
Disamping makam pria yang pernah menjadi pahlawan untuknya semasa kecil, Queen duduk dengan seikat bunga liat ditangannya. Tatapan matanya kosong, memorinya terulang kembali mengingat masa kecilnya yang penuh dengan tawa bahagia.
Han adalah pria hangat yang selalu membuatnya tersenyum ceria, dan Han juga yang meninggalkan kesedihan mendalam dalam hidupnya. Gadis kecil yang harus menjalani masa kecil hingga remajanya dengan senyum yang nyaris hilang dari wajah cantik,gadis yang bahkan belum mengerti apapun, harus menerima beban berat serta rasa kehilangan yang mendalam.
"Bagaimana kabarmu paman, maaf Queen baru bisa datang berkunjung dan menjenguk mu paman. Apa paman merindukan ku?"
Kedua mata Queen mulai berkaca-kaca, dirinya yang setegar batu karang, akan hancur bila dihadapkan makam Han. Perasaan bersalahnya masih begitu kental di dalam hatinya, meski kedua orang tua serta keluarga telah meyakinkan dirinya, bahwa semua yang terjadi bukanlah salahnya. Namun bagi dirinya, apa yang menimpa Han adalah kesalahannya.
Queen menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang telah basah karena air mata, di atas kedua lututnya yang menyatu. Queen mengeluarkan semua kesedihan dan kerinduannya pada sosok Han, pria yang menjadi pengantin prianya. Hampir 20 menit Queen tenggelam dalam kesedihan, setelah merasa sedikit tenang Queen menghapus sisa air mata di kedua pipinya.
Queen menengadah, memejamkan kedua mata merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Queen! "
Queen membuka kedua matanya secara berlahan, mencari sosok yang memanggil namanya seperti cara Han memanggilnya. Queen menatap kiri dan kanannya, berusa mencari asal suara itu, namun tidak ada satupun orang di makam selain dirinya.
Queen tersenyum lembut seolah menyadari keberadaan Han di sampingnya.
"Aku tau kalau paman ada disini, taukah kau paman jika aku selalu merindukanmu?"
"Paman, mungkin ini saatnya bagiku untuk melepaskan dan merelakan kepergianmu. Aku yakin paman sudah bahagia di sana, dan disini aku akan mengejar kebahagiaanku seperti katamu!"
"Ada seorang pria yang mencintaiku, dia pria menyebalkan, dingin dan bertindak semaunya. Tanpa sadar hatiku mulai goyah karena dia, dan hatiku yang beku sedikit demi sedikit mencair karena kegigihannya!"
"Paman, bisakah aku mencintainya seperti aku menyukaimu dulu? Dia bilang akan menungguku, sampai hatiku benar-benar siap menerima keberadaannya!"
Queen tersenyum tipis mengingat semua yang Keanu lakukan, Queen menceritakan semua yang dirinya ingat tentang pria dingin itu. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Hari telah menjelang malam.
"Paman, aku pulang dulu. Lain kali aku akan datang bersama pria itu dan putriku, aku berjanji akan menemui paman!"
Queen beranjak meninggalkan makam Han, ada perasaan lega dihatinya, setelah mengatakan semua yang ada di hatinya di makam Han. Senyum indah terukir di sudut bibirnya,setelah melepaskan beban di pundaknya.
*****
"Apa yang kau lakukan di apartemen ku, bukankah aku sudah memperingatkan mu, untuk tidak datang kemari lagi!"
"Keanu, aku merindukan Kayla dan ingin bertemu dengannya. Tapi setelah masuk tidak ada satupun orang disini, jadi aku memutuskan untuk menunggumu! "
"Apakah kau tidak malu masuk ke apartemenku tanpa ijin dariku untuk yang kesekian kalinya, dimana urat malu mu Maysa!"
"Aku tidak perlu malu untuk mendapatkan apa yang aku inginkan Keanu, lihatlah sekarang hanya ada kita berdua di sini, tidakkah kau ingin melewatinya bersamaku?"
"Kita sudah sama-sama dewasa Keanu, apa kau tidak ingin merasakan kenikmatan dimalam yang indah ini? "
Keanu hanya diam tanpa ingin membalas satupun ucapan Maysa, rahangnya keras menahan emosi yang siap meledek. Keanu mendorong keras tubuh Maysa, yang hampir kehilangan keseimbangannya.
Kedua mata Maysa melebar mendapat perlakuan kasar dari seorang Keanu Smith, pria yang tersohor dan terkenal dengan banyak wanita yang telah menjadi penghangat ranjangnya.
"Wanita yang bisa naik ke atas ranjangnya ku, hanya wanita terpilih dan bukan sembarang wanita. Wanita itu harus memiliki kriteria khusus dariku! "
"Meskipun pria di luar sana mengatakan jika kau cantik dan memiliki tubuh menarik, namun di mataku kau bukan wanita menarik!"
Maysa merasa terhina akan setiap ucapan yang keluar dari mulut Keanu, belum ada pria yang berani menolaknya. Namun pria dihadapannya ini begitu sombong, dan mengatakan jika dirinya tidak tertarik padanya.
Dengan penuh keberanian Maysa membuka dan menanggalkan satu persatu pakaiannya di hadapan Keanu, yang menatapnya dengan kening mengkerut.
Keindahan tubuh Maysa tidak di ragukan lagi, dengan dagu terangkat serta senyumnya yang menggoda, Maysa kembali menempelkan tubuhnya yang polos ke dada Keanu. Hingga Keanu bisa merasakan, gesekan dari benda kenyal yang dengan sengaja Maysa lakukan. Apa yang Maysa lakukan hanya untuk meyakinkan dirinya, bahwa Keanu sama dengan pria lainnya. Yang akan langsung tergoda dan terjerat akan keindahan tubuhnya.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan ini Maysa?"
"Tentu aku sangat yakin Keanu, aku siap memberikan tubuh ini serta memberimu kenikmatan yang tidak akan pernah kau lupakan!"
"Kau yakin? Karena di ruangan ini bukan Hanya ada aku seorang, tapi ada pria lain juga yang mungkin sangat menikmati tubuh mu itu!"
"Maksud mu?"
Maysa mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Keanu tersenyum sinis, menatap wajah Maysa yang mulai pucat. Kedua mata Maysa mulai mencari sosok yang Keanu maksud, setelah puas melihat wajah pucat wanita dihadapannya Keanu menegakkan tubuh serta memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
Maysa memundurkan langkahnya, mencari sosok pria yang Keanu maksudkan.
"Keluarlah, jangan bersembunyi apakah kau tidak ingin ikut bersenang-senang denganku? "
Wajah Maysa semakin pucat, dengan kedua tangannya ia mencoba menutupi bagian tubuhnya. Sosok bayangan seseorang mulai muncul dalam kegelapan, kedua bola mata Maysa melebar melihat keberadaan Aslan, yang menatapnya dengan datar.
"Bagaimana, apa kau mau melanjutkannya Maysa? "