You Are The Light In The Dark

You Are The Light In The Dark
58. Siapa wanita itu!



Darwin terdiam di dalam mobil sambil menatap wajah cantik wanita yang dilihatnya beberapa saat lalu, ia tersenyum tipis dan menyimpan kembali ponselnya ke saku celana. Menjalankan mobilnya, mencari tempat ternyaman untuk mengenang kembali kenangannya.


"Terimakasih Queen untuk semuanya, ibu serta anak-anak sangat sangat bersyukur bisa mengenalmu! "


"Sudah Queen katakan berapa kali, jangan terus mengucapkan terimakasih padaku. Aku senang bisa membantu ibu serta anak-anak! "


"Kami juga bahagia karena telah menjadi bagian dari hidupmu, doa ibu semoga kau menemukan pria berhati mulia yang mencintaimu dengan tulus! "


Queen tersenyum manis menganggukkan kepala, dan memeluk ibu panti yang memiliki peran besar dalam mengelola panti asuhan. Queen yang sedari kecil selalu di ajarkan oleh sang ibu untuk berbagi, dan membantu yang lemah sehingga dirinya tumbuh dengan jiwa sosial yang tinggi. Apalagi mengetahui jika sang ibu juga dulunya berasal dari panti asuhan, membuat dirinya berjanji dalam hidup akan membantu setiap orang yang membutuhkan pertolongannya.


Queen merapikan alat medisnya bersiap untuk pulang, dibantu oleh beberapa anak panti Queen memasukkan kotak medisnya ke mobil.


"Kakak pulang dulu, kakak akan kembali bulan depan. Jangan nakal dan membuat ibu kesusahan! "


"Siap kakak Dokter! "


Jawab Anak-anak serempak,Queen mengusap Kepala mereka dengan sayang. Anak-anak melambaikan tangan mereka, menatap mobil Queen yang mulia menjauh.


Kau gadis yang baik, semoga kau menemukan pria yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, siap berkorban untuk membahagiakan mu. Itulah doa terbaik yang bisa ibu berikan kepadamu nak Queen.


Queen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, melewati pantai dengan berbagai penjual jajanan di pinggir jalan. Queen menepikan mobilnya, ia turun dan melangkah menuju salah satu warung lesehan, yang menjual berbagai makanan lezat.


Setelah memesan makanan yang ia inginkan, Queen mencari tempat duduk yang masih kosong. Pengunjung yang sedikit padat membuatnya tidak menemukan meja kosong, namun ada satu meja yang hanya di tempati oleh seorang pria.


" Permisi, bolehkah aku ikut bergabung? "


Sang pria menolehkan kepalanya, tertegun menatap Queen yang memberikan senyum tipisnya. Darwin yang salah tingkah, hanya bisa diam dan menatap Queen dengan kebingungan.


"Maaf semua meja telah penuh, atau anda membawa keluarga? "


"Tidak aku sendiri, silahkan duduk! "


"Terimakasih! "


Queen meletakkan tasnya duduk tepat dihadapan Darwin yang masih memasang wajah tegangnya, merasa pria dihadapan bertingkah tidak nyaman, Queen berdehem untuk mengubah suasana di antara mereka.


Jantung Darwin berdetak kencang, keringat dingin mulai terlihat di dahinya. Queen mengerutkan dahi, melihat reaksi Darwin.


"Maaf jika anda merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku, aku bisa pindah dan mencari meja lain! "


"Tidak apa nona, lagi pula pengunjung sedikit padat,Duduk di sini saja!"


" Apa anda sakit? Jika anda tidak keberatan biarkan, biarkan saya memeriksa anda! "


" Aku tidak apa-apa sungguh! "


Queen mengangguk pelan dan memainkan ponselnya, bersikap acuh agar pria di hadapannya tidak canggung terhadapnya. Terlihat beberapa kali Darwin menghirup dan melepaskan nafasnya, mengontrol debaran jantungnya.


Setelah menunggu beberapa menit pesanan keduanya siap untuk dinikmati, Darwin menatap pesanannya yang ternyata sama dengan wanita dihadapannya.


"Wah selera kita sama ya Tuan, selamat menikmati makanan anda!"


