucapkan. Mendapat tatapan tajam dari seorang wanita untuk pertama kali dalam hidupnya, membuat sesuatu terasa berbeda di hatinya.
"Jika kau bersikap sopan dalam bertamu, aku tidak akan melakukan hal seperti tadi. Lihat apa yang kau lakukan, kau menakuti seorang wanita yang hanya tinggal sendirian dengan membawa mereka! "
Nyonya Lidya menarik tubuh putranya, membawanya ke ruang tamu, sementara para anak buahnya diminta menunggu di bawah apartemen. itupun atas permintaan Queen, ia tidak ingin para penghuni lainnya merasa terganggu akan kehadiran mereka.
Queen menyuguhkan secangkir teh mint serta sepotong cake buatannya,ketiganya duduk bersama. Nyonya Lidya mulai menjelaskan apa yang terjadi padanya, Darwin bernafas lega setelah mendengar semuanya. Darwin menatap lekat wajah sang ibu, yang cukup berbeda setelah sehari tidak bertemu. Apa yang dilakukan wanita dihadapannya kepada sang ibu, sehingga dalam sekejap rona wajah sang ibu terlihat berbeda.
Darwin melirik Queen yang masih menatapnya dengan datar, entah kenapa tatapan Queen membuatnya salah tingkah. Hingga setiap ucapan sang ibu, tidak ada ia dengar sedikitpun.
Darwin meminta maaf atas tindakannya yang kasar dan gegabah, semua yang terjadi karena kepanikannya. Kehilangan sang ibu selama satu hari tanpa kabar, serta kecelakaan kecil yang dialami ibunya membuatnya marah dan frustasi.
" Meskipun kau sedang kalut, kau harus menjaga emosi serta sikapmu Tuan! "
Nyonya Lidya tersenyum melihat interaksi keduanya, ia sendiri tidak menyalahkan Queen atas apa yang dia lakukan. Tindakan cukup benar untuk menjaga diri, sehingga Nyonya Lidya terkesan akan kepribadian Queen yang tegas dan berani.
Setelah menghabiskan waktu bersama Queen, Nyonya Lidya memutuskan kembali pulang bersama sang putra. Tampak kesedihan di matanya, ketika memeluk tubuh Queen.
"Apa kita bisa bertemu lagi? "
"Datanglah kapanpun ibu mau, pintu rumahku selalu terbuka untukmu Bu! "
Setelah memeluk Queen dengan penuh perasaan, wanita paruh baya itu masuk kedalam mobil. Meninggalkan Darwin dan Queen yang masih berdiri, sambil berhadapan.
"Terimakasih atas pertolonganmu, dan tolong maafkan aku! "
"Hmm,, lupakan. Asal lain kali kau tidak seperti itu lagi, wajah tampanmu sangat disayangkan jika kelakuanmu buruk! "
"Kau! "
"Sana pergi, ibumu sudah menunggu! "
Queen tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Nyonya Lidya, dengan kesal Darwin meninggalkan apartemen Queen bersama para anak buahnya.
Malam mulai menyapa, Darwin mengingat kembali pertemuannya dengan wanita yang bernama Queen. Wanita pemberani serta wanita pertama yang berani menjambak rambut, serta melempar tubuhnya.
Darwin tersenyum mengingat semua hal yang terjadi padanya, sungguh wanita luar biasa baginya. Ingatan Darwin berputar pada wajah Queen yang sedikit familiar baginya, dengan cepat Darwin meraih ponselnya. Mencari foto wanita muda yang ia jumpai beberapa saat lalu, dalam perjalanannya.
Darwin terdiam dan tak percaya dengan apa yang ia lihat, ternyata wanita yang dirinya lihat di panti asuhan, serta wanita yang hampir menabrak ibunya adalah wanita yang sama.
Ternyata wanita itu dirimu, kenapa aku tidak bisa mengenalimu. kau begitu dekat di mataku, sekarang Aku telah menemukanmu Nona.
Darwin tersenyum lebar, mengingat bagaimana Queen memperlakukan sang ibu dengan lembut. berbanding terbalik dengan cara Queen memperlakukan dirinya, dengan sikap dingin dan acuh.
wanita seperti apa dirimu Queen, aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. kau membuatku penasaran.