
Setelah kepulangannya dari rumah Ibu Darti, Keysila terdiam sambil menatap lekat ke arah depan, dia masih berusaha menerima semuanya dengan baik. Dean sendiri terdiam sambil sesekali melihat wajah Keysila yang terlihat sangat kecewa dengan kenyataan ini.
"Apa kamu masih memikirkan itu sayang?"
"Hmm iya, rasanya ini sedikit sulit meski aku sudah mencoba untuk mengikhlaskannya." Tutur Keysila tanpa menatap ke arah Dean.
"Apa kau membutuhkan bantuanku untuk membalas ini semua?"
"Tidak sayang, aku tidak ingin berbuat demikian, aku hanya masih ingin mencerna semuanya secara baik."
"Jangan memasang wajah seperti itu, sebab itu membuatku sakit. Aku bisa melakukan apapun untukmu sayang, termasuk membuat Budhe Rani merasa jerah dengan apa yang di lakukannya dulu." Jawab Dean yang ikut merasa geram dengan kelakuan Budhe Rani.
"Iya maafkan aku." Tersenyum ke arah Dean." Aku akan mencoba mengikhlaskan semuanya." Mengusap lembut lengan Dean dengan kedua tangannya.
"Aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi, jika ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, bicarakan padaku." Pinta Dean fokus melihat ke arah jalan.
"Hmm iya, aku akan coba untuk selalu terbuka padamu sayang.." Tersenyum.
"Kita langsung pulang atau sekalian mencari makan malam?"
"Aku merasa sangat gerah, jadi lebih baik kita pulang dulu,"
"Hmm baik, tidurlah jika lelah.."
"Iya sayang."
.
.
.
.
🏠 Rumah Budhe Rani 🏠
Seharian ini Budhe Rani marah-marah karena Pak Yanto yang tidak mau menandatangani surat perceraian mereka. Entah apa yang di fikirkan Pak Yanto saat ini, meskipun sudah jelas jika Budhe Rani sudah tidak pernah menghormatinya, namun tetap saja dia berharap jika suatu saat budhe Rani akan bisa berubah.
"Mau kamu apa tua bangka..!! Sudah ku bilang, tanda tangani surat itu dan kita akan bercerai..!! Aku sudah nggak selera hidup dengan tua bangka seperti dirimu..!!" Bentak Budhe Rani kasar.
Ya Gusti, nyonya kenapa seperti itu. Tuan juga kenapa tidak segera menghubungi Non Keysila. Batin Bik Iyem yang mendengarkan pertengkaran sambil mencuci piring.
"Aku nggak mau kita cerai Ma, aku masih sayang sama kamu. Aku mohon Ma, sadar jangan seperti ini terus. Aku takut kamu akan kena karma karena perbuatanmu..!"
"Karma hahahaha, kamu pikir ini sinetron hah..!! Buktinya sampai saat ini hidup aku happy happy saja. Pokoknya walaupun kamu nggak mau cerai, aku akan tetap minta cerai..!!" Kata Budhe Rani serayap membawa tas mahalnya.
"Mau kemana kamu.." Meraih tangan Budhe Rani.
"Bukan urusanmu...!!" Menampis kasar tangan Pak Yanto dan berjalan pergi.
Pak Yanto menarik nafas panjang serayap melihat Budhe Rani berjalan keluar rumah, dia tidak ingin sakitnya semakin parah jika dirinya tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Bik Iyem yang merasa iba, langsung menghampiri Pak Yanto yang tengah terduduk di lantai. Bik Iyem berjongkok serayap melihat ke arah Pak Yanto yang terlihat pucat.
"Astaga Tuan, apa nggak sebaiknya Tuan hubungin Non Keysila saja, jujur Tuan, saya nggak tega lihat Tuan seperti ini." Tutur Bik Iyem yang sangat merasa iba dengan Pak Yanto.
"Apa Keysila masih mau menampung aku Bik, setelah dia tahu kenyataannya yang sebenarnya. Meski aku tidak menyetujui itu semua, tapi aku tahu kelakuan Rani seperti apa terhadap kedua orang tua Keysila. Aku ikut merasa bersalah atas itu semua Bik, rasanya ini memang karma yang harus aku jalani atas dosa karena berdiam diri melihat sesuatu yang seharusnya bisa aku hentikan." Ucap Pak Yanto serayap menitikan air mata.
"Maksudnya Tuan?" Tanya Bik Iyem yang memang tidak tahu menahu soal masalah itu.
"Bibik nggak tahu betapa busuknya hati Rani,"
"Apa saya suruh anak saya buat hubungi Non Keysila saja Pak?"
"Tidak perlu Bik, aku tidak apa-apa." Tutur Pak Yanto mencoba berdiri namun tubuhnya mendadak lemas.
"Tuan nggak apa-apa." Pekik Bik Iyem yang melihat wajah Pak Yanto semakin pucat.
Maafin Pak De Key, Pak De nggak becus jadi seorang suami. Pak De yakin, sepulang kamu dari desa itu pasti kamu sudah tidak mau melihat Pak De lagi. Ya Tuhan, lebih baik ambil saja nyawaku, rasanya aku tidak sanggup lagi.
Tubuh Pak Yanto ambruk ke lantai, dan Bik Iyem semakin panik melihat semua ini.
Bik Iyem mengambil ponsel Pak Yanto yang tergeletak di atas meja, dengan tangan gemetaran dia mencari kontak milik Keysila dan menombolnya.
Via Telfon📲
"Gawat non..!!" Pekik Bik Iyem saat Keysila menerima panggilan itu.
"Bik Iyem?"
"Iya Non, ini Bibik, Bibik terpaksa pakai nomer Tuan soalnya ini Tuan lagi pingsan, Bibik mau hubungin Nyonya tapi takut Nyonya semakin senang melihat keadaan Tuan."
"Aduhh Bik, ini aku masih berada cukup jauh, mungkin baru setengah jam lagi sampai." Jawab Keysila yang ikut merasa panik.
"Terus ini gimana Non?"
"Emm aku usahain ya Bik, tolong kasih minyak angin atau apa gitu ke Pak De."
"Baik Non."
Tut..Tut...Tut..
🚗Mobil Dean🚗
"Ada apa sayang?"
"Pak De pingsan sayang, aduh bagaimana ini." Tutur Keysila merasa panik.
"Kamu masih ingin menolongnya?"
"Aku yakin Pak De nggak tahu apa-apa soal ini sayang."
"Aku merasa dia tahu semuanya sayang, mana mungkin dia tidak tahu perbuatan istrinya." Jawab Dean yang ingin tidak memperdulikan hal ini.
"Tapi sayang, aku tidak mempunyai keluarga lagi selain mereka." Kata Keysila dengan mata yang mulai berkaca-kaca sebab merasa khawatir dengan Pak Yanto.
"Baik sayang, coba ketik alamatnya di sini." Dean memberikan ponselnya pada Keysila.
"Untuk apa?"
"Kita tidak akan bisa cepat sampai di sana, aku akan menyuruh Alex untuk membawanya ke rumah sakit."
"Baik sayang." Dengan gemetaran Keysila mengetik alamat rumah Budhe Rani."Ini sayang." Menyerahkan ponsel pada Dean.
Dean meminggirkan mobilnya untuk mengirim lokasi pada Alex. Tidak berapa lama kemudian ponsel Dean langsung berdering.
Via telfon📲
"Itu Alamat siapa Tuan"
"Jemput seseorang yang ada di sana dan segera bawa ke rumah sakit." Jawab Dean tegas.
"Hmm baik Tuan."
Tut..Tut..Tut..
"Sudah sayang, semua akan di urus oleh Alex." Kata Dean meletakan ponselnya dan kembali menyetir.
"Kita langsung ke rumah sakit saja sayang."
"Siap sayangku, kita akan langsung ke sana." Jawab Dean tersenyum serayap mengusap lembut puncak kepala Keysila.
Aku semakin yakin jika dia jodohku, semua sifat kita hampir bertolak belakang. Dan rasanya aku tidak kuasa menolak semua kemauannya. Aku sangat mencintaimu Keysila, dan sebentar lagi aku akan memilikimu seutuhnya..-
Holla🙋
Silahkan like, komentar,klik♥️,Vote juga😁, terimakasih 😘♥️
Salam sayang Dean dan Keysila ♥️