You Are Mine...!!Keysila

You Are Mine...!!Keysila
Chapter 49



🏥Rumah sakit🏥


Setibanya di rumah sakit harapan indah, Pak Yanto sudah mendapatkan perawatan terbaik di sana. Namun saat ini Pak Yanto belum sadar sebab kondisinya yang Drop, Keysila duduk di samping Pak Yanto yang terlihat pucat pasi. Dia tidak henti-hentinya menitikan air mata sebab dia jadi mengingat keadaan ibunya dulu. Dean sendiri berdiri di samping Keysila serayap mengusap lembut punggung Keysila agar perasaannya menjadi kuat.


"Aku merasa heran sayang, kenapa kau menangisi Pak Yanto seperti ini padahal dia sudah berbuat jahat pada orang tuamu." Tutur Dean lirih.


"Aku mengingat Ibu sayang, terakhir kali aku melihat keadaan ibu dengan wajah sepucat ini hiks..hiks..hiks.."


"Sabar sayang, sebentar lagi Pak De akan sadar." Mengusap lembut puncak kepala Keysila.


Tangan Pak Yanto terlihat bergerak sedikit, perlahan matanya terbuka dan melihat sendu ke arah Keysila yang terlihat sedang menangis.


Ya Tuhan, aku semakin berdosa melihat ini..


"Pak De nggak apa-apa?" Tanya Keysila dengan nada panik.


"Kenapa kamu tolong Pak De Keysila, biar saja Pak De mati. Pak De sudah gagal menjadi seorang suami Keysila, Pak De tahu kamu sudah tahu semuanya. Pak De berusaha untuk melarang Rani melakukan itu tapi kamu lihat sendiri kan Key, jika Pak De selalu tidak berdaya di hadapan Budhemu. Apalagi sekarang dia setiap hari menyuruh Pak De tanda tangani surat cerai itu meski Pak De selalu menolaknya." Tutur Pak De menangis terisak.


"Kenapa Pak De nggak mau,"


"Pak De nggak punya siapa-siapa lagi Key, Pak De juga sudah penyakitan jadi Pak De nggak masalah jika harus di duakan oleh Rani asal jangan minta cerai. Pak De mau tinggal dimana nanti." Tutur Pak Yanto menjelaskan.


"Tuan Dean kan sudah menawarkan tempat tinggal untuk Pak De." Tutur Keysila yang berusaha membunuh rasa kesalnya terhadap Pak De yang sudah membiarkan semuanya terjadi.


"Pak De nggak pantas buat itu Key, Pak De tahu diri. Kamu tidak membenci Pak De saja sudah sangat bersyukur.."


"Emm Pak De sudah, Key sudah anggap Pak De sebagai Ayah Keysila sendiri, begitu Budhe Rani. Hmm Key memang sangat kecewa Pak De, tapi aku sadar jika itu semua bukan sepenuhnya salah Budhe juga. Dia hanya sedang di butakan oleh cinta Pak De, jadi jangan ungkit masalah itu lagi, emm Keysila sudah ikhlas atas semuanya." Jawab Keysila lirih.


"Maafkan Pak De karena berdiam diri seperti itu Key.."


"Sudahlah Pak De, aku sudah memaafkan semuanya." Tersenyum." Sayang, apa penawaran itu masih berlaku sekarang?" Tutur Keysila mendongak ke arah Dean.


"Tentu sayang, jika Pak De sudah Sembuh biar Alex yang urus semuanya." Tersenyum ke arah Keysila.


"Terima kasih Nak Dean." Kata Pak Yanto terisak.


"Aku hanya menuruti apa pemintaan dari Keysila Pak De."


"Hmm meski begitu terima kasih Nak Dean."


"Sama-sama Pak De, emm sayang sebaiknya kita pulang soalnya kata mama kita di suruh pilih undangan untuk pernikahan kita."


"Lantas Pak De bagaimana?"


"Ada orang yang aku suruh ke sini nanti, biar Pak De di urus oleh Alex saja. Tidak apa-apa kan Pak De?" Tanya Dean menatap ke arah Pak Yanto.


"Tidak masalah Key, Pak De sudah merasa lebih baik." Tersenyum menatap ke arah Keysila yang terlihat khawatir."Tapi Pak De mohon, jangan hubungin Budhe kamu. malam ini Pak De pengen istirahat di sini dengan tenang." Pinta Pak Yanto lirih.


"Baik Pak De, jika ada apa-apa hubungin Key ya, nggak boleh sungkan oke. Key permisi dulu, semoga cepat sembuh." Key mencium punggung tangan Pak Yanto.


"Amin Key, Pak De doain pernikahan kalian lancar."


"Amin Pak De."


"Baik Pak De saya permisi dulu, setelah ini Alex akan ke sini jadi Pak De ada teman mengobrol."


"Baik Nak Dean terima kasih."


"Sama-sama Pak De."


🚗🚗🚗


Setibanya di rumah, Keysila langsung dirangkul oleh Mama Dean untuk melihat-lihat undangan pernikahan yang sesuai kemauannya. Keysila di dudukan di samping serayap melihat contoh-contoh undangan yang ada di hadapannya.


"Aku tergantung Mama saja." Tutur Keysila yang memang jarang berprotes dengan apa yang ada.


"Ini pernikahan kamu sayang, ayo mana yang kami pilih, sebab malam ini akan di kerjakan oleh orangnya, agar besok bisa di antarkan ke alamat masing-masing." Kata Mama Dean lembut.


Keysila melihat ke arah Dean yang saat ini duduk di sampingnya, tangan Keysila melingkar lembut ke lengan Dean lalu berbisik.


"Aku tidak tahu selera orang kaya seperti apa sayang." Tutur Keysila berbisik.


"Tidak ada kaya atau miskin di sini sayang." Jawab Dean serayap menatap ke arah sang mama.


"Emm aku takut jika pilihanku akan terlihat norak." Imbuh Keysila dengan kepolosannya.


"Jika sudah menjadi satu, tidak ada si kaya atau si miskin sayang.." Mama Dean mengusap lembut rambut panjang milik Keysila.


"Jadi inget waktu kita masih muda Ma, kamu juga bilang seperti itu hahaha." Kata Pak Handoko yang sejak tadi tidak berkomentar.


"Hm menjadi orang serba kekurangan itu lebih peka yah, jadi selalu menimbang-nimbang dulu jika ingin melakukan sesuatu, bukan begitu sayang." Tersenyum ke arah Keysila.


"Emm iya Ma."


"Mama juga mantan karyawan Almarhum Ayah mertua Mama, jika tidak percaya kau boleh bertanya pada Ayahmu." Melihat ke arah Pak Handoko.


"Hmm iya Keysila, Ayah jatuh cinta sama Mama Dean saat Ayah pertama kali mengantikan kakek Dean untuk mengurus perusahaan. Hmm Mama kamu memang orang biasa, tapi kecantikannya sungguh luar biasa.." Jawab Pak Handoko terkekeh.


"Astaga aku bosan mendengarkan ucapan itu." Eluh Dean Tersenyum.


"Apalagi Mama." Tersenyum " Mama minta kamu jangan merasa seperti itu sayang, sebab Dean sudah akan menjadi suamimu, dan Dean juga sudah menceritakan semuanya tentang dirimu. Anak Mama satu ini memang terkadang berwajah seram tapi satukalipun dia tidak pernah berbohong sama Mama." Imbuh Mama Dean menjelaskan supaya Keysila tidak berkecil hati.


"Coba tunjuk mana pilihanmu sayang." Tutur Dean.


Keysila melepaskan gengaman tangannya pada lengan Dean, dia mengambil sebuah undangan dengan warna Silver, yang berdesain sangat sederhana, namun Alasan Keysila memilih itu adalah...


"Aku menyukainya tulisan yang berada di belakang undangan ini sayang." Membolak-balikkan undangan." Emm tapi jika kamu ingin memilih yang lain aku tidak apa-apa sayang." Imbuh Keysila yang merasa tidak enak sebab semuanya terdiam.


"Pilihan bagus sayang." Tutur Dean.


"Hmm Mama juga suka yang itu." Imbuh Mama Dean menyemangati.


"Ayah sih ngikut saja." Tertawa terkekeh.


Aku seperti menjadi seorang wanita yang paling beruntung, rasanya sungguh bahagia Tuhan. Ibu Ayah, Keysila akan mempunyai keluarga baru sekarang..-


Silahkan like 👍


Komentar 💬


Klik♥️


Vote juga please 😘


Terimakasih 😘♥️