"Anda juga, selamat menikmati! "


Keduanya menikmati makanan milik mereka dengan lahap, bahkan keduanya mulai mengobrol dengan santai. Queen yang yang telah berubah dari sosok cuek dan dingin, menjadi pribadi yang hangat dan ceria membuatnya mudah bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya.


"Nona tunggu! "


Langkah Queen terhenti mendengar teriakan seorang pria, Queen membalikkan tubuhnya menatap Darwin yang sedang mengatur nafasnya, karena berlari.


Queen terdiam dan seolah berpikir, Queen tersenyum tipis menatap pria dihadapannya yang menunggu dengan penuh harap.


"Jika kita bertemu lagi, aku akan memberitahu namaku, sampai jumpa!"


Queen meninggalkan Darwin yang menganga tak percaya, Pria tampan seperti dirinya mendapatkan penolakan yang begitu halus dari seorang wanita. Bahkan wanita lain akan dengan senang hati mengenalkan dirinya kepadanya, Darwin tersenyum tipis mengasihi dirinya sendiri.


Sungguh wanita yang menarik, aku berharap bisa bertemu denganmu dan mengetahui siapa namamu Nona.


Darwin merebahkan tubuhnya di sofa, pikirannya mulai di penuhi oleh Queen. Daya tarik serta kepribadian Queen ternyata mampu mengusik ketenangan hatinya, melihat sang putra yang beberapa kali menghela nafas, membuat Nyonya Lidya mengerutkan kening.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, kau sepertinya kelelahan? "


" Tidak ada apa-apa ibu, bagaimana perasaan ibu sekarang? "


" Ibu baik-baik saja, pergilah bersihkan dirimu dan istirahatlah! "


Darwin menganggukkan kepala, mencium kening sebelum meninggalkan ibunya ke kamar. Sang ibu menatap kelam putranya, putra semata wayangnya. Putra kebanggaannya, putra yang menyimpan sejuta luka dihatinya.


*****


"Bagaimana pekerjaan mu di Rumah sakit? "


"Hari ini aku tidak ke Rumah Sakit, aku ke panti! "


Keanu menganggukkan kepala, memeluk erat tubuh Queen dari belakang. Keduanya berdiri menatap langit malam yang bertaburan bintang, setelah menyelesaikan rutinitas yang melelahkan, Keanu selalu menyempatkan diri ke apartemen Queen, untuk makan malam bersama ataupun melepaskan penatnya.


"Bagaimana pekerjaan mu? "


Keanu menghela nafas beratnya, membuat Queen mengerutkan kening. Queen membalikkan tubuhnya menatap wajah tampan sang kekasih, yang mulia terlihat seperti manusia normal pada umumnya.


"Hariku berat! "


"Apa ada masalah? "


"Masalahnya adalah setiap detik menit, dan jam aku merindukanmu! "


Queen terkekeh mendengar gombalan yang keluar dari bibir manis kekasihnya, senyum cantik itulah yang Keanu suka. Bisa melihat Queen tertawa lepas, membuat hatinya senang. Keanu membawa tubuh Queen dalam pelukannya, mengecup pucuk Kepala wanita itu dengan lembut.


" Kenapa aku menjadi seperti ini sekarang, aku tidak bisa jauh darimu. Bagaimana kalau aku yang tinggal disini? "


Queen mendorong tubuh Keanu dengan pelan, menengadahkan Kepala agar bisa menatap pria dihadapannya.


"Kau ingin orang-orang bergunjing tentangku? Aku ini wanita, tidak baik jika ada yang mengetahui jika kita tinggal satu atap! "


"Cihh,, menyebalkan sekali. Aku bisa gila karena merindukanmu! "


Queen memberi Keanu satu kecupan ringan di sudut bibirnya, membuat pria yang tadinya menggerutu kesal terdiam dengan pipi yang mulai merona.


"Kau malu? "


"Tidak, aku tidak malu! "


"Wajahmu memerah seperti kepiting rebus, ahh,, kekasihku imut sekali! "


Queen mencubit kedua pipi Keanu membuat pria dingin itu tertawa lepas, kedua mata mereka bertemu, saling memberi tatapan lembut yang memuja satu sama lain.


Keanu mengecup bibir Queen dengan lembut, secara naluri Queen membalas ciuman Kean, hingga keduanya tenggelam dalam indahnya cinta